Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Momen Uwu


__ADS_3

Sebenarnya Nevan sudah merasa lebih baik lagi ini, tapi Airin memaksa dirinya untuk jangan pergi ke sekolah dulu. Katanya lagi masa pemulihan. Arin sendiri lebih memilih untuk berangkat ke sekolah, perempuan itu takut terlalu banyak tertinggal pelajaran.


Saat di sekolah tadi ada ulangan dadakan dan hal itulah yang menjadi alasan kenapa sekarang Airin uring-uringan sepulang sekolah. Nevan yang tidak tahu apa-apa malah kena imbasnya.


"Airin, kamu kenapa? Dari tadi marah-marah mulu, kamu lagi dapet?" tanya Nevan yang sedang duduk di sofa.


Sedangkan Airin sendiri sedang duduk di sofa single sembari memakan camilan singkong, jangan lupakan wajah cemberutnya. "Airin nggak kenapa-napa, nggak lagi dapet juga."


"Terus kenapa?" tanya Nevan lagi.


Perempuan itu menaruh bingkisan keripik singkong ke atas meja sembari menghela nafasnya, lalu beralih duduk di samping suaminya. "Tadi ada ulangan matematika dadakan, Airin belum siap terus pas nilainya udah ada, nilai ulangan Airin sangat-sangat kurang bagus. Padahal Airin udah berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik, tapi tetep aja nggak sebagus punya orang lain."


Nevan dengan lembut mengusap kepala istrinya. "Itu bagus, kamu udah berusaha yang terbaik."


"Tapi, hasilnya jelek! Airin nggak suka, malah jadi kesel!" Airin bersidekap dengan wajah ditekuk.


"Airin, semua orang di dunia ini selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mencapai targetnya. Tanpa kamu tahu mereka yang dapat nilai bagus juga suka berusaha, belajar yang rajin, dan terus mengulang-ulang materi sebelumnya," kata Nevan dengan pelan agar Airin bisa memahami ucapannya.


"Meski emang agak menyebalkan, ketika kita melakukan yang terbaik tanpa orang tahu tapi hasilnya masih tetap sama dan hal itu bikin kita muak terus bosen," lanjutnya.


Laki-laki yang memiliki nama panjang Nevan Xander Calvin itu merangkul pundak istrinya. "Dulu aku juga pernah bosen terus-terusan belajar tapi nggak mencapai target, ada pikiran buat berhenti belajar dan sekolah. Tapi balik lagi, ada orang tua yang udah susah-susah biayain dan pengin lihat anaknya lulus atau jadi sarjana nantinya."


"Itu yang bikin aku bertahan sampai sekarang," sambungnya sembari mencubit pelan hidung Airin.


Nevan menengadah, menatap langit-langit apartemen sembari berlayar mengingat masa lalunya. "Kadang suka mikir, kenapa orang lain kelihatan baik-baik saja? Sedangkan aku nggak, kenapa orang lain bisa dengan mudah dapet nilai? Kenapa orang lain kehidupannya tenang tanpa ada masalah? Kenapa orang lain selalu bahagia?"


"Tapi ternyata, semua pertanyaan itu salah. Mereka sama seperti kita yang memiliki masing-masing ujian hidup, tapi mereka pandai menyembunyikannya dan diam-diam menyelesaikan masalah. Kita tidak menyadari hal itu karena kita terlalu banyak mengeluh akan semuanya dan selalu merasa bahwa dunia itu nggak adil." Nevan masih melanjutkan perkataannya dengan Airin yang setia mendengarkan setiap kata demi kata yang suaminya lontarkan.


Jujur saja hal seperti ini yang Airin suka dari Nevan. Ketika Nevan menasihatinya dengan cara baik-baik serta dengan kata-kata yang mudah Airin serap.


"Sekarang, jangan banyak mengeluh, syukuri apapun yang sudah Tuhan tetapkan untuk kita. Ubah pola hidup menjadi lebih baik, kurangi bercanda dalam segala hal karena di usia kita ini waktunya untuk berjalan dan bergerak mencari jati diri," tambah laki-laki itu.


Airin menoleh menatap suaminya. "Kak Nevan bener, Airin terlalu banyak mengeluh dan nggak bersyukur. Padahal seharusnya Airin bersyukur masih dapet nilai, sebab ada siswa lain yang malahan nggak dapet nilai."


"Nah, itu kamu tahu," ujarnya, "Orang pinter sekalipun pasti punya kesulitannya sendiri, hanya saja kita tidak tahu karena dia merahasiakannya."


"Sebenarnya manusia itu tidak ada yang bodoh, hanya saja mereka terlalu malas untuk belajar dan mengasah kepintarannya," kata Nevan melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Mendengar itu Airin mengepalkan tangannya. "Kalau gitu Airin harus semangat dan giat belajar lagi, fighting!"


Nevan mengulas senyumannya melihat Airin yang seperti mengeluarkan bara semangatnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja perempuan itu berdiri dari duduknya.


"Karena Airin lagi semangat, Airin mau bikin makanan buat Kak Nevan," katanya.


