
...Good night....
...Author beberapa hari ini sering up malem, adakah yang begadang?...
...Kalian begadang karena apa?...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
Ryu duduk ditemani segelas anggur putih dan foto dua rectangular (2R) di genggaman. Memandang basahnya sudut Tokyo sisa guyuran hujan dari balkon apartemen.
Langit tampak hitam, sehitam hati pria yang duduk menyendiri itu. Kelam renggut semua kisah manis Ryu dulu, menyisakan hati dalam ruang hampa. Irisnya menatap nanar foto itu kembali, foto Ryu dan Liyun saat menjalin kasih dulu.
Ibu jari Ryu mengusap sayang bidang datar klise foto itu, berharap bisa meraih Liyun kembali. Banyak kenangan terlintas, setetes air asin tiba-tiba jatuh tepat di foto Liyun yang tersenyum. Entah sejak kapan Ryu menangis.
"Ryu, ini jasmu ... Terima---, hm, kau menangis? "
Ryu terkejut melihat Liyun yang tiba-tiba datang setelah mengganti pakaian. Buru-buru ia memalingkan muka, menyeka air mata dipipi.
"Siapa yang menyakitimu? Laporkan padaku. "
Diam-diam Liyun melirik foto ditangan Ryu.
"Foto itu... Apa itu foto mereka saat pacaran dulu? " Nana bermonolog dalam hati.
Ryu berusaha menepis kesedihannya, memperlihatkan senyum seolah ia baik-baik saja.
"Tidak, aku tidak menangis. Tadi ada serangga kecil yang tiba-tiba masuk ke mataku ... Jadinya mataku sedikit berair karena perih, tapi sekarang tidak apa-apa kok. "
Bohong, Nana tahu Ryu hanya beralasan. Pasti Ryu menangis karena foto yang ada di tangannya. Sebesar itukah cinta Ryu pada Liyun.
Andai Arata adalah Ryu mungkin hatinya tidak akan pernah patah, begitu batin Nana.
"Kau mau minum? " Ryu mengantongi kembali foto itu, menyodorkan gelas anggurnya di atas meja pada Liyun.
Spontan Liyun tersadar dari lamunannya. Ia segera menggeleng karena tidak kuat minum arak yang kadar alkoholnya tinggi.
Liyun menaruh jas milik Ryu di atas meja, menarik kursi di depannya, ikut duduk.
"Pemandangan dari atas sini indah juga ternyata. "
Ryu tersenyum, ikut melihat apa yang Liyun lihat.
"Iya, apalagi kalau langit sedang cerah, ada banyak bintang cantik disana. "
Liyun sangat antusias melihat segerombolan mobil polisi yang tampak terburu-buru di jalan raya yang bisa dibilang tidak sepi pada jam malam.
Suara sirine khas mobil polisi memekahkan telinga, pun Ryu juga serius mengamati pendar lampu mobil polisi itu sampai menghilang di balik gedung, namun suaranya amat jelas terdengar dari atas sampai perlahan benar-benar hilang.
"Kenapa ada banyak polisi berkeliaran? Apa ada kasus menghebohkan? "
__ADS_1
"Mungkin. " Ryu menyahut gumaman Liyun, yang langsung dihadiahi tatapan perempuan itu.
Seper detik kemudian keduanya kembali diam. Ryu sibuk meminum sedikit demi sedikit anggurnya dengan mata berambut lentik yang tak lepas menatap pemandangan Tokyo dari balkonnya.
Liyun njelimet dengan pemikirannya sendiri saudara, memikirkan topik apa yang harus mereka bahas. Topik obrolan yang membuat Ryu terhibur.
Liyun sangat memperhatikan Ryu tanpa ingat Jancent yang sedang kalang kabut dari timur keselatan, mendaki gunung, menyebrangi laut sampai lubang semut dicari demi menemukan istrinya. Namun dengan santuy Liyun sibuk memikirkan obrolan asik untuk Ryu.
"Em... Kelanjutan Proyek kerja sama antara kau dan jancent bagaimana? berjalan lancar? "
"Tidak, kontrak dibatalkan. "
"Hah, dibatalkan?! "
Ryu mengangguk lagi, memastikan.
"Yang benar? Tega sekali jancent itu! " gerutu Liyun kesal.
Ryu terkekeh melihat wajah merah padam Liyun. Perempuan itu sangat menggemaskan jika sedang marah.
"Sudahlah, aku bisa cari proyek lain. "
"Tidak bisa begitu! Kau suka sekali dengan konsep jancent, meski menurutku jelek. Kau bahkan memberikan saham yang sangat tinggi. "
"Sudah biasa batal kontrak di dunia bisnis. Lagipula aku belum merugi, bisa beli proyek lain yang lebih menguntungkan. "
Liyun menggeleng, menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Tidak, tidak, aku tidak setuju. Serahkan saja padaku, biar aku yang bicara pada jancent. "
#♥#
"Selamat malam, kami dari pihak kepolisian mendapat laporan dari saudara jancent kalau istrinya hilang. "
Majikannya itu masih berusaha menghubungi Liyun yang terus saja dijawab mbak operator.
