Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
19. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Liburan semester tunggal satu Minggu lagi, kemarin sore Nevan dan Airin memilih untuk kembali pulang dari puncak sebab Airin yang sudah sangat merindukan klakson kendaraan saling bersahutan di jalan ketika macet, juga dengan bau polusi kota.


Sekarang sore hari, Airin dan Citra yang baru pulang liburan sedang menghabiskan waktu berdua dengan berbincang di kafe. Sekitar pukul 4 sore Citra pulang dijemput oleh Zean dan Airin pun sedang menunggu Nevan menjemputnya di kafe.


Sembari menunggu, perempuan itu memesan Fruit Yogurt minuman kesukaannya, dan tanpa dirinya tahu ada seseorang yang mencampur sesuatu kepada minumannya secara diam-diam.


"Ini minumannya, silakan dinikmati!"


Airin tersenyum ramah, kemudian meminum pelan Fruit Yogurt itu. Ia ingin menikmati minuman kesukaannya dengan tenang dan damai sebelum Nevan datang.


"Kak Nevan lama banget, sih, biasanya kalau sore gini nggak macet, kok," gumamnya seraya melirik jam di ponselnya.


"Airin!"


Sang pemilik nama menoleh ke arah pintu masuk kafe, ada Nevan yang melambaikan tangannya di sana. Mata Airin berbinar dengan senyuman mengembang, sebelum berlari ke arah suaminya, Airin meminum kembali minumannya hingga tersisa sedikit.


"Lama, ya? Maaf, tadi ke sini pake motor Reval malah motornya tiba-tiba mogok," ungkap Nevan yang tak mau membuat istrinya berpikiran yang tidak-tidak.


"Enggak apa-apa, kita pulang sekarang. Badan Airin rasanya panas, nggak enak," katanya dengan jujur. Airin merasa tubuhnya tiba-tiba saja panas, rasanya ingin berendam di kolam es batu.


"Kamu sakit?" tanya Nevan seraya menempelkan punggung tangannya di kening Airin.


Airin menurunkan tangan Nevan dari keningnya sembari perempuan itu menggeleng pelan. "Enggak, Airin nggak sakit. Tapi, badan Airin rasanya aneh, Airin nggak tahu kenapa."


Nevan mengamati istrinya, pipi perempuan itu memerah dengan tatapan mata sayu. Kemudian, Nevan menyadari satu hal, ia langsung mengumpat dan mengamati sekitar. Tidak ada orang yang mencurigakan di dalam kafe, hanya ada satu mahasiswa yang sibuk dengan laptop, satu pasangan yang sedang bercanda, juga seorang anak yang sekitarnya masih SMP sedang membaca buku novel. Lalu, penjaga kasir yang kebosanan memainkan ponsel.


"Ayo, kita pulang!" Nevan membawa Airin menuju di mana motor Reval terparkir, tadi sudah diobati di bengkel.


•••


Malam hari tiba-tiba saja Nevan kedatangan tamu, para anggota inti Drave datang bertamu ke rumah Allen. Sementara Allen sendiri, laki-laki itu begitu sangat betah berada di kantor, bercumbu dengan berkas dan dokumen pekerjaannya. Eh, jangan lupakan juga dengan asistennya. Ngomong-ngomong, Nevan belum menanyakan soal asisten itu kepada Allen.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Nevan langsung setelah mempersilakan teman-temannya masuk.


Mendengar itu Reval mendengkus. "Santai, dong, kita ke sini cuma mau main aja. Udah lama juga kita nggak kumpul bareng."


Davian menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Reval. "Bener, tuh, lo yang udah punya bini pasti susah, ya 'kan buat cari waktu kumpul bareng kita. Jadi, sebagai teman yang baik kita berinisiatif dateng sendiri."


"Gue nggak kangen sama kalian, jadi nggak perlu berinisiatif," balas Nevan dengan pedas.

__ADS_1


Gabril memicingkan matanya menatap Nevan. "Kayaknya kita datang di waktu yang salah, deh, pantes aja Pak Ketu ini sensi dari tadi."


Zean, Davian, Reval, dan juga Nevan menatap Gabril dengan heran.


Berdecak melihat teman-temannya malah ngelag, Gabril langsung menunjuk leher Nevan yang terdapat beberapa bercak berwarna merah. "Ini, kalian nggak lihat apa? Kita, tuh, lagi ganggu dia sama istrinya yang berkembang biak."


Reval menutup mulutnya kaget. "Astaghfirullah, Nevan! Masa lakuin kayak gitu di jam begini, sih? Nantilah kalau udah malem banget 'kan nggak enak ganggu tetangga yang belum pada tidur."


Zean menyenggol lengan Reval. "Hei, lakuin agak siang biar nanti malem nggak begadang. Iya, nggak?"


Nevan memutar bola matanya malas mendengar celetukkan teman-temannya yang menggoda dirinya. Akan tetapi, mereka berempat benar perihal Nevan yang sudah melakukan hubungan suami-istri dengan Airin tadi.


