
Hari ini Nevan pulang terakhir karena ada kelas tambahan, sedangkan Airin sendiri sudah diantarkan oleh Gabril tadi siang. Kelas 12 memang sedang disibukkan dengan beberapa persiapan untuk ujian. Nevan tidak berharap untuk lulus menjadi rangkaian satu, namun ia akan melakukan yang terbaik.
"Nevan!"
Sang pemilik nama yang sedang memasang helm menoleh ke arah sumber suara. Nevan mengernyit, bertanya-tanya untuk apa Bilqis ada di sekolahnya. "Ngapain lo di sini? Lo nggak nyasar 'kan sampe lupa sama sekolah sendiri, lagian ini udah sore."
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ujar gadis itu.
Nevan menaiki motornya. "Ngomong aja, gue harus buru-buru pulang, nih."
"Jadi, pacar gue!"
"Hah?" Nevan semakin mengerutkan keningnya, menatap Bilqis dengan heran.
"Sorry, gue nggak minat," balas Nevan dengan singkat.
Bilqis menahan tangan Nevan yang hendak menyalakan motornya. "Gue mohon sama lo, jadi pacar gue, ya?"
Nevan menghela nafasnya. "Gue udah punya Airin, lagian lo juga bukannya udah punya pacar. Ngapain ngajakin gue jadi pacar lo?"
"Bukan kayak gitu, gue cuma mau Dean nggak ganggu lagi, gue udah minta putus sama dia dua hari yang lalu," kata Bilqis memberitahu.
"Udah putus 'kan? Ngapain minta bantuan gue? Udah, gue mau pulang."
Lagi dan lagi Bilqis menahannya, Nevan mengembuskan napasnya panjang. "Mending lo minta bantuan sama yang lain aja, gue nggak bisa!"
"Tapi, cuma lo yang bisa bantu gue. Cowok lain nggak bakalan sanggup hadepin Dean yang kasar," ucapnya, "Gue mohon, cuma jadi pacar pura-pura gue doang sampe Dean nggak ganggu gue lagi. Please!"
•••
Nevan memarkirkan motornya di garansi, ia langsung masuk ke dalam dan mendapati istrinya tengah memasak bersama dengan Febby. Kenapa Febby ada di sini?
"Assalamualaikum!" sapanya sembari melepaskan sepatu.
Mendengar itu buru-buru Airin membalas dan berlari untuk memeluk suaminya. "Kak Nevan lama banget, katanya cuma sebentar, kok, sampe sore."
Mengusap kepala istrinya. "Maaf, ya, kelas tambahannya tadi lama."
"Ngomong-ngomong, Febby kenapa bisa ada di sini?" lanjut Nevan bertanya.
Febby mendongak, menjawab pertanyaan Nevan. "Tante Aliana sama Om Darendra katanya mau ke acara pernikahan temennya, terus mereka juga sekalian mau liburan beberapa hari. Terus bilang gue tinggal di sini dulu sampe mereka pulang."
Nevan menganggukkan kepalanya paham. Ia tak bisa melarang Febby sebab ini rumah Allen, lagipula sepertinya Allen tidak keberatan Febby tinggal di sini.
"Kak Nevan mau mandi? Bareng aja, yuk!" ajak Airin dengan santai tanpa memikirkan bahwa ada Febby di sana, Febby sendiri pun sepertinya pura-pura tidak mendengar saja.
Laki-laki itu merangkul istrinya sembari berjalan menuju ke arah kamar. "Emangnya belum mandi?"
"Udah, sih, tapi Airin mau nemenin Kak Nevan mandi."
"Yakin? Kalau malah jadi lebih dari mandi gimana?"
"Emangnya selain mandi Kak Nevan mau ngapain?"
__ADS_1
"Masih sedikit polos ternyata."
"Apa, sih, Kak Nevan?"
"Enggak ada!"
Febby yang mendengar percakapan itu hanya bisa menghela nafasnya sembari melanjutkan kegiatan memasaknya. Seharusnya ia tak mengiyakan usul Aliana untuk tinggal di sini selama beberapa hari.
