
Hampir pukul dua belas malam, Allen baru saja selesai menemui klien di sebuah restoran. Awalnya memang hanya untuk makan malam, tapi kliennya itu malah mengajak dirinya ke club setelah makan dan berakhir dengan pulang hampir tengah malam.
Dan apa kalian tahu? Keisha masih saja menunggu Allen, perempuan itu benar-benar sangat menunggu penjelasan dari Allen tentang foto yang ia temukan.
"Ayo, kita cari tempat duduk buat omong, biar enak," kata Keisha setelah keluar dari dalam club.
Mendengar itu Allen tercengang. Dengan energinya yang hanya tersisa tiga persen, kelopak matanya pun sudah tak tahan untuk terus terbuka. Ia membutuhkan mandi dan istirahat.
"Keisha, kita bicarain soal tadi besok aja, ya?" pintanya dan sangat berharap Keisha pengertian sedikit kepadanya.
Keisha menggeleng keras. "Enggak bisa! Kalau kayak gini caranya, Bapak kayak bener-bener ngelak soal foto tadi itu! Jadi, sekarang jujur aja kalau foto itu diedit pake muka saya!"
Allen menghela nafasnya seraya memijat pangkal hidungnya. "Saya sudah tidak punya tenaga lagi, saya bener-bener ngantuk sekarang. Rencananya juga saya bakalan pulang naik taksi dan suruh Fabian ambil mobil saya besok di sini."
"Saya nggak peduli soal itu! Saya cuma mau Bapak jelasinnya serinci mungkin tentang foto itu, kalau saya belum tahu jelasnya kayak gimana, saya nggak bakalan bisa tidur malam ini," ucap Keisha setelah mengusap wajahnya dengan frustrasi.
"Tapi, saya juga nggak bisa cerita kalau ngantuk dan nggak ada tenaga kayak gini. Tolong, pengertian sedikit sama saya. Saya ini bos kamu, kenapa jadi kamu yang ngatur?" Allen melepaskan jasnya, lalu membuka dasi dan melepaskan dua kancing kemeja teratasnya.
Percayalah, diam-diam Keisha terpesona dan meneguk ludahnya susah payah. Gila, ganteng banget!
Menghela nafasnya. "Saya janji besok akan jelasin sama kamu, sekarang kamu pulang aja dan tahan rasa penasaran kamu itu sampe besok."
"Apa jaminannya?"
Mendengar itu Allen meraba-raba saku celananya dan hanya menemukan kunci mobilnya, tanpa berpikir panjang ia memberikan kunci mobil itu kepada Keisha. "Kalau saya bohong sama kamu, kamu bisa jual mobil saya ini."
Dalam diam Keisha membulatkan matanya terkejut. Allen dengan mudah memberikan kunci mobil yang seharga ratusan juta mungkin bahkan miliyaran rupiah itu kepada Keisha. Gila! Keisha bahkan berharap Allen berbohong saja agar ia mendapatkan uang dari hasil menjual mobil ini.
Keisha berdehem singkat. "Oke, saya tunggu penjelasan Bapak besok. Kalau bohong, saya benar-benar akan menjual mobil ini.
Allen menganggukkan kepalanya, kemudian Keisha berbalik menjauh darinya. Setelah itu Allen tersenyum tipis. "Dasar bodoh! Mana bisa jual mobil kalau persyaratan mobilnya aja nggak punya."
Menggeleng-gelengkan kepalanya, Allen heran dengan segala tingkah Keisha dan hal itu mengingatkan dirinya kepada sang kekasih dulu. Tak ingin kembali sedih, Allen mengambil ponselnya dan langsung mengirim pesan kepada Fabian agar datang menjemputnya. Gila saja dirinya yang seorang CEO muda, tampan, kaya, terkenal, pulang naik taksi.
Selagi menunggu Fabian datang, Allen duduk di kursi penumpang di dalam mobilnya sembari memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Keisha besok.
"Apa masuk akal ada orang yang wajahnya mirip banget, tapi nggak ada hubungan darah?"
Di waktu yang sama Reval, Davian, dan Gabril. Ketiga sekawan itu baru saja kumpul-kumpul dengan anak-anak Drave di basecamp B. Sekarang mereka bertiga berniat untuk pergi ke club, sudah lama mereka tidak melakukan maksiat.
