
Pagi-pagi sekali Nevan digemparkan dengan Airin yang tiba-tiba menangis, tentu saja dirinya dibuat bingung. Nevan tidak tahu kenapa Airin bisa menangis, sebab ia merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Tadi saja mereka sholat subuh berjamaah, tapi saat dirinya selesai berolahraga di ruang gym khusus di rumah Allen, ia mendapati istrinya menangis.
"Airin, lo kenapa nangis? Ada yang sakit? Atau ada yang jahatin lo? Hari ini kita 'kan mau ke puncak." Berbagai pertanyaan Nevan lontarkan, tapi sedari tadi Airin tak menjawab atau mengucapkan satu patah pun.
Menghela nafasnya, lalu duduk di samping Airin. "Kalau ada apa-apa bilang, jangan disembunyiin. Gue sebagai suami berhak tahu, antara suami istri nggak ada yang namanya privasi."
Dengan kesal Airin menyodorkan ponsel milik Nevan kepada pemiliknya. "Ada foto cewek lain di galeri Kak Nevan, Kak Nevan pasti selingkuh! Katanya semalam Airin milik Kak Nevan, tapi semua itu bohong!"
Nevan mengambil ponselnya, membuka galerinya yang hanya ada beberapa foto. Itu juga dipenuhi dengan wajah Airin yang ia ambil diam-diam, kemudian ia tersadar, ada foto Kakak perempuannya di galeri. Apa karena itu Airin menangis dan mengira dirinya selingkuh?
"Maksud lo foto perempuan ini?" tanya Nevan seraya menunjukkan foto Meisha.
Airin menganggukkan kepalanya tanpa ragu, bersidekap kesal dan enggan menatap Nevan. "Enggak sangka Kak Mevan selingkuh sama asistennya Kak Al," ujarnya.
Mendengar itu Nevan terheran, maksudnya apa? Ini foto Kakaknya yang sudah meninggal dunia, bagaimana bisa Airin mengatakan bahwa itu adalah asistennya Allen. Lalu, sejak kapan Allen memiliki asisten? Kenapa Nevan tak tahu?
"Asisten?" beonya.
"Iya! Itu asistennya Kak Al, tiap pagi suka ke sini bikin sarapan buat Kak Al," jawabnya dengan judes.
"Ta-tapi, ini foto kakak gue yang udah meninggal," tutur Nevan.
Airin menatap suaminya dengan kerutan dahi. "Kak Nevan apaan, sih? Jelas-jelas itu asistennya Kak Al, Airin nggak mungkin salah lihat. Mata Airin masih bagus."
"Terus sekarang dia di mana? Ada ke sini?" tanyanya dan hal itu membuat Airin makin bad mood.
Dengan malas perempuan itu menjawab. "Barusan udah pergi ke kantor sama Kak Al."
Nevan menghela nafasnya panjang. Ia percaya dengan apa yang Airin bilang, karena tidak mungkin istrinya berbohong. Tapi, bagaimana bisa semirip itu?
"Muka Kak Nevan cemberut pas tahu dia udah pergi, kecewa banget pasti karena selingkuhannya malah selingkuh sama Kakak iparnya," sarkas Airin dengan pedas. Sejak kapan juga Airin bisa mengatakan kata-kata seperti itu, pasti ini gara-gara bergaul dengan Citra.
"Airin, yang ada di foto emang Kakak gue yang udah meninggal. Foto ini gue ambil waktu dia ulang tahun yang ke dua puluh dua tahun. Gue juga kaget waktu lo bilang kalau ini asisten Kakak lo, emang semirip itu?"
Tanpa ragu Airin mengangguk. "Iya, mereka mirip. Makanya Airin kira Kak Nevan selingkuh sama asistennya Kak Al, kita pernah ketemu beberapa kali kalau dia datang ke sini pagi-pagi. Kak Nevan pasti nggak tahu, soalnya pas dia ke sini Kak Nevan lagi mandi."
"Tapi, Kak Nevan beneran nggak selingkuh?" lanjutnya.
Menggeleng dengan yakin. "Enggak, lo pikir cowok kayak gue ini hobi selingkuh?"
