Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Naik Dua Bulan


__ADS_3

Menunggu beberapa menit di luar ruangan UGD, akhirnya dokter yang memeriksa keadaan Airin Keluar juga dan dengan cepat Nevan bertanya. "Gimana, Dok? Istri nggak mengidap penyakit mematikan, 'kan?"


Dokter laki-laki berkacamata itu menatap Nevan dari atas hingga bawah. "Kamu nikah muda?" tanyanya tiba-tiba.


Mendengar itu Nevan mengernyit. "Dok, saya tanya gimana keadaan istri saya? Kenapa malah balik tanya?"


Menghela nafas, dokter itu membenarkan kecamatanya yang melorot. "Istri kamu nggak kenapa-napa, hal biasa kalau kram perut waktu hamil."


Nevan menghela nafasnya lega. "Alhamdulillah kalau nggak ada yang serius, teri--Apa, Dok? Hamil?"


Melihat reaksi Nevan, dokter itu bertanya. "Kamu nggak tahu?"


Laki-laki berinisial NXC itu menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak, Dok. Kalau saya tahu, saya nggak bakalan nanya."


"Istri kamu hamil, usia kandungannya menginjak dua bulan. Karena usianya masih muda, kandungannya pun menjadi lemah. Saya saranin agar istri kamu banyak-banyak istirahat, jangan melakukan hal-hal yang berat, dan makan-makan yang bergizi. Nanti saya kasih vitamin, permisi!" Dokter laki-laki berkacamata itu pun pergi setelah menjelaskan semuanya kepada Nevan.


Nevan sendiri pun tak tahu harus bereaksi seperti apa, ia bahagia mendengar Airin hamil tapi di sisi lain ia juga merasa tak bahagia sebab menjadi penghambat masa depan perempuan itu. Ia menghela nafasnya, masuk ke dalam untuk menemui istrinya.


Terlihat perempuan itu meringis dan berusaha untuk mengambil posisi duduk, dengan cekatan Nevan membantu Airin.


"Kak Nevan, Airin kenapa? Airin nggak kena usus buntu, 'kan?" tanya perempuan itu.


Si suami menggelengkan kepalanya. "Enggak, kamu nggak sakit apa-apa. Cuma--"


Nevan duduk di pinggiran brankar, mendekatkan wajahnya ke telinga perempuan itu seraya mengelus perut Airin. "Di sini ada dede bayi, kamu hamil, Airin," bisiknya.


Mendengar itu Airin membulatkan matanya terkejut, menatap Nevan dengan tak percaya. "Beneran?" tanyanya untuk memastikan.


"Iya, beneran." Nevan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Airin tidak tahu harus mengatakan dan berekspresi seperti apa, perempuan itu malah menangis sembari memeluk Nevan. Nevan sendiri pun menenangkan perempuan itu, melihat Airin yang sebahagia ini membuat Nevan merasa lega.


"Jangan nangis, dong, nanti dede bayinya ikutan sedih," ujar Nevan.

__ADS_1


Melepaskan pelukan itu, Airin dengan cepat mengusap air matanya. "Kak Nevan bener, Airin nggak boleh nangis, nanti dede bayinya ikutan nangis."


Nevan tersenyum, mengangguk singkat dengan tangan mengusap pelan puncak kepala istrinya. Akan tetapi, mendengar pertanyaan Airin membuat Nevan ingin menghilang rasanya.


"Ngomong-ngomong, dede bayinya, kok, bisa ada di perut Airin? Cara masuknya gimana? Lewat mana? Kapan masuknya?" tanya Airin bertubi-tubi.


Menepuk jidat, Nevan hanya bisa tersenyum kikuk. "Airin nggak usah pusing mikirin itu, intinya ada dede bayi di sini. Airin jangan makan sembarangan, harus banyak istirahat, jangan stres juga."


Airin menganggukkan kepalanya semangat. "Iya, Airin bakalan nurutin semua apa kata Kak Nevan."


"Bagus, sekarang kita pulang tapi aku ambil vitamin dulu."


Perempuan itu menganggukkan kepalanya, menunggu Nevan di sana hingga laki-laki itu kembali. Kemudian, keduanya pun pulang ke apartemen. Saat sampai, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Allen, Fabian, Reval, dan Gabril.


"Kalian ngapain pada di sini?" tanya Nevan sembari duduk di sofa samping Gabril.


Mendengar itu Allen melepaskan jaketnya kepada Nevan. "Mentang-mentang diizinin buat tinggal berdua di apartemen, jadi lupa buat ngunjungi ipar sendiri."


