
Nevan pulang ke rumah orang tuanya pagi ini sebentar untuk membawa beberapa baju juga buku paket pelajaran miliknya. Laki-laki itu mencari di lemari buku yang ada di ruangan kerja Ayahnya, entah mungkin karena gabut atau apa Darendra membaca buku pelajaran miliknya.
"Nevan, kamu 'kan udah nikah. Udah ada istri yang perlu kamu nafkahi, dan sekarang kalau mau cari kerja belum lulus SMK itu susah. Gimana kalau kamu belajar bisnis dulu sama Ryan?" Tentu saja Darendra akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membujuk putranya.
"Nevan, jawab, dong! Kamu nggak kasihan apa sama Airin yang nggak kamu nafkahi," lanjutnya dengan nada kesal.
Mengembuskan napasnya panjang, Nevan berbalik menatap sang ayah. "Airin nggak sesusah itu meski Evan nggak kerja sekarang, lagian Evan masih ada tabungan."
Darendra berkacak pinggang, menatap putranya yang mengotak-atik lemarinya yang mencari buku. "Nevan, kamu itu sekarang anak Ayah satu-satunya. Kamu yang nantinya akan menjadi pewaris perusahaan keluarga Calvin."
"Bukannya ada Bang Ryan? Sekarang dia 'kan yang pimpin perusahaan? Kenapa harus susah-susah maksa Evan, sih?" tanya Nevan yang juga ikutan kesal.
"Kamu tahu sendiri, hanya anak laki-laki dari putra sulung yang sah untuk menjadi pewaris perusahaan keluarga Calvin. Ryan itu cuma sementara, setelah kamu jadi pewaris sah, Ryan bakalan langsung pergi ke London," kata Darendra yang masih belum menyerah untuk membujuk putranya.
Nevan hanya diam saja, meneruskan mencari dua buku pelajarannya yang belum ditemukan.
Pria paruh baya itu bersidekap. "Kamu harus inget, Nevan. Mau tak mau, cepat atau lambat, kamu yang akan menjadi pewaris sah perusahaan keluarga Calvin."
Setelah mengatakan itu Darendra pergi meninggalkan Nevan yang memasang muka datarnya. Nevan benar-benar tak suka dengan bisnis, pernah sewaktu dirinya berumur sepuluh tahun diajarkan bisnis. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, Nevan menjadi muak dengan dunia bisnis. Karena ia pun ingin melakukan pekerjaan sesuai kemampuannya.
"Ngapain juga harus nurutin orag kolot itu? Padahal nggak harus gue juga yang jadi pewaris perusahaan keluarga," gerutunya dan hal itu membuat Nevan tak sengaja menjatuhkan satu buku novel bergenre romantis.
Nevan menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku sang ayah, bagaimana bisa seorang CEO membaca novel romantis? Sungguh ajaib!
Ketika mengambil buku novel itu, satu lembar foto terjatuh dari novel itu. Nevan melihat ada dua bayi perempuan kembar di foto itu, dan di belakang foto ada tulisan nama juga tanggal dan waktu lahir bayi perempuan kembar itu.
"Meisha dan Keisha?" Nevan membaca tulisan itu dengan pelan. Ia mengernyit, maksudnya ini apa? Kakaknya memiliki saudara kembar? Kenapa ia tidak tahu?
Sesaat Nevan teringat dengan sesuatu. "Jangan-jangan ... Asisten Bang Allen itu, saudari kembarnya Kak Meisha?"
Laki-laki itu membalikkan badannya hendak pergi dari ruangan kerja Ayahnya, tetapi ada sang bunda yang berdiri di ambang pintu tengah menatap dirinya dengan pandangan yang sulit Nevan deskripsikan.
Nevan mendrkat dengan langkah pelan. "Bunda, maksud dari foto ini apa? Kak Meisha punya kembaran? Kenapa Evan nggak tahu?"
Aliana hanya bisa terdiam dengan Maya berkaca-kaca, haruskan ia katakan semuanya kepada Nevan? Seharusnya ia tahu bahwa sesegera mungkin kejadian ini akan terjadi, tak selamanya ia menyembunyikan hal ini dari Nevan.
