Istri Kecil Yang Polos

Istri Kecil Yang Polos
09. Airin Sakit


__ADS_3

Sore tadi Fabian menelfon bahwa ada beberapa masalah di kantor dan terpaksa Allen harus kembali ke kantornya. Sampai sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun laki-laki itu masih belum pulang. Meninggalkan adiknya seorang diri di rumah, sedangkan para pelayan sudah tertidur di gedung belakang rumah.


Airin gulang-guling di atas kasurnya sembari memegangi perutnya yang sakit. Ini semua memang salahnya yang memasukkan terlalu banyak sambil ke dalam mie ayam ditambah lagi ia tak seharusnya memakan makanan luar.


"Sakit banget hiks!"


Rasanya benar-benar sakit, Airin menyesali perbuatannya itu. Setelah ini ia janji tak akan memakan makanan pedas dan sembarangan lagi, seharusnya ia menurut dengan perkataan Allen dan juga Nevan.


"Kak Al kenapa nggak pulang-pulang, sih? Ditelfon juga nggak diangkat, mau telfon Kak Nevan juga pasti dia nggak mau ke sini. Udah malam juga pasti Kak Nevan udah tidur," gumamnya seraya membuka ponselnya di aplikasi buku kontak yang menampilkan nomor telfon milik Nevan.


"Airin!"


Sang pemilik nama mendongak, menatap ke arah pintu kamarnya yang dibuka oleh sosok laki-laki yang bernama Nevan.


Melihat wajah Airin yang pucat serta dipenuhi oleh keringat membuat Nevan bergegas menghampiri perempuan itu. "Lo kenapa? Sakit? Pucet banget."


"Airin sakit perut," adunya dengan suara pelan. Firasatnya mengatakan bahwa Nevan pasti akan mengomeli dirinya sebentar lagi.


"Apa gue bilang juga, jangan makan pedes! Lo ngeyel banget, sekarang sakit 'kan perutnya. Lo itu nggak boleh makan-makanan luar, kalau dibilangin itu nurut bukannya malah ngelawan!"


Tuh 'kan benar, tidak Nevan tidak Allen mereka sama saja, hobi mengomeli Airin. Padahal Airin hanya penasaran saja dengan apa yang dilakukan oleh para gadis di seusianya yang suka makan-makanan pedas seperti mie ayam, bakso, atau seblak.


"Sekarang kita ke dokter aja!"


Mendengar itu Airin menggeleng keras. "Enggak mau! Pasti nanti Airin di suntik."


"Enggak bakalan, cuma diperiksa, kasih obat, udah gitu pulang."


"Beneran?"


"Iya!"


Airin pasrah, ia pun dibawa Nevan ke rumah sakit dan benar saja kata dokter kalau Airin kena maagh karena terlalu banyak memakan-makanan pedas dan juga es. Dokter juga bilang bahwa Airin telat makan, Airin juga jujur kalau ia tidak makan lagi setelah memakan mie ayam pedas itu. Sungguh, Nevan rasanya ingin menendang Airin. Kenapa bisa perempuan itu bersikap bodoh seperti ini?


Setelah dikasih resep dan mengambil obatnya, Nevan dan Airin langsung kembali pulang ke rumah Allen. Sesampainya di sana Nevan langsung membuatkan bubur untuk Airin agar perempuan itu makan dan meminum obatnya.


"Nih, makan dulu buburnya udah gitu minum obat, baru lo tidur," ucap Nevan seraya memasuki kamar Airin dengan membawa semangkuk bubur yang baru ia masak.


Mendengar itu Airin menggeleng. "Airin nggak nafsu makan, Kak Nevan aja yang makan buburnya."


Menghela nafas. "Tapi, lo harus minum obat. Biar cepet sembuh, emang mau perutnya sakit terus hm?"


Airin menggeleng pelan dengan kepala menunduk.


"Kalau gitu cepet makan buburnya." Nevan duduk di pinggiran ranjang, kemudian meniup-niupi bubur itu.


"Tapi, rasanya pasti nggak enak," cicit Airin.


"Namanya juga lagi sakit, makanan apapun yang masuk ke mulut pasti rasanya bakalan nggak enak," balasnya, "Ayo, buka mulutnya!"


Airin menurut, memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Rasanya ia ingin memuntahkan kembali bubur itu, tetapi takut Nevan malah semakin mengomeli dirinya. Tak sampai setengah mangkuk, Airin sudah menyerah untuk memakan bubur itu. Nevan pun berhenti menyuapi Airin, yang terpenting sudah ada beberapa bubur yang masuk ke dalam perut Airin.