Nevan sendiri menatap Airin dengan bingung, kenapa tiba-tiba jadi mau masak? Padahal dirinya sendiri tidak lapar sama sekali karena baru beberapa menit yang lalu sebelum Airin pulang sekolah ia sudah makan.


Takut mood Airin kembali buruk, Nevan memilih diam dan pasrah membiarkan Airin memasak. Istrinya itu beberapa kali pernah belajar memasak dengan Febby dan juga beberapa kali dengan dirinya. Katanya biar Nevan tidak cari jajan di luar.


"Airin sekarang mau coba bikin sop, tadi lihat di kulkas masih ada sisa bakso-bakso kecil yang kemarin terus sayur-sayurannya juga masih ada banyak kalau kelamaan nanti malah busuk," ucap Airin yang mungkin ditunjukkan kepada Nevan.


Sembari perempuan itu membersihkan sayuran, Nevan memeluk Airin dari belakang membuat istrinya protes agar dirinya tidak mengganggu.


"Kak Nevan jauhan sana! Mending duduk aja atau main game dulu sampe masakan Airin selesai," suruh perempuan itu yang malah dibalas gelengan oleh Nevan.


"Gini dulu aja, aku lagi pengin peluk kamu," akunya dengan jujur.


Airin mencibir. "Dari kemarin maunya peluk terus, emangnya nggak bosen?"


"Emangnya kamu pengin aku bosen? Udah gitu cari yang lain, hm?" balas Nevan bertanya.


Nevan menghela nafas tak percaya. "Mana ada sampe tujuh hari tujuh malam, beberapa menit didiemin aja langsung nangis kejer minta dimanja."


Mendengar itu Airin membalikkan badannya menghadap Nevan. "Itu dulu, sekarang nggak bakal gitu lagi," balasnya seraya menunjuk Nevan dengan wortel yang ia pegang.


"Enggak percaya!"


Airin berdecak, kembali melanjutkan aktivitasnya. "Terserah!"


"Cewek mah gitu, ujung-ujungnya bilang terserah. Ngaku aja kali kalau emang udah kalah mah," ucap Nevan menggoda istrinya.


Airin kembali berbalik dan memiliki Nevan dengan wortel. "Kak Nevan kenapa ngeselin banget, sih? Pasti kemarin sakit demam otaknya jadi ikutan demam juga, jadi bermasalah!"


Nevan tertawa puas melihat wajah kesal istrinya, apalagi dengan wortel yang berubah menjadi dua bagian alias potong. Ia menghentikan tawanya beralih menangkup kedua pipi Airin, lalu mengecup hangat bibir yang berhasil membuat Nevan candu.


"Manis," ujarnya singkat.

__ADS_1


Sontak pipi Airin memunculkan semburat merah merona membuat Nevan kembali tertawa gemas. "Eh, pipinya kenapa jadi merah? Pake pewarna pipi ajaib, ya?"


"Kak Nevan!" jeritnya seraya menyembunyikan wajah merah meronanya di dada bidang Nevan.


"Lucu banget, sih, ini istrinya siapa, hm?"


Airin mendongak dengan senyuman. "Istrinya Kak Nevan!"


"Nevan siapa?"


"Nevan Xander Calvin yang paling ganteng!"


Di satu sisi ada Keisha yang datang ke rumah sakit untuk menemui ibunya yang tengah dirawat setelah mengantarkan makan siang untuk Allen di kantor.


"Keadaan Ibu sekarang gimana?" tanyanya sembari memegangi tangan Ibunya yang terbebas dari selang infus.


Perempuan paruh baya itu tersenyum tipis. "Ibu udah agak mendingan, kamu nggak usah khawatir lagi."


Keisha menghela nafasnya, meski ibunya mengatakan tidak apa-apa tapi tetap saja ibunya masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan selang infus.


"Keisha, ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu," katanya tiba-tiba.


"Apa, Bu?" tanyanya.


"Sebenarnya kamu itu bukan putri Ibu satu-satunya."


Mendengar itu Keisha mengernyit. "Maksud Ibu apa?" tanyanya.


"Kamu punya saudara kembar, Ibu terpaksa menjual dia kepada orang kaya waktu kalian lahir. Ibu belum pernah mendengar kabarnya lagi setelah Ibu sakit," ungkapnya dengan jujur.


Keisha menundukkan kepalanya. "Jadi, semua itu benar?"


Perempuan paruh baya itu menatap putrinya dan tak lama Keisha mendongak menatapnya. "Bos Keisha bilang, kalau dia punya tunangan yang mirip sama Keisha. Jadi, apa mungkin tunangannya dia itu saudari kembar Keisha?"


Mengangguk pelan. "Kemungkinan begitu, kabar terakhir yang Ibu dengar tentang kembaran kamu itu bahwa dia sudah tunangan dengan laki-laki bernama Allen Jeovanno Gyandra. Apa sekarang mereka sudah menikah?"


Keisha diam untuk beberapa saat. "Mereka tidak menikah karena ... Kembaraan Keisha meninggal dunia akibat kekerasan fisik dari peristiwa penculikan."

__ADS_1


......Jangan lupa sukai cerita ini ❣️......


__ADS_2