"Bunda!" panggil Nevan dengan tatapan meminta penjelasannya.
"Maafin Bunda karena nggak pernah bilang soal ini sama kamu, mama kamu pernah bilang untuk jangan kasih tahu yang sebenarnya sama kamu. Mama kamu takut, kamu sedih kalau tahu soal ini," kata Aliana dengan menatap Nevan sendu.
Nevan masih diam, ia ingin mendengarkan terlebih dahulu semua penjelasan Aliana.
"Meisha ... Sebenarnya bukan kakak kandung kamu, mama dan ayah kamu adopsi Meisha langsung dari orang tua kandung Meisha. Lebih tepatnya, Meisha dijual oleh orang tua kandungnya kepada mama dan papa kamu. Waktu itu kedua orang tua kandung Meisha sedang kekurangan uang dan mama kamu yang belum juga hamil setelah dua tahun menikah. Tapi, beberapa tahun kemudian mama kamu akhirnya hamil dan lahirlah kamu."
"Mama kamu tahu kalau kamu sayang sama Meisha, makanya dia menyuruh semua keluarga Calvin yang tahu asal-usul Meisha untuk merahasiakan itu semua dari kamu. Bunda harap, kamu jangan pernah membenci mama kamu setelah tahu kebenaran ini. Dia lakuin itu semua karena sayang sama kamu, Nevan," lanjutnya.
__ADS_1
"Jadi, sebenarnya ... Evan nggak punya kakak? Kenapa juga kalian semua harus bohong?" balas Nevan dengan matanya yang memerah menahan tangis. Sangat sulit menerima kenyataan pahit yang mendadak ini.
"Nevan, kita semua nggak mau kamu sedih saat--"
"Dengan berbohong?" Nevan memotong ucapan Aliana, "Evan lebih baik tahu dari awal dengan kejujuran kalian, daripada selama ini Evan hidup di antara kebohongan kalian dan kebenaran pahit ini, jauh lebih menyakitkan."
"Evan merasa jadi orang bodoh yang kalian bohongi bertahun-tahun," lanjutnya.
Setelah mengatakan itu Nevan pergi begitu saja, menatap Ayahnya sekilas yang ternyata sedari tadi mendengar pembicaraan dirinya dengan Aliana.
•°•°•
Hari berlalu dan sekarang bulan sudah menampakkan dirinya. Kejadian tadi pagi membuat Nevan merasa tak bersemangat, laki-laki itu sedari tadi mengurung diri di kamar apartemen miliknya. Hal itu membuat Nevan melupakan kehadiran Airin yang sangat membutuhkan dan mengkhawatirkan dirinya.
Nevan hanya sedang ingin tenang sekarang.
"Kalau seandainya Kak Meisha nggak diadopsi, pasti nggak akan mati sia-sia seperti sekarang," monolognya dengan sedih.
"Earth bajingan!" desisnya tajam.
Mengusap wajahnya frustrasi, Nevan membaringkan kasar tubuhnya ke kasur. Memejamkan matanya dengan posisi terlentang. Akan tetapi, matanya langsung terbuka begitu merasakan ada seseorang yang memeluknya dari samping.
"Airin?"
Sang pemilik nama mendongak, menatap Nevan dengan polos dan beberapa detik kemudian Airin menunjukkan senyuman manisnya. "Kak Nevan ke mana aja, sih? Katanya cuma mau ambil buku, tapi sampe malam nggak pulang. Tahunya ada di sini sendirian, nggak inget apa Airin nunggu di rumah."
"Kak Nevan lagi sedih, ya?" tanya Airin dengan polos.
Nevan menggeleng pelan. "Enggak, cuma lagi mau sendiri aja."
Airin bangun dari baringnya. "Kalau gitu Airin ganggu, dong."
Dengan cepat Nevan menarik pergelangan tangan perempuan itu, memeluknya dengan seerat mungkin. "Biar kayak gini, sebentar aja."
Perempuan itu membalas pelukkan Nevan, menepuk-nepuk punggung suaminya dengan pelan. "Airin tahu Kak Nevan lagi sedih, kalau mau nangis, nangis aja. Enggak ada sejarahnya laki-laki nggak boleh nangis kalau lagi sedih."
