Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Nevan Sakit


__ADS_3

...Stay terus sampai ending 🌻...


Allen menyetujui niat Nevan yang ingin membawa Airin untuk tinggal di apartemen laki-laki itu. Karena bagaimanapun juga Airin sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya bagi Nevan, Allen hanya percaya saja kepada laki-laki itu. Akan tetapi, kalau sampai dirinya tahu Nevan tidak becus, tanpa lama-lama lagi ia akan langsung membawa Airin pulang.


Hampir semua barang yang Airin miliki perempuan itu bawa ke apartemen Nevan, alhasil apartemen Nevan menjadi agak lebih berisi sebab ada banyak barang Airin. Contohnya saja seperti belasan boneka yang berjejer di kamar Nevan, memang hanya ada satu kamar di sana.


Hari ini hari Minggu, pindah-pindah barang selesai pada siang hari dan setelah itu Nevan pamit untuk bertemu dengan teman-temannya, Nevan pikir dirinya sudah lama tak kumpul-kumpul dengan anggota Drave yang lain. Sementara Airin, perempuan itu katanya mau tidur saja di apartemen.


Drave dan Earth berkumpul di basecamp B milik Drave. Tidak semua anggota ikut berkumpul di sana karena memang hanya kumpul biasa-biasa saja.


Di sana ada anggota inti Drave, Nevan sebagai ketua. Zean sebagai wakil, Reval, Gabril, dan Davian. Kemudian, ada anggota inti Earth. Galang sebagai ketua, Adrian sebagai wakil, Ben, Ferdi, dan Martin.


Tidak hanya mereka bersepuluh, tapi masih ada yang lainnya. Seperti si kembar Azka dan Aska, Bagas, Cana, Eric, serta Ivan yang merupakan anggota Drave. Lalu, Bima yang masih diterima menjadi anggota Earth, Nanda, Arlo, dan Uzi.


"Tadi gimana?" tanya Nevan kepada Galang sembari menyikut lengan laki-laki itu.


Galang menoleh ke arah Nevan, mengangkat alisnya tanda tak mengerti. "Gimana apanya? Gue nggak gimana-gimana, tuh."


Mendengar balasan Galang membuat Nevan berdecak. "Tadi gimana sama Bilqis? Kalian udah jadi?"


Kini, giliran Galang yang berdecak. "Lo kenapa nggak bilang kalau ternyata si Bilqis itu galak. Galaknya udah hampir setara sama emak gue anjir!"


Nevan mengangkat bahunya acuh. "Biasanya dia kalem, maksudnya yang gue lihat dia nggak bar-bar banget."


"Meski kayak gitu gue yakin nanti Bilqis bakalan minta bantuan sama lo," lanjutnya.


"Iya, sayang! Masa kamu nggak percaya? Nih, aku lagi sama temen-temen. Enggak ada cewek juga di sini, dari kemarin curigaan mulu."


Serempak atensi mereka beralih kepada Zean yang sedang melakukan video call dengan Citra. Memang akhir-akhir ini Citra sering curiga kepada Zean, seperti menuduh Zean bohong, selingkuh, atau katanya udah nggak cinta lagi. Entah ada apa dengan Citra itu, sepertinya hubungan Zean dan Citra sedang diuji. Tapi untungnya, Zean sangat sabar.


"Iya, nanti kalau pulang aku mampir beliin martabak juga."


"Iya, iya, sama Cimory."


Panggilan pun terputus.


"Enak, ya, ada yang nyariin kalau punya doi mah," celetuk Bagas salah satu anggota Drave.


"Enak nggak enak, sih," balas Zean seraya menaruh ponselnya ke meja.


"Daripada itu gue lebih ngerasa aneh sama si Reval," ucap Cana tiba-tiba.


Mendengar namanya disebut Reval menolehkan kepalanya. "Kenapa sama gue? Emangnya gue aneh kenapa?"


"Lo 'kan playboy cap kadal, akhir-akhir ini gue lihat-lihat lo udah nggak sibuk sama ayang-ayang lo itu," tutur Cana.


Reval menghela nafasnya. "Udah gue putusin mereka semua, sekarang gue beneran berusaha buat jadi cowok sejati yang setia sama satu cewek."

__ADS_1


Davian berdecih mendengar itu. "Pret! Besok atau besoknya lagi ketemu sama cewek cantik, glowing, aduhai, pasti dideketin. Mulut buaya kayak lo nggak bisa dipercaya."


"Lo punya masalah apa, sih, sama gue? Dari kemarin lo kayaknya sewot mulu sama urusan gue, kalau suka bilang!" Reval dengan kesal melepaskan cangkang kuaci ke arah Davian.


Mendengar itu Davian bergidik. "Nasjisun! Gue masih normal, sekalipun gue belok, gue kagak bakalan mau sama modelan kek lo!"


Pada akhirnya peperangan antara Davian dan Reval untuk kesekian kalinya pun terjadi lagi. Gabril yang biasanya merelai mereka berdua pun sudah jengah karena memang ia sudah bosan dengan tingkah laku kedua temannya itu.


Arlo dan Uzi yang tadi disuruh untuk membeli jajanan di luar akhirnya pun datang hal itu menghentikan pergelutan antara Reval dan Davian. Mereka berdua--Arlo dan Uzi yang merupakan anggota Earth datang dengan keadaan basah kuyup.


"Di luar hujan?" tanya Adrian yang merupakan wakil ketua Earth.


Uzi menganggukkan kepalanya. "Iya, di luar hujan mana deres lagi, masih untung kagak ada petir sama guntur."


Mendengar hal itu Nevan berdiri, memakai jaketnya dan juga mengambil kunci motornya. "Gue balik dulu," pamitnya.


