
"Airin kenapa bisa diculik? Tadi aku udah nyuruh buat jangan pulang malam, tapi kalian masih ada di mall jam tujuh malam?"
Febby menatap Nevan dengan takut-takut. "Sebenarnya jam lima sore kita udah mau pulang, tapi Airin malah maksa buat pergi ke mall. Daripada Airin nangis aku turuti aja kemauan dia."
Saat tahu Airin diculik, Nevan langsung menghubungi inti Drave. Kebetulan inti Drave sedang nongkrong bersama inti Earth, jadinya inti Earth juga ikut.
Zean menghela nafasnya, "Oke, sekarang bukan saatnya buat marah-marah. Febby, lo jelasin waktu kejadian Airin diculik."
"Waktu itu kita mau pulang, gue izin dulu buat ke toilet. Pas balik dari toilet gue lihat Airin ditarik-tarik sama dua orang, gue udah berusaha buat selametin dia tapi gue malah di dorong. Tuh, siku gue sampe berdarah." Febby menunjukan sikunya yang sudah diobati.
"Mereka pake mobil Van warna hitam," lanjutnya.
"Gue yakin ini penculikan berencana, kalau emang mereka cuma mau minta uang tebusan, kenapa sampe sekarang mereka nggak ada hubungi kita?" Galang bersuara dengan menebak-nebak.
Reval menganggukkan kepalanya setuju, "Kita nggak bisa cari Airin kalau nggak punya titik terang."
"Kira-kira siapa yang culik dia?" Gabril bertanya-tanya.
"Coba kita inget-inget, apa Airin punya musuh?" tanya Galang.
Davian menghela nafasnya, "Cewek polos kayak Airin mana mungkin punya musuh."
"Ada!" Reval menggebrak meja membuat semua orang berjengkit kaget.
"Ilona! Dia 'kan nggak suka sama Airin, dia juga yang jebak Airin sama Nevan waktu di pesta ultahnya," tambahnya.
"Bener, tuh. Ayo sekarang kita temuin, tuh, nenek lampir." Davian mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Febby, lo di rumah aja. Biar kita yang cari Airin."
Inti Drave dan inti Earth pun bergegas menuju ke rumah Ilona dengan mengendarai motor masing-masing. Sesampainya di sana, mereka disuguhkan dengan Ilona yang sedang mengecat kukunya di teras rumah.
"Wah, ada apa ini? Rame-rame datang ke rumah gue, mau seserahan?" tanyanya dengan santai.
"Airin mana?" Tanpa basa-basi Nevan langsung bertanya.
__ADS_1
Ilona mengerutkan keningnya bingung, "Kenapa nanya sama gue? Seharusnya lo tahu, dia 'kan suka nempel sama lo."
"Lo nggak usah pura-pura nggak tahu, deh," sahut Reval.
Gadis itu terkekeh tak percaya, ia berdiri sembari berkacak pinggang. "Heh! Mau Airin di mana sama siapa itu bukan urusan gue, ngapain lo pada nanya sama gue? Gue nggak tahu dia di mana!"
"Lo serius nggak tahu Airin di mana? Loenggak nyulik dia?" Kali ini Zean yang bertanya.
"Kurang kerjaan banget gue nyulik, tuh, cewek. Denger, ya, seengak sukanya gue sama dia, gue nggak mungkin sampe ngelakuin hal keji kayak gitu. Mending kalian cari di tempat lain, di sini kagak ada Airin. Gue nggak tahu apa-apa soal Airin!" Setelah mengatakan itu Ilona masuk ke dalam rumahnya, jangan lupakan dengan membawa seluruh koleksi cat kuku miliknya.
"Kayaknya bukan Ilona, deh," ujar Davian seraya menyugar rambutnya.
"Gini aja, Airin bawa handphone, 'kan? Gue punya anggota yang jago ngelacak, kita bakal tahu posisi Airin dari hasil lacak handphone dia," ucap Galang dengan serius.
"Kenapa nggak dari tadi?" Dengan santainya Reval menggeplak kepala Galang.
Sementara itu, di sebuah ruangan pergi dengan pencahayaan yang minim. Airin terduduk di lantai dengan kedua tangan serta kaki yang diikat oleh tali. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, lumayan gelap dan hanya ada dirinya di sana. Melihat kondisi sekarang, Airin menyimpulkan bahwa dirinya adalah korban penculikan.
"Airin diculik lagi? Orang-orang kenapa pada hobi banget nyulik Airin? Iya, emang, sih, Airin cantik sama kiyowo," gumamnya tak jelas.
"Airin harus pulang, Kak Nevan pasti khawatir sama Airin," lanjutnya.
"Ugh! Susah, Airin harus apa sekarang? Di sini gelap, Airin takut."
"Kak Nevan tolongin Airin hiks!"
