
Keesokan harinya, mereka memilih untuk pergi ke Farm house Lembang pada siang hari dan untungnya pengunjung hari ini tidak terlalu padat, jadinya mereka bisa bermain dan mengambil foto sepuas mungkin.
Sekilas Info Farmhouse Bandung
Sebagai salah satu tempat wisata lembang baru, Farm house Lembang mulai beroperasi sekitar tahun 2015. Tempat wisata di Bandung biasanya terbantu naik oleh medsos, terutama facebook dan instagram. Tampaknya tempat ini memaksimalkan banget hal ini.
Dengan desain atmosfer eropa, banyak spot unik yang pastinya bakal menarik untuk swafoto atau selfie, dan di posting di media sosial. Memang, Farmhouse Lembang sejauh ini menawarkan ‘wisata foto’ sebagai daya tarik utamanya. Mirip-mirip dengan Dago Dream Park, hanya berbeda konsep tempatnya saja.
Areanya sendiri sebenarnya cukup luas. Tapi di waktu Weekend bisa penuh banget sehingga terkesan sempit dan itu-itu aja.
Meskipun demikian, tempat liburan ini cocok juga dikunjungi bersama keluarga dan sikecil; ada beberapa kandang binatang yang unik, pasti menarik buat anak kecil.
Beberapa hal menarik dan fasilitas yang ada di sini antara lain;
Tampaknya ini jadi salah satu objek favorit di Farmhouse Bandung. Rumah hobbit versi kecil ini ditata rapi dan indah, tempatnya instagrammable banget.
Enggak heran kalau di hari libur kita bisa antri lama sebelum bisa ambil gambar di rumah hobbit.
Ada banyak tempat hewan di mana kita bisa berfoto dan berinteraksi. Si kecil pasti bakal kegirangan. Hewan-hewan yang ada di sini antara lain domba, berbagai burung, landak, sapi, kelinci, dan lain-lain.
Terdapat penyewaan kostum bergaya eropa di sini. Tentunya ini bakal bikin foto kalian lebih unik, bukan? Beda dengan yang lain.
Anda bisa menyewa kostum, berfoto di set latar yang tersedia, ataupun berkeliling lokasi mencari tempat berfoto yang bagus. Harga sewa baju di Farm House Rp 75.000/jam. Tersedia banyak ukuran dan jenisnya.
Banyak banget spot berfoto yang bagus di sini. Kalian tinggal berkeliling dan berfoto di berbagai tempat yang ada. Suasana bangunan di Farm House Lembang bakal lebih terasa asyik di saat sepi.
Di malam hari, hiasan lampu akan terasa menambah indah.
Taman bunga dan bangunan di sini ditata bergaya eropa dan cukup terawat, jadi kalian nggak bakal kehabisan tempat ber-selfie ria. Apalagi kalau kebetulan sedang turun kabut, lebih keren suasananya.
Ada juga spot gembok cinta yang cukup unik. Karena dirancang untuk wisata swafoto, tempat yang instagramable banyak banget di sini.
Fasilitas lainnya terbilang lengkap. Terdapat cafe untuk istirahat sambil mengisi perut, taman dengan bangku-bangku untuk istirahat, toilet, tempat belanja, dan lain-lain.
Harga tiket masuk Farm house Lembang cukup lumayan, tapi masih bisa terjangkau.
Harga tiket masuk : Rp 25.000
Parkir mobil : Rp 10.000
Parkir motor : Rp 5000
Jam buka Farmhouse Lembang mulai dari pukul 09.00 s/d 21.000 WIB.
Harga tiket masuk ini sudah termasuk welcome drink berupa susu murni berbagai rasa.
Sebagai catatan, harga parkir di atas adalah harga parkir di dalam area. Jika di dalam penuh dan kalian parkir di luar, harganya beda lagi. Bisa mencapai Rp 30.000/mobil.
Puas bermain mereka sampai tidak sadar jika hari terus berjalan dan tak terasa malam sudah kembali menyapa. Saat sampai di villa ada seorang laki-laki yang seumuran dengan kakaknya Airin dan ternyata laki-laki itu adalah kakak sepupunya Zean.
"Bang Bara tahu dari mana kalau Zean ada di Bandung?" tanyanya sembari duduk di samping kakak sepupunya yang bernama Bara.
"Sebenarnya Abang emang udah rencana mau liburan di villa ini sama anak istri," balasnya.
Zean menganggukkan kepalanya paham.
Ngomong-ngomong, Bara memang sudah menikah dan memiliki seorang putri yang masih berusia dua tahun.
__ADS_1
"Kamu ...." Bara menatap Airin yang duduk di samping Nevan, gadis itu sibuk memakan cimol yang ia beli di perjalanan pulang.
"Kamu adeknya Nevan?" tanyanya.
Airin menganggukkan kepalanya. "Om, kok, bisa tahu?"
Mendengar itu Zean langsung tergelak, sementara Bara memasang wajah semasam mungkin. Usianya memang lebih tua daripada Airin, tapi dia itu seumuran dengan Allen.