Airin mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke, oke, Airin percaya. Kalau gitu kita cepetan siap-siap, Airin nggak sabar mau cepet-cepet ke puncak."
Dengan girang Airin mulai memilih pakaian apa yang akan ia pakai, dalam sejenak melupakan soal perihal tuduhan perselingkuhan Nevan. Akan tetapi, lain lagi dengan Nevan yang masih memikirkan tentang asisten Allen. Akan Nevan pastinya untuk menanyakan soal ini kepada Allen secara langsung.
Akhirnya pada pukul tujuh pagi semuanya sudah siap, perjalanan kali ini Nevan yang menyetir mobil sendiri. Perjalanan menuju ke puncak tidak melewati banyak kota, justru masuk ke pedalaman dan di perjalanan pun hanya ada jalan beraspal dengan pepohonan di pinggir jalan.
Udaranya sangat sejuk dan jauh dari keramaian, selama perjalanan Airin terus berdecak kagum dan bersemangat ketika melihat burung-burung berterbangan. Hingga perempuan itu tertidur selama dua jam perjalanan, setelah perempuan itu baru bangun.
__ADS_1
"Wah! Kita udah sampe?" tanya Airin setelah keluar dari mobil.
Nevan yang sedang menurunkan barang-barang mereka mengangguk. "Iya, kita udah sampe."
Airin melihat-lihat sekeliling, di sekitarnya hanya ada tumbuh-tumbuhan hijau. Lalu, ada satu bukit yang di puncaknya terdapat sebuah rumah. Untuk menuju ke rumah itu harus menaiki beberapa puluh tangga, lumayan bisa membuat kaki pegal.
Rumahnya sangat sederhana dengan halaman luas yang terdapat banyak tanaman bunga. Setiap seminggu sekali selalu ada orang yang diperintahkan untuk mengurus rumah ini, makanya halaman dan rumahnya bersih.
"Rumahnya bagus banget, pemandangannya juga indah banget. Makasih Kak Nevan, Airin suka banget!" Airin mengatakan itu seraya memeluk Nevan.
Dengan lembut Nevan mengusap puncak kepala istrinya. "Sama-sama," balasnya.
"Ya, udah. Kita masuk dulu sama beresin barang-barang kita."
Airin menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Nevan.
•
Setelah membuatkan kopi untuk Allen, Keisha langsung mendudukkan dirinya dan menuntut Allen untuk segera menjelaskan semuanya perihal tentang foto perempuan yang sangat mirip wajahnya dengannya. Allen saja tidak percaya bahwa Keisha begitu masih sangat ingat. Ingatan perempuan memang tidak perlu diragukan lagi.
"Kamu mau tahu tentang apa? Semuanya bisa kamu tanyakan sama saya," kata Allen dengan Keisha yang duduk di depannya, hanya meja kerja miliknya yang menjadi penghalang.
Dengan tatapan mengintimidasi Keisha bertanya. "Siapa perempuan yang ada di foto itu?"
"Meisha Xaviar Calvin," jawabnya jujur.
"Orang tuanya yang kasih."
Mendengar itu Keisha mendengus dan kembali bertanya. "Kenapa mukanya bisa mirip sama saya?"
Allen bersidekap. "Emangnya kamu pikir saya tahu soal itu? Saya juga masih bertanya-tanya, kenapa kalian bisa begitu mirip? Padahal saya jelas-jelas tahu kalau Meisha itu sudah meninggal dunia."
"Kenapa dia bisa meninggal?" Keisha bertanya karena penasaran.
"Dia koma berbulan-bulan di rumah sakit karena mendapatkan kekerasan fisik, setelah itu dia meninggal dunia. Padahal waktu itu kita lagi menyiapkan untuk acara pernikahan kita, tapi malah ada insiden yang membuatnya masuk rumah sakit," jelas Allen secara singkat.
"Kenapa dia mendapatkan kekerasan fisik?" Lagi, Keisha bertanya karena penasaran.
"Apa kalau saya jawab kamu nggak bakalan nuduh saya sebagai penguntit atau orang mesum?"
