
Sesuai prediksi, mereka sampai di Bandung tepatnya di villa milik keluarga Zean pada malam hari. Besar villa lumayan sangat besar, bertingkat dengan dibagian atap villa ada tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pesta BBQ, serta di sana ada kolam renang berukuran sedang.
"Di sini ada banyak kamar yang bisa kalian tempati, di lantai dasar ada tiga dan di lantai dua ada lima kamar. Selamat beristirahat!" ucap Zean, "Tapi, khusus cowok, kalian tidur di lantai dasar."
"Ril, gue mau sekamar sama lo." Davian dengan cepat mengikuti langkah Gabril menuju kamar.
"Ada kamar khusus di lantai dua paling pojok buat lo sama Airin." Zean berbisik pelan ketika melewati Nevan.
Nevan sendiri yang mendengar itu mendelik ke arah Zean, lalu mendengus pelan. Akan tetapi, ia bisa bernafas lega sebab kalau semisal Airin tidak bisa tidur, mereka berdua bisa menggunakan kamar yang telah Zean siapkan.
"Ya, udah. Sekarang kita langsung istirahat aja," ujar Citra yang kemudian melangkah menuju ke lantai dua diikuti oleh Diandra dan juga Bilqis.
Lain lagi dengan Airin yang malah mengikuti Nevan. Bilqis yang melihat itupun langsung memanggil Airin.
"Airin, ayo!" ajaknya di tengah-tengah tangga.
Airin melirik Bilqis sekilas, mereka berdua memang sudah tak canggung lagi sebab tadi di mobil Airin banyak bertanya kepada Bilqis dan Bilqis pun nyaman dengan Airin.
"Airin 'kan bobonya sama Kak Nevan," rengek Airin dengan suara lirih.
Nevan memegangi salah satu pundak Airin. "Lo masuk kamar dulu sambil taruh koper, nanti gue kirim pesan sama lo, ya?"
Mengangguk pasrah, Airin pun naik ke lantai dua menyusul teman-temannya.
Sebenarnya Citra ingin masing-masing satu kamar, tapi Diandra yang memang penakut merengek agar mereka satu kamar saja.
Suara notifikasi ponsel Airin berbunyi, perempuan itu langsung membukanya dan ternyata pesan dari Nevan.
πΏπππππ πΉπππππ π₯
Gue nunggu diluar
Keluar sekarang!
Secara diam-diam Airin pergi dari kamar. Bilqis yang sedang mandi, Citra yang sedang skincarean, dan Diandra yang tengah rebahan sembari streaming MV bias.
"Kak Nevan!" Airin berteriak tertahan sembari berlari kecil dan langsung menerjang tubuh laki-laki itu dengan pelukannya.
"Ayo!" Nevan menggenggam tangan ekhem istrinya untuk ia bawa ke kamar yang sudah Zean siapkan.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, sontak Airin langsung ternganga dengan mata berbinar. Lain lagi dengan Nevan yang menepuk jidat sembari menyumpah serapahi teman laknatnya itu.
Kamar yang Zean siapkan sudah seperti kamar khusus pengantin baru. Seprai berwarna putih dengan kelopak bunga mawar merah di atas kasur, jangan lupakan juga kelopak mawar merah yang ditaburkan di lantai dengan lilin-lilin kecil yang disusun berbentuk hati.
"Wah! Bagus banget, kamar ini spesial, ya?" Airin menyusuri setiap sudut kamar seraya berdecak kagum.
Nevan menutup pintu dan tak lupa ia kunci juga. Sembari melepaskan jaketnya, ia menyuruh Airin untuk mencuci muka, membasuh tangan serta kaki dan menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur. Airin pun hanya menurutnya dan setelahnya menikah dengan Nevan, laki-laki itu memang selalu menyuruhnya seperti itu sebelum tidur.
Setelah Airin keluar dari kamar mandi, Nevan pun melakukan hal yang sama. Hidup bersih dan sehat itu penting.
Pasangan muda itu sudah berbaring di atas ranjang dengan saling berpelukan. Airin yang memang tak suka gelap pun lampu dibiarkan menyala. Awalnya Nevan merasa kesulitan sebab dirinya selalu tidur dengan tak menyalakan lampu, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa dengan kebiasaan Airin.
"Udah malam, cepet merem!"
Airin mendongak. "Kak Nevan ada yang kelupaan."
"Apa?" tanyanya.
Dengan cepat Airin menunjuk dahinya. "Kak Nevan belum night kiss sama Airin."
Mengecup kening Airin sebelum tidur juga itu merupakan salah satu kebiasaan mereka berdua. Selain itu, mereka belum melakukan hal yang terlalu jauh meski sebenarnya pernah, tapi tak pernah dilakukan lagi walau keduanya sudah sah.
β’Β°β’Β°β’
Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun dan bersiap, lalu sarapan bersama dengan sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan villa. Tujuan pertama hari ini menuju ke The Lodge Maribaya yang mempunya banyak spot foto dan wahana yang keren. Tiketnya rata-rata seharga Rp10-20 ribu.
Karena sekarang ini liburan sekolah harga tiket menjadi Rp35 ribu yang biasanya hari Senin sampai Jumat Rp20 ribu dan Sabtu Minggu Rp25 ribu.
Para perempuan yang memang lebih suka foto memiliki mengunjungi gantole, balon udara, sky tree, dan bamboo sky. Spot gantole dan balon udara akan membuat kalian seolah-olah terbang di tengah langit-langit. Sedangkan bamboo sky dan sky tree berupa menara pandang yang akan membuat kalian terpana.