"Kami sudah menerima laporan kalau istri anda hilang ... Bisa anda jelaskan kronologinya? "
Jancent menceritakan semua yang ia tahu, namun belum bisa menjadi bukti karena pernyataannya tidak kuat.
Akhirnya Jancent menghubungi Kana untuk menjelaskan, tetap saja kurang spesifik.
"Kami akan berusaha yang terbaik untuk menemukan istri anda sesuai penjelasan yang kami terima, dan akan segera melaporkan perkembangan pencarian kami, selamat malam. " Para polisi itu pamit untuk memulai pencarian.
Jancent merenung kembali di sofa. Ditawari makan malam, ia menolak, ditawarkan delivery juga tidak mau, dibuatkan sup penenang, juga no. Semua tidak mau. Ia hanya menginginkan Liyun pulang.
Entah kenapa Jancent tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya seperti Wina. Cukup Liyun, wanita terakhir di hidupnya.
Hayase, Ema, dan bibi pembantu lain ikut murung, baru kali ini mereka melihat tuannya sesedih itu. Jiwanya seperti akan dicabut malaikat maut hari ini.
Drrrt... Drrrt... Drrrt
Handphonenya berdering, dengan malas Jancent mengangkat panggilan dari Kana.
"Halo, ada apa? "
"Apa! ... Aku segera kesana. "
Hayase saling tatap dengan Ema, di kepala mereka bertuliskan pertanyaan yang sama. Apa yang terjadi?
"Aku akan pergi menemui kana, kalau liyun kembali langsung hubungi aku. "
"Baik tuan. "
__ADS_1
Hampir lima belas menit Jancent sampai di toko pakaian milik Liyun sesuai ucapan Kana. Tidak tanggung-tanggung kecepatannya, diatas rata-rata.
Perempuan itu sudah menunggunya diatas motor. Jancent langsung menghampirinya setelah sampai.
"Apa kau menunggu lama? "
Kana terkejut melihat kedatangan Jancent, mungkin karena terlalu fokus dengan handphone sampai tidak mendengar suara mobilnya.
"Tidak presdir. "
Kana mengantongi kembali handphonenya, ia segera terlalu membuka kunci toko.
Kana membawa Jancent untuk melihat CCTV lobby, ia ingin menunjukkan seorang pembeli pria yang Liyun tanyakan pada petugas kasir sebelum atasannya pergi.
"Dia, kan! "
"Presdir kenal orang itu? "
Jancent tidak menjawab, rahangnya terlihat mengeras, tegas. Ia menggigit pipi bagian dalam, geram. Matanya menyorot tajam Arata dilayar monitor.
Kana meneguk liurnya sendiri. Ngeri melihat Jancent yang tersulut amarah, tampak jelas di wajah tampannya. Jujur, ia baru pertama kali melihatnya semarah itu.
"Mereka bilang, nona li menanyakan pembeli itu sebelum beliau pergi... Jadi aku yakin, hilangnya nona ada kaitannya dengan orang itu. "
"Apa sebenarnya hubungan li dengan arata? "
Jancent langsung pergi lebih dulu. Ia menelpon rumah sekedar menanyakan Liyun, istrinya itu sudah kembali atau kontaknya dapat dihubungi. Namun tetap nihil.
Jancent kembali menghubungi Kana, yang ia yakini masih berada di toko Liyun.
"Tolong kirimkan aku salinan rekaman itu. "
Tut,
Jancent menutup panggilan sepihak. Kedua tangan itu meremas kuat roda kemudi. Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam lagi, sampai jarum merah itu bergerak melebihi kecepatan rata-rata.
Jancent tidak pulang kerumah. Ia pergi menuju kantor polisi untuk menunjukkan rekaman CCTV yang ia lihat bersama Kana. Berharap rekaman itu bisa menjadi bukti.
Beruntung sekali wajah Arata tampak jelas dalam layar monitor.
Ketua polisi itu tampak mengamati dengan seksama wajah Arata. Ia terlihat sedang berpikir, mengenali wajah yang sepertinya begitu familiar.
"Loh, itu kan arata. "
Spontan mereka langsung menoleh anggota polisi yang tiba-tiba menyahut. Tidak terkecuali Jancent yang terkejut.
"Kau kenal orang itu? " tanya Jancent dengan tidak sabaran.
Anggota polisi itu mengangguk, "dia tetanggaku. "
.
.
.
.
.
Bersambung...
...Tolong tinggalkan jejak...
__ADS_1