Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Sendal Davian


__ADS_3

...HAPPY READING 💜✨...


"Sejak kapan lo kerja jadi kayak gini?"


"Sekitar tujuh atau delapan bulan, maybe."


"Berapa yang lo dapet? Semalam dapet berapa?"


"Ngapain lo tanya? Emangnya lo bisa kasih gue berapa?"


Mendengar jawaban Diandra membuat Davian berdecak kesal, "Dian, gue tahu ini bukan urusan gue. Mau lo jadi l*nte, j*blay, j*lang, itu emang bukan urusan gue. Tapi, sebagai seorang teman yang baik dan selalu perhatian kepada kawan-kawannya gue pengen tahu alasan dibalik lo ngelakuin hal kayak gini. Gue tahu lo orang yang bukan dengan sukarela kerja jadi cewek pemuas nafsu laki-laki."


Diandra mengalihkan pandangannya dari Davian, ia diam tak menjawab apapun.


Melihat respon Diandra membuat Davian menghela nafasnya, "Gue tahu lo pasti terpaksa, coba cerita sama gue. Ada apa? Lo nggak baik-baik aja, 'kan?"


Pertahanan Diandra akhirnya runtuh, gadis itu tak mampu menahan air matanya. Dengan deras liquid bening itu lolos meluncur dari kelopak matanya. "I-iya, gue terpaksa, gue terpaksa harus lakuin hal ini. Gue lagi butuh uang, gue nggak tahu harus kayak gimana lagi buat cari uang."


"Kenapa lo nggak bilang sama gue? Kenapa nggak bilang sama temen-temen yang lain? Kita pasti bakal bantuin lo kalau lo bener-bener butuh uang, selama ini lo anggap gue ini apa?" Davian lagi dan lagi bertanya, ia masih tak habis pikir dengan apa yang Diandra lakukan.


"Apa meminjam uang dari teman jauh lebih sulit dibandingkan harus ngerendahin diri sendiri?" lanjutnya.


Gadis itu mendongak, menatap Davian dengan mata berkaca-kaca. "Enggak, gue melayani pelanggan gue bukan seperti yang lo pikirin."


"Terus?" Davian bertanya seraya mengangkat satu alisnya.


"Gue bukan jadi temen tidur atau pemuas nafsu, tapi jadi semacam pacar satu malam."


"Apa?"


"Iya, kayak jalan-jalan bareng, pergi ke club bareng, gandengan tangan, makan bareng."


Mendengar itu Davian memijat pangkal hidungnya. "Kalau dengan jadi pacar pura-pura selama satu malam, kenapa lo nggak minta sama gue?"


"Apa?" Diandra mengernyit heran.


"Gue nggak akan jadiin lo pacar pura-pura, tapi pacar beneran!"


...•°•°•...

__ADS_1


Setelah pembagian raport kemarin, para anggota inti Drave berkumpul di apartemen Nevan hanya untuk sekedar nongkrong saja. Sekalian juga ngumpul-ngumpul sebelum besok acara perpisahan.


"Liburan kali ini rencananya kalian mau ke mana?" Gabril bertanya sebagai pembuka pembicaraan.


"Palingan juga gue pulang kampung ke Bandung, kebetulan juga ada sepupu yang mau ngadain acara resepsi pernikahan di sana." Reval menjawab sembari memasukkan keripik singkong ke dalam mulutnya.


Zean menyahut, "Palingan gue liburan--"


"Sama Citra!" serempak Davian, Gabril, dan Reval berucap.


"Udah apal gue mah apa yang bakal lo omongan, setiap liburan sekolah lo kagak bakalan jauh-jauh dari liburan sama Citra," kata Davian dengan menatap sinis ke arah Zean.


Nevan keluar dari kamarnya dengan rambut basah juga koko berwarna hitam yang melekat di tubuhnya serta kolor bergambar Spongebob.


"Kalian pada mandi sana, terus siap-siap kita shalat Jumatan dulu," ujarnya seraya mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk berukuran kecil.


Semuanya sudah siap, rapi memakai baju koko, sarung, dan peci. Tampak tampan dan menguji keimanan para kaum hawa. Hanya satu makhluk yang masih duduk anteng memakan camilan sambil rebahan di sofa.