Nevan yang tak biasa membiarkan Airin jauh dari pengawasannya memilih terus-menerus mengikuti istri kecilnya itu, begitu pula dengan Zean yang menemani Citra. Lain lagi dengan tiga temannya yang masih melajang, ah minus Reval yang memang playboy cap kadal.
"Dian, tolong fotoin Airin sama Kak Nevan, dong." Airin memberikan ponselnya kepada Diandra yang langsung gadis itu terima.
"Oke, gue foto. Kak Nevan deketan dikit, dong sama Airin. Gayanya kalian jangan kaku, dong."
Mendengar itu Nevan membalikkan tubuh Airin menjadi menghadap kepada dirinya, menahan bobot perempuan itu dengan menahan punggung Airin. Airin sendiri hanya bisa terpana dengan wajah tampan Nevan yang begitu dekat dengannya.
Diandra tak mau menyia-nyiakan waktu hanya dengan ternganga, ia langsung memotret momen itu sebanyak mungkin.
__ADS_1
"Pak ketua semakin berani, ya, apa udah mau go public, nih?" goda Reval dan Davian yang hanya Nevan abaikan.
"Makasih, Dian." Airin mengambil kembali ponselnya dari Diandra dengan pipinya yang sudah memerah tak karuan.
Tidak hanya tempat untuk berswafoto, ada pun wahana yang bisa kalian jajal yakni zip bike dan ayunan sky swing. Di zip bike, kalian akan naik sepeda di atas track dari tali dengan latar belakang pepohonan pinus. Sedangkan, sky swing akan mengayun kalian dari atas ketinggian. Keduanya cocok untuk menguji adrenalin
Puas dengan bermain mereka memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat itu. Ada tiga tempat makan di dalam The Lodge Maribaya. Di antaranya Omah Bambu Restaurant, The Dapur Hawu Restaurant, dan The Pines Cafe.
Omah Bambu Restaurant, lebih banyak menyediakan masakan khas Sunda. Olahan ikan patin, sop ikan, sate udang, dan nasi goreng jadi menu andalannya. Kisaran harganya Rp40-65 ribu.
Nah, kalau kalian suka makanan yang lebih ringan, datanglah ke Dapur Hawu. Ada mie tek-tek, aneka olahan mie instan, nasi goreng, bakso, hingga roti bakar. Semuanya dibanderol dengan harga sekitar Rp12-30 ribu.
The Pines Cafe menawarkan aneka masakan Western. Ada sandwich, burger, sup, rice bowl, fish and chips, dan aneka salad. Harganya sekitar Rp16-65 ribu.
Tujuan pertama di hari liburan ini sudah berakhir. Sekarang mereka bebas untuk jalan-jalan sendiri, seperti Citra dan Zean yang memilih jalan-jalan berdua menyusuri Bandung.
Sama halnya seperti Nevan, ia mengajak Airin untuk jalan-jalan di sekitar tak jauh dari villa. Sedangkan teman-temannya yang lain entah pergi ke mana.
Ternyata tak jauh dari keberadaan villa milik keluarga Zean ada pasar malam, mereka memutuskan untuk pergi ke sana. Nevan berharap tidak bertemu dengan teman-temannya di sini sebab ia masih agak malu untuk menunjukkan bagaimana sisi lembutnya kepada Airin di depan teman-temannya.
Untuk pertama kalinya Airin diajak ke tempat seperti ini tentu saja perempuan itu senang bukan main. Nevan juga tak menyangka jika ternyata Airin belum pernah datang ke tempat semacam pasar malam.
Airin bercerita bahwa dirinya hanya menghabiskan waktu bermain di dalam rumah, keluar dari rumah hanya untuk sekolah atau pergi berbelanja ke supermarket.
"Kak Nevan, ayo kita naik itu!" Airin menunjuk benda besar yang berputar atau yang sering disebut dengan bianglala, orang Sunda biasanya menyebutkan dengan kurung manuk.
Nevan pasrah, ia pun menuruti permintaan Airin untuk menaiki bianglala tersebut. Mereka duduk berhadapan dan ketika di puncak Airin berdecak kagum dengan pemandangan, kemudian burung-burung yang berterbangan menyita perhatiannya.
"Airin pengin jadi kayak burung yang bisa terbang bebas di udara," katanya tiba-tiba.
Nevan memandang istri kecilnya lekat dan tiba-tiba saja ia bertanya. "Airin, apa lo tahu filosofi burung merpati?"
Airin mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Nevan, perempuan itu menggeleng kecil. "Enggak, emangnya apa?"
"Burung merpati putih selalu menjadi sebuah simbol kesucian, dan keromantisan. Namun lebih dari itu semua, ada sebuah sifat merpati yang layak sekali kita tiru. Merpati merupakan burung yang setia terhadap pasangannya. Mereka biasanya hanya memiliki satu kekasih untuk seumur hidup," ucapnya, "Dan gue harap bisa seperti merpati yang hanya memiliki pasangan satu di seumur hidup gue."
Mendengar itu lantas Airin tersenyum. "Kak Nevan tenang aja, Airin selamanya akan terus sama Kak Nevan. Airin nggak akan ninggalin Kak Nevan."
Senyuman polos yang penuh keceriaan itu, entah sejak kapan Nevan menyukainya dan mungkin akan menjadi candunya.
__ADS_1
"Airin, jangan biarkan dunia merebut senyuman lo itu."