
...HAPPY READING 💜🦋...
Tiba-tiba saja di pagi hari yang cerah ini ibu hamil itu merengek kepada sang suami untuk pergi jalan-jalan ke mall. Padahal niatnya tadi Nevan disuruh Ayahnya untuk mengikuti kelas bisnis private, terpaksa dengan senang hati Nevan membatalkan jadwalnya itu dan pergi menemani istri tercinta jalan-jalan ke mall.
"Emangnya ke mall mau beli apa? Kan beli perlengkapan bayi juga udah kemarin," tanya Nevan saat kakinya berpijak di lantai mall.
Airin mengaitkan tangannya di lengan Nevan. "Enggak ada, sih, cuma mau jalan-jalan aja."
"Bukannya nggak boleh, tapi kamu 'kan lagi hamil tua kalau kakinya pegel nanti gimana? Terus kamu juga jangan capek-capek, mending diem aja di rumah," kata Nevan dengan sedikit menasehati.
Mendengar itu Airin mencebik. "Ish! Kata dokter juga aku harus banyak-banyak gerak, biar nanti pas lahiran lancar."
Nevan menghela nafasnya pasrah. Pasangan suami istri itu berjalan-jalan terlebih dahulu seraya melihat-lihat keadaan sekitar, jikalau terasa ada yang menarik perhatian mungkin akan Airin pertimbangkan untuk membelinya.
"Kak Nevan 'kan bentar lagi mau pergi ke kondangan, gimana kalau kita beli baju aja? Udah lama juga nggak beli baju," kata Airin tiba-tiba ketika melihat toko pakaian dengan brand terkenal.
Terlihat Nevan menggeleng pelan. "Enggak usah, pakai aja yang ada."
"Enggak mau! Kita harus beli sekarang pokoknya." Airin menolak keras dan langsung menarik tangan suaminya menuju ke toko pakaian.
Di sana mereka menghabiskan hampir satu jam lebih hanya untuk memilih pakaian dan belum ada yang terpilih satu pun. Inilah alasannya kenapa para laki-laki sangat malas menemani perempuan berbelanja, terutama pakaian. Pilihannya ada banyak dan itu akan menghabiskan waktu sangat lama, tak singkat.
Biasanya Nevan membeli baju ; tertarik, dicoba eh ternyata cocok, langsung beli.
Sementara Airin ; tertarik, dicoba eh ternyata pas dicoba jadi keliatan gemuk. Ganti lagi, dicoba eh ternyata warnanya nggak cocok sama kulit. Ada yang menarik lagi malah bingung mau pilih warna yang mana, katanya yang ini bagus tapi yang itu juga bagus, ujung-ujungnya nggak jadi beli, deh. Terus saja begitu sampai Nevan sudah menguap beberapa kali.
Meskipun begitu, Nevan tetap sabar dan menunggu istrinya itu sampai selesai.
Nevan duduk di sofa yang telah disediakan di sana, ia duduk dengan anteng seraya menunggu Airin yang sedang berada di ruang ganti. Matanya menelisik mengamati sekitar dan tak sengaja netranya menangkap sosok laki-laki yang tengah merangkul perempuan dengan mesra.
Mengernyit heran. "Itu 'kan Arkana calon suaminya Alisca?" monolognya.
"Kenapa dia malah jalan sama cewek lain? Padahal bentar lagi udah mau nikah," lanjutnya.
Laki-laki itu terdiam sejenak dengan pikiran yang melayang kenapa kejadian beberapa hari lalu tepatnya saat acara from night selesai, di mana Gabril yang berusaha meyakinkan Alisca bahwa calon suaminya adalah orang yang tidak baik.
Sekarang Nevan berpikir tentang apakah harus ia menolong Alisca dari laki-laki brengsek semacam Arkana?
"Kak Nevan!"
__ADS_1
Tersentak kaget. Nevan mendongak dan langsung menemukan wajah istrinya yang menekuk kesal. "Kenapa?" tanyanya polos.
"Dari tadi dipanggil nggak nyaut terus, tahunya malah bengong di sini," balas perempuan hamil itu ketus.
"Maaf, tadi cuma lagi mikir aja."
"Emangnya punya otak?"
"Airin!" geram Nevan pelan.
Perempuan itu terkekeh pelan. "Iya, iya, maaf! Kita ke kasur, aku udah beli bajunya."
"Beli apa?" tanya Nevan penasaran.
"Cuma beli kaos oversize."
Hampir dua jam dirinya menunggu dan yang Airin cuma beli kaos, really?
Sembari menunggu Airin selesai membayar di kasir. Nevan mengeluarkan ponselnya lantas ia mengirimkan pesan kepada seseorang.
Anda
•••
Tepat pada pagi yang cerah ini, acara pernikahan baru saja dibuka oleh seorang pembawa acara dan tentu saja Alisca sudah sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan putih. Wajah gadis itu dibuat pangling dengan hasil makeover para ahlinya. Di ruang tunggu gadis itu terlihat sangat gugup di tempatnya, entah kenapa hatinya sedari tadi gelisah tak menentu, seperti ada keraguan di hatinya untuk melanjutkan acara pernikahan ini. Akan tetapi, ia tak mungkin menyuruh orang tuanya membatalkan pernikahan ini, sedangkan semuanya sudah dipersiapkan secara matang dari jauh-jauh hari.
