Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Kata Manis


__ADS_3

Sukai terus cerita ini sampai akhir 🌻


...••••...


Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Allen meminta kepada Keisha untuk membuat sarapan dan mereka makan bersama. Sebenarnya hari ini tidak terlalu sibuk, tetapi jika pergi ke kantor yang ada Allen tidak akan bertemu dengan Keisha.


"Pak Allen, saya mau tanya."


Allen mendongakkan kepalanya, menatap Keisha sembari menguyah sarapannya. "Tanya aja," balasnya.


"Saya tahu mungkin ini agak pribadi, tapi saya bener penasaran. Tapi, kalau Bapak nggak mau jawab juga nggak apa-apa, sih," katanya.


Mendengar itu Allen menghela nafasnya. "Jadi, apa yang mau kamu tanya?"


Sebelum bertanya Keisha menimang-nimang terlebih dahulu pertanyaannya. "Hm, tunangan Bapak kenapa bisa meninggal?"


Allen meletakkan sendok yang ia pegang, menatap sepenuhnya ke arah Keisha. "Itu pertanyaan yang sangat pribadi, tapi saya pikir kamu perlu tahu soal itu."


"Dia koma di rumah sakit setelah mengalami kekerasan karena dia diculik, singkatnya begitu," lanjutnya menjawab pertanyaan Keisha.


"Kenapa saya harus tahu soal tunangan Bapak?" Keisha bertanya lagi.


"Apa kamu nggak penasaran dengan wajah kalian berdua yang sangat mirip? Saya pikir tidak ada yang namanya kebetulan seperti itu," tutur Allen.


Mendengar itu Keisha mengerutkan keningnya, berpikir bahwa ucapan Allen ada benarnya juga. "Bapak benar, tapi nggak mungkin kita berdua sebenarnya saudara kembar. Ibu saya bilang, kalau saya ini putri satu-satunya."


"Bagaimana kalau ternyata ibu kamu berbohong?"


"Enggak mungkin!"


"Tanyakan lagi, saya yakin ibu kamu menyembunyikan rahasia dari kamu." Allen berdiri dari duduknya, "Piringnya nggak usah dicuci, nanti ada pelayan yang cuci."


Setelah itu Allen kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Keisha yang tampak berpikir keras di tempat. Apakah benar ibunya menyembunyikan sesuatu darinya? Sangat tidak mungkin seseorang bisa semirip itu tanpa ada hubungan darah, pastinya ada hubungan di antara keduanya.


Sedangkan di sisi lain, ada Airin yang menemani Nevan di apartemen. Setelah makan dan meminum obat, Nevan kembali muntah membuat wajah laki-laki itu semakin memucat. Akan tetapi, meski dibujuk dengan cara apapun Nevan tidak mau dibawa ke rumah sakit karena katanya ia hanya demam biasa gara-gara semalam kehujanan.


"Kak Nevan beneran nggak mau ke rumah sakit? Airin nggak tega lihat Kak Nevan pucat kayak gini." Perempuan itu menatap suaminya dengan khawatir.


Nevan yang sedang berbaring di kasur tersenyum tipis. "Beneran, kamu nggak usah khawatir. Besok juga pasti udah sembuh atau nanti malam."


"Ya, udah, kalau gitu Kak Nevan mau apa? Biar Airin ambilin," tawarnya.


"Mau peluk!" Nevan merentangkan kedua tangannya dan dengan senang hati Airin masuk ke dalam pelukan Nevan.


"Kak Nevan pokoknya harus cepat sembuh, kalau sakit Airin juga jadi ikut nggak berdaya," ungkapnya yang membuat Nevan terkekeh gemas.


"Iya, lagain siapa, sih, yang mau sakit. Enggak ada juga orang yang tahu kalau dia bakalan sakit," balasnya.


Beberapa menit suasana hening, hanya ada kehangatan dan kenyamanan uang dinikmati keduanya. Akan tetapi, tak lama Airin bertanya. "Kak Nevan sayang nggak sama Airin?"


"Kalau nggak sayang, buat apa aku nikahin kamu?"


"Tapi, Kak Nevan bilang nikahin Airin waktu itu cuma buat tanggung jawab aja," balasnya."


Sembari mengelus kepala Airin, Nevan berkata. "Airin, kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Begitu pula dengan perasaan, kadang seseorang selalu merumitkan perasaannya karena dia belum mengenal dan memahaminya. Jika kita bisa mengenal dan memahami perasaan sendiri, ketika ditanya bagaimana rasanya pasti kita tahu."

__ADS_1


"Tapi, setiap orang berbeda menunjukkan rasa sayang dan cintanya sama pasangan. Mungkin kamu juga belum dengar kalau aku cinta sama kamu, tapi semua perlakuan dan kata-kata aku ke kamu itu tulus. Semuanya spontan terjadi begitu aja," lanjutnya.


Airin mendongak. "Jadi, Kak Nevan sayang sama Airin? Cinta juga sama Airin nggak?"


Mengecup bibir Airin sekilas, Nevan kemudian tersenyum. "I love you more!"


Mendengar itu Airin tersenyum bahagia, pipinya langsung menyemburkan semburat merah merona. Menyembunyikan wajahnya di dada milik Nevan, rasa bahagia namun ada campur setitik malu juga.


Melihat tingkah menggemaskan istrinya membuat Nevan tak kuasa ingin mengigit pipi merah merona itu. "Kenapa sembunyi? Sini, mau lihat pipi yang merahnya."


"Kak Nevan mah, Airin malu tahu."


"Enggak usah malu, sini lihat dulu."


Airin menunjukkan wajahnya, mendapatkan kesempatan itu Nevan langsung mengigit pipi chubby Airin dengan gemas. Si empuk pemilik pipi itu menjerit.