Waktu berlalu, makan malam pun sudah terlewati. Malam ini sepertinya Allen pulang lebih awal, buktinya tadi laki-laki itu ikutan makan malam bersama. Menyambut kedatangan Febby yang sudah dari tadi dengan hangat dan mempersilahkan gadis itu untuk jangan sungkan kepadanya.
"Bang Allen!" panggil Nevan dengan kepala menyembul ke dalam.
Allen menoleh. "Apa?" tanyanya yang kembali menatap layar monitor.
Nevan masuk ke dalam ruangan kerja Kakak iparnya, kemudian duduk di kursi. "Asisten Bang Allen yang namanya Keisha itu ... Siapa? Kenapa dia mirip banget sama Kak Meisha?" tanya Nevan to the point, ia sudah sangat penasaran perihal itu.
Mendengar itu Allen menghela nafasnya, ia melepaskan kecamatanya, menghampiri Nevan dan duduk di samping laki-laki itu. "Abang juga masih bingung kenapa mereka bisa semirip itu, waktu Abang tanya sama dia katanya dia nggak punya saudara kembar sama sekali. Tapi, mana ada orang yang semirip itu di dunia ini tanpa adanya hubungan darah."
"Bang, sebenarnya Kak Meisha bukan Kakak kandung gue," ungkap Nevan tiba-tiba yang membuat Allen kaget.
"Dia diadopsi mama sama ayah sebelum punya gue, bunda juga bilang Kak Meisha itu punya saudara sebenarnya dan gue yakin asisten Bang Allen itu saudara kembarnya Kak Meisha," sambungnya.
"Lo yakin?"
"Gue yakin banget!" jawab Nevan tanpa ada keraguan.
"Tapi, Keisha bilang dia nggak punya saudara," tuturnya, "Ibunya sekarang lagi koma, kalau dia sadar dan kita tanyain sama dia, mungkin dia tahu."
Allen menggeleng lemah. "Dokter nggak tahu kapan bangunnya."
Nevan menghela nafasnya. "Lain kali kita omongin ini, gue balik ke kamar dulu."
Allen menganggukkan kepalanya, membiarkan Nevan untuk kembali ke kamar laki-laki itu.
Saat sampai di kamar, Nevan langsung diserang pertanyaan oleh istrinya. "Dari mana aja? Dicariin, kok, nggak ada. Kak Nevan nggak diem-diem selingkuh sama Febby 'kan?"
Nevan duduk di samping istrinya, menjitak pelan kening perempuan itu. "Kamu kayaknya kebanyakan nonton sinetron, dari kemarin nuduhnya selingkuh mulu. Udah aku bilang, aku nggak bakalan ninggalin kamu."
Airin cemberut, ia masuk ke dalam pelukkan suaminya. "Airin terus kepikiran, Airin takut nanti Kak Nevan kegoda sama perempuan lain yang lebih cantik dari Airin."
"Enggak akan, jangan terus dipikirin nanti bisa stres. Sekarang tidur aja, besok masih harus sekolah."
"Kelonin, dong!" pinta Airin.
Keduanya berbaring di atas ranjang dengan posisi Nevan yang memeluk istrinya. Kelonan sebelumnya tidur memang sudah seperti kebiasaan, jika tidak dilakukan rasanya ada yang kurang.
"Kak Nevan bentar lagi lulus sekolah, mau lanjut kuliah apa langsung kerja?" tanya Airin memulai pembicaraan.
"Kayaknya kuliah sama kerja," jawab Nevan tanpa ragu.
Airin mendongak. "Emangnya nggak bakalan capek?"
"Pastinya bakalan ada capeknya, tapi mau gimana lagi? Harus dijalani aja, mau nggak mau," jawabnya, "Kamu sendiri mau kuliah kalau udah lulus?"
__ADS_1
Tanpa keraguan Airin menggeleng. "Enggak mau, kalau udah lulus SMA Airin nggak mau kuliah."
"Kenapa?"