"Saya tidak setua itu, mohon maaf," tuturnya dengan sabar.
"Bang Bara seumuran sama Bang Allen, jadi nggak perlu panggil Om," sahut Nevan yang duduk di samping Airin.
"Mukanya nggak seganteng Kak Al, tapi maafin Airin, ya," katanya.
"Meski nggak seganteng Allen, saya ini sudah sold out. Beda lagi sama Allen yang sampe sekarang masih belum nikah dan malah jadi perjaka tua," ucapnya dengan santai.
Bara ini adalah mantan anggota inti Drave ketika masih dipimpin oleh Nevan. Ia dulu semasa SMA tinggal di Jakarta, tapi setelah lulus SMA ia melanjutkan studi di Bandung, kemudian menikah sampai sekarang memiliki putri.
"Kabar dari grup alumni Drave, kalian katanya sudah menikah, ya?" Tiba-tiba saja Bara menanyakan hal itu.
Akan tetapi, sepertinya Nevan juga tak bisa mengelak karena pastinya semua orang yang pernah menjadi bagian Drave pasti tahu soal kabar Nevan dan Airin yang sudah menikah.
Nevan menganggukkan kepalanya. "Iya," jawabnya singkat.
Bertepatan dengan itu suara pecahan terdengar dan tak jauh dari mereka berempat duduk ada Bilqis yang berdiri mematung dengan pecahan gelas di depannya.
Dengan segera Airin menghampiri teman barunya itu. "Astaga, Bilqis. Kamu nggak kenapa-kenapa? Gelasnya kenapa bisa jatuh? Kamu ngelamun, ya?"
Bilqis mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap Airin dengan kikuk. "Ah, ini. Enggak apa-apa, kok, aku cuma lagi banyak pikiran sampe nggak sadar gelas yang dipegang malah jatuh."
"Aku bersihin dulu," lanjutnya dan gadis itu hendak berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas tersebut, namun Zean dengan cepat melarang dengan mengatakan bahwa pecahan itu akan diurus oleh pelayan villa.
"Nevan!" Bara memanggil dan hanya dibalas deheman oleh sang pemilik nama.
"Kayaknya cewek tadi suka sama lo."
Mendengar itu Zean langsung menyemburkan minuman yang berada di dalam mulutnya. "Apa?" tanyanya dengan suara keras.
"Maksudnya cewek tadi itu Bilqis? Yang tadi pecahin gelas?" Zean menggelengkan kepalanya, "Enggak mungkin, Citra bilang sama gue kalau Bilqis usah ounya cowok."
Bara berdecih pelan. "Heh! Gue nggak mungkin salah prediksi, dia mecahin gelas karena kaget kalau ternyata Nevan udah nikah sama Airin. Jelas banget dari tatapan dia."
"Enggak mungkin, dia udah punya cowok. Masa mau selingkuh sama laki orang," elak Zean.
"Asal lo tahu, gue ini tempat curhat Allen dulu semasa SMA. Gue yang dorong dia buat yakinin perasaannya sama Meisha, sampe mereka pacaran dan pas lulus langsung tunangan," ucapnya dengan bangga.
Dengan santai Zean berucap. "Tapi, mereka nggak sampe nikah."
Bara menggeplak kepala Zean. "Yang lo pikir sendiri lah, masa Allen nikahin orang yang udah beda dunia sama dia!"
"Tapi, sekarang ... Kabarnya gimana? Dia udah dapet cewek lagi? Seharusnya dia udah nikah sekarang, bahkan mungkin punya anak," sambungnya.
"Bang Allen nggak pernah deket lagi sama cewek setelah Kak Meisha meninggal, gue juga nggak tahu harus gimana lagi biar dia nggak terus terjebak di situasi kayak gini. Gue cuma berharap suara hari nanti ada cewek yang bisa menggerakkan hati Bang Allen." Nevan berkata dengan serius seraya mengusap kepala Airin yang ketiduran disandarkannya.
Bara mengembuskan napasnya panjang. "Allen itu emang sempurna, segalanya dia punya. Tapi, soal cinta dia itu bodoh banget, sekalinya udah cinta dan yakin malah ditinggal. Untung aja bukan ditinggal selingkuh, kalau itu terjadi, gue yakin Allen bakalan jadi cowok brengsek yang suka mainin cewek."
"Untung aja hubungan gue sama Citra nggak serumit itu." Zean mengusap dadanya merasa bersyukur.
__ADS_1
"Hubungan tanpa ada masalah itu perlu dipertanyakan," celetuk Nevan.
Mendengar itu Zean mendelik. "Gue sama Citra saling cinta, kita saling percaya satu sama lain. Kunci dari hubungan kita itu kepercayaan, makanya sampe sekarang kita awet, adem ayem."
"Apa lo nggak bosen pacaran lama kayak gitu?" Tiba-tiba saja Reval datang dan bertanya, lalu duduk di kursi single sambil memakan keripik.