"Lah? Baru aja sejam setengah lo di sini, masa udah balik gitu aja," kata Zean.


Gabril menyenggol lengan Zean. "Udah punya bini 'kan beda, ujan-ujan gini enaknya emang kelonan."


"Ngomong-ngomong, kok, masih belum ada kabar, sih. Padahal kejadian di pesta itu udah berbulan-bulan, lho," sahut Davian.


Reval berdecak. "Kecebong si pak bos mah kurang pro, pake level premium, dong!"


Nevan mengabaikan segala ocehan teman-temannya, intinya ia harus segera sampai di apartemen. Kasihan Airin dirinya tinggal di apartemen seorang diri, mana hujan malah turun lagi.


"Airin!" panggilnya dengan suara bergetar.


Sang pemilik nama keluar dari kamar, perempuan itu terkejut melihat Nevan yang basah kuyup. Laki-laki itu bergetar karena kedinginan, bibirnya pun berubah menjadi pucat.


"Astaga! Kak Nevan kenapa pulang, sih? Padahal nunggu hujan reda aja," omel Airin sembari membantu melepaskan jaket suaminya.


"Aku khawatir sama kamu di apartemen sendirian mana cuaca hujan deras kayak gini," balasnya


"Padahal Airin nggak apa-apa, Airin juga asyik nonton drama."


Selesai dengan membersihkan diri, Nevan mengajak Airin untuk kelonan. Bener apa kata Gabril kalau hujan-hujan kayak gini enaknya peluk-pelukan sama istri, bikin hangat.


"Kak Nevan suhu badannya agak panas, Airin kompres, ya?" tawar Airin yang dibalas gelengan oleh Nevan.


"Enggak usah, gini dulu aja." Nevan semakin mengeratkan pelukannya, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghirup dalam aroma tubuh khas istrinya yang membuat Nevan candu, tidak ada aroma seenak ini selain aroma tubuh Airin.


"Tapi, kalau Kak Nevan sakit gimana?"


"Ada kamu yang bisa rawat aku, Rin," balas Nevan tanpa melepaskan pelukannya.


Airin menghela nafasnya, mengusap-usap kepala laki-laki itu. "Besok juga sekolah, kalau ternyata Kak Nevan sakit nanti ketinggalan pelajaran. Katanya banyak persiapan buat ujian nanti."

__ADS_1


"Kali-kali nggak ikut pelajaran, otak orang pinter juga butuh istirahat," ujarnya.


"Oh, iya, soal Bilqis gimana? Kak Nevan jadi bantu dia buat jadi pacar pura-puranya?" tanya Airin.


Nevan menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku nggak bisa bantu dia. Lagian Dean itu kayaknya udah terobsesi sama Bilqis, mau pake cara apapun juga dia nggak bakalan mau jauh dari Bilqis. Nanti kalau aku bantu Bilqis yang ada tiap detik aku harus jagain dia."


"Terus sekarang Bilqis gimana? Kasihan juga nggak ada yang bantu."


"Ada, sih, sebenarnya. Tapi, mereka berdua masih sama-sama nggak mau."


"Siapa emangnya?"


"Galang," jawab Nevan singkat.


Mendengar nama itu Airin teringat sesuatu. "Galang yang kayak preman waktu nyulik Airin bukan, sih?"


Nevan menganggukkan kepalanya. "Iya, Galang yang itu."


"Udah ah, tidur aja!"


...•°•°•...


Pagi-pagi Nevan merasa mual dan ingin muntah, laki-laki itu juga mengeluh kepalanya pusing. Hal itu membuat Airin geram sebab semalam Nevan tak mendengarkan ucapannya untuk dikompres, dan lihat sekarang malah jadi sakit.


Terbaring di kasur dengan wajah pucat, tak berdaya seperti ponsel yang tidak ada batrenya.


"Airin nggak tahu ini bubur bakalan enak apa nggak, soalnya ini pertama kali Airin bikin." Airin datang dengan memegangi semangkuk bubur yang masih panas. Dilihat dari visual buburnya bisa terbilang oke.


Nevan mengubah posisinya menjadi duduk. "Padahal kamu nggak usah repot-repot, lagian aku nggak nafsu makan."


"Harus makan, dong, biar cepet sembuh. Kalau Airin sakit juga Kak Nevan suka kayak gitu," balasnya, "Ini Airin suapin, kalau nggak enak bilang. Nanti Airin bikin lagi kalau masih tetep nggak enak Airin beli aja buburnya."


Dengan pelan-pelan Airin menyuapi suaminya itu. "Gimana rasanya?"


"Hambar," jawab Nevan dengan jujur.


"Pastinya, soalnya nggak Airin kasih garam."


Laki-laki itu mengernyit. "Kenapa nggak dikasih? Padahal kasih sedikit aja."


"Tadi di dapur banyak wadah bumbu, ada dua bumbu yang bentuknya sama, Airin takut salah jadinya nggak dikasih, deh." Airin menjawab dengan polosnya membuat Nevan terkekeh gemas.


"Kalau nggak lagi sakit aku gigit kamu, Rin."


"Kamu nggak sekolah?" lanjut Nevan bertanya.


Airin menggeleng, kembali menyuapi suaminya. "Kak Nevan lagi sakit gini masa Airin sekolah. Kak Nevan tenang aja tadi Airin udah suruh Citra buat bilang kalau Airin izin sama Kak Nevan sakit."

__ADS_1


Nevan memandang Airin lekat, lalu perlahan tangannya terangkat untuk mengelus kepala istrinya. "Makasih, ya!"


__ADS_2