"Eh, itu bapak-bapak kenapa kejang-kejang kayak orang kesurupan?" Reval menghentikan langkahnya seraya menunjuk seorang bapak-bapak memakai seragam satpam. Satpam itu adalah satpam yang selalu berkeliling di komplek sekitar sini.
"Kayaknya bener-bener kesurupan, cepet bacain ayat kursi!" suruh Gabril sembari mendorong Davian dan Reval.
__ADS_1
Reval menunjuk Davian dengan dagunya. "Lo aja, lo 'kan pernah pesantren waktu SMP dulu."
"G-gue pesantren buat belajar ngaji, bukan belajar ngeruqyah orang. Mana bisa gue," kata Davian dengan wajah polosnya.
"Tinggal bacain ayat kursi apa susahnya, sih?" Gabril lama-lama merasa sangat geram dan greget sendiri.
Reval menyenggol lengan Gabril. "Lo aja yang bacain, gue lupa lagi bacaan ayat kursi."
"Gue 'kan Kristen! Gimana, sih, lo?" balas Gabril dengan nada sewot.
"Jadi mualaf dulu sana, nanti balik lagi ke sini buat bacain ayat kursi," suruh Reval.
"Tolol!" sarkas Davian.
Dan masih di malam yang sama, di kediaman rumah Allen. Ada Nevan dan Airin yang masih belum kunjung tertidur juga. Sebenarnya tadi mereka sedang packing baju untuk ke puncak besok milik keluarga Calvin alias Nevan.
Airin yang sedang memainkan ponselnya mendongak ketika Nevan keluar dari kamar mandi, laki-laki itu baru saja cucu muka, tangan, kaki, dan gosok gigi.
Nevan duduk di pinggiran kasur dan tanpa diduga Airin malah duduk di atas pangkuannya. Perempuan itu melingkarkan kedua kaki di pinggangnya.
"Kenapa?" tanya Nevan sambil menatap istrinya heran.
Airin tak langsung menjawab, perempuan itu seperti tampak berpikir. "Airin mau tanya sama Kak Nevan."
Menganggukkan kepalanya. "Hm, tanya aja. Emangnya kenapa? Ada masalah?" tanya Nevan lagi seraya mengusap kepala perempuan itu.
"Terus?"
"Tapi, Bilqis yang ada masalahnya," balas Airin, "Airin, Bilqis, Citra, sama Diandra bikin grup. Tadi Bilqis cerita kalau dia udah nggak tahan sama pacarnya, dia mau putus sama pacarnya, tapi nggak tahu gimana caranya."
Nevan menjawab seraya memainkan rambut sepinggang milik istrinya. "Emang pacarnya Bilqis kenapa sampe mau putus?"
"Tadi katanya pacar Bilqis itu kasar, suka main tangan sama Bilqis. Sebenarnya dari dulu Bilqis mau putus, tapi dia nggak berani sama takut sama pacarnya," jawab Airin, "Kak Nevan tahu gimana caranya mereka bisa putus? Kasihan Bilqis tahu, Airin pernah lihat samar-samar memar di lengan Bilqis."
Percayalah, Nevan sangat tidak suka dengan laki-laki yang kasar kepada perempuan. Seumur hidupnya yang sudah hidup selama delapan belas tahun ini, ia sama sekali belum pernah dengan secara sengaja kasar atau main tangan kepada perempuan.
Dengan penuh kelembutan Nevan mengusap kepala Airin. "Itu urusan mereka, lebih baik lo jangan ikut campur. Cukup doain aja semoga Bilqis baik-baik aja atau pacarnya sadar dan nggak kasar lagi."
"Tapi, kalau lo ketemu sama cowok kasar, lo harus langsung jauhin dan hindari dia. Kalau lo masuk terlalu dalam dan bahayanya cowok kasar itu suka sama lo, nantinya lo bakalan kayak Bilqis," lanjutnya.
"Jadi, kalau Kak Nevan kasar, Airin harus jauhi dan menghindar dari Kak Nevan?"
Nevan mengangguk pelan. "Gue pastiin, gue nggak bakal kasar sama lo dan lo nggak bakalan bisa jauh dari gue."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Airin sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Nevan.
