
"Kak Nevan, Airin mau nasi goreng!"
"Kak Nevan, Airin mau yogurt!"
"Beliin cilor yang ada di bawah dong!"
"Kak Nevan, gendong Airin sampe depan televisi!"
"Kak Nevan, beliin cilor lagi!"
"Kak Nevan, tolong ambilin handuk, Airin mau mandi!"
Seharian ini kesabaran Nevan sungguh sangat diuji oleh perempuan yang bernama Airin Jeovanna Gyandra. Layaknya anak sultan yang semuanya harus dilakukan oleh pelayan, Airin dengan seenak jidat menyuruh Nevan untuk melakukan semua perkataannya.
"Sabar, Nevan. Lo harus sabar demi anak sama istri," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Laki-laki itu menghampiri istrinya yang sedang duduk di meja rias sehabis mandi tadi. "Sekarang kamu mau apa?" tanyanya dengan lembut.
"Sekarang jam berapa?" tanya Airin seraya menyisir rambutnya.
"Jam satu siang," jawab Nevan sembari melirik jam tangan berwarna hitam miliknya.
"Kalau gitu Airin mau tidur siang, tapi Kak Nevan temenin sambil usap-usap perut Airin." Perempuan itu merentangkan kedua tangannya, bermaksud agar Nevan menggendongnya menuju ke ranjang.
"Beneran, ya, harus tidur?"
Airin menganggukkan kepalanya. Ia tidur dengan Nevan yang memeluknya dari belakang, jangan lupakan tangan Nevan yang mengelus-elus lembut perut istrinya itu.
"Kak Nevan kalau nanti Airin udah lahiran anaknya mau mirip sama siapa?"
Mendengar itu Nevan langsung menjawab, "Ya, mirip aku dong. Aku 'kan bapaknya yang bikin kita berdua, sama pas lahir anaknya jadi mirip Kim Taehyung."
"Ih, tapi bagus kalau mirip Kim Taehyung. Dia 'kan cowok terganteng di dunia," balas Airin.
"Ya, nggak bisalah! Harus mirip sama aku, aku juga nggak kalah ganteng sama Kim Taehyung," tutur Nevan tak mau kalah.
Airin membalikkan badannya menjadi berhadapan dengan Nevan. "Kak Nevan, katanya kalau melahirkan itu sakit. Kira-kira Kak Nevan punya tips nggak supaya pas nanti Airin lahiran nggak sakit?"
Nevan menghela nafasnya, "Airin, emangnya aku pengalaman apa sampe nanya tips sama aku? Di mana-mana kalau melahirkan itu sakit, mau melahirkan secara normal ataupun caesar."
Perempuan itu menundukkan kepalanya, "Airin sekarang jadi takut, gimana kalau keluarin bayinya nggak melalui tahap melahirkan aja?"
Dengan gemas Nevan mencubit kedua pipi istrinya. "Kalau nggak dilahirin cara ngeluarinnya gimana? Pake sulap gitu? Kamu ada-ada aja. Airin, kamu tahu nggak?"
__ADS_1
Airin balas dengan gelengan, "Enggak!"
"Bagi seorang istri melahirkan itu adalah momen yang paling bersejarah di dalam hidup mereka. Mempertahankan nyawa demi mengeluarkan nyawa, ada orang yang bilang perempuan belum bisa dianggap seorang ibu jika belum merasakan sakitnya melahirkan. Meski sakit, tapi semuanya akan terbalas dengan hadirnya seorang anak. Masa-masa itu nanti yang akan kamu rindukan di kemudian hari," kata Nevan ia hanya ingin membuat Airin tetap semangat dan kuat dalam masa kehamilannya juga saat nanti melahirkan. Bisa berefek pada kehamilan, jika Airin terlalu banyak berpikir.
"Orang tua waktu melihat anaknya yang sudah dewasa mereka akan teringat dengan di mana sewaktu anaknya masih kecil. Mengandung, melahirkan, merawatnya, rela telat makan demi menyuapi anaknya, rela kerja siang malam untuk menafkahi segala kebutuhan keluarganya. Itu semua hal yang sangat berharga bagi setiap orang tua, tidak ada yang bisa mencontohkan seberapa besar kasih sayang mereka untuk anaknya," lanjutnya.
Nevan tersenyum seraya mengusap lembut kepala istrinya. "Jadi, kamu jangan takut lagi. Semuanya pasti akan baik-baik saja, asal kamu selalu sehat."
"Sebentar lagi Airin bakal jadi ibu, Airin harus sehat biar bayinya baik-baik aja," balas Airin sembari mengusap perutnya.
"Kak Nevan, Airin mau sesuatu, deh," sambungnya.
Mendengar itu Nevan menjadi was-was, ia berharap Airin tidak menginginkan sesuatu yang aneh atau hal yang tidak masuk akal. "Mau apa?" tanyanya dengan hati-hati.
Bukannya menjawab, Airin malah mendongak mengecup singkat bibir Nevan. "Sayang Kak Nevan," katanya dengan malu-malu.
Mendapatkan perlakuan seperti itu berhasil membuat Nevan menjadi panas dingin. Ia dengan gemas menyembunyikan kepala Airin di dadanya, memeluk perempuan itu dengan erat. "Sekarang udah bisa, ya, bikin suami sendiri salting."