Pintu ruangan terbuka, cahaya dari luar langsung menerpa wajah Airin yang sudah dipenuhi oleh air mata. Ia meringis karena tak bisa melihat ketiga orang yang masuk ke dalam.
"Udah bangun juga ternyata." Suara seorang perempuan terdengar.
Langkah kaki antara sepatu dan lantai begitu nyaring, hal itu membuat Airin merinding seketika. Perempuan itu terus maju sampai berhenti tepat di depan Airin. Perempuan itu berjongkok, menatap Airin dengan tatapan tajam.
"Lo itu cuma cewek manja, kekanakan, tukang nangis, nggak ada hebatnya yang perlu dibanggain dari diri lo," ucapnya tiba-tiba.
Ia terkekeh, melanjutkan ucapannya. "Tapi kenapa? Semua orang suka sama lo, termasuk Nevan. Semua orang jagain lo, belain lo, sebenarnya lo itu siapa? Apa karena lo adik dari mantan ketua geng motor? Atau karena lo adik dari pengusaha muda sukses? Hidup lo udah terlalu beruntung, Tuhan terlalu baik sama lo dan itu nggak ada buat gue."
__ADS_1
"Mau kamu apa?" tanya Airin dengan suara bergetar, sungguh ia tengah ketakutan sekarang. Perempuan yang ia anggap begitu baik ternyata ada iblis.
"Tentu, gue mau lo lenyap dari dunia ini selamanya," jawabnya dengan suara berbisik.
Perempuan itu berdiri, lalu bersidekap. "Sebelum itu, gue mau main-main dulu sama lo. Enaknya bagian mana dulu yang perlu gue ukir, mungkin wajah sok polos lo dulu kali, ya?"
Airin menggelengkan kepalanya kuat, memundurkan tubuhnya menghindari pisau cutter yang kapan saja bisa melukai dirinya. Airin sangat berharap akan ada seseorang yang menolongnya pada detik itu pula.
"Jangan hiks, jangan sakiti Airin hiks."
Perempuan itu memekik manakala lengannya ditarik, kemudian rambutnya ditarik kuat sampai dirinya mendongak menatap si pelaku penculikannya.
"Tunggu, kayaknya gue berubah pikiran," katanya sembari memasukkan pisau cutter itu ke dalam saku jaketnya.
"Gimana kalau kita impor aja cewek ini ke Amerika buat dijadiin budak? Gue bisa dapet duit dari itu, meski agak mengecewakan karena lo udah nggak perawan lagi," sambungnya.
"Siapkan mobil! Kita jual dia malam ini juga!"
Tak sampai dua menit, mobil sudah siap. Ikatan yang mengikat kaki Airin dilepas, kemudian ia diseret keluar dipaksa untuk masuk ke dalam mobil. Airin terus berteriak juga memberontak, ia tidak mau dijual ke negara orang dan harus meninggalkan semua orang tersayangnya di sini.
"Lepas!" Airin berteriak keras, ia dengan kuat mengigit tangan orang yang menahan tubuhnya. Tak lupa ia menendang benda keramat laki-laki itu.
"Akh!" Laki-laki itu mengerang kuat sampai melepaskan Airin dan hal itu tak akan Airin lewatkan.
Mendapatkan kesempatan emas itu Airin berlari menjauh, namun sayangnya si perempuan pelaku penculikannya itu berhasil meraih tubuhnya. Airin kembali berontak, mendorong tubuh perempuan itu dengan tenaganya. Ia berhasil lepas, terus berlari dengan darah yang perlahan mulai mengalir dari paha lalu turun ke betis.
"Kejar cewek itu jangan sampe lepas!"
Langkah Airin memelan ketika merasakan rasa sakit yang luar biasa dari perutnya. Ia merintih kesakitan, lalu ambruk di aspal. Tepat pada saat itu suara deruman mesin motor terdengar. Berpuluh-puluh laki-laki mengendarai motor ninja datang mengepung area sana sampai si pelaku penculikan tidak bisa lagi lari ke mana-mana.
Laki-laki yang mengendarai motor ninja berwarna hitam itu turun dari motornya seraya melepaskan helm full face. Ia langsung berlari menghampiri Airin yang sudah semakin tak berdaya.
"Airin, maaf!" Nevan membawa tubuh istrinya ke dal dekapannya. Sungguh, hatinya sangat sakit melihat keadaan istrinya.
"Cepet bawa Airin ke rumah sakit!" Zean berteriak dengan lantang.
__ADS_1
Nevan langsung menggendong Airin ala bridal style, sebelum benar-benar pergi ia menatap sejenak ke arah seorang gadis yang memakai jaket hitam. Gadis itu ditahan dengan kuat oleh Reval dan Davian.
"Gue nggak nyangka lo ternyata cewek busuk, Febby!"