
...HAPPY READING 💜✨...
Gabril melewatkan jadwalnya pagi ini, yaitu ikut untuk membeli perlengkapan bayi. Ia malah diam di kamar dengan gitar yang berada di pangkuannya. Pemuda itu hanya bisa termenung di balkon, sesekali memetik senar gitarnya secara random. Ia seakan tak punya semangat hidup bahkan tadi pagi Gabril tak memasukkan sebiji nasi ke dalam perutnya. Gabril terlalu malas untuk melakukan sesuatu.
Kejadian di mana Alisca memberikan sepucuk surat undangan dan juga bagaimana air mata Alisca mengalir berhasil membuat hati Gabril tergores, hingga sekarang rasa sakit itu masih terasa. Mungkin akan terus membekas selamanya.
Tiba-tiba suara pintu apartemen terbuka terdengar tapi Gabril tak memperdulikan hal itu, bodo amat jika itu adalah maling yang masuk toh tidak ada hal yang spesial di apartemennya.
"Gue kirim pesan nggak dibales, gue telfon nggak diangkat, tahunya lagi ngegalau." Suara Reval menyapa indera pendengaran Gabril, ia menghela nafas, tak berniat membalas ucapan laki-laki itu.
Selesai membeli perlengkapan bayi mereka langsung gas meluncur ke apartemen Gabril. Sebenarnya mereka langsung ke sana ketika mendapatkan undangan pernikahan dari Alisca, tentu saja mereka terkejut, terjungkal, termehek-mehek melihat nama yang tertera di sana. Bahkan Reval tak percaya dan menganggap bahwa Alisca tengah melakukan prank, nyatanya tidak.
Tahu dengan Gabril yang menyukai Alisca, mereka berpikir bahwa pemuda itu pasti sedang patah hati dan benar saja, mereka menemukan Gabril yang galau di balkon.
Ngomong-ngomong, Nevan tidak ikut ke sana sebab Airin tak mau ditinggal dan tadi di jalan mereka berpapasan dengan Galang, Bima, Ben--anggota Earth dan juga Cana--anggota Drave. Jadinya mereka ikut ke apartemen Gabril.
Davian merebahkan tubuhnya di ranjang. "Nanti malam from night, lo pokoknya wajib dateng. Kalau lo nggak dateng bakalan gue susul, terus seret lo buat ke sana."
"Enggak, males!" Gabril bersuara singkat.
"Gue tahu lo patah hati, tapi ini momen yang bakalan terjadi sekali seumur hidup. Masa mau lo lewatin gitu aja," balas Davian seraya bangkit dari posisi rebahannya.
Bima melirik undangan pernikahan yang berada di atas, kemudian mengambilnya ketika melihat nama sang mempelai pria yang tertera. "Arkana Haikal Anindito? Ini 'kan inti Elton yang berhasil melarikan diri itu, temen lo mau nikah sama cowok brengsek?"
Mendengar itu Gabril menatap ke arah Bima. "Maksud lo apa? Emang lo kenal sama dia?"
"Kenal banget malah! Kalian nggak lupakan kalau gue pernah kerja sama bareng Elton? Gue pernah beberapa kali ngobrol sama Arkana, dia bahkan lebih brengsek dari ketua Elton," Bima menjeda, "Dia suka pergi ke club, masih untung cuma minum doang tapi dia main ranjang sama cewek. Bahkan pernah ada beberapa kali gue mergokin dia sama cewek yang ngaku lagi hamil anak dia, tapi Arkana nggak mau tanggung jawab malah dikasih duit buat gugurin kandungannya."
Penjelasan Bima berhasil membuat darah Gabril mendidih. Ia tak akan membiarkan perempuan yang dirinya cintai menikah dengan laki-laki brengsek, meski Gabril juga suka minum alkohol, merokok, balapan, tapi tidak dengan meniduri perempuan sampai hamil dan menyuruh mengugurkan janin tak berdosa. Gabril tak sebajingan Arkana. Ia tak rela jika Alisca harus hidup dengan laki-laki keji seperti Arkana. Gabril tak akan pernah ikhlas.
"Anjir! Masa Alisca yang spek masyaallah mau nikah sama cowok spek astaghfirullah," celetuk Reval.
"Wah, gila sih kalau Alisca beneran nikah sama cowok kayak gitu yang ada tiap hari makan hati. Gue yakin, sih, Alisca bakalan ditinggalin pas udah dinikmatin tubuhnya. Kasihan banget!" Davian berkata seraya melirik ke arah Gabril yang terdiam dengan kepala menunduk.
