
...Have a nice day...
...Semoga yang mampir selalu diberi kesehatan, juga dilancarkan segala urusannya dan lapang rezeki...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
"aku setuju dengan perjodohan ini. berharap kedepannya menjadi simbiosis mutualisme ... aku harap perusahaan kita menjadi laba terbesar pemegang inti bisnis dunia. "
Jancent melihat kedua lelaki tua itu berjabat tangan. ia tidak buta bahasa Jepang. Paham apa yang dibahas. Ayahnya menyetujui perjodohan tanpa memberitahunya dulu. Menoleh pun tidak. Jadi untuk apa kehadirannya setengah jam lalu. Seonggok tiang!
"Kapan acara pertunangannya? "
"Ah, putraku bukan bujang lagi. Umurnya sudah dua puluh tujuh tahun. Kita adakan acara pernikahan langsung saja. "
"begitu ya. " Keduanya tertawa.
Lagi, dengan sembarang lelaki tua itu memutuskan, pun tidak bertanya dengan calon yang dijodohkan. Setuju atau tidak. Jancent menghela napas. Tak banyak hal yang yang bisa ia perbuat akan ayahnya.
"Aku harus kembali ke Tokyo malam ini. Aku ingin pernikahan secepatnya. Pepatah bilang, lebih cepat lebih baik. Aku tunggu tanggal jadinya ... Ah, karena hatiku sedang senang, semua makanan ini, biar aku yang traktir. Hitung-hitung, belajar jadi besan yang baik. " Tegas Tachibana, mendorong kursi. Beranjak, pergi, meninggalkan ayah dan anak itu. Calon besan dan menantu.
"Kenapa ayah tidak bilang padaku dulu! belum tentu, kan aku mau atau tidak. " Jancent mencekal lengan ayahnya yang akan menyusul Tachibana.
"Kenapa? kau masih ngotot ingin menikah dengan model tomboy itu! ... Percuma kau kuliah bisnis bertahun-tahun di Jepang kalau menikahi wina. Perusahaan yang ayah bangun sekian tahun tidak berkembang dan lagi, ayah tidak akan setuju. Ingat itu! kalau masih ingin menjadi keluarga Yancent." Yancent menepis tangan putranya. Pergi.
Baru genap sebulan Jancent di tanah air. Menjadi perantau, mengenyam pendidikan di negeri orang juga sulit. Berharap magang CEO-nya di kemudian hari akan mudah. Menjadikan perusahaan Yancent di puncak rantai bisnis dunia. Penerus yang multitalenta. Namun scenario apa yang sedang ayahnya buat?
Jancent seolah boneka. Terkhianati. Dimana ayah yang selama ini mendominasi jati dirinya. Tegas dalam ucapan, penuh prinsip sebelum bertindak, yakin, dan penepat janji. Jancent ingat dimana lelaki tua itu pernah mendukung hubungannya dengan Wina dulu. Bahkan bersedia mengabulkan permintaannya jika lulus dengan nilai tinggi. Mana? semua bualan.
Apa ini si licik rubah berekor sembilan dalam mitologi?
***
"Menurut saja pada keputusan ayah. Itu yang terbaik. "
Jancent bungkam. Hanya mata yang beri syarat. Berkaca-kaca. Ah, tidak mungkin ia menangis di depan ibunya. Sungguh tidak gentle. Ngomong-ngomong ia dirumah sakit sekarang.
Diam. Membiarkan tangan tua perempuan itu menggenggam tangannya. Jancent masih melihat kesetiaan infus di punggung tangan itu. Hampir dua tahun beliau menjalani hari di rumah sakit. Entahlah, apa penyakitnya.
Yancent tidak pernah memberi tahu langsung. Tidak juga mengizinkan dokter memberi tahu Jancent saat ia tanya.
"Semua keputusan orang tua selalu benar. Bukan untuk kebaikan sendiri. Kami ingin masa depan anak kami lebih baik. Ayah dan ibu sayang Jancent. "
__ADS_1
Talaknya diakhir. Memecah kristal di pelupuk mata. Sia-sia ia tahan. Ranum itu bergetar, berusaha tidak terisak. Jiwa tegarnya runtuh. Memeluk sang ibu.
"Jangan menangis, Jancent bukan anak kecil lagi. " Laila mengusap punggung rapuh putranya.
Perempuan itu tidak tahu apa yang putranya tangisi. Apa karena nasehatnya atau keputusan soal perjodohan. Jujur, Jancent tidak pernah membuka cerita pada Laila. Takut kondisi ibunya buruk. Paling sering ia bercerita kalau Yancent mengajaknya belanja atau makan diluar. Kadang kala menelpon dari Tokyo jika kangen ibunya. Jancent tidak pernah bercerita tentang Wina.
Batinnya sakit detik itu. Dijodohkan tanpa sepengetahuan. Pupus harapan yang ia jaga dua tahun terakhir. Tidak bisa ia menolak. Takut datang resiko yang lebih berat lagi.
#♥#
Berat kakinya untuk turun. Jancent masih didalam mobil. Menatap cafe di seberang jalan. Cafe yang mempertemukan ia dengan Wina. Hampir sepuluh menit Jancent diam. Menimang cincin di genggaman. Ia sengaja membeli cincin itu jauh hari dari Tokyo. Takut tidak sempat membelinya saat kembali.
Mengatur rencana melamar perempuan itu di cafe legenda cinta mereka. Namun, haruskah ia akhiri saja, memberikan cincinnya pada perempuan lain. Atau lebih baik kawin lari.