Keisha menganggukkan kepalanya. "Iya, makanya ceritain semuanya."
Allen menghela nafasnya, memang sepertinya harus diceritakan semuanya agar Keisha tak salah paham. "Sebenarnya dia diculik sama musuh saya, karena waktu saya masih muda saya ini ketua geng motor. Mereka tiba-tiba aja culik Meisha, sampai sekarang karena peristiwa penculikan itu kedua geng motor jadi musuhan."
"Sekarang, Pak Allen masih jadi ketua geng itu?"
Menggeleng pelan. "Enggak, semenjak Meisha meninggal saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan setelah itu saya jadi orang yang gila kerja."
__ADS_1
"Ekhem, terima kasih Pak Allen. Sekarang saya udah nggak salah paham lagi sama Pak Allen, maaf juga soal kemarin karena saya sudah menuduh Pak Allen," katanya dengan sungguh-sungguh dan sopan.
"Kalau begitu saya permisi," lanjutnya.
Allen menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap punggung milik Keisha yang perlahan menghilang dibalik pintu. Laki-laki itu menghela nafasnya panjang, kemudian tersenyum tipis.
"Keisha kalau lagi kesel mirip sama Meisha," monolognya.
•
Pemuda berambut purple itu menghampiri ibunya yang tengah membuat sarapan. Ia mengigit bibir bawahnya untuk siap-siap mengatakan apa yang ingin ia katakan, setelah keberaniannya terkumpul ia pun mulai berkata. "Bu, Ibu yang udah keluarin Davian dari kelas les matematika?"
Wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya menatap sang putra sekilas. "Iya, Ibu rasa guru les di sana kurang menurut Ibu. Tapi, kamu tenang saja, Ibu udah punya guru les yang baru buat kamu."
Susan selaku ibunda Davian menatap sepenuhnya anaknya itu. "Nanti mulai semester dua kamu udah bisa les di rumah guru les baru kamu, Ibu harap nilai di kelulusan kamu nanti lebih memuaskan dibandingkan semester sebelumnya."
Davian mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan patuh. "Iya, Bu," jawabnya singkat.
Kemudian, Davian kembali ke kamarnya. Dirinya bukan anak yatim yang sudah tak memiliki anak, melainkan ayahnya yang jarang pulang dan ibunya pun sama. Selalu pergi keluar tapi entah pergi ke mana, pernah sekali Davian mengikuti ibunya keluar dan malah mendapati ibunya bersama laki-laki lain. Dari sana Davian berasumsi bahwa ibunya selingkuh, tapi entahlah.
•
"Kak Nevan mau kapan bikin bayinya? Sekarang aja gimana?"
Nevan yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari langsung dikejutkan dengan pertanyaan dari Airin. Dengan gelapan ia menjawab. "Em, kita 'kan baru aja sampe, kita masih harus beres-beres. Emangnya lo nggak capek? Kalau gue, sih, capek habis nyetir."
Airin menganggukkan kepalanya paham. "Kalau gitu kita beres-beres dulu sama istirahat, bikin bayinya nanti malam aja."
"Malam nanti juga nggak bisa," jawab Nevan dengan cepat.
Perempuan itu mengernyit. "Kenapa?"
"Soalnya ... Gue mau bawa lo ke suatu tempat, nggak jauh di sini ada danau. Tempatnya bagus banget, lo pasti suka."
Dengan mata berbinar Airin menganggukkan kepalanya. "Mau, mau, nanti malam kita harus ke sana pokoknya."
Mendengar itu Nevan menghela nafasnya lega, dan kembali melanjutkan acara memasukkan baju ke dalam lemari.
"Terus mau kapan bikin bayinya?"
Pertanyaan Airin kembali membuat dada Nevan berdebar, bagaimana bisa Airin menanyakan hal itu dengan sangat santai? Tidakkah tahu Nevan tersiksa sekarang.
"Kapan-kapan aja," jawabnya asal.
Airin mendengus. "Ya, kapan-kapan itu kapan?"
"Iya, nanti kapan-kapan aja."
__ADS_1
"Tahu ah kesel sama Kak Nevan!"