Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Salah Paham


__ADS_3

Hari ini Nevan sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa, dirinya sudah terlalu banyak ketinggalan pelajaran setelah tidak sekolah selama dua hari. Pada waktu istirahat sekarang, Nevan ingin mengajak Airin untuk makan di rofftop sekolah dengan masakan yang sudah ia bawa dari rumah.


...jeo_a.gxx...


...Instagram...


...5.8K pengikut • 5 postingan...


...Anda saling mengikuti di Instagram...


...Anda berdua mengikuti allen.gyandra dan 8 lainnya...


...Lihat profil...


...Today...


Kalau kelas udah bubar


langsung ke rofftop


aku udah nunggu 🔥


Nevan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, laki-laki itu tersenyum sembari menatap sekotak bekal makanan yang ia taruh di atas meja. Sembari menunggu istrinya datang, ia menatap langit siang ini yang begitu sangat cerah. Namun, tak lama kemudian terdengar suara gadis yang menyapa indera pendengarannya.


"Nevan, kamu ngapain di sini?" tanya gadis itu seraya menepuk bahu Nevan.


Laki-laki itu tersentak, berbalik menatap Ilona yang tiba-tiba datang. "Ngapain lo di sini?"


Dengan santainya Ilona menunjukkan sebungkus rokok kepada Nevan. "Setiap istirahat aku suka ke sini buat ngerokok, kamu mau?"


Mengabaikan pertanyaan Ilona, Nevan hendak mengambil kotak makannya lalu secepatnya pergi dari sana. Akan tetapi, sepertinya Ilona tidak akan membiarkan Nevan pergi begitu saja setelah mendapatkan kesempatan waktu berdua.


"Tunggu! Mau ke mana? Di sini aja dulu, kita santai bareng-bareng." Ilona menarik pergelangan Nevan yang langsung Nevan tepis.


"Gue nggak sudi berduaan bareng lo!" sarkasnya.


Mendengar itu Ilona menarik sudut bibirnya. "Tapi, aku bakal gunain kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Semenjak ada cewek manja itu aku jadi nggak punya kesempatan buat dapetin kamu."


Nevan menjauh selangkah dari Ilona. "Ada atau nggak adanya Airin, gue nggak akan kasih lo kesempatan buat deket-deket sama gue. Mending lo nyerah dan enyah dari hadapan gue!"


"Kamu mau tahu kenapa aku jadi suka ngerokok?" tanyanya namun Nevan abaikan.


Ilona maju selangkah mendekati Nevan. "Itu karena kamu yang suka bikin aku stres, dan ngerokok jadi pelarian aku. Kamu kenapa nggak bisa lirik aku sedikit aja? Aku kurang apa, sih, sebenarnya?"


Menghela nafasnya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Sungguh, Nevan sangat tidak suka dengan situasi seperti ini. Haruskah ia mendorong Ilona, lalu pergi dari sana?


"Ilona, gue nggak pernah nyuruh lo buat suka sama gue. Gue nggak pernah mau dan nggak pernah minta buat lo ngejar-ngejar gue. Kalau pun gue suka lo balik, gue akan ngelakuin hal yang sama kayak lo. Tapi sorry, gue nggak pernah suka sama lo," katanya, "Daripada waktu lo terbuang sia-sia buat ngejar gue, lebih baik lo berhenti karena sekeras apapun usaha lo, gue nggak akan pernah suka sama lo."

__ADS_1


Mendengar itu Ilona menggertakan giginya di dalam sana dengan tangan terkepal kuat. "Bohong! Cepat atau lambat kalau aku terus ada di sisi kamu, pasti kamu akan suka sama aku secara perlahan."


Nevan mengembuskan nafasnya lelah. "Lo jangan keras kepala! Gue udah punya Airin dan nggak akan pernah ninggalin dia, mending lo berhenti karena semua yang lo inginkan tentang gue itu nggak akan pernah terjadi!"


Berjalan untuk pergi dari sana, tapi dengan lancangnya Ilona malah memeluk Nevan dari belakang. Tentu saja sang oknum yang dipeluk melotot terkejut, berontak berusaha melepaskan pelukan Ilona yang terbilang cukup kuat.


"Ilona lepasin! Lo lancang udah nyentuh gue!" bentak Nevan.


Ilona semakin mengeratkan pelukannya. "Aku nggak mau kamu pergi, aku beneran tulus sama kamu, Nevan."


"Lepasin, Ilona!"


Sedetik sebelum pelukan itu terlepas, ada seseorang yang melihat itu dari balik pintu rofftop. Nevan yang melihat itu hanya bisa mematung dengan perasaan yang membuncah juga pikiran yang tiba-tiba saja gelisah.


"Airin, sorry, tadi gue peluk Nevan."


Nevan menatap Ilona dengan kesal. "Dasar cewek murahan!"


"Maaf, Airin ganggu." Setelah mengatakan itu Airin langsung berbalik dan lari sekencang mungkin dari sana.


"Airin!" Nevan berteriak, ia mengejar istrinya yang berlari dari sana. Airin pasti salah paham juga ia benar-benar sangat marah kepada Ilona, sepertinya Nevan sesegera mungkin memberikan pelajaran agar gadis gatal itu menyerah.


Sementara itu, Ilona bersidekap dengan senyuman yang menunjukkan bahwa dirinya sangat puas dan senang. "Gue harap mereka nggak baikan, terus putus, deh!"