"hah... " Jancent menghela napas. Membuka pintu mobil. Menguatkan hati.
Ini keputusan paling berat sepanjang hidup. Tapi Jancent tidak mungkin memungkiri takdir. Biar ia dikata orang bodoh, pengecut atau apa. Namun ia tidak mau membuat ibunya khawatir. Biar saja hatinya sakit.
"Jancent."
Perempuan dengan potongan rambut laki-laki itu melambai. Senyumnya manis.
"Sudah menunggu lama? "
Wina menggeleng, "Belum ... Aku juga sudah pesan makanan kesukaanmu loh. Tapi minumannya belum. Bukannya tidak tahu tapi takutnya kau mau mencoba minuman terbaru mereka. "
Jancent tersenyum. Wina sangat bersemangat menyodorkan buku menu. Menunjuk minuman baru yang tampak segar, padahal hanya 2D. Terlihat nyata.
"Kau mau yang mana? "
"Jancent, kau kenapa? Kok diam. "
"Hm, aku tidak diam. Aku mendengarkanmu bicara. "
"Wajahmu beda, seperti mengkhawatirkan sesuatu. Kenapa? apa ada masalah? "
Sekilas Jancent tersenyum, "aku pesan sesuai maumu. "
Lelaki itu tidak menjawab sesuai pertanyaannya. Wina menatap penuh selidik. Jancent beda dari biasanya. Dahinya mengernyit.
"Kok tiba-tiba aneh. "
Jancent tertawa ringan, "apanya yang aneh? salah ya, menuruti kemauan pacar sendiri? "
Wina menggeleng, "Kau seperti orang yang akan mati hari ini. " Lirih ia bergumam. Entah Jancent mendengarnya atau tidak.
Kurang dari lima menit pelayan datang menghidangkan pesanan keduanya. Mempersilahkan dan pergi.
"Enak tidak minuman yang aku pesan? " Tanya Wina sesaat setelah Jancent menyesap sedotan minumannya.
Tersenyum yang dibarengi anggukan. Entah Jancent menamai ini apa. Lidahnya yang mati rasa atau minumannya yang terasa hambar di lidah. Tapi mustahil, kan minumannya tidak enak.
Jujur, Jancent kalut dengan pikiran sendiri. Tidak menikmati makanannya, hanya raga yang bertingkah memakan dengan lahap. Tatapannya pun tidak lepas dari perempuan di depannya. Takut mimpi buruknya jadi nyata.
__ADS_1
"Wina ... "
Gadis itu menatap. Menaruh ponsel di meja. Menunggu lelakinya melanjutkan.
"Kau masih sibuk dengan pemotretan? "
Ralat. Bukan itu yang ingin Jancent katakan. Lisannya tiba-tiba kelu. Seperti tidak mengizinkan.
"Iya, dan aku akan ke Paris besok. Ada fashion week. Pendesainer mencari beberapa model dari berbagai daerah untuk memperagakan konsep pakaian Asia karyanya ... Maaf mendadak. Aku seharusnya memberitahu mu juga kemarin saat dikabari manager. "
"Tidak apa, bukan masalah besar. Aku tidak marah. "
Seolah Jancent dapat membaca pikiran Wina yang khawatir ia marah. Sesaat Jancent dapat mendengar helaan napas lega perempuan itu.
"Tapi ingat, jaga kesehatan. Jangan telat makan. Aku tidak mau maagmu kambuh lagi kalau ... " Kalimatnya menggantung. Tangannya mengepal dibawah meja. Berat sekali mengatakannya.
"Kalau apa? "
"Kau jauh dariku. Aku tidak bisa mengawasi mu dua puluh empat jam. "
Hening. Hanya suara kendaraan di luar cafe mengintimidasi didalam. Lengkingan suara sendok dengan piring, gelas dengan meja juga mendominasi. Suara obrolan yang lebih mirip tawon berdengung melengkapi. Cafe semakin ramai. Entahlah, mengapa mereka saling diam. Biasanya Wina sibuk mengoceh, tapi ini tidak.
Suasana berubah canggung setelah keduanya selesai makan. Bahkan udara seperti racun bila dihirup semakin lama.
"Hm ... Sayang--- "
"Wina ---"
Tanpa sengaja mereka memanggil berbarengan.
"Kau duluan. " Jancent mengalah.
Wina menggeleng. Diam-diam menjauhkan tangannya dari kotak kado di kursi sampingnya.
"Tidak, kau terlihat diam saja dari tadi. Kau duluan. "
Jancent menghela napas. Ia harus mengalah lagi untuk bicara lebih dulu. Tidak mungkin memonopoli kalimat yang sama. Pasti tak berujung. Tangannya diam-diam mengepal dibawah meja, Lagi.
"Kau yakin mau mendengar kabar buruk dariku dulu? "
Sekilas Wina tertegun, namun perempuan itu menutupinya secara dewasa. Tenang dengan senyuman.
"Dimana sisi dunia yang tidak buruk. " Wina sangat dalam menatap Jancent. Irisnya terlihat takut meski ia berusaha biasa. Masih setia menunggu kabar buruk dari lelakinya.
"Maafkan aku terlanjur membiarkan perasaan mu tumbuh dan berakar padaku, menyandarkan semua kepercayaan ... Tapi, ada orang lain yang Tuhan siapkan untuk kita. Cukup berhenti sampai disini. "
×
×
×
×
__ADS_1
BERSAMBUNG