
"Hoam.... "
Jancent menggeliat, menyibak selimut, malas untuk bangun. Kantuk masih menempel bahkan beberapa kali ia menguap. Matanya berair, akan memejam kembali namun urung. Alarm di atas nakas meraung.
"Hm?" Jancent berulang kali memutar kran shower. Nihil, tidak ada air yang menetes. Ngomong-ngomong ia akan mandi. Kran di bathtub juga tidak berfungsi.
"Apa semuanya rusak?" Jancent bermonolog sendiri. Semalam krannya normal.
Ia harus mandi dimana?
Jancent menghela napas. Mungkin menumpang mandi di kamar Liyun tidak masalah. Perempuan itu, kan istrinya.
Tok... Tok... Tok...
Merasa tidak ada jawaban, Jancent langsung masuk. Malu berlama-lama didepan pintu. Ia hanya memakai handuk sebatas pinggang.
"Masih tidur. " Gumamnya.
Tapi, kenapa posisinya sama seperti semalam? Tubuhnya juga pucat?
Jancent menggeleng. Buang muka, untuk apa ia peduli. Menepis pikirannya dan segera masuk kamar mandi. Ia hanya perlu mandi sebentar dan pergi sebelum istrinya itu bangun.
Sibuk menggosok tubuhnya dengan sabun sambil sesekali bersenandung, Jancent tidak tahu ada seseorang yang panik. Sepasang mata yang memejam itu terbuka. Sepertinya terbangun ulah kebisingan Jancent. Menoleh, menebak-nebak seseorang didalam kamar mandi.
"Siapa yang sedang mandi? "
Sesaat mengernyitkan dahi. Mengedarkan pandangan.
"Ini kamar siapa? "
"Kenapa aku disini? perasaan aku diluar rumah. Lalu ini dimana? "
"Apa ini penculikan? "
Perempuan itu duduk dari baringnya. Memegang kepala yang terasa berat, sedikit pusing. Diam-diam melirik pakaiannya. Spontan dahinya menyatu, mata melotot.
"Ini baju siapa? kemana seragam sekolah ku? "
"Aaaaaaaaa... "
Liyun berteriak. Menutupi separuh tubuhnya dengan selimut disaat Jancent keluar kamar mandi. Lelaki itu terlihat lebih segar dengan rambut basah, usai keramas. Setengah tubuhnya terekspos. Enam petak kotak perutnya jadi tontonan cuma-cuma. Kepalanya di miringkan, menatap heran Liyun yang menjerit tadi.
Tubuh istrinya gemetar, persis orang ketakutan, tatapannya penuh waspada. Jujur Jancent hampir syok. Untung tidak serangan jantung mendadak adinda.
"Kau kenapa? untung aku tidak serangan jantung. " Tegas Jancent, menghampiri sang istri perlahan. Mengulur tangan ingin menyentuh kening Liyun, memeriksa kalau-kalau sakit.
Perempuan itu menjerit lagi. Melempari Jancent dengan bantal.
"Siapa kau?! mau apa? ... Menjauh bajingan!"
Liyun menggila. Semua yang ada disekitarnya ia lempar. Jancent mengerang, gelagapan menyeimbangi amukan sang istri.
Apa istrinya gila. Lupa jika ia suaminya?
"Kau ini kenapa? aku ini suamimu!, agh... " Tegas Jancent, susah payah menepis tamparan bantal Liyun.
"Suami apanya! aku ini anak SMA. Sejak kapan kau jadi suamiku! mimpi saja. Dasar orang cabul. " Talaknya. Memukul Jancent berkali-kali dengan bantal yang tersisa.
Bruek... Flas...
__ADS_1
Di pukulan terakhir bantal itu robek, terbelah, memuntahkan isinya. Bulu-bulu ringan putih itu berterbangan seperti salju. Indah, menghujani keduanya.
Liyun menjerit, Jancent mengukungnya tiba-tiba saat ia lengah, menindih tubuh sang istri. Mengunci dua lengan itu.
"Lepaskan bodoh!" Geram Liyun. Susah payah menepis tangannya, namun tidak bisa juga. Mencoba lari pun sama saja, tubuhnya ditindih Jancent.
"Sadar Liyun, aku suamimu! aku tahu kau benci aku, tapi kau tidak pernah begini. "
Bentakan Jancent membuat perempuan itu kicep. Diam tanpa berontakan pula. Saling menatap, hanya napas terengah mereka yang terdengar. Perempuan itu berusaha mencerna. Tetap saja tidak paham.
"Li-yun? " Perempuan itu bergumam. Menatap lebih dalam Jancent. Sesekali memperhatikan rambut yang dipenuhi kapas bantal. Sial, ia benar-benar tidak kenal pria yang mengaku suaminya itu. Wajahnya pun baru pertama kali lihat.
Jujur, ini baru kali pertama istrinya menatapnya, dekat pula. Duh, kedua pipi Jancent merona. Liyun cantik juga kalau di perhatikan.
"Siapa Liyun? aku Nana ... Nana Mizuya. "
Dahi keduanya mengernyit. Terlebih Jancent melotot, bingung dengan situasi sekarang.
Apa Liyun hilang ingatan?
Tidak, tubuhnya Liyun. Tapi perempuan di depannya seperti orang lain.
Apa istrinya kerasukan?