"Sekarang minum obatnya." Nevan membuka bungkus obat yang berada di nakas.


"Obatnya banyak banget," ujar Airin.


"Cuma tiga, ini obat lambung, obat sakit perut, sama vitamin. Kalau nggak mau makan obat, makanya nurut sama gue. Dibilangin itu nurut, bukan malah ngeyel," omel Nevan dengan tangan yang fokus membuka bungkus obat.


"Kak Nevan bawel banget, sih! Airin 'kan penasaran pengen rasain makanan pedes," balas Airin membela diri.


Nevan menoleh menatap Airin dengan datar. "Lo masukin cabenya kebanyakan, kalau mau apa-apa itu mikir dulu konsekuensi apa yang bakal lo terima, ngerti?"

__ADS_1


Airin mengangguk dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah, matanya sudah memerah dan berkaca-kaca. Dalam hitungan detik perempuan itu mengeluarkan air matanya, menangis kencang yang berhasil membuat Nevan menghela nafasnya.


"Kenapa Airin nangis?"


Serempak keduanya menoleh ke arah pintu kamar, di sana berdiri Allen dengan wajah lelah juga rambut, pakaiannya yang sudah tak berbentuk lagi. Sepertinya masalah di kantornya sangat serius.


"Kak Al!" Airin merentangkan tangannya dan langsung disambut oleh pelukan hangat Allen.


"Kenapa hm?" tanya Allen dengan lembut sembari mengelus kepala adiknya.


Airin tak menjawab, perempuan itu malah terus menangis dengan sesegukan.


Karena tak mendapatkan jawaban, Allen menatap Nevan meminta jawaban. Akan tetapi, Nevan malah melengos memalingkan wajahnya ke arah lain seakan enggan menjawab pertanyaan Allen. Lagipula dia tak salah di sini, ia hanya memberitahu Airin untuk jangan terlalu banyak memakan makanan pedas.


Allen melepaskan pelukannya dan beralih mengusap kedua pipi chubby adiknya, menghapus air mata yang turun di pipi Airin. "Udah, jangan nangis! Masa adek Kakak nangis, sih. Kalau Nevan jahat sama kamu nanti Kakak hukum dia, ya?"


Mendengar itu Nevan mendelik ke arah Allen, kenapa jadi dia yang harus kena hukuman?


"Airin tadi di sekolah makan mie ayam pedes sampe sakit perut, tadi dari rumah sakit dan katanya maag," celetuk Nevan membuat nafas Airin tercekat. Siraman qolbu semalaman akan segera Airin terima.


Allen menatap adiknya yang menunduk, meminta penjelasan adiknya itu, apakah yang dikatakan Nevan itu benar atau bohong. "Airin! Itu bener?"


Sang pemilik nama mendongak, lalu menunjukkan cengirannya kepada sang kakak yang berhasil membuat Allen mengembuskan nafas seraya memijat pangkal hidungnya.


"Kalau gitu, gue balik dulu." Nevan berdiri dari duduknya seraya mengambil kunci motornya dari atas nakas.


"Kenapa pulang? Ini udah malem banget, nginap aja," pinta Airin.


"Enggak apa-apa, gue udah biasa pulang malam," balasnya dan setelah itu melenggang pergi tanpa tahu jika Airin tak rela Nevan pergi.


"Udah, sekarang kamu tidur! Kakak sekarang capek, besok aja diomelinya." Allen menghela nafasnya, membenarkan selimut Airin dan pergi menuju ke kamarnya.


•°•°•


Allen mendesis kesal, mulai merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan langsung melotot kaget begitu melihat seorang perempuan berdiri di depan ranjangnya dengan senyuman manis.


"Argh! Ngapain kamu di sini?" Spontan Allen bangun dari baringnya, ia memegangi dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.


Perempuan itu tersenyum sampai matanya pun ikutan tersenyum, ia melambaikan tangannya. "Hai! Selamat pagi, tidurnya nyenyak? Sarapan sudah disiapkan di meja makan dan pakaian ke kantor sudah saya siapkan juga."


Perlahan Allen mengacungkan jempolnya. "Ka-kamu sangat bersemangat," ujarnya seraya terkekeh pelan.


"Kalau begitu saya mandi dulu," lanjutnya.


Dan Keisha dengan siggap mengambilkan handuk untuk Allen. Iya, perempuan itu adalah Keisha.


Setelah selesai mandi dan juga memakai pakaian kantornya, Allen langsung menuju dapur untuk sarapan. Di sana ada Keisha yang sedang mengobrol dengan salah satu pelayan di rumahnya.