"Loh? Lo masih gitu-gitu aja, sih? Kita udah mau berangkat, keburu telat nanti," sahut Reval seraya menatap heran ke arah Gabril.


Melihat Gabril yang masih santai Davian berdecak, "Buruan sana siap-siap, kagak usah mandi aja, gue males nunggu."


"Astaghfirullah, akhi! Nyebut lo, dosa!" Tiba-tiba Gabril menyahut dengan posisi berubah menjadi duduk.


"Lo Kristen, Bolot!" Reval berucap kesal sembari memukul Gabril dengan bantalan sofa.


Melihat teman-temannya itu membuat Nevan menghela nafasnya, lagian sejak kapan Zean berani berucap kasar dan bersikap kekanak-kanakan seperti teman-temannya yang lain. "Kalian mau sampe kapan kayak gitu? Lima menit lagi Jumatan dimulai!"


"Eh? Ampun Pak Ketu, hayulah kita capcus!"


Mereka semua kecuali Gabril pergi ke masjid yang dekat dengan apartemen Nevan, mereka semua melaksanakan shalat Jumat juga dhuhur dengan khusyuk. Lain lagi dengan Gabril yang sendirian di apartemen Nevan, sementara Airin, perempuan itu pergi ke rumah Allen untuk menemani Keisha.


"Lho? Sendal gue ke mana?" Davian menolehkan kepalanya mencari-cari keberadaan sendalnya yang beda dari yang lain.


"Cari apaan lo?" Zean datang seraya menepuk pundak Davian.


"Apaan?" Reval ikut bertanya dengan Nevan yang mengikutinya di belakang.


Davian berjongkok dengan mata berkaca-kaca, "Sendal gue ilang, hiks!"

__ADS_1


"Yaela, itu masih banyak sendal tinggal pilih aja," celetuk Reval dengan santai sampai akhirnya ia mendapat geplakan dari Nevan.


"Itu sama aja lo nyolong, bangsat!" kesal Nevan yang hanya dibalas cengiran oleh Reval.


"Udahlah lo nggak usah sedih, cuma sendal doang yang diambil bukan jodoh lo," ucap Zean menenangkan, "Kalau lo nggak mau nyeker, nih, pake punya gue aja."


"Cuma sendal jepit sepuluh ribuan doang lo tangisi," sahut Reval seraya memakai sandal punyanya, "Nanti gue beliin sama pabrik sendalnya, dah!"


Davian mengusap air matanya, kemudian berkata, "Gue nangis bukan karena sedih sendal itu ilang, tapi gue sedih sama yang ambil sendal gue. Padahal harganya nggak seberapa, tapi sekarang disetiap langkahnya dengan sendal itu dia jadi berdosa, kasihan..."


"Sejak kapan lo jadi bijak kayak gini?" Reval bertanya-tanya dengan heran.


"Ini Davian yang gue kenalkan?" Zean bertanya seraya menangkup kedua pipi Davian.


"Kalian bertiga malu-maluin gue aja. Mending kita balik, nanti mampir ke supermarket dulu beli sendal buat lo," ucap Nevan sembari melangkahkan kakinya keluar dari area masjid diikuti oleh teman-temannya di belakang.


Sembari berjalan menuju ke supermarket mereka berbincang-bincang.


"Ngomong-ngomong, Airin sekarang udah berapa bulan?" tanya Zean tiba-tiba.


Dengan tenang Nevan menjawab, "Jalan delapan bulan."


Tiba-tiba Reval menyahut, "Lo pikun apa gimana? Baru seminggu yang lalu kita syukuran tujuh bulannya si Airin!"


Mendengar ucapan Reval membuat Zean berdecak sebal, tidak tahukah ia hanya ingin basa-basi saja.


"Udahlah, nggak udah dipikirin lagi. Ini kita 'kan mau beliin lo sendal yang baru." Reval menyenggol lengan Davian yang berjalan di sampingnya, pasalnya pemuda itu masih saja murung.


"Tapi, gue kepikiran!"


"Enggak usah dipikirin!"


"Tapi, tetep aja otak gue kepikiran terus!"


"Emangnya lo punya otak?"


"Janc*k!"


...SEE YOU!!...

__ADS_1


__ADS_2