Sementara itu di kantor Allen, laki-laki itu tengah menyantap makan siangnya bersama dengan Keisha yang juga ikut menemani dirinya makan.
"Setelah makan siang saya senggang, kamu mau antar saya buat jenguk ibu kamu?"
Mendengar itu Keisha terbatuk-batuk, lantas langsung mengambil minum. "Apa, Pak? Jenguk ibu saya? Buat apa?"
"Memangnya kenapa? Kamu kerja di bawah kendali saya, memangnya tidak boleh saya memperhatikan keluarga pekerja saya?" balas Allen dengan sedikit membuat Keisha kesal.
"Saya tetap akan jenguk ibu kamu, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan kepada ibu kamu," ucap Allen yang kemudian menyudahi acara makan siangnya.
"Mau bicarakan apa, Pak?" tanyanya penasaran.
Allen berdiri, mengambil jas hitamnya dengan kunci mobil. "Ayo, kita berangkat sekarang!"
"Pak! Bentar dulu, Pak!"
Keisha menggerutu sembari membereskan bekas makan mereka, kemudian langsung berlari menyusul majikannya itu.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju ke ruangan di mana ibu Keisha dirawat. Akan tetapi, sebelum masuk Allen memerintahkan Keisha.
"Oh, iya. Saya lupa tadi di jalan tidak beli buah-buahan. Keisha, tolong kamu beli, ya." Allen memberikan beberapa lembar uang merah kepada asistennya itu.
Perempuan berambut lurus itu menggelengkan kepalanya, "Bapak nggak usah beli buah-buahan buat ibu saya, dia agak nggak suka."
Allen mengernyit, "Buah-buahan itu buat adik saya, bukan ibu kamu. Oh, jangan beli jeruk, ya."
__ADS_1
Keisha menganggukkan kepalanya paham, kemudian menerim uang itu. "Kenapa nggak beli nanti aja, Pak?"
"Kalau saya mau sekarang gimana? Udah, sana!"
Dalam diam Keisha mencebik kesal, memaki majikannya itu dalam hati. Kalau dirinya punya nyali yang besar, sudah dipastikan wajah Allen habis ia cakar.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam, Allen merapikan terlebih dahulu penampilannya juga menarik nafas sedalam mungkin. Setelah mentalnya siap, ia pun masuk ke dalam.
"Hufh, bismillah!" gumamnya pelan.
Di atas ranjang sana, ibu Keisha yang bernama Asya terbaring dengan lemah. Tubuhnya terlihat begitu kurus dengan wajah yang pucat pasi.
"Assalamualaikum, permisi!" sapa Allen.
Asya mendongak, menatap heran ke arah laki-laki yang datang dengan setelan jas mahal.
"Perkenalkan saya Allen Jeovanno Gyandra bos di tempat Keisha kerja," ucap Allen memperkenalkan diri dengan singkat.
"Eum, untuk Keisha sendiri dia sekarang lagi ada urusan. Jadi, saya ke sini sendiri," lanjutnya.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya paham, "Iya, silakan duduk!"
Allen duduk di kursi yang dekat dengan ranjang, sebelum ke pembicaraan inti ia harus berbasa-basi dulu. "Eum, keadaan Ibu bagaimana? Apa sudah membaik?"
"Alhamdulillah, meski kadang suka kereasa nyeri sama lemas juga," jawab Asya.
"Apa kamu tunangannya Meisha?" tanya Asya tiba-tiba.
Mendengar itu Allen tentu saja terkejut, "Ibu tahu?"
Asya menganggukkan kepalanya, "Iya, Ibu tahu. Meisha itu putri Ibu juga dan saudari Keisha. Waktu mereka lahir, Ibu terpaksa menjual Meisha kepada keluarga Calvin karena Ibu sedang kekurangan ekonomi. Tidak disangka kalau Meisha malah sudah tiada sebelum tahu siapa Ibunya yang sebenarnya."
Buru-buru Allen menggenggam tangan Asya yang bebas dari infus, bermaksud untuk menenangkan wanita itu. "Ini salah saya, kalau saja saya bisa menjaga Meisha, hal itu pasti tidak akan terjadi. Saya minta maaf, Bu."
"Jangan salahkan diri kamu sendiri, mungkin ini memang sudah takdirnya," balas Asya seraya menepuk-nepuk pelan lengan Allen.
"Bu, sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin meminta restu dan izin dari Ibu. Saya mau meminang Keisha untuk jadi istri saya, mungkin saya dan Keisha baru kenal beberapa bulan, tapi hati saya sudah yakin," kata Allen dengan serius.
"Kamu serius? Kamu ingin menikahi Keisha bukan karena ia mirip dengan Meisha, 'kan?"
Dengan cepat Allen menggeleng, "Tidak, Bu. Memang awalnya saya sulit untuk melupakan Meisha apalagi dengan kehadiran Keisha yang wajahnya mirip dengan Meisha. Tetapi, saya tekankan pada diri saya sendiri bahwa yang ada di kehidupan saya ini adalah Keisha. Wajah mereka memang mirip tapi memiliki sifat yang berbeda."
"Di mata saya Keisha ada Keisha, bukan orang lain," lanjutnya.
__ADS_1
Mendengar itu Asya menunjukkan senyuman hangat di wajahnya yang pucat.
......Maaf baru bisa update 🙏🌻......