"Airin mana, Bi?" tanyanya kepada pelayan itu.


"Non Airin ada di kamarnya, katanya dia sedikit mual," jawabnya dengan sopan.


"Dia udah sarapan?" tanya Allen lagi.


Pelayan itu menggeleng. "Belum, Tuan. Non Airin tidak mau makan."


"Telfon Nevan ke sini, saya harus langsung ke kantor. Oh, sarapannya juga bungkus saja, ya, Bi. Mau saya makan di kantor," katanya seraya membenarkan letak jam tangannya.


"Lho, kok, gitu. Sarapan dulu aja, nggak sampe lima menit, kok," ujar Keisha.


Allen menolehkan kepalanya ke arah Keisha. "Saya sibuk, kamu bawakan sarapan untuk saya, ya, ke kantor."

__ADS_1


Keisha hanya bis menganggukkan kepalanya, setelah itu Allen benar-benar pergi dari pandangannya.


"Pak Allen orangnya sibuk banget, ya? Adiknya aja yang sakit malah ditinggal," ucap Keisha tiba-tiba yang masih menatap ke arah pintu rumah.


"Tuan Allen baru aja keluar dari rumah sakit setelah sekitar satu Minggu dirawat, jadi banyak pekerjaan kantor yang harus dia urus," jawab pelayan itu lagi. Pelayan perempuan yang sekitar berumur empat puluh tahunan.


"Kenapa bisa dirawat? Dia sakit? Atau kecelakaan?" tanya Keisha bertubi-tubi.


Mendengar itu sang pelayan meringis. "Duh, saya juga kurang tahu kenapa Tuan Allen bisa masuk rumah sakit. Tapi, kalau nggak salah mungkin dia kecelakaan."


"Oh, begitu. Biar saya saja yang bungkus sarapan untuk Pak Allen."


•°•°•


Hanya untuk membujuk agar Airin makan, Nevan sampai harus merelakan jam pelajaran pertamanya. Perempuan yang tengah sakit itu benar-benar sangat merepotkan sekali, kadar manja dan menyebalkannya semakin meningkat daripada biasanya.


"Makan dulu buburnya, satu suap aja atau paling tiga suap, biar lo bisa minum obat." Nevan masih berusaha membujuk Airin dengan mencoba tetap sabar, meski sebenarnya kesabarannya sudah berada diambang batas.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan tangan yang menutupi mulutnya. "Airin nggak mau Kak Nevan, baru lihat buburnya aja Airin udah ngerasa mual. Tadi juga dipaksa sama pelayan, Airin malah muntah-muntah. Perut Airin juga rasanya nggak enak, kembung."


"Kan lo lagi maag, makanya makan dulu buburnya terus minum obat biar nggak mual-mual lagi. Tiga suap aja, setelah itu minum obat."


"Beneran cuma tiga suap?"


Nevan mengangguk. "Iya, nggak bohong."


Airin pun membuka mulutnya, memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Ketika disuapan ketiga Airin minta berhenti, tetapi Nevan dengan akal liciknya terus memaksa Airin untuk tetap makan hingga disuapan kelima, Airin berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali bubur yang ia makan.


Secara refleks Nevan membantu Airin, memegangi rambut panjang perempuan itu dan mengelus-elus tengkuk Airin. Entahlah, ia hanya refleks berdiri dan melakukan hal itu.


"Udah mendingan?" tanyanya dan dibalas anggukan lemas oleh Airin.


Dengan pelan Nevan menuntun perempuan itu menuju kasur dan membaringkannya kembali.


"Mau ke dokter lagi aja?"


Airin menggeleng. "Enggak mau, nanti yang ada Airin dikasih obat lagi."


"Makanya kalau nggak mau dikasih obat jaga pola makan, jadi gini 'kan jadinya. Siapa juga yang rasain sakitnya?"


"Airin," jawabnya pelan.


"Terus siapa juga yang susah?"


"Kak Nevan," cicitnya.


"Sekarang makan lagi buburnya yang tadi malah dimuntahin, kalau udah sembuh lo harus nurut apa kata gue. Jangan makan sembarangan! Mau sakit lagi?"


Menggeleng pelan. "Enggak mau."


"Mau sembuh?"


"Mau."


"Kalau gitu makan lagi buburnya udah gitu minum obat."


"Iya."


"Kak Nevan!" panggil Airin.


"Apa?" tanyanya singkat.

__ADS_1


"Bra Airin nggak muat kayaknya dada Airin makin besar, deh."


"Uhuk! Uhuk!


__ADS_2