Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Tidur berdua × 8%


__ADS_3

Hayase buka mulut, menceritakan semua hal aneh Liyun saat seharian bersamanya. Dari menonton film melow yang dasarnya Liyun pecinta garis keras film action, mampir makan seafood yang Hayase hafal sekali majikannya tidak suka semua yang berbau laut, sampai melihat Liyun bermain dengan kucing, padahal ia tidak suka hewan.


Jangan lupa ekspresi Liyun saat melihat Tokyo, seperti baru pertama kali lihat.


"Nyonya juga menanyakan namanya sendiri padaku. " tambah Hayase.


"Tidak ada lagi? "


Hayase berdesis, matanya melirik langit-langit, berpikir.


"Ah, aku ingat! waktu tuan mengunci kamar nyonya, dia menanyakan dimana dirinya sekarang ... Aku jawab Tokyo, nyonya malah kaget... Dan nyonya juga sempat mengatakan Fukushima. "


"Fukushima? "  Jancent membatin, menelaah pikirannya sendiri.


Nama tempat itu tidaklah asing. Namun ia lupa pernah mendengarnya dimana. Jancent menggigit bibir bawahnya.


"Apa tuan sudah selesai bertanyanya? "


"Hm? " Jancent tertegun, spontan mengangguk dan membolehkan hayase untuk pergi.


Tinggal Jancent sendiri sekarang, bergelut dengan pikiran sendiri. Bertanya namun tidak ada jawaban pasti. Menggabungkan semua informasi membuatnya pusing. Otaknya error, butuh istirahat.


Jancent beranjak dari kursi, berjalan ke sudut ruangan untuk menggeser patung kucing berwarna emas di atas nakas. Tombol rahasia yang akan menggeser rak buku besar yang merupakan pintu rahasia ke kamarnya.


"Aaaaa!!! "


"Aaaaa!!! " Jancent ikut menjerit mendengar jeritan Liyun.


"Kenapa bisa ada dia? "  monolog keduanya.


Dengan tergesa Liyun mengancing kemejanya yang baru ia pakai. Saking paniknya sampai salah lubang, mirip jajar genjang, miring. Bodohnya ia juga belum memakai bawahan.


"Kenapa kau bisa masuk kamarku? " dahi Jancent mengernyit, menatap tajam kemeja yang Liyun pakai.


"Itukan kemeja milikku! "


Liyun tidak berbentuk lagi. Malu sampai ubun-ubun. Tenggelam oleh pakaian Jancent yang kelewat besar atau tubuhnya memang kecil. Seperti baru


terazia satpol PP. Kedua tangannya sibuk menutupi paha tanpa sehelai benang.


"A-aku... A-ku... "


Jancent mendekat, Liyun gelagapan mundur.


"A-ku bisa jelaskan! kau mau apa, jangan mendekat!" tegas Liyun. Punggungnya sudah mencium dinding.


"Jangan berpikiran kemana-mana. "


Tak,


Jancent menjitak kepala Liyun yang cukup membuat perempuan itu meringis, sakit.


"Tutupi pahamu... " tegas Jancent memberi selimut yang ia raih tadi. Bisa khilaf nanti kalau terus dilihat.

__ADS_1


Sambil mengelus kepala, Liyun mengambil dengan cepat selimut itu. Bibirnya mengerucut kesal.


Jancent melempar tubuhnya diatas ranjang. Merenggangkan tulang punggung yang terasa encok, hampir seharian ia duduk bekerja. Membiarkan Liyun yang sibuk membungkus tubuhnya dengan selimut.


Liyun diam-diam mendekati Jancent, persis anak kecil. Yang didekati masih memejamkan mata.


"Hm... Om, malam ini aku tidur disini ya? "


Spontan Jancent melotot, horor. Mata lelahnya langsung segar, menoleh. Syok jantungnya. Apa barusan Liyun ngelantur, akan tidur dengannya?


"Om apanya, aku suamimu---"


"Baik sayang. " potong Liyun.


"Jangan panggil sayang! ... Kau punya kamar sendiri, tidur sana. "


"Maafkan aku ... Aku salah masuk kamar, aku tidak tahu ini kamarmu ... Aku juga lupa dimana kamarku! jadi, izinkan aku---"


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu itu, spontan memotong ucapan Liyun. Keduanya langsung menoleh.


Tidak biasanya ada bibi yang mengetuk pintu kamarnya di jam malam begini. Jancent bangun dari rebahannya, beranjak mendekati pintu.


"Tuan, nyonya hilang! ... Aku datang ke kamarnya untuk membawakan paper bag belanjaan miliknya, tapi dia tidak ada. Aku juga menyuruh semuanya mencari nyonya, tetap tidak ada dimanapun. Apa aku harus melapor polisi? "


#♥#


Diam, bahkan Jancent tidak terkejut sekalipun. Ia mengorek telinganya santai.


"Siapa yang hilang? " tanya Liyun dengan polosnya.


