Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
Pernikahan Allen dan Keisha


__ADS_3

Sebagai seorang wanita pasti menginginkan pernikahan yang hanya terjadi satu kali dalam kehidupannya dengan seorang pasangan yang kita cintai. Hidup bersama, memiliki seorang anak, dan selalu bahagia.


Pernikahan adalah puncak di mana kita akan berhenti menjadi seorang lajang. Biasanya selalu dilakukan sendiri, maka mulai detik itu akan ada pasangan yang selalu menemani.


Dulu, Allen gagal dalam pernikahan dikarenakan dirinya malah ditinggalkan oleh sang kekasih. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk laki-laki menyembuhkan luka di hatinya, sampai ia bertemu dengan Keisha. Awalnya ia berpikir, mungkin Keisha adalah obat untuknya. Agar dirinya bisa melupakan masa lalunya, meski diawal-awal agak susah sebab wajah Keisha dan Meisha begitu mirip. Akan tetapi, dengan hati yang jujur Allen hanya menganggap Keisha sebagai Keisha bukan orang lain apalagi Meisha.


Tepat hari ini, Allen dengan sah sudah menjadi suami dari Keisha. Hari ini adalah hari kebahagiaan yang tidak akan pernah dirinya lupakan begitupun dengan semua orang yang turut hadir.


Acaranya digelar secara mewah dan besar-besaran, banyak keluarga kedua belah pihak juga rekan bisnis Allen yang datang. Begitu pula dengan pasangan Nevan dan Airin.


Ngomong-ngomong, tinggal menghitung Minggu lagi Nevan akan lulus sekolah dan usia kandungan Airin pun semakin menua.


"Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku. 'Kan kupersunting dirimu, jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku. Terimalah cintaku!" Reval naik ke atas pelaminan dengan menyanyikan sebuah lagu, Allen menanggapi hal itu dengan tawa.


"Wei! Akhirnya nggak jadi bujang lapuk," celetuk Gabril.


"Keponakan kembar empat coming soon, nih!" sahut Davian seraya memberikan tepuk di bahu Allen.


"Belajar yang bener, bukan malah jailin gue," balas Allen.


"Yaela, mau belajar ataupun kagak kita mah tetep bakalan lulus. Ya gaes ya!" tutur Reval dengan sombong.


Zean yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. "Selamat, ya, Bang! Semoga rumah tangga kalian awet terus."


"Aamiin! Aamiin, makasih Zean. Lo juga buruan halalin si Citra, pacaran mulu kapan diseriusinnya coba?"


Mendengar balasan Allen membuat Zean terkekeh pelan. "Lulus sekolah juga belum, kuliah juga belum, kerjaan juga belum dapet, masih lama buat diseriusin."


"Nungguin lo kuliah sama punya kerjaan mah lama, mending kasih ke gue aja."


Zean menatap sinis ke arah Reval yang berucap tadi. "Modelan cowok kayak lo Citra kagak bakalan mau!"


"Ngena banget omongan lo, sampe hati kecil gue ini tergores."


"Drama najis!"


Sementara itu, di sisi lain ada Nevan yang sedang membantu istri kecilnya untuk duduk. Perut Airin yang semakin membesar membuat perempuan itu menjadi sulit untuk beraktivitas juga mudah kelelahan.


"Kakinya pegel? Sini aku pijitin." Nevan membawa kaki istrinya, kemudian melepaskan sepatu perempuan itu dan mulai memijitnya perlahan.

__ADS_1


"Makasih suami!" ujar Airin dengan senyuman lebar.


Nevan membalas hal itu dengan senyuman manisnya. "Kamu kalau capek mending pulang aja, acara intinya juga udah selesai."


Perempuan itu menggeleng pelan. "Enggak, Airin pengen di sini sampe selesai. Ini 'kan hari bahagianya Kak Al."


"Iya, tapi kamu 'kan kecapekan. Kasihan dedek bayinya, kalau kaki kamu bengkak gimana, hm?"


"Enggak mau ish! Kak Nevan, Airin mau di sini sampe selesai!" Perempuan itu bersidekap seraya menarik kembali kakinya.


Nevan menghela nafasnya, "Iya, kita di sini sampe selesai."


Daripada berakhir ribut dan Airin menangis, Nevan lebih memilih untuk pasrah meski sebenarnya ia sangat khawatir kepada Airin. Sedari tadi perempuan itu selalu mengeluh pegal dan kelelahan.


"Kak Nevan!" panggil Airin kepada Nevan yang duduk di kursi sampingnya.


Si pemilik nama menjawab dengan deheman, sebab dirinya sedang meneguk minuman jus rasa strawberry.


"Kenapa?" Nevan bertanya karena setelah memanggil namanya Airin malah diam.


Airin memainkan jari-jarinya dengan kepala menunduk. "Itu... Anu hm... Kapan-kapan Airin beloh jenguk Febby nggak?"


