
...Have a nice day...
...Kangen ndak?...
...Sudah berapa hari tidak up, maaf ya....
...Selamat membaca...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
"Wina… "
Grep,
Spontan sang pemilik nama memeluk pria dihadapannya. Pria yang meninggalkannya dua tahun lalu. Tega membuatnya menangis sendirian di cafe legenda cinta mereka.
Mencampakkan dirinya, pergi melanggar janji untuk menikah dengan perempuan lain. Namun semua rasa sakit, benci itu pudar sudah.
Jujur, hatinya masih menunggu pria dalam pelukannya. Perasaannya tidak pernah berubah sampai detik ini. Cintanya tidak pernah ia bagi untuk pria manapun. Di hatinya hanya ada satu tempat, teruntuk orang dalam pelukannya.
Jancent termangu. Bohong jika ia tidak merindukan wanita yang sedang memeluknya. Munafik jika ia tidak membalas pelukannya. Dusta jika ia benar-benar membuang perasaannya pada Wina.
Jancent terkejut hampir tidak mengenali mantannya sendiri. Penampilan Wina sudah berubah. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu.
"Aku sangat merindukanmu. "
Suara Wina terdengar parau ditelinga Jancent. Wanita itu tidak kuasa menahan air matanya, pun kedua mata Jancent yang sudah berembun.
"Jangan pergi lagi … aku mohon. "
Wina tambah mengeratkan pelukannya. Lebih dalam menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Jancent.
Jancent dapat merasakan pundaknya melembab, air mata Wina menembus pakainya. Lidah Jancent seketika kelu, bahkan untuk membuka mulut saja ia tidak kuasa. Tidak ada kata yang bisa meluapkan isi hatinya sekarang. Begitu sulit.
Tangan kanan Jancent merayap, mengelus lembut pucuk kepala Wina. Seketika pelukannya mengerat, tidak ingin kehilangan lagi.
Jancent melupakan seseorang yang kabur dari ranjangnya. Hati rapuh Jancent kembali berharap. Bisakah dirinya memiliki Wina kembali?
Ia seakan tidak peduli pada apapun lagi kecuali menjadi satu-satunya orang dihati Wina. Tidak peduli bahkan mungkin melupakan janji yang pernah ia ucapkan pada Liyun.
Belajar mencintai istrinya, namun sumpah itu seketika gugur. Dirinya lemah saat berjumpa kembali dengan wanita yang selalu tersebut namanya dihati.
__ADS_1
Jancent tahu ini salah, tapi cintanya begitu besar pada wanita dalam pelukannya sekarang.
***
Liyun terengah memegangi dadanya yang naik turun. Meraup oksigen dengan rakus. Menoleh kebelakang, memastikan Jancent tertinggal jauh.
Ia duduk sejenak di sebuah batu besar. Cukup melelahkan kabur dari villa itu.
Jantungnya belum melambat, ketakutannya semakin bertambah. Nana belum siap jika Jancent benar-benar memintanya untuk ditiduri. Ini salah. Seharusnya ia tidak melakukannya sejauh ini. Ia tidak berhak.
Nana tidak mau menyakiti hati Liyun. Ia tahu persis bagaimana rasanya ditikam dari belakang. Apalagi mengetahui suami bersetubuh dengan orang lain. Walaupun Jancent melihatnya sebagai istrinya, namun Nana sangat mengerti rasanya disakiti. Ia juga seorang wanita.
Dirinya akan merasa bersalah sampai kapanpun jika benar-benar melakukannya.
Seandainya Nana tidak bereinkarnasi di tubuh istri CEO ini, mungkin hati ini tidak seberapa sakitnya.
Liyun menghela nafas, menatap langit yang dipenuhi bintang, "seharusnya aku tidak jatuh terlalu dalam sampai mencintai dia. "
"Tapi arata mencampakkan aku. " Liyun menyeka air mata yang entah sejak kapan ia menangis, lagi.