Dengan suara deep-nya Nevan menjawab. "Karena lo milik gue."
Tentu saja Airin yang mendengar itu tersipu sampai mampus, jantungnya seakan tengah mengadakan lari maraton. Bahkan Airin sudah memastikan kalau pipinya sekarang merah merona seperti kepiting rebus.
"Meskipun Kak Nevan kasar, Airin nggak yakin bisa ninggalin Kak Nevan," kata Airin tiba-tiba dengan kepala menunduk.
"Kenapa?" tanya Nevan penasaran.
Airin mendongak, menjawab dengan tersenyum. "Karena Airin suka sama Kak Nevan, Airin nggak mau jauh-jauh dari Kak Nevan. Kalau kata cowok playboy mah, aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Nevan tertawa tipis seraya mencubit pelan hidung istrinya, kemudian mereka berpelukan. Jika ditanya bagaimana perasaan Nevan, maka jawabannya belum pasti. Nevan terlalu payah dalam urusan cinta, sebab ia tak pernah dekat dengan perempuan manapun atau merasakan debaran-debaran cinta seperti remaja pada umumnya.
Airin melepaskan pelukan mereka. "Tapi, kenapa Airin nggak boleh ikut campur? Airin 'kan bermaksud buat membantu."
Menghela nafas pelan, Nevan mengusap pipi Airin. "Mungkin maksud lo emang baik buat bantu Bilqis putus sama pacarnya yang kasar. Tapi, itu urusan Bilqis sama pacarnya, kalau lo ikut campur, gimana kalau nanti pacarnya Bilqis malah kasar sama lo, hm?"
Menganggukkan kepalanya. "Bener juga, ya, Airin juga nggak mau dikasarin. Pasti Airin bakalan langsung nangis."
Airin kembali bertanya. "Oh, iya. Airin mau tanya, kata Kak Nevan kalau Kak Nevan itu punya kakak. Emang itu bener? Kenapa Airin nggak pernah lihat, waktu pernikahan kita juga nggak datang. Kakaknya Kak Nevan, nggak sayang, ya, sama Kak Nevan."
"Enggak, kok, dia sayang banget sama gue. Tapi, dia udah meninggal," ucap Nevan dengan jujur.
Menutup mulutnya karena terkejut. "Astaghfirullah, maaf Airin nggak tahu."
Menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, udah seharusnya lo juga tahu soal ini. Mau gue ceritain soal keluarga gue?"
Airin mengangguk antusias sebagai jawaban.
"Nama kakak gue itu Meisha dan dia tunangannya Bang Allen, tapi Kak Meisha itu bukan saudara kandung gue. Bunda Aliana juga bukan ibu kandung gue, ibu kandung gue udah meninggal sejak gue masih kecil, gue manggil dia mama. Kak Meisha, bunda, mama, dan lo, kalian berempat perempuan spesial di hidup gue. Tapi sayangnya, dua di antara kalian harus pergi. Tentu gue sedih, tapi gue harus tetap tegar."
Mendengar itu Airin langsung memeluk suaminya, menepuk-nepuk pundak Nevan dengan begitu akrab. Mengisyaratkan agar Nevan jangan bersedih dan harus tetap kuat.
"Dan sekarang Kak Nevan juga adalah laki-laki spesial di hidup Airin," ujar Airin dengan tulus.
Nevan melepaskan pelukan itu, lalu menangkup kedua pipi istrinya. "Airin, lo jangan pernah tanya apa gue suka atau cinta sama lo. Karena gue sendiri yang akan langsung ungkapin semua itu."
Airin menunjukkan senyuman sembari mengangguk singkat, lalu sebuah ciuman ia terima. Meskipun belum mahir, Airin masih bisa mengimbangi sebab Nevan begitu sangat lembut dan hati-hati. Airin sangat suka dengan bagaimana cara Nevan memperlakukan dirinya seistimewa itu.
"Ekhem!"
Ciuman itu terlepas begitu saja dan keduanya secara serempak menoleh ke arah pintu kamar. Di sana ada Allen yang berdiri sembari bersidekap dengan wajah masamnya.
__ADS_1
"Pulang-pulang malah disambut sama pasutri yang lagi pemanasan buat berkembang biak, sial banget!"
Sungguh, Airin malu setengah mati!