"Nana apanya! kau Liyun, istriku. Sebenarnya siapa kau, main merasuki tubuh istriku?! "
"Hey! siapa yang istrimu! merasuki tubuh apanya! siapa yang kau maksud Liyun! sudah aku katakan aku, Nana. Memangnya aku setan merasuki. Aku ini manusia! "
Talak perempuan yang mengaku Nana itu, membentak tersulut emosi. Wajahnya sudah merah padam. Pun, Jancent frustasi. Kesal dengan arwah yang tidak kunjung lepas dari tubuh istrinya. Mengaku manusia lagi.
Baru ingin mengumpat kembali, ketukan pintu dari luar membuat keduanya menoleh.
Jancent menghela napas, merutuki diri. Ia lupa ada meeting pagi ini. Menyuruh supirnya itu standby lebih pagi dari jam biasanya. Kalau perlu muncul lebih awal dari matahari terbit.
"Iya. Aku segera kesana. "
Jancent melepas cekalan tangannya. Sesaat membenahi handuk yang hampir melorot.
"Kau mau kemana? urusan kita belum selesai! "
"Aku terlambat. Nanti saja dilanjutkan, kau tunggu aku pulang. "
"Hah? "
Jancent pergi. Mengunci pintu segera sebelum perempuan itu menyusulnya. Memberi perintah pada semua bibi pembantu agar tidak membukakan pintu untuk istrinya sampai ia pulang.
Ya, Jancent sengaja. Beralasan bahwa perempuan itu kerasukan.
#♥#
Tok... Tok... Tok... Brek... Brek... Bruak...
Perempuan itu menggila. Awalnya ketukan biasa, lama-lama membenturkan diri, mendobrak pintu maksudnya. Tapi ujung-ujungnya menyeret kursi kecil dibawah meja rias untuk memukul pintu. Kesal, tidak ada yang mau membukakan pintu. Juga tidak ada yang menyahut dirinya, padahal ia sudah berteriak sampai kerongkongannya sakit.
Kemana laki-laki tadi!
"Nyonya sebenarnya kenapa? apa benar kerasukan? jangan sakiti diri nyonya. "
Nana tertegun, akhirnya ada orang juga yang menanggapi dirinya dari luar. Matanya berkilau, beranjak dari baringnya mendekati pintu.
__ADS_1
Di awal memang ada seseorang diluar. Namun, takut bersuara.
"Nyonya li, apa nyonya baik-baik saja?" Khawatir tidak ada pergerakan di dalam.
"Nyonya li?" Nana membatin. Bingung. Kenapa semua orang yang tidak ia kenal memanggilnya dengan nama aneh. Li atau Liyun, apa ia mirip orang itu?
Belum lagi pria meresahkan yang juga mengaku sebagai suaminya. Dimana sebenarnya dirinya? apa jangan-jangan ia bereinkarnasi?
"Nyonya li..." Teriaknya lagi dari luar dengan ketukan di pintu.
"Tolong bukakan pintunya. "
"Hm... Nyonya... Maaf, aku tidak bisa membukakan. Tuan melarang kami semua sampai dia pulang. "
"Tuan?" Nana bermonolog. Pasti lelaki yang menindih dirinya sebelumnya. Ia mulai kesal, menunduk lesu. Apa tidak ada harapan lain, katanya pemilik tubuh ini adalah nyonya.
"Kau tahu sekarang aku dimana?"
"Dimana, maksudnya? ya, nyonya di rumah. "
Sesaat Nana menghela napas, "bukan itu! Maksudnya ini kota apa?"
"Tokyo."
"Apa! Tokyo! Kenapa bisa di Tokyo?! bukannya Fukushima. "
"Fukushima apa sih yang nyonya bicarakan. Ini Tokyo nyonya, dari dulu nyonya memang tinggal di Tokyo. "
Matanya melotot sempurna, berlari membuka tirai jendela kamar itu. Sesaat menggeleng, tidak percaya. Ini bukan Fukushima. Semua ini mimpi, kan?
***
Dikantor, Mitsuha sibuk kesana, kemari menyiapkan keperluan Jancent. Akan ada meeting dua menit lagi. Ya, perempuan itu sekretaris pribadinya. Mengabdi pada perusahaan Kireen telah ia tekuni setahun terakhir semenjak Tachibana mempercayakan jabatannya pada menantunya itu.
Kurang dari dua menit persiapan selesai. Semua ketua dari beberapa kelompok mitra bagian perusahaan mulai memasuki ruangan, duduk, menunggu sang CEO.
"Selamat pagi presdir Jancent. "
Kompak, semua membungkuk hormat saat Jancent datang dengan Hiba yang mengekori. Mitsuha juga sudah menarik kursi untuk bosnya duduk.
Hiba menutup pintu, berjaga disana saat Jancent memulai rapat. Ia bukan sekedar supir pribadi, tapi berperan juga atas keselamatan dan keamanan Jancent.
Tok... Tok... Tok...
Jancent menjeda topik yang sedang ia bahas, melirik daun pintu. Kesal meetingnya diganggu. Ia paling tidak suka meetingnya dikacaukan. Siapa yang berani merusak suasana?
Tanpa harus bertanya, Hiba paham sorot tajam tatapan bosnya itu. Bertindak segera memperingatkan seseorang di balik pintu. Beliau paling tidak suka pekerjaannya diganggu. Peraturan dasar yang harus diketahui para karyawan Kireen.
"Kau tahu peraturannya?! Tidak boleh ada yang mengganggu saat meeting berlangsung. Melaporlah nanti saat meeting sele---"
"Tidak bisa, ini gawat! "
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...