"Aku ingin pulang… tapi jika aku kembali, aku juga tidak bisa bertemu jancent. Aku juga tidak tahu caranya kembali ke tubuhku. "
Liyun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Meredam tangisannya yang semakin meledak-ledak, sesenggukan tak dapat lagi terkontrol melepaskan semua beban.
Hampir lima belas menit Liyun duduk sendiri dibawah keremangan cahaya bulan. Sepasang matanya menatap kosong bintang dilangit hitam. Ia sudah tidak menangis.
Sejenak Liyun menoleh jalan paving yang mengarah ke villa. Ada yang aneh, kenapa Jancent tidak muncul?
"Apa dia tidak mencariku? "
Liyun mengangkat tangan kanannya menatap jam arloji jingga itu, "Jam tiga subuh. "
Liyun kembali menatap jalan paving itu. Berharap Jancent muncul meneriakkan namanya dengan sangat khawatir.
#♥#
"Hoam… mungkin aku harus kembali ke villa. Sepertinya dia tidak akan datang mencariku. " gumam Liyun lirih, nadanya terkesan kecewa dengan helaan nafas sendu.
Mengusap kedua tangannya sendiri menyalurkan rasa hangat. Angin malam mendekati ufuk terbit benar-benar tidak tertahankan. Hampir menyerempet udara musim dingin di Jepang.
Liyun tertatih berjalan menembus embun malam menuju villanya. Ia sudah melupakan kejadian setengah jam lalu. Berharap Jancent tidak akan marah padanya karena hasrat yang tidak terlampiaskan itu.
Liyun tertegun, tidak melihat batang hidung Jancent saat sampai di villa. Dikamar, toilet, ruang santai, dan disudut lainnya juga nihil.
"Kemana dia? Apa jancent kabur gara-gara marah padaku? "
Liyun mengambil handphonenya diatas ranjang. Berniat menghubungi Jancent. Namun dering ringtone yang tidak asing membuatnya celingukan.
"Seperti suara handphone jancent? "
Liyun berjalan mendekati sofa diseberang ranjang. Helaan nafas asa terdengar setelahnya, Jancent meninggalkan handphonenya di sofa.
***
"Terimakasih sayang… dari dulu hanya kau yang memperhatikan aku. " Sekilas Wina mengecup pipi Jancent sebelum menurunkan tubuhnya diatas ranjang.
__ADS_1
Ya, Jancent menggendong Wina sampai ke villanya yang ternyata tidak begitu jauh dari villa tempatnya dan Liyun.
Jancent tidak tega membiarkan Wina sendirian saat wanita itu merengek tidak bisa jalan tanpa tumpuan, kakinya terkilir ulah seseorang yang menabraknya. Siapa lagi kalau bukan ulah istrinya.
"Mana yang sakit? " Jancent segera duduk di bibir ranjang setelah menurunkan Wina.
"Di sebelah sini, kaki kananku sakit. "
Wina menarik tangan Jancent untuk menyentuh kaki kanannya.
Jancent menurut, memijat kaki Wina perlahan. Kentara betul jika ia terlihat khawatir. Wina menarik bibirnya, tersenyum. Wanita itu benar-benar merindukan momen-momen seperti sekarang.
Bagaimana Jancent yang selalu mengkhawatirkannya, bagaimana Jancent yang selalu memeluknya saat ia menangis, Jancent yang selalu ada saat ia membutuhkannya, bagaimana Jancent begitu bahagia melihatnya, bersamanya.
Meskipun kenyataan manis selalu disadarkan oleh dunia yang pahit. Jancent bukan lagi miliknya. Lelaki itu sudah menikah. Sungguh beruntung perempuan yang bersamanya.
"Tadi sepertinya kau mengejar seseorang? "
Tertegun, "hm itu… " Jancent diam, tidak lama ia mengangguk kemudian.
Gugup, takut kalau Wina menanyakan lebih lanