Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
10. Dah dan Pergi ke Bandung


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak Airin sembuh dari sakitnya, dua hari kemudian pernikahan Nevan dan Airin segera dilaksanakan secara tertutup di rumah Allen. Mereka hanya nikah agama dan untuk pernikahan negara akan dilakukan jika keduanya sudah keluar SMA.


Nevan tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menikah seperti ini, pernikahan sederhana yang hanya dihadiri pihak keluarga saja. Dengan perempuan polos yang tak tahu tentang hal dewasa seperti Airin, meski begitu Nevan tetap akan mempertanggungjawabkan perbuatannya dan berusaha untuk bisa menerima Airin sepenuhnya di hatinya.


"Seorang anak diharuskan minum dua jenis tablet setiap hari. Tablet jenis I mengandung lima unit vitamin A dan tiga unit vitamin B. Tablet jenis II mengandung sepuluh unit vitamin A dan satu unit vitamin B. Dalam satu hari, anak tersebut memerlukan minimal dua puluh lima unit vitamin A dan lima unit vitamin B. Jika harga tablet I adalah empat ribu per biji dan harga tablet II delapan ribu per biji, maka pengeluaran minimum untuk pembelian per hari adalah …."


Airin menggelengkan kepalanya dengan lemah, mendengar soal yang Nevan katakan saja sudah membuat Airin pusing apalagi mengerjakannya.


Melihat itu Nevan berdecak. "Nih dengerin penjelasan gue!"


Airin menganggukkan kepalanya pelan, menopang dagunya dan memperhatikan Nevan yang berada di depannya


"Misalkan x menyatakan banyak tablet jenis I dan y menyatakan banyak tablet jenis II. Dan diketahui bahwa harga tablet I adalah empat ribu per biji dan harga tablet II delapan ribu per biji, maka diperoleh sistem pertidaksamaan berikut:


5x+10y > 25, 3x+y 5 > x > 0,y ≥ 0 f(x,y) \= 4.000x+8.000y


"Selanjutnya, kita cari daerah himpunan penyelesaian dari sistem pertidaksamaan tersebut. Dari pertidaksamaan 5x + 10y ≥25, maka daerah penyelesaiannya berada di kanan garis 5x+10y \= 25. Dari pertidaksamaan 3x + y ≥5, maka daerah penyelesaiannya berada di kanan garis 3x + y \= 5. Dari pertidaksamaan 5x+10y ≥ 25, maka daerah penyelesaiannya berada di kuadran I (di atas sumbu x dan di kanan sumbu y)."


Airin menatap takjub kepada Nevan yang menjelaskannya tanpa kesusahan. Ngidam apa Ibunya Nevan sampai Nevan memiliki otak secerdas ini?


"Sehingga daerah himpunan penyelesaian dapat kita gambarkan seperti berikut ini. Kita dapatkan titik pojok A(5,0) dan C(0,5). Kita cari koordinat titik pojok B yaitu titik potong antara garis 3x + y \= 5 dan garis 5x + 10y \= 25.


3x + y \= 5 y \= 5 - 3x


5x+10y \= 25 5x+10(5-3x) \= 25 5x+50-30x \= 25 -25x \= -25 x \= 1


y \= 5 - 3x y \= 5 - 3·1 y \= 5-3 y \= 2


Selanjutnya, kita cari nilai minimum untuk f(x,y)\=Rp4.000x+Rp8.000y.


f(0,5) \= Rp4.000(0)+Rp8.000(5) \= Rp40.000 f(5,0) \= Rp4.000(5)+Rp8.000(0)\=Rp20.000 f(1,2) \= Rp4.000(1)+Rp8.000(2)\=Rp20.000


Kita dapatkan bahwa pengeluaran minimum pembelian obat anak tersebut adalah Rp20.000,00. Gimana paham?" Nevan mengakhiri kalimatnya dengan bertanya kepada Airin.


Menggelengkan kepalanya, Airin bertepuk tangan dengan heboh. "Kak Nevan keren banget, udah kayak guru muda! Airin kasih seratus, meski Airin nggak ngerti Kak Nevan ngomong apa."


Mendengar itu Nevan menepuk jidatnya, susah-susah dia bicara panjang kali lebar tambah luas kalau ujung-ujungnya Airin tidak paham juga. Ini benar-benar sangat nasib untuknya, di malam pernikahan biasanya melakukan sesuatu yang panas, tetapi lain lagi dengan dirinya yang malah harus mengajarkan istri kecilnya ini.


"Udahlah, mending tidur aja ini udah jam sepuluh malam." Nevan memijit pangkal hidungnya, sementara Airin merangkak menaiki ranjang dan berbaring di sana.


Nevan sendiri membereskan terlebih dahulu buku-buku yang tadi mereka pelajari, meski Airin sama sekali tidak mengerti dan tidak ada satupun yang perempuan itu pahami.


"Kak Nevan cepetan ke sini, kita 'kan udah nikah, jadi boleh dong Airin peluk Kak Nevan kalau lagi bobo." Airin tersenyum sembari menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


Menghela nafasnya, Nevan berbaring di samping Airin. Ia tak bohong kalau dirinya butuh istirahat dan tempat tidur yang nyaman.


"Kak Nevan, bintang apa yang paling terang?" tanya Airin tiba-tiba dengan matanya yang menatap langit-langit kamar.


Nevan menjawab dengan mata terpejam. "Sirius," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Arti dari bintang sirius itu apa?" tanya perempuan itu lagi.


"Berkilau." Nevan menjawab singkat karena ia memang sudah sangat lelah dan ingin segera tertidur.


Airin mengubah posisinya menjadi menyamping menghadap Nevan, menatap lekat laki-laki. "Airin mau kayak bintang sirius, kalau orang-orang yang Airin sayangi lagi sedih, Airin mau jadi penerang mereka biar nggak sedih lagi."


Mendengar penuturan Airin membuat Nevan secara perlahan membuka kelopak matanya. "Kenapa?" tanyanya singkat.


"Airin nggak mau lihat orang-orang yang Airin sayangi sedih, nanti Airin juga ikutan sedih," jawabnya, "Beberapa hari yang lalu Airin lihat Kak Al nangis sendirian di kamarnya. Airin nggak tanya Kak Al kenapa, sebab Airin mau Kak Al yang bilang langsung sama Airin."


"Kalau Kak Nevan lagi sedih, cerita sama Airin. Nanti bakal Airin kasih pelukkan gratis buat Kak Nevan," lanjutnya sembari menunjukkan senyuman manis kepada Nevan.


Nevan sendiri tertegun di tempatnya dengan bola matanya menatap bola mata jernih Airin dengan lekat. Mendengar kata-kata Airin hatinya menjadi ... menghangat.


"Kak Nevan, jangan pernah tinggalin Airin, ya?" pintanya dengan tulus.


"Cukup mama sama papa Airin yang pergi, kalau Kak Nevan pergi, nanti siapa yang bakal ngomelin Airin lagi? Ya, emang Kak Nevan agak nyebelin. Tapi, Airin suka," katanya.


"Airin suka Kak Nevan," sambungnya.


Percayalah bahwa Nevan sudah berpikir ia mengalami penyakit jantung, detak jantungnya yang abnormal membuat dirinya bertekad agar besok ia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Untuk pertama kalinya dadanya berdebar hanya karena ucapan Airin si gadis polos itu.


Menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Nevan. Airin membuat lengan Nevan sebagai bantalan dengan kedua tangannya yang memeluk perut laki-laki itu, kemudian memejamkan matanya sembari menghirup aroma tubuh Nevan yang menenangkan juga dengan nyamannya berada dipelukkan Nevan.


"Kalau tiap malam begini, Airin nggak bakalan susah tidur lagi. Kak Nevan itu pelet Airin, ya? Kok Airin bisa ngerasa nyaman sama Kak Nevan." Perempuan itu terus bergumam sampai akhirnya Airin tertidur dengan sendirinya.


Akan tetapi, lain lagi dengan Nevan yang malah tak bisa memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang begitu saja ketika Airin dengan santainya memeluk tubuhnya. Mana nafas Airin yang menerpa lehernya bisa bikin dirinya khilaf lagi.


"Good night!"


•°•°•


"Seminggu lagi 'kan ulangan semester, gimana selama liburan dua Minggu kita liburan bareng?" usul Zean yang langsung disetujui oleh Reval dan Davian.


"Bener banget, tuh, kapan coba kita liburan bareng? Iya 'kan Pak Ketu? Mau, ya?" Mata Reval tiba-tiba saja mengeluarkan binar sembari menatap Nevan yang tengah menyuapi Airin.


Ngomong-ngomong mereka sekarang sedang berada di kantin dan seperti biasa Airin makan siang dengan makanan dari rumah, Nevan juga harus menyuapi perempuan itu.


"Ke mana?" tanya Nevan dan hal itu sudah tentu Nevan setuju untuk liburan bersama.


"Gimana kalau ke Bali?" Davian memberikan saran.


Nevan menggelengkan kepalanya dengan tangan yang membantu Airin minum. "Bali terlalu jauh, yang deket aja."


"Gimana kalau ke Bandung?" tanya Gabril.


Citra menjentikkan jarinya. "Setuju, tuh, kalau ke Bandung. Gue pengen banget pergi ke fram house Lembang, tempatnya Instagramable banget!"


Diandra menganggukkan kepalanya setuju. "Gue juga mau ke sana, tempatnya bagus-bagus gaya Eropa."

__ADS_1


"Kalau gitu ke Bandung aja, kebutuhan di Lembang ada villa punya bapak gue di sana," kata Zean.


"Fiks! Kita liburan nanti ke Bandung aja," ujar Reval.


"Eh, kalau bawa sepupu boleh nggak? Soalnya di rumah ada sepupu gue, orang tuanya lagi dinas keluar negeri selama dua bulan," ucap Citra menunggu persetujuan.


Gabril menganggukkan kepalanya pelan. "Hayu, hayu, aja. Biar tambah rame, cewek apa cowok?"


"Cewek, dia nggak bakal nyusahin kalian, kok. Anaknya lumayan mandiri," tambah Citra.


"Enggak apa-apa, ikut aja." Zean menyetujui dan hal itu membuat Citra senang.


Apa, sih, yang tidak untuk kekasih tercinta? Itulah Zean yang sudah bucin akut kepada Citra.


"Rin, ikut 'kan nanti liburan ke Bandung?" tanya Diandra.


Airin mengernyit. "Bandung? Airin baru denger nama tempat itu."


"Efek kelamaan di negeri orang jadinya kayak gini," celetuk Reval.


"Tapi, kalau Kak Nevan ikut Airin juga pasti ikut," lanjut perempuan itu.


Waktu terus saja berjalan mengikuti arusnya sampai tak terasa ujian semester telah usai dan sebentar lagi liburan ke Bandung akan segera tiba. Agak sedikit sulit untuk meminta izin kepada Allen agar Airin diperbolehkan ikut, akhirnya setelah melewati berbagai rintangan, Allen membiarkan Airin pergi dengan syarat setiap jam Nevan harus memberitahukan keadaan Airin.


Posesif banget, cibir Nevan dalan hati.


Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Van berwarna hitam milik Gabril. Bisa saja mereka pergi menggunakan mobil pribadi masing-masing, tapi satu mobil bersama di perjalanan akan jauh lebih seru.


Ngomong-ngomong soal sepupu Citra, gadis itu bernama Bilqis berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku sebelas.


Sengaja mereka berangkat sore hari agar pas sampai di sana pada malam hari mereka bisa langsung istirahat dan tidur, lalu besoknya bisa langsung jalan-jalan menikmati tempat wisata di Bandung.


Airin, Diandra, Reval, dan Davian sedang pergi ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa camilan. Kata mereka agar tidak bosan di perjalanan nanti.


"Sini, gue bantu."


Dengan kikuk Bilqis menyerahkan kopernya kepada Nevan dan membiarkan laki-laki itu menaikkan kopernya ke dalam mobil.


"Masih ada barang lagi?" tanya Nevan, siapa tahu masih ada barang berat yang perlu dimasukkan ke mobil.


Bilqis menggeleng. "Enggak ada, udah semuanya," jawabnya.


Nevan menganggukkan kepalanya singkat, kemudian menghampiri Gabril dan bertanya kepada pemuda itu, kenapa Airin lama sekali pergi ke supermarket nya.


"Tuh, mereka. Tenang aja, cewek lo nggak bakalan ada yang nyulik. Ya, meski ada kemungkinan besar Airin diculik karena mukanya yang imut-imut gemesin bikin om-om--" Gabril tak melanjutkan perkataannya ketika Nevan menatapnya dengan tajam.


"O-oh oke, santai, dong."


Mendengus pelan, Nevan mengalihkan perhatiannya kepada Airin yang baru saja kembali dari supermarket. Perempuan itu juga langsung menghampiri dirinya dan menunjukkan apa saja yang perempuan itu beli di supermarket tadi, bahkan Airin pun menceritakan kejadian memalukan ketika Reval terpeleset di sana sebab lantai licin baru dipel.

__ADS_1


"Semuanya udah siap? Enggak ada yang kelupaan, 'kan? Kalau gitu kita berangkat, sebelum itu kita berdoa dulu agar nanti di perjalanan lancar dan sampai tujuan." Zean yang memimpin perjalanan menuju Bandung, sebab pemuda itu pernah tinggal beberapa tahun di Bandung sewaktu kecil dan Reval yang memang lahir di tanah Sunda.


__ADS_2