Lagi dan lagi mereka melakukan itu karena pengaruh obat perangsang, Nevan tidak tahu siapa pelaku yang sudah memasukkan obat perangsang kepada Airin.


"Ngomong-ngomong, tadi kayaknya ada orang yang masukin obat perangsang ke minumannya Airin," kata Nevan tiba-tiba yang membuat tawa keempat pemuda itu terhenti.


Zean mengernyit. "Jadi, maksudnya kalian lakuin itu karena obat perangsang?"


"Cuma Airin, sih, yang terpengaruh obat perangsang," tuturnya.


"Masa iya pelakunya Ilona lagi," sahut Reval.


Zean mengembuskan napasnya. "Entah kenapa feeling gue ngerasa kalau anggota Earth cepat atau lambat pasti bakalan tahu soal Airin."


Davian menganggukkan kepalanya setuju. "Gue juga yakin, selama ini Earth diam udah lama. Pasti diam-diam mereka mata-matain kita buat cari tahu kelemahan kita apa."


"Apa nggak seharusnya kalian berdua jaga jarak dulu sampe kesalahpahaman itu selesai?" tanya Gabril dengan sedikit memberi saran.


"Gue juga pernah mikir buat jaga jarak dulu sama Airin, tapi setiap gue jauh dari Airin, hati gue jadi nggak tenang. Dengan sifat Airin yang masih kekanakan, dibujuk sama permen aja dia luluh," kata Nevan dengan raut wajah khawatir yang begitu kentara, baru kali ini mereka melihat Nevan sekhawatir ini karena biasanya Nevan adalah sosok yang selalu tenang di kondisi apapun.


"Gimana kalau kita ngomong dulu sama Bang Allen? Suruh dia buat jagain Airin pake bodyguard, kalian juga sementara pisah rumah dulu." Reval bersuara dengan memberikan sedikit solusi yang mungkin bisa membantu.


"Airin nggak mau!"


Kelimanya serempak menoleh ke arah lantai dua, di sana ada Airin berdiri dengan wajah cemberut juga tangan yang berkacak pinggang.


"Kak Reval jangan coba-coba buat pisahin Airin sama Kak Nevan! Karena sampai kapanpun Kak Nevan nggak akan jauh dari Airin satu senti pun!" kata Airin menggebu sembari menuruni anak tangga. Akan tetapi, Airin langsung meringis ketika akan memijak tangga yang terakhir.


Dengan gesit Nevan menghampiri istrinya. "Kenapa? Ada yang sakit?"

__ADS_1


Airin mengibaskan tangannya. "Enggak, nggak, cuma perih dikit."


Mendengar itu Reval tersenyum misterius. "Apanya yang perih dikit, Airin?"


Perempuan itu bersidekap. "Kata Kak Nevan nggak boleh bicarain soal hubungan ranjang ke orang luar, mau itu sama temen atau keluarga sendiri."


Nevan menepuk jidatnya, meski Airin tak menceritakannya tapi teman-temannya pasti langsung mengerti apa yang Airin maksud dengan perih dikit.


"Mending balik aja ke kamar, sana!" suruh Nevan.


Airin merentangkan kedua tangannya. "Gendong," rengeknya.


Menatap teman-temannya sekilas yang menunjukkan senyum menyebalkan juga dengan alis Reval yang naik-turun. Mengabaikan hal itu, Nevan mengangkat tubuh mungil Airin dengan enteng ala bridal style menuju ke kamar.


"Hufh, pengin nikah juga," celetuk Reval.


Mendengar itu Davian mencebik. "Cowok playboy kayak gitu ternyata ada pikiran buat mau nikah juga, emangnya lo bisa bertahan cuma sama satu cewek, hah?"


"Heh! Lo kayaknya kemusuhan banget, deh, sama gue. Kalau cemburu itu bilang!"


"Najis! Gue lebih suka yang bergunung, bukan berbatang kayak lo!"


"Sial, telinga gue ternodai," gumam Gabril pelan.


Sementara Zean malah asyik chatan dengan Citra.


Sedangkan di sisi lain, ada Nevan dan Airin yang baru saja masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu dengan hati-hati mendudukkan Airin di pinggiran ranjang.


"Kak Nevan nggak bakalan ninggalin Airin 'kan?" tanya Airin tiba-tiba.


Nevan berjongkok di depan perempuan itu, mengusap kepala Airin sembari tersenyum. "Enggak akan, siapa juga yang mau ninggalin Airin, hm?"


"Tapi, kata Kak Reval suruh Kak Al suruh bodyguard yang jaga Airin sama sementara pisah rumah sama Kak Nevan. Airin nggak mau dan nggak bisa jauh-jauh dari Kak Nevan tahu." Airin bersidekap dengan bibir mengerucut lucu.


"Tadi Reval cuma bercanda doang, kok, jangan dipikirin," balasnya, "Sekarang tidur lagi, masih capek 'kan?"


"Mau tidur sama Kak Nevan sambil dipeluk," pintanya.


"Ya, udah, sini!"

__ADS_1


__ADS_2