"Airin itu udah males banget buat mikir soal pelajaran, apalagi, ya, kuliah itu pasti suka dipusingin sama skripsi. Lagian mau kuliah atau nggak, dapet gelar sarjana atau nggak, masa depan Airin udah terjamin seratus persen bahagia." Airin menjawab dengan yakin membuat Nevan gemas sendiri dengan jawaban istrinya.
"Airin udah punya suami ganteng, pinter, keluarganya kaya, apa lagi coba yang diragukan?" lanjut perempuan itu yang kemudian mengecup singkat pipi suaminya.
"Siapa yang ngajarin kamu bicara kayak gitu, hm?" tanya Nevan lembut.
Perempuan itu menggeleng. "Enggak ada, ini itu tulus dari hati Airin tahu. Kak Nevan mah nggak tahu apa kalau Airin udah cinta banget sama Kak Nevan."
"Iya, deh, cinta Airin nggak bakalan diragukan," balasnya.
Beberapa saat keduanya terdiam membuat suasana menjadi hening, Airin sendiri perlahan merasakan kantuknya. Sementara Nevan, laki-laki itu tak bisa tidur sebab ada yang harus ia katakan kepada istrinya.
"Airin!" panggilnya yang hanya dibalas deheman oleh istrinya.
"Tadi Bilqis ngajak pacaran--"
"Apa?" Airin langsung terduduk dengan berteriak, matanya yang awalnya mengantuk ingin memejamkan, jadi hilang entah ke mana rasa kantuk itu.
"Maksudnya apa? Bilqis mau rebut Kak Nevan dari Airin? Enggak bisa! Ini nggak boleh Airin biarin, sekarang Airin mau ke rumah dia. Airin mau beri pelajaran sama cewek itu!"
Dengan buru-buru Nevan menahan Airin yang hendak beranjak dari kasur. "Tunggu dulu, bukan itu maksud aku, kamu dengerin sampe selesai aku bicara."
Airin mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, perempuan itu bersidekap. "Apa? Cepetan bilang!"
"Mantan Bilqis masih suka ganggu dia padahal udah putus, jadi dia minta aku buat jadi pacar pura-pura biar nggak diganggu sama mantannya itu," jelas Nevan secara singkat.
"Tapi, kenapa harus Kak Nevan? Masih ada banyak cowok lain yang bisa Bilqis minta tolongin, misalnya Kak Gabril atau Kak Reval. Airin nggak rela, ya, kalau sampe Kak Nevan deket terus sama Bilqis," kata Airin penuh penekanan.
"Maunya, sih, tadinya nggak bakalan aku bantu sebab aku juga mikirin perasaan kamu. Tapi, kasihan juga sama Bilqis. Enggak ada cowok kuat lain yang bisa kalahin Dean," timpal Nevan.
Airin berdecak, perempuan itu berpikir siapa laki-laki kuat yang ia kenal. "Gimana kalau sama om-om yang culik Airin waktu itu? Dia 'kan kuat juga, biar om-om itu aja yang bantu Bilqis."
Mendengar itu Nevan memijat pangkal hidungnya. "Kamu yang bener aja, dong, masa laki-laki kayak Bang Ansel mau bantu Bilqis. Meski mukanya kelihatan ganteng sama normal, tapi dia itu punya hati dingin, waktu nyulik kamu aja itu untuk untung kamu nggak langsung dibunuh."
"Jadi, om-om culik itu sebenarnya jahat banget, ya, suka bunuh orang?"
Nevan dengan cepat menganggukkan kepalanya, bingung juga dirinya harus mendeskripsikan bagaimana Ansel sebenarnya.
"Jadi, gimana sama Bilqis?" tanya Airin dengan cemberut.
Laki-laki itu menangkup kedua pipi istrinya. "Kamu tenang aja, aku bakalan bantu dia tanpa harus jadi pacar pura-pura."
"Gimana caranya?" tanya Airin penasaran.
"Kamu tinggal tahu hasilnya aja nanti."
Airin berhasil menjadi duduk di pangkuan suaminya, ia menunjukkan jari kelingkingnya. "Janji, ya, jangan deket-deket banget sama Bilqis?"
Nevan menautkan kelingkingnya di kelingking Airin. "Iya, janji!"
__ADS_1