"Sayang, ayo! Sekarang waktunya ijab qobul." Perempuan paruh baya datang dengan senyuman, mengulurkan tangannya kepada Alisca. Perempuan itu adalah ibu Alisca.
Alisca meraihnya dengan senyuman tipis. Kegelisahan di hatinya semakin menjadi, bahkan ada rasa berontak yang ingin Alisca lakukan namun tubuh tak menurutinya.
Ia berjalan dengan anggun didampingi sang ibunda. Di atas pelaminan sana sudah ada Arkana yang menunggu dengan senyuman manis, laki-laki itu terlihat gagah dengan balutan jas hitam. Netranya melirik ke samping, tepatnya pada barisan tamu undangan. Tak jauh dari area pelaminan ada sosok Gabril beserta teman-temannya. Pemuda itu menatapnya dengan senyuman tipis, buru-buru Alisca menundukkan kepalanya, ia tak kuasa melihat senyuman menyakitkan yang Gabril tampilkan. Hatinya kembali berdenyut nyeri.
Alisca sudah duduk di samping Arkana, laki-laki itu sempat berbisik dan memujinya cantik.
Sebelum akad nikah dilaksanakan, penghulu berkata, "Sebelum kita lanjut ke acara intinya, saya mau tanya dulu sama kalian berdua. Nak Arkana, betul ini calon istri kamu?"
Arkana mengangguk. "Betul, Pak!"
"Betul apa betul? Coba dilihat dulu, siapa tahu pas di ruang tunggu istri kamu tertukar."
__ADS_1
Mendengar itu lantas Arkana menatap Alisca yang terus menunduk. "Enggak salah, Pak. Ini memang wanita yang saya cintai."
Sorakan tamu undangan terdengar dan penghulu tersenyum. "Baiklah kalau begitu, kita mulai saja, ya? Sepertinya kedua mempelai sudah tidak sabar lagi."
Tangan Arkana sudah menjabat tangan ayah Alisca, ia mendengarkan instruksi dari penghulu dengan seksama. Sementara itu, dibarisan tamu undangan, ada Gabril yang menahan mati-matian agar air matanya tak menerobos turun. Sungguh, hatinya sangat sakit melihat perempuan yang ia cintai selama ini tengah bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.
Melihat nasib temannya yang begitu miris, Reval jadi teringat dengan salah satu lagu yang sepenggal liriknya adalah harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia.
"Nak Arkana, setelah mertua kamu menyelesaikan ucapannya, kamu dengan spontan langsung mengulanginya, ya?"
Arkana mengangguk. "Iya, Pak!"
"Baiklah kita mulai."
"Bismillahirrahmanirrahim, Arkana Haikal Anindito bin Yusuf Anindito saya nikah dan kawinkan engkau kepada--"
Ucapan ayah Alisca terhenti seketika ketika mendengar jeritan para tamu undangan saat beberapa laki-laki berseragam polisi memasuki area pernikahan. Ia berdiri dari duduknya, menatap heran kepada polisi yang tiba-tiba saja datang.
"Mohon maaf mengganggu acaranya, kami di sini ingin memberitahuan menangkapan kepada saudara Arkana Haikal Anindito karena tuduhan memakai narkoba dan juga penyeludupan barang-barang ilegal," kata salah satu polisi dengan santai seraya menunjukkan surat perintah penangkapan terhadap Arkana.
Melihat itu Arkana duduk dengan tubuh gemetaran. Sial, siapa yang memberitahu polisi soal itu?
"Arkana, apa itu benar?" Ibu dari Arkana membuka suara.
Arkana menggeleng keras. "Enggak, Bu, itu fitnah. Arkana nggak mungkin lakuin hal itu."
"Sekarang ikut kami ke kantor polisi, Anda bisa menjelaskannya di sana."
"Enggak, Pak! Saya tidak bersalah." Arkana berontak saat dua polisi menahan kedua tangannya.
"Pak, saya tidak bersalah! Ibu, Ayah, Arkana nggak salah!" teriakkan Arkana tak dihiraukan karena ibunya menangis hebat dan ayahnya sibuk menenangkan sang istri.
Melihat adegan tak terduga barusan, tamu undangan berbisik-bisik soal kebenaran yang sebenarnya. Bertanya-tanya apakah benar Arkana pemakai narkoba dan melakukan penyeludupan barang-barang ilegal?
Alisca yang masih terlalu shock dengan kejadian barusan, langsung dibawa oleh ibunya kembali menuju ke ruang tunggu. Dan terpaksa pernikahan pun dibatalkan dengan ayah Alisca yang langsung meminta agar pernikahan tak dilanjutkan kepada keluarga Arkana, ia tak mau putrinya menikah dengan laki-laki yang menjadi tersangka.
Sementara itu, diam-diam Gabril merasakan kelegaan di hatinya bukan main. Akan tetapi, ia bertanya-tanya tentang siapa yang melaporkan Arkana? Siapakah orang baik itu yang telah memisahkan Alisca dari laki-laki brengsek seperti Arkana. Kemudian, tepukan di bahu Gabril rasakan dan ternyata pelakunya adalah Nevan.
"Kayaknya acaranya nggak dilanjut, gue pulang dulu," pamit Nevan tanpa menghiraukan tatapan dari Gabril.
__ADS_1
...SEE YOU!!!...