Kembali lagi kepada Nevan yang mencari-cari keberadaan Airin, dari sini Nevan akui kalau Airin pantas untuk mengikuti lomba lari. Hanya berselang beberapa detik ia mengikuti Airin, perempuan itu tak bisa Nevan temukan di mana keberadaannya.


Laki-laki itu sudah mencari ke setiap kelas, kantin, toilet, gudang, dan taman sekolah. Hasilnya tetap sama, yaitu nihil. Ia juga sudah meminta bantuan teman-temannya serta Citra, Diandra, dan Febby.


Melihat itu Nevan menghela nafasnya, mendudukkan bokongnya seraya mengusap wajah frustrasi. "Airin, kamu di mana, sih?"


"Kalian udah bener nyarinya 'kan?" tanya Citra dengan nafas tersengal-sengal.


Febby dan Diandra mengangguk berbarengan. "Udah, sampe tong sampah aja gue korek-korek," jawab Diandra.


"Emangnya kalian ada masalah apa sampe Airin pergi?" tanya Reval penasaran.


"Dia nggak sengaja lihat Ilona peluk gue," jawabnya singkat.


"What? Jadi, itu ulah si nenek lampir itu!" balas Reval seraya menunjuk kepada Ilona yang berjalan mendekat ke arah mereka, lebih tepatnya Nevan.


"Hai!" sapanya dengan wajah tanpa dosa.


"Kalian kenapa masih di sini? Bentar lagi bel masuk," katanya.


Citra menatap Ilona sinis. "Bisa-bisanya di dunia ini ada cewek segatel lo! Enyah lo dari muka gue!"


Davian berdecih. "Lo kalau mau ngerusak hubungan orang ngaca dulu, percaya diri banget punya muka pas-pasan tapi hobi ngerusak hubungan orang!"

__ADS_1


Mendengar itu Ilona berdesis. "Mata lo yang rabun! Mau berapa kali pun gue ngaca, gue tetep cantik!"


"Cantikkan monyet betina daripada lo," celetuk Diandra pedas.


"Udah sombong, sok cantik, surabaya lagi," sahut Gabril sinis.


Zean melirik Gabril bingung. "Surabaya? Maksudnya?"


"Susu rata banyak gaya," jawab Gabril dengan santai.


Karena hal itu Reval menyemburkan tawanya, lain lagi dengan Ilona yang mencebik kesal juga Nevan yang memutar bola matanya. Di saat dirinya kebingungan dan khawatir akan Airin yang entah pergi ke mana, teman-temannya malah masih sempat bercanda.


Nevan mendekati Ilona, lalu berdiri di depan gadis itu. "Gue peringatin sama lo, jangan pernah ganggu gue lagi! Karena mau seberapa keras usaha lo buat dapetin gue itu semua bakalan percuma, kalau dengan ini lo masih nggak mau nyerah, gue bisa main kasar sama lo!"


Setelah mengatakan itu Nevan berbalik meninggalkan Ilona, lalu diikuti oleh teman-temannya dan jangan lupakan dengan Reval yang masih menertawakan hal tadi.


...•°•°•...


Di jalan raya sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam membelah jalanan ibukota dengan tenang. Di jok belakang ada seorang laki-laki yang memakai jas hitam serta tablet di tangannya.


"Ujian kelulusan kapan?" tanyanya kepada sekretarisnya yang sedang menyetir.


"Sekitar empat bulan lagi," jawabnya dengan sopan.


Rayn Pradipta Calvin menghela nafasnya seraya melepaskan kecamatanya. "Kalau begitu sebentar lagi, menurut kamu saya harus bujuk Nevan dengan cara apa?"


"Saya juga tidak tahu, banyak cara yang sudah kita lakukan untuk membujuk tuan muda Nevan. Padahal sewaktu kecil tuan muda Nevan pernah belajar bisnis," jawabnya lagi dengan sopan.


"Padahal saya seharusnya dari tahun kemarin harus sudah pergi ke London, kalau sampai Nevan masih tidak mau, saya mungkin harus menyerah untuk ke London."


Sekretaris itu melirik Rayn sekilas. "Sepertinya kita harus membuat tuan muda Nevan berada di situasi mendesak yang membuat tuan muda Nevan tidak memiliki pilihan lain, selain menjadi penerus perusahaan keluarga."


"Caranya?" tanya Rayn.


"Kita harus mencari celah dulu, mencari keadaan yang membuat tuan muda Nevan tidak punya pilihan lain."


Laki-laki berusia 22 tahun itu mengalihkan pandangannya ke arah samping, menatap jalanan siang ini yang tidak padat. Netranya yang jernih menangkap sosok perempuan memakai seragam sekolah yang tengah berjongkok di pinggiran jalanan.


"Berhenti!" suruhnya, mobilnya beberapa detik langsung berhenti setelah menepi.


Ia keluar dari dalam mobil, menghampiri perempuan itu. "Kamu adiknya Bang Allen sama istrinya Nevan, 'kan?" tanyanya.


Perempuan itu mendongak, lalu mengangguk pelan. "Iya, Airin adiknya Kak Al tapi bukan istrinya Kak Nevan."


Mendengar itu Rayn mengernyit heran. "Ma-maksudnya? Kamu ... Bener, kok, cewek yang nikah sama Nevan."


Airin berdiri, menatap Rayn dengan tak suka. "Iya, Airin yang nikah sama Kak Nevan. Tapi, Airin bakal minta cerai sama Kak Nevan!"

__ADS_1


"Hah?"


......Gimana, tuh, Airin sama Nevan? Kira-kira untuk konflik selanjutnya kasih yang berat apa yang ringan aja?......


__ADS_2