"Kalian abis dari mana tadi?" Kini Fabian yang bertanya.


"Rumah sakit." Lagi, Nevan menjawab dengan singkat.


"Siapa yang sakit? Airin, kamu sakit?" Allen berdiri menghampiri adiknya itu, mengamati tubuh perempuan itu.


"Airin sehat, Airin ke rumah sakit karena sakit perut terus kata dokter Airin hamil!" kata Airin dengan semangat.


Fabian menyemburkan air yang ia minum, Reval tersedak keripik, dan Gabril melotot kaget. Sedangkan Allen mengangguk-angguk kepalanya paham, tetapi di detik berikutnya ia menatap Airin tak percaya, lalu menggertakan giginya menatap tajam ke arah Nevan.


"Apa? Hamil?" tanya Allen memastikan.


Airin menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Iya, kata dokter jalan dua bulan."


Dengan gerakan cepat Allen menarik kerah baju Nevan dan hal itu membuat Fabian, Reval, dan Gabril memasang siaga satu.

__ADS_1


"Apa yang lo lakuin sama adek gue sampe dia hamil, hah?"


Nevan memejamkan matanya ketika Allen membentak dirinya. "Wajarlah, namanya juga suami-istri."


Allen melepaskan kerah baju Nevan, ia menghela nafasnya dan duduk kembali. "Airin, kamu mending istirahat dulu di kamar."


Mendengar itu Airin menurut, dirinya juga merasa sangat mengantuk.


Melihat Airin yang sudah masuk ke kamar, Allen memusatkan pandangannya kepada Nevan. "Lo kenapa nggak mikir dulu, sih? Airin masih muda buat hamil, resikonya pasti bakalan jauh lebih gede."


"Gue tahu, Bang. Tapi, Airin sendiri yang minta mau hamil. Selama ini gue selalu tahan sebisa gue, tapi gara-gara ajaran Citra, Airin bikin pertahanan gue goyah. Jadinya, ya, gue lakuin aja." Nevan menggaruk tengkuknya dengan kikuk.


Allen menghela nafasnya, memijat pangkal hidungnya merasa frustrasi. "Terus sekarang mau gimana?"


"Rencananya, sih, buat sekolah Airin bulan ini masih bisa dateng ke sekolah. Bulan depan mungkin bakalan home schooling sampe lulus SMK, kalau Airin masih mau sekolah, tahun depan bisa lanjut kelas tiga," jawab Nevan dengan yakin. Ia sudah memikirkan hal itu kalau semisal Airin hamil dan ternyata benar-benar terjadi.


"Oke, terserah lo karena Airin sepenuhnya tanggung jawab lo. Tapi, lo harus inget ini, kalau sampe gue tahu lo nyakitin Airin, siapin kuburan lo saat itu juga!"


Nevan menganggukkan kepalanya santai, lain lagi dengan Fabian, Reval, dan Gabril yang meneguk salivanya dengan susah payah. Mereka tahu bagaimana sifat Allen, jika laki-laki itu sudah marah besar, semua yang ada didekatnya bisa laki-laki itu hancurkan.


Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika Allen bertarung dengan Nevan. Keduanya sama-sama kuat.


Di satu sisi ada Davian yang baru saja selesai dengan les privat pada pukul setengah tujuh malam. Dirinya keluar dari apartemen Rama dengan rasa lelah, pemuda itu langsung menuju basement dan menaiki motor kesayangannya.


Ketika dirinya memakai helm, ada satu sosok perempuan yang sangat menarik perhatiannya, perempuan itu memakai dres biru tua di atas lutut. Ia keluar dari mobil bersama dengan seorang laki-laki dewasa, keduanya tampak bergandengan seperti pasangan yang saling mencintai.


Saking penasarannya, Davian mengikuti kedua manusia itu yang masuk ke dalam apartemen. Menaiki lift dan berhenti di lantai lima, kemudian masuk ke salah satu pintu.


Davian menghela nafasnya, pikiran negatif hinggap di otaknya. Dirinya tak menyangka bahwa gadis itu ternyata di luar sekolah kelakuannya seperti ini, tetapi mungkin iya laki-laki dewasa tadi adalah kekasihnya.


"Argh! Ngapain juga gue kepo kayak gini? Urusan dia sendiri, ngapain gue ngurusin mereka!"


...Maaf aku baru update 🤧 dari kemarin nggak ada kuota buat update 😗🙏...

__ADS_1


__ADS_2