"Lo yakin mau biarin cewek itu nikah sama cowok brengsek kayak Arkana?" Galang bersuara yang semakin membuat hati Gabril gelisah tak karuan. "Ya, meskipun sebenarnya kita semua brengsek tapi setidaknya kita nggak nidurin cewek sampe hamil, mana nggak tanggung jawab lagi."
"Gue denger-denger juga hampir semua anggota Elton pemake, jadi nggak menutup kemungkinan kalau Arkana juga make dong." Cana ikut menimpali.
"Kalau gue jadi cewek kagak bakalan mau nikah sama cowok kayak gitu." Ben menyahut.
__ADS_1
Reval menepuk pundak Gabril. "Ril, lo yakin mau biarin Alisca nikah sama cowok brengsek itu? Lo nggak kasihan sama nasib Alisca gimana?"
"Kalau lo sama dia nggak bisa bersatu, setidaknya lo jauhin dia dari cowok brengsek modelan si Arkana," sambung Davian mengompori.
•°•°•
Nevan turun dari motor dengan kaos putih yang dilapisi jas hitam serta celana panjang berwarna senada. Ia baru saja sampai di tempat acara from night dilaksanakan berserta dengan teman-temannya juga Gabril yang datang secara ogah-ogahan.
"Kak Nevan pokoknya harus jaga mata di sana, pasti banyak cewek-cewek seangkatan yang pake baju terbuka. Kalau ada cewek yang mau deketin, Kak Nevan harus waspada kalau bisa mah langsung hempas aja cewek itu biar menjauh."
"Iya!" Nevan membalas singkat perkataan istrinya, padahal tadi sebelum berangkat ia sudah diberikan wejangan oleh Airin tapi tiba-tiba perempuan itu menelponnya dan memberikan wejangan lagi.
Suara Airin kembali terdengar. "Jawabnya kenapa singkat? Jangan bilang Kak Nevan kesel sama aku gara-gara ngomong terus, pasti sekarang Kak Nevan lagi maki-maki aku 'kan?"
Dengan sabar Nevan berkata, "Enggak, sayang! Iya, iya, kamu tenang aja aku nggak bakalan genit sama perempuan lain. Kalau ada perencanaan yang mau deketin aku bakalan langsung ngehindar, kamu tenang aja."
"Awas aja, ya, meski aku nggak ada di sana tapi aku punya banyak mata buat tahu kelakuan Kak Nevan kayak gimana." Airin kembali membalas.
Nevan mengangguk. "Iya, kamu tenang aja. Kamu juga jangan tidur kemalaman, nggak usah nungguin aku pulang, soalnya aku nggak tahu acaranya mau selesai jam berapa."
"Ya, udah, aku tutup telfonnya. Assalamualaikum!"
Sambungan pun terputus dengan Airin yang mengakhirinya. Nevan menghela nafas dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia melirik ke arah teman-temannya yang sedang menatapnya dengan tatapan--jika tatapan itu bisa berbicara mungkin ia akan berkata, "Kesel banget gue nungguin lo telfonan sama bini!"
"Kenapa masih pada diem? Ayo, masuk!" ajak Nevan yang langsung melangkahkan kakinya memimpin, diikuti keempat temannya.
Di dalam gedung yang sudah disewa, ada banyak anak seangkatan mereka yang pada hadir. Reval senang bukan main sebab ada banyak makanan kesukaannya, lebih tepatnya sih ada banyak makanan yang bisa ia makan sampai puas. Pokoknya akan ia cicipi dari ujung sampai ujung lagi, jangan ada yang kelewat pokoknya.
Sebelum acara dimulai, mereka mengobrol ringan dengan teman masing-masing yang sudah lama kenal. Meski seangkatan, ada beberapa orang yang terlihat asing atau tak akrab. Karena memang muridnya bukan puluhan tapi mencapai angka ratusan.
Sementara itu, Gabril diam di kursi pojok dengan tatapan yang memperhatikan seorang gadis berkerudung sedari tadi. Hatinya tengah bimbang sekarang, apakah ia harus memberitahu soal kelakuan Arkana kepada Alisca atau tidak? Ia hanya takut Alisca tidak percaya dan menuduh Gabril sok tahu, ikut campur, atau bahkan yang lebih parahnya menjelek-jelekkan Arkana agar pernikahan mereka batal karena Gabril masih memiliki rasa.