Nevan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, dalam hitungan detik air matanya meluncur dengan deras. Sesak di dadanya sekarang makin terasa, hatinya sedang hancur saat ini. Tolong, jangan katakan kepada siapapun jika hari ini Nevan menangis. Cukup Airin saja yang tahu!
"Airin, kamu harus jujur dalam segala hal sama aku. Mau itu semenyakitkan apapun untuk aku ketahui, itu lebih baik daripada harus pura-pura tidak tahu."
Airin menganggukkan kepalanya paham. "Iya, Airin pasti bakalan jujur sama Kak Nevan. Enggak akan ada satu hal pun yang Airin sembunyiin dari Kak Nevan."
"Iya, itu lebih baik," balasnya.
"Airin, tutup mata kamu. Jangan kamu buka sampe aku masuk kamar mandi," lanjutnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Airin mengernyit heran.
"Aku nggak mau kamu lihat muka aku sekarang, nanti kamu ikutan nangis, aku nggak suka lihat kamu nangis," jawabnya dengan suara serak.
Airin kembali menganggukkan kepalanya. "Oke, Airin tutup mata sekarang. Kak Nevan bisa lari ke kamar mandi."
Perempuan itu menutup matanya dan dengan gerakan cepat Nevan berlari ke kamar mandi. Membasuh mukanya untuk menghilangkan mimik wajah menyedihkannya.
Setelah beberapa menit, Nevan baru keluar dari kamar mandi dengan mata yang sedikit sembab, serta Airin yang duduk manis di pinggiran ranjang.
"Sekarang Kak Nevan nggak sedih lagi, 'kan?" tanya Airin.
Nevan menggelengkan kepalanya, seraya duduk di samping istrinya. Kemudian, memeluk perempuan itu. "Iya, makasih. Udah dengan senang hati kasih sandaran."
"Kita 'kan suami istri, udah seharusnya saling menyemangati. Kak Nevan juga selalu ada di sisi Airin setiap Airin butuh, Kak Nevan nggak perlu ngeluh apapun soal Airin. Terima kasih, Kak Nevan laki-laki hebat!" Airin memberikan dua jempol untuk Nevan dengan tersenyum manis.
Melihat senyuman itu Nevan juga ikutan tersenyum, mengusap kepala perempuan itu, lalu mengecup kening Airin dengan hangat. Berharap semua kebahagiaan dan ketenangan ini akan terus berjalan bersama mereka selamanya.
"Kak Nevan, kita yang kayak kemarin lagi, yuk!"
Nevan menatap Airin dengan terkejut. "Apa? La-lakuin apa?"
Airin berdecak kesal. "Yang katak kemarin sore, waktu pulang dari kafe itu."
Dengan perasaan gugup Nevan menjauh dari Airin, menatap ke arah jendela dengan punggung tegaknya. "Ke-kenapa emangnya? Kemarin juga udah, jadi sekarang nggak bisa, harus nunggu Minggu nanti."
"Ih, kata istrinya Kak Bara juga mau setiap hari boleh, kok."
"Tapi, buat kita nggak!"
"Kak Nevan, kok, jadi ngegas, sih!"
"Lagian mintanya aneh-aneh."
"Ini nggak aneh, ini sangat wajar di antara suami istri."
"Hubungan suami istri kita ini beda dari yang lain."
Airin menatap suaminya kesal. Dirinya kemudian dengan berani duduk di atas paha Nevan dan membuka kaos berwarna lilac yang ia pakai. Hal itu tentu saja membuat mata Nevan melotot kaget.
"Masyallah, Airin! Kenapa dibuka? Pake lagi cepet!"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya, melempar jauh kaos miliknya. "Ayo! Enggak apa-apa, Airin ikhlas lahir batin."
"Airin, kok, kamu jadi agresif kayak gini, sih." Tentu saja Nevan heran, siapa coba oknum yang sudah mengajari istri polos menjadi pemberani seperti ini.
__ADS_1
"Cuma sama Kak Nevan aja, Airin mau Kak Nevan seneng," balasnya dengan santai sembari mengalungkan tangannya ke leher Nevan.
Nevan membawa Airin lebih dekat dengannya. "Oke, let's play with me!"