Urat nadi Hayase bagai putus tiba-tiba. Mendadak lupa cara bernafas. Sejak kapan nyonya besarnya itu menjadi nakal, bergelung selimut pula. Apa mereka habis bermain kuda-kudaan.


"Ah, ternyata ... Ka-lau begitu sudah dulu tuan, maaf mengganggu. "


Hayase akan beranjak, tapi sesaat melirik Liyun, "nyonya lanjutkan saja. "  bisiknya sebelum pergi.


Dahi Jancent mengernyit. Ia tidak bisa mendengarnya, bahkan sekedar menebak dari gerakan bibir pun tidak bisa. Hayase menghalangi bibirnya dengan telapak tangan.


Jancent menoleh Liyun yang juga terlihat tidak begitu mendengar Hayase atau istrinya tidak paham sama sekali ucapan pembantunya.


"Kenapa kau tidak ikut dia ke kamarmu? Sudah sana, pergi sendiri. " tegas Jancent setelah Hayase pergi, akan menutup pintu.


"Aku lupa dimana kamarku. "


"Ck, kau sendiri yang mengatur ruangan di rumah ini. Jangan pura-pura lupa. "


Tek,


Suara seseorang menekan tombol lampu. Beberapa lampu lorong dimatikan. Hanya ada satu lampu tumblr yang sengaja menyala. Sudah peraturan di malam hari, sebagian lampu dimatikan dan tentunya peraturan yang dibuat Liyun sendiri, si pemilik tubuh aslinya.


Tapi sayangnya dirinya bukan pemilik tubuh yang asli. Jujur, Nana takut gelap. Ia trauma pernah melihat sosok menyeramkan yang tidak sengaja menampakkan wujudnya di keremangan lampu sebelum semuanya menjadi gelap dan menambah ketakutannya.

__ADS_1


Sesaat menggeleng, "tidak! aku ingin tidur disini, hanya semalam. Aku yakin kau tidak akan sembarangan pegang. Kau, kan impoten. " ucap Liyun santai mendekati ranjang.


"Atau gay? "


Blam,


Jancent menutup pintu kasar, mengekori Liyun tak terima.


"Aku lurus, normal! penyuka lubang, penyuka buah kembar. " tegas Jancent. Persetan kalimat yang terdengar ambigu tanpa sensor. Toh, mereka suami istri yang sah.


"Iya, iya tahu. Tetap saja kau punya gangguan impoten. " ucap Liyun santai.


Bibir Jancent mengerucut. Kesal dengan si biang kerok dihadapannya. Jancent selalu dibuat lemah dengan ucapan Liyun yang mengatainya gay atau impoten dan sampai sekarang masih menjadi gosip hangat.


"Bajuku di kamar semua, bisa kau carikan bawahan untukku ... Aku baru mengambil kemejamu saja tadi, belum sempat mencari celana. "


Jancent mendengus, menggeledah lemarinya asal. Melempar celana berwarna senada dengan kemejanya diatas kasur.


Entah itu memang model pria atau sesuai ukuran pinggang Jancent, begitu kebesaran dipakai Liyun. Pasti melorot jika Liyun tidak memegangi celananya.


"Kenapa ini besar sekali? biasanya pakaian pria juga cocok untuk wanita. " Gumam Liyun. Berceloteh ria memegangi celana Jancent agar tidak melorot, persis anak kecil.


Untuk kesekian kali Jancent mendesah, kesal melihat istri biang keroknya itu. Jancent beranjak menggeledah laci nakasnya.


"Cepit celananya pakai itu. " tegas Jancent melempar penjepit kertas.


Entah bisa dibilang terlalu pintar atau kreatif CEO satu ini.


Lol, Liyun nurut saja. Sibuk menjepit kedua sisi pinggang celananya dengan penjepit kertas tadi sebelum naik ke ranjang menyusul Jancent.


Suasana semakin hening saja. Detikan jam jelas terdengar semakin malam. Liyun juga sudah tidur sejak tadi disamping Jancent. Tidak ada yang terjadi di menit awal sampai sekarang, damai-damai saja.


Persetan dengan mata Jancent yang tak kunjung mengatup, malah semakin segar. Jujur, hormonnya sedikit terguncang. Ini kali pertama Jancent tidur dengan Liyun. Keringat dingin pakai acara hadir di wajah maupun tubuh. Pakaian sisi punggungnya terasa lembab karena basah.


Memiringkan tubuh pun Jancent tidak kunjung ingin tidur, dipejam pun kelopak matanya tetap terbuka otomatis.


"Dingin... " gumam Liyun di sela tidurnya, tanpa sadar melingkarkan tangannya di tubuh Jancent.


Jangan tanya bagaimana Jancent sekarang. Ia mirip ikan terdampar di daratan. Sial, Liyun semakin membuatnya tidak bisa tidur. Bernafas saja sulit saking jantungnya tak karuan, ingin bergerak pun takut hilang kendali.


Apalagi Jancent sudah menahan dirinya untuk tidak berbuat macam-macam dari awal. Persetan ia dipeluk seperti ini.


"Ibu, aku ingin tidur! "


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...... 


__ADS_2