"Ya, nggak kenapa-napa, sih. Airin cuma pengen jenguk dia aja, tiba-tiba aja Airin pengen lihat muka dia, deh!" balasnya dengan kepala menunduk, tapi diam-diam curi pandang ke arah suaminya.


"Hm, iya kapan-kapan," ujar Nevan dengan malas


Perempuan itu mendongak, "Kapan-kapannya kapan?"


"Ya, kapan-kapanlah!"


"Ish, Kak Nevan! Yang bener, dong!"


"Kamu bilang juga tadi jenguknya kapan-kapan, jadi kapan-kapan aja."


"Pokoknya Airin ngambek sama Kak Nevan! Jangan bicara sama Airin!"


Nevan mengedikkan bahunya acuh dan kembali meminum minumannya, hal itu semakin membuat Airin geram. Dengan sangat tidak berperasaan, Airin mencubit pinggang suaminya sampai Nevan menyemburkan minumannya dan sialnya semburan minumannya membuat kemeja putih Reval terkena noda merah dari minumannya.


"Astaghfirullah! Kemeja mahal gue, kemeja ini baru gue beli langsung dari Paris dan sekarang malah terkena noda! O em ji, my heart is sakit!" Reval menatap nanar kemeja dengan sedih, padahal tadi subuh ia sudah susah payah untuk menyetrika kemeja ini.

__ADS_1


"Yaela, Paris apanya? Orang lo beli, tuh, kemeja bareng gue di toko serba tiga lima," celetuk Davian membuat Reval berdecak.


"Ck! Lo bisa diem nggak, sih? Jangan buka kartu dong! Biar si Nevan ganti ruginya lima kali lipat!"


Mendengar itu Davian memutar bola matanya malas.


"Pake pemutih juga, tuh, kemeja langsung putih lagi," sahut Gabril.


"Kemeja murahan kayak gitu mah mending buang aja, nggak perlu pake dicuci segala," ucap Rayn menyahut yang tiba-tiba saja datang.


"Ngapain lo di sini?" tanya Nevan menatap sepupunya itu dengan sinis.


"Gue juga diundang kali!" jawabnya dengan sewot.


"Ngomong-ngomong, ada yang mau gue bicarain sama lo," lanjutnya.


"Kalau lo mau ngomong soal bisnis atau perusahaan keluarga, gue nggak mau! Mending lo pulang aja sono!" balas Nevan seraya mengibaskan tangannya.


Mendengar balasan sepupunya membuat Rayn berdecak. Ia mendekati Nevan, lalu menarik tangan pemuda itu untuk ikut bersamanya. "Ikut gue!"


Melihat suaminya yang ditarik-tarik, Airin sama sekali tidak peduli. Ingatkan perempuan itu bahwa ia sedang ngambek!


"Lepasin!" Nevan menyentak tangan Rayn sampai terlepas.


"Mau lo apa?" lanjut Nevan bertanya.


Rayn menghela nafasnya seraya berkacak pinggang. "Gue mohon sama lo, kali ini aja lo harus mau belajar bisnis. Bulan depan gue bener-bener harus ke London."


"Mau gue bilang gimana lagi, sih, gue nggak mau! Lo paham 'kan bahasa manusia?" balas Nevan tak mau kalah.


Laki-laki bernama lengkap Rayn Pradipta Calvin itu mengusap wajahnya frustrasi. "Nevan, perusahaan itu emang seharusnya lo yang urus. Gini, sekarang coba lo pikir. Sebentar lagi istri lo lahiran dan lo kerja serabutan jadi pelayan kafe itu nggak cukup. Biaya persalinan, biaya ruang rawat, belum lagi beli baju bayi, bedaknya, minyak telonnya, belum juga biaya makan buat sehari-hari. Gaji lo yang nggak seberapa itu nggak bakalan cukup!"


"Emangnya lo nggak malu buat minjem sama Allen atau teman-teman lo? Emang lo pikir, kalau lo minta sama orang tua lo mereka bakal kasih? Enggak akan! Dan pikirin lagi kalau lo urus perusahaan itu, lo bisa dapet gaji gede. Anak sama istri lo hidup berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari sekedar cukup. Emangnya lo nggak ada niatan buat beli rumah? Lo mau anak sama istri lo tinggal di apartemen kecil itu?" lanjut Rayn yang tak akan menyerah untuk membujuk sepupunya itu.


Mendengar perkataan panjang lebar Rayn membuat Nevan sedikit tergiur. Ia berpikir ulang dan melihat kondisinya sekarang yang memang sedang membutuhkan uang. Kadang ia juga harus meminjam kepada Zean jikalau Airin ngidam makanan yang membutuhkan uang lebih. Contohnya saja kemarin, Airin ngidam pengen makan di restoran bintang lima. Nevan yang sedang tak punya uang pun terpaksa meminjam terlebih dahulu kepada Zean.


"Nevan, lo mau 'kan?"


"Gue... Gue coba pertimbangkan lagi."

__ADS_1


Rayn tersenyum dalam diam, akhirnya ia bisa ke London!


__ADS_2