Gabril pasti akan merelakan Alisca untuk menikah secara perlahan, tapi masalahnya, kenapa harus Arkana yang menjadi calon suami Alisca? Masih ada banyak laki-laki baik di dunia ini untuk menjadi pendamping hidup Alisca, kenapa harus laki-laki brengsek seperti Arkana? Gabril tidak akan rela, ia tak mau Alisca menikah dengan Arkana brengsek.
Serangkaian acara berlangsung dengan lancar, hingga jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam baru acara from night itu selesai. Satu persatu orang-orang yang hadir meninggalkan gedung, sama halnya seperti Reval yang langsung pergi setelah mengambil banyak makanan untuk ia bawa ke rumah.
"Lo jangan kek orang kagak mampu, deh, malu-maluin," ucap Davian menatap Reval yang berjalan di sampingnya dengan sinis.
"Gue emang kagak mampu, bokap gue aja cuma jadi tukang tunggu ayam betina bertelur," balas Reval setelah itu ia mengigit kue lapis yang ia ambil tadi ketika acara berlangsung.
__ADS_1
Mendengar itu Davian mendengus. "Iya, tukang tunggu ayam betina bertelur sampe kandang cabangnya tersebar di seluruh Indonesia!"
Reval itu definisi merendah untuk meroket. Bapak Reval memiliki peternakan ayam yang sudah terkenal, bahkan cabang-cabangnya sudah ada disudut Indonesia. Penghasilannya selama setahun bisa mencapai miliaran bahkan triliunan.
"Icha!"
Mereka serempak menoleh ke arah Gabril yang berlari menghampiri Alisca. Nevan, Davian, Zean, dan Reval hanya diam di tempat memperhatikan apa yang akan seorang Gabril lakukan kepada gadis yang tak lama lagi akan melepas status lajangnya itu.
"Ada apa, ya?" tanya Alisca sopan tak melihat ke arah Gabril, jaga pandangan.
Dengan nafas yang belum teratur Gabril menjawab. "Tolong, batalin pernikahan kamu sama Arkana!"
Alisca menatap sejenak ke arah Gabril dengan keterkejutan. "Maksud kamu apa? Kita udah nggak ada urusan lagi, kemarin malam udah kita selesaiin semuanya."
"Icha, aku tahu ini-- mungkin kamu nggak bakalan percaya tapi Arkana bukan laki-laki baik, dia nggak sebaik yang kamu tahu," kata Gabril memberitahu.
"Kamu ketemu sama calon suami aku aja nggak pernah, gimana bisa kamu bilang kalau dia bukan laki-laki baik? Gabril, tolong jangan seperti ini," balas Alisca.
Gabril menghela nafasnya. "Ada temen aku yang bilang kalau Arkana suka tidur sama perempuan bahkan sampe hamil, tapi dia nggak mau tanggung jawab dan malah nyuruh buat gugurin kandungannya. Icha, ka--"
"Gabril, stop! Berhenti! Aku tahu kita sama-sama suka, tapi kamu nggak ada hak untuk menjelek-jelekkan calon suami aku! Kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan aku karena urusan kita sudah selesai." Setelah berkata demikian Alisca pergi begitu saja dari hadapan Gabril.
"Icha! Alisca, kamu harus percaya apa yang aku katakan tadi! Aku nggak bohong, Icha!" Gabril berteriak dengan seluruh suaranya, tetapi perempuan itu terus saja berjalan mengabaikan teriakkannya.
Serempak keempat teman Gabril yang hanya menatap dari kejauhan menghela nafas. Mereka menatap nanar dan juga iba ke arah Gabril.
"Kasihan banget, sih, nasib si Gabril," ujar Davian.
"Malang banget dia," sahut Zean.
"Untung gue nggak ngalamin cinta beda agama," sambung Reval seraya mengunyah kue lapis.
Nevan menggelengkan kepalanya mendengar sahut-sahutan ketiga temannya. Ia berjalan mendekati Gabril yang masih berdiri di tempat. "Udah, Allah punya caranya sendiri untuk misahin Alisca sama Arkana kalau ternyata mereka nggak berjodoh. Lo nggak perlu ikut campur terlalu dalam ini udah jadi pilihan Alisca, berarti ia harus siapa dengan segala konsekwensinya."
"Tapi Arkana terlalu brengsek, gue nggak bisa bayangin kalau akhirnya Icha ditinggal pergi." Gabril menundukkan kepalanya dengan tatapan khawatir, terluka, gelisah, marah, kecewa.
Tak membalas perkataan Gabril, Nevan malah mengulum bibirnya seraya menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
...SEE YOU!!...
__ADS_1