"Kadang ada saat-saat gue ngerasa bosen dan mikir buat cari suasana baru dengan cari cewek lain, tapi daripada lakuin itu gue lebih milih buat cari suasana baru sama Citra dan setelah itu gue ngerasa jatuh cinta lagi sama Citra," jawabnya dengan serius dan tulus.
"Emangnya pacaran dan terus mempertahankan hubungan kayak gitu bisa sampe pelaminan? Kalau akhir dia sama yang lain gimana?" Lagi, Reval bertanya dengan santai.
Zean menghela nafasnya seraya menunduk. "Pastinya gue bakal ngerasa sakit hati dan nggak bakalan terima kenyataan itu, tapi kalau laki-laki itu jauh lebih baik daripada gue, jauh lebih bisa jaga dan lindungi Citra. Mungkin, gue bisa sedikit relain dia."
Reval menganggukkan kepalanya dengan tepuk tangan. "Lo emang cowok sejati yang hanya mencintai satu perempuan."
"Bukan kayak lo yang cuma jadiin banyak cewek buat jadi koleksi lo doang," celetuk Davian yang tiba-tiba datang.
"Gue cuma menikmati masa muda gue," balasnya dengan tampang songong tingkat akut.
"Gue tahu maksud lo buat menikmati masa muda, tapi karma itu tetap ada. Lo juga haru berhati-hati, kadang balas dendam perempuan itu lebih mengerikan daripada pembunuh," ucap Bara memberikan petuah.
Zean dan Davian mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Gue ke atas dulu." Nevan berdiri seraya menggendong Airin, lalu membawa tubuh mungil istri kecilnya itu menuju ke kamar di lantai dua paling ujung.
Ia membaringkan tubuh Airin dengan sangat hati-hati di atas ranjang, kemudian ia mengunci pintu takut-takut kalau tiba-tiba ada Reval yang nyelonong masuk ke dalam.
Laki-laki itu pun memilih untuk memulai ritual mandi dan setelah selesai ia duduk di sofa dekat ranjang, kemudian memotret Airin yang sedang tertidur pulang, lalu mengirimkan hasil potretnya kepada Allen. Untuk memastikan agar Allen percaya bahwa Airin baik-baik saja bersama dengannya.
Mematikan lampu kamar dan berbaring di samping Airin, sebelum benar-benar memejamkan matanya ia mencium kening istri kecilnya singkat.
"Good night!"
Sementara itu di kamar yang di tempati oleh Citra, Diandra, dan Bilqis. Mereka bertiga masih belum tidur dan masih disibukkan dengan pemakaian skincare.
"Citra, Nevan sama Airin ... Mereka udah nikah?"
Pertanyaan yang Bilqis lontarkan membuat Citra tersedak oleh ludahnya sendiri. "Lo gi-gimana bisa tahu?" Citra balik bertanya sembari melirik Diandra diam-diam.
"Tadi gue denger obrolan Zean, Nevan, sama Bang Bara di luar. Bang Bara tanya apa Nevan sama Airin udah nikah dan Nevan bilang iya, kenapa mereka sampe bisa nikah?" Sungguh, Bilqis sangat penasaran. Bagaimana bisa anak yang masih SMA bisa menikah?
"Eum, mungkin biar lebih leluasa makanya mereka nikah atau takut diambil orang makanya langsung dinikahin aja," jawab Citra dengan asal, ia tidak mungkin membeberkan jawaban yang sebenarnya kepada orang luar. Meski Bilqis sepupunya, tetap saja ia tidak bisa memberitahu orang lain perihal itu secara sembarangan.
"Lo yakin bukan karena perjodohan?" Bilqis merasa belum puas dengan jawaban Citra.
Dengan santai Diandra menjawab. "Lo lihat aja sendiri gimana nempelnya Airin sama Nevan dan gimana posesifnya Nevan sama Airin. Mereka nikah karena emang saling cinta, enggak ada unsur paksaan."
Bagus sekali Diandra, lanjutkan bakat terpendam mu itu. Citra membatin dan diam-diam memberikan pujian dua jempol kepada Diandra.
"Udahlah, jangan urus hubungan orang lain. Urus aja hubungan lo sama Dean yang toxic itu, mending putus aja udah," ucap Citra seraya membereskan produk-produk skincare miliknya.
Bilqis menghela nafasnya malas. "Jangan bahas dia, gue muak denger namanya."
"Lagian lo mau-mau aja sama cowok kasar modelan kek si Dean brengsek itu."
"Emang lo pikir selama ini gue betah, gue pernah minta putus sama dia beberapa kali. Tapi, dia nggak mau ngelepas gue. Gue juga udah ngerasa capek."
"Bilang aja sama polisi, gampang, 'kan?" Diandra memberi saran seraya melepaskan maskernya.
__ADS_1
"Kalau uang bertindak, seorang pembunuh berantai pun bisa dilepaskan dari penjara."