Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
06. Pesta


__ADS_3

Hari ini Allen sudah bisa keluar dari rumah sakit, luka-lukanya sudah mulai mengering. Tangannya pun sudah baik-baik saja. Ia pulang dibantu dengan sahabat karibnya sekaligus kaki tangannya, Fabian Januarius Alta.


"Mau langsung ke rumah atau apartemen?" tanya Fabian seraya melangkah menuju parkiran dengan Allen di sampingnya.


"Rumah aja, gue udah kangen sama Airin," jawabnya dengan senyuman.


Allen tak sabar untuk bertemu dengan adik kesayangannya itu. Terakhir bertemu beberapa bulan yang lalu, itupun bertatap muka lewat video call.


"Nanti mampir dulu ke supermarket, gue mau beli makanan buat Airin."


Fabian menganggukkan kepalanya, mulai menjalankan mobilnya dan berhenti di supermarket terdekat. Laki-laki itu memilih menunggu di dalam mobil, sementara Allen masuk ke dalam supermarket.


Mengambil satu keranjang, Allen mulai memasukkan beberapa camilan ke dalam keranjang dan terakhir ia mengambil beberapa es krim. Tak lupa juga dengan marshmellow serta yoghurt kesukaan Airin.


"Keisha, tolong jaga kasir. Ada yang mau bayar!" teriak seorang perempuan berambut ikal, ia dengan tergesa-gesa masuk ke dalam toilet.


Allen menaruh barang belanjaannya, lalu seorang perempuan berambut hitam datang dengan memakai seragam kerjanya. Melihat perempuan itu membuat Allen tertegun, tubuhnya terasa membeku, degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Bagaimana bisa perempuan itu terlihat sangat mirip dengan mantan tunangannya? Mata, hidung, bibir, semuanya begitu sama. Bahkan dengan suaranya pun sama.


"Mas mau buka warung kecil-kecilan, ya, belanjanya banyak banget," kata perempuan itu dengan ramah.


Merasa tak ada jawaban ia mendongak, menatap heran ke arah Allen yang menatap dirinya tanpa berkedip. Tentu saja ia merasa risih dengan tatapan itu dan yang ada dipikirannya bahwa Allen tengah memikirkan yang tidak-tidak sembari menatapnya.


Perempuan itu tersenyum canggung, kemudian menghitung semua belanjaan Allen dengan cepat. "Semuanya jadi dua ratus lima puluh delapan, Mas."


Melihat Allen yang tak berkutik sedikitpun membuat dirinya semakin heran. "Mas!" panggilnya.


"Me-meisha," gumamnya pelan yang tak didengar oleh perempuan itu.


Aneh dengan tingkah pelanggannya yang terus-menerus menatapnya membuat ia kesal sendiri. Dengan kesal perempuan itu menggebrak meja kasir yang berhasil membuat Allen berjengkit kaget.


"Dua ratus lima puluh delapan, ini belanjaannya." Perempuan itu tersenyum secara paksa sembari menyerahkan kantong keresek besar itu kepada Allen.


Dengan gelapan Allen menerimanya, mencari letak dompetnya dan langsung membayar dengan tiga lembar uang berwarna merah.


"Ini kembaliannya, sampai jumpa!" Lagi, ia hanya menunjukkan senyuman paksa kepada Allen.


Allen berbalik dengan berat hati, ingin rasanya ia bertanya kepada perempuan itu. Akan tetapi, ia bingung. Namun, egonya lebih memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya.


"Itu ... Nama kamu siapa?"


Perempuan itu mengangkat satu alisnya bingung. Pikiran-pikiran negatif berdatangan, kenapa laki-laki itu bertanya? Apakah ada niat buruk dari laki-laki itu? Mengingat tingkah Allen tadi membuat dirinya merasa harus waspada.


"Ada yang nanya kenapa nggak dijawab?" Tiba-tiba saja perempuan dengan rambut ikal datang seraya memukul pelan punggung temannya.


"Keisha, namanya Keisha," lanjutnya.


Mendengar itu sontak membuat Keisha mengutuk temannya dalam hati.


Allen mengangguk paham, ingin bertanya lagi namun ada orang lain di sana membuat dirinya merasa tak nyaman. Pada akhirnya pun Allen memilih pamit, kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


"Kenapa?" tanya Fabian yang melihat gelagat tak biasa dari temannya sekaligus atasannya.


Menggeleng kecil. "Enggak ada," jawabnya.

__ADS_1


Kenapa perempuan itu mirip banget sama Meisha?


...•°•°•...


Ketika pulang sekolah disambut dengan kehadiran sang kakak tentu saja membuat Airin senang bukan main. Gadis itu pun terus-terusan menempel kepada Allen, rasanya tak ingin berjauhan barang sedetikpun. Akan tetapi, waktu berjalan begitu cepat, sekitar beberapa puluh menit lagi acara pesta ulang tahun Ilona akan segera dilaksanakan.