"Kak Nevan! Jangan gigit pipi Airin, nanti makin tembem!" jeritnya dengan kesal.


Melihat pipi Airin yang memerah karena ia gigit berhasil membuat Nevan tertawa senang. "Lucu tahu, kamu jangan coba-coba buat diet-diet."


"Jadi, menurut Kak Nevan perempuan tembem lebih cantik gitu?"


Nevan menggeleng pelan. "Bukan perempuan tembem yang lebih cantik, tapi Airin akan selalu cantik di mata Nevan."


Airin memukul pelan dada suaminya. "Kak Nevan sekarang jadi pinter ngomong kayak gitu, ya, kayaknya efek bergaul sama Kak Reval, deh."


"Enggak, itu bukan gombalan. Tapi, fakta pujian suami buat istrinya," balas Nevan yang semakin membuat hati Airin berbunga.


"Menurut Kak Nevan kalau semisal Airin hamil gimana?" tanya Airin tiba-tiba.


Airin mengusap dada Nevan dengan telunjuknya membuat pola acak di sana. "Tapi, Kak Nevan suka bilang sama Airin buat jangan hamil dulu."


Nevan bangkit dari tidurnya diikuti oleh Airin, kemudian Nevan menangkuo kedua pipi istrinya. "Kamu masih sekolah Airin, kamu juga pasti punya cita-cita yang pengin kamu wujudin. Kalau kamu hamil, gimana sama cita-cita kamu?"


Perempuan itu menundukkan pandangannya. "Airin nggak punya cita-cita, sebenarnya ada cuma 'kan sekarang Airin udah punya suami."


Mengernyit heran, Nevan pun bertanya. "Maksudnya gimana?"


"Iya, Airin punya cita-cita buat jadi istrinya Kim Taehyung, berhubung Airin dapetnya malah Kak Nevan, ya, udah, deh," jawab Airin dengan santai.


Nevan menatap Airin tanpa ekspresi, ia memilih menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Cita-cita kamu emang besar banget sampe mustahil buat digapai."


Airin ikutan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Iya, Airin juga tahu. Selain beda negara sama pulau, kita juga beda agama, kasta, usia, sama perasaan."


"Meski begitu, Airin bersyukur karena yang jadi suami Airin itu Kak Nevan. Cowoknya hebat, pinter, ganteng juga lagi. Lumayan buat memperbaiki keturunan," lanjutnya.


Perempuan itu beralih menatap langit-langit kamar. "Kak Nevan tahu nggak? Waktu pertama kita ketemu, Airin kesel banget sama Kak Nevan waktu itu. Tapi, daripada itu Airin ngerasa kalau Tuhan emang kasih Kak Nevan buat ngelindungi dan ngejaga Airin."


"Kak Nevan, jangan tinggalin Airin, ya? Airin nggak tahu harus gimana kalau seandainya Kak Nevan pasti." Airin menatap suaminya dengan mata bulat miliknya.


Nevan yang tadinya cemberut, kini kembali tersenyum. Laki-laki itu mengangguk. "Iya, aku nggak akan ninggalin kamu."


"Tapi, Airin, kalau semisal aku minta poligami gimana?" lanjut Nevan bertanya.


Airi mengernyit. "Poligami itu apa?"

__ADS_1


"Nikah lagi," jawabnya.


Mendengar itu Airin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. "Enggak apa-apa, boleh banget. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Airin bakal potong itu." Airin menunjuk sesuatu dibalik celana training yang Nevan pakai.


Membayangkan hal itu Nevan bergidik ngeri. "Jahat banget, sih, lagian cuma bercanda. Ini itu kesayangan kamu, emangnya tega kamu potong?"


"Itu bagus daripada perempuan lain ngerasain rasanya."


"Ampun, Nyai!"


Sementara itu di sekolah waktunya istirahat, Febby yang memang anaknya agak jutek dan pendiem memilih untuk membaca buku sembari memakan roti di taman sekolah. Di sekolah barunya ini memang tidak ada anak kelas yang mau berteman dengannya, mungkin karena dirinya anak beasiswa.


Sedang asyik-asyiknya membaca tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyapanya.


"Hai!"


Febby mendongak dan menemukan sosok Reval. "Iya, kenapa?" tanyanya.


"Enggak disuruh duduk dulu, nih?"


Mendengar itu Febby bergeser, mempersilakan agar Reval bisa duduk di sampingnya. "Kenapa?" tanyanya lagi dengan mata yang fokus ke arah tulisan di bukunya.


"Febby, kamu tahu matematika, 'kan?" tanya Reval tiba-tiba.


Febby mengernyit heran, tapi meski begitu ia tetap menjawab pertanyaan Reval. "Ita tahu, emangnya kenapa?"


Reval tersenyum singkat mendengar Febby yang balik bertanya. "Satu tambah satu berapa?"


"Dua, dong!"


"Kalau dua tambah dua?"


"Empat!" jawabnya singkat.


"Kalau aku tambah kamu apa?"


Melirik Reval sekilas. "Orang asing," jawabnya singkat, jelas, padat, dan menyayat hati.


Mendengar itu Reval mengembuskan napasnya, tetapi ia tidak akan menyerah untuk melancarkan aksi meluluhkan hati Febby yang dingin bagaikan es kutub Utara. "Febby, kalau semisal aku nembak kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?"


Febby menjawab dengan tenang. "Mau!"


Mata Reval berbinar mendengar jawaban Febby. "Beneran? Kamu mau?"


"Kan cuma semisalnya."


"Tapi, kalau aku beneran ajak kamu jadian, mau 'kan?"


"Enggak!"


...•••...

__ADS_1


See you next chapter 🖤


__ADS_2