"Kak Al, kalau nanti Airin ulang tahun mau buat pesta juga. Terus Airin bakal undang satu sekolah, biar pestanya rame."


Allen menganggukkan kepalanya dengan senyuman, laki-laki itu bersandar pada dinding kamar adiknya. Memperhatikan bagaimana salah satu pelayannya merias wajah Airin dengan begitu hati-hati.


"Nanti kamu di sana jangan jauh-jauh dari Nevan, ya?" Allen memegangi kedua pundak adiknya sebab Airin sudah selesai dirias.


Airin menganggukkan kepalanya, ia berdiri menatap sang kakak. "Kak Al nggak perlu khawatir, Airin bakalan baik-baik aja 'kan yang jaga Airin Kak Nevan."


Dengan gemas Allen mencubit pelan pipi adiknya. "Nevan udah nungguin, sana berangkat!"


Langkah ceria gadis itu menuju ke lantai dasar, di mana ada Nevan yang menunggu di ruang tamu. Penampilan Airin malam ini terlihat begitu sederhana hanya dengan dress berwarna hitam di atas lutut. Make up tipis serta rambut hitam lurus yang dibiarkan tergerai.


Sementara Nevan, laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna putih dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka serta jeans berwarna hitam. Sangat simpel namun kadar ketampanannya tak berkurang sedikitpun.


Nevan berdiri, menatap Airin dari atas hingga bawah. Ada rasa tak rela membiarkan Airin memakai dress itu, apalagi dengan lengan serta leher gadis itu yang dibiarkan dilihat orang lain. Akan tetapi, daripada menyuruh Airin ganti dan berakhir harus berdebat dulu, Nevan lebih memilih diam dan langsung mengajak gadis itu berangkat.


"Kak Nevan bisa bawa mobil?" tanya Airin yang hanya dibalas anggukan oleh Nevan.


Di perjalanan Nevan menasihati Airin untuk jangan jauh-jauh dari pengawasannya. Apalagi sampai berkeliaran seorang diri. Nevan khawatir sebab tempat pesta ulang tahun Ilona bertempatan di club. Gila memang seorang pelajar melaksanakan pesta di club.


"Kak Nevan bawel banget, sih. Airin bukan anak kecil yang harus terus diawasi." Gadis itu merenggut.


Nevan menghela nafasnya. Bukan anak kecil katanya, kalau begitu apa? Masa makan saja perlu ia suapi.


"Jangan lupa apa yang gue bilang tadi!" Nevan kembali mengingatkan setelah memarkirkan mobilnya.


Keduanya masuk ke dalam, di sana sudah ada banyak orang yang menikmati hidangan sembari berbincang. Nevan lebih dulu mengajak Airin untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ilona yang berdiri di atas panggung.


"Happy birthday!" Nevan berucap singkat seraya memberikan kado kepada Ilona. Isi kado itu adalah buku pelajaran fisika. Sengaja Nevan membeli itu sebab pastinya tidak akan berguna untuk Ilona karena gadis itu kelas IPS.


"Makasih!" Dengan rasa senang lebih dari seratus persen, Ilona menerima kado dari Nevan.


Airin juga melakukan hal yang sama seperti Nevan, tetapi ditanggapi dengan malas oleh Ilona. Airin tak mempermasalahkan hal itu, intinya Airin senang bisa berada di pesta dengan ada banyak orang disekitarnya.


Serangkaian acara terselesaikan dengan lancar, tak ada sesuatu yang aneh di sana. Padahal sedari tadi Nevan waspada takut sesuatu terjadi kepada Airin, namun nyatanya tidak ada. Airin pun tak berulah apapun, gadis itu duduk anteng di sebelahnya


"Kak Nevan, Airin mau ke toilet dulu," ucapnya meminta izin.


"Perlu gue temenin?" tawarnya.


Airin menggeleng. "Enggak, Airin bisa sendiri."


Nevan mengangguk, membiarkan gadis itu pergi ke toilet sendiri. Meski sebenarnya rasa ingin menemani ada, takut Airin tersesat atau bertemu orang mabuk, sebab di sana tersedia minuman beralkohol.


Melihat Airin pergi dari samping Nevan membuat Ilona tersenyum. Ia memanggil salah satu pelayan berjenis kelamin laki-laki yang bertugas menyiapkan hidangan serta minuman.


Ilona menyerahkan segelas wine yang sudah ia beri obat perangsang. "Kasih minuman ini ke sembarang cowok. Kalau udah di minum dan obatnya mulai bereaksi, lo bawa cowok itu ke lantai dua, kamar nomor sebelas."


Pelayan laki-laki itu mengangguk dan mulai mencari target. Yang ada dipikirannya adalah bahwa si pemilik pesta ingin berduaan dengan laki-laki tampan, maka untuk itu ia memilih laki-laki tampan yang memakai kemeja putih duduk dipojok seorang diri.

__ADS_1


"Minumnya, Mas." Ia menyerahkan gelas itu yang langsung diteguk hingga habis.


Nevan yang kebetulan sedang haus meminum wine itu, mungkin minum segelas tidak akan membuatnya teler. Akan tetapi, beberapa detik setelah meminum wine itu ia merasakan tubuh panas.


Ia menyugar rambutnya ke belakang, mengusap keningnya yang mengeluarkan keringat. Pandangannya pun mulai tak jelas, tubuhnya bahkan kian memanas. Rasanya Nevan ingin berendam di air dingin.


Tubuh terangkat, pelayan tadi memapahnya keluar dari kerumunan orang-orang di pesta. Nevan pun tak melakukan perlawanan atau menanyakan dirinya akan dibawa ke mana, karena yang Nevan inginkan adalah rasa panasnya segera tertuntaskan.


Sesuai dengan perkataan Ilona, pelayan itu membawa Nevan ke lantai dua kamar nomor sebelas. Setelah Nevan masuk, ia segera mengunci pintu itu.


"Selamat bersenang-senang!"


Di dalam kamar nomor sebelas, Nevan menahan bobot tubuhnya dengan memegangi tembok. Ia menggelengkan kepalanya pelan, kemudian tatapannya beralih kepada seorang gadis berdress hitam.


"Kak Nevan!" Gadis itu adalah Airin.


"Kak Nevan kenapa?" tanyanya seraya memegangi kedua bahu Nevan.


Sial, tubuhnya tiba-tiba bereaksi dan semakin panas. Rasanya udara malam ini begitu sangat panas.


Menarik pinggang Airin dalam satu tarikkan, menatap gadis itu dengan intens. Sementara Airin menatap Nevan dengan polos.


"Airin, kenapa lo berbeda malam ini?" tanyanya dengan suara berbisik.


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Airin 'kan dandan, jadinya beda. Cantik, 'kan? Kak Nevan nggak usah malu kalai mau muji Airin."


Nevan menyunggingkan satu sudut bibirnya, mengusap pelan pipi gadis itu. "You're f*cking beautiful!"


Tanpa melepaskan tangannya di pinggang Airin, Nevan melangkahkan kakinya sampai Airin berbaring di ranjang dengan dirinya berada di atas gadis itu. Menatap gadis itu dengan matanya yang menggelap, ia semakin menundukkan kepalanya. Menghirup aroma tubuh Airin yang baru Nevan sadari begitu sangat harum, sesekali bibir tebalnya itu mengecupi bahu Airin yang terekspos.


Sementara Airin sendiri memejamkan matanya seraya mencengkeram lengan Nevan. Darahnya berdesir ketika Nevan melakukan itu.


"Ka-kak Nevan!" panggilnya dengan suara pelan. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, menahan suara sesuatu agar tak lolos keluar.


Nevan mengangkat kembali kepalanya, menatap wajah Airin yang tampak sayu. Sialnya semakin meningkatkan gairahnya. "Airin, do you want to play with me?"


"Main apa?" tanyanya dengan polos.


"Sesuatu yang nikmat," jawabnya dengan suara berat seraya tersenyum tipis.


"Mau?" lanjutnya.


Airin menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Bermain sesuatu yang nikmat? Airin tidak tahu permainan apa itu, ia jadi penasaran.


"Let's play with me!"


Mula-mula, Nevan menurunkan tali dress yang Airin kenakan. Mulai kembali mengecupi bahu serta leher Airin hingga meninggalkan bekas merah di sana. Sedangkan Airin memekik pelan ketika Nevan mengigit lehernya.


Kemudian, mencium bibir Airin dengan lembut. Nevan sadar jika ini pertama kalinya untuk Airin, maka dari itu ia akan bermain selembut mungkin agar gadis itu tak terkejut.


"Airin, unbutton my shirt!" perintahnya tepat di daun telinga Airin.


Mendengar itu Airin mengernyit. "Kenapa harus dibuka? Kita 'kan mau main."


"Permainannya bisa bikin berkeringat, jadi harus dibuka."

__ADS_1


Airin menurut, membuka satu persatu kancing kemeja Nevan sampai kemeja itu sudah tak lagi Nevan pakai. Untuk pertama kalinya Airin melihat ini, dada Nevan yang bidang, serta perut indah kesukaan para wanita.


"Airin, sorry. I can't take it anymore, it might hurt a little." Nevan menunjukkan smirk dan kembali mencium bibir Airin yang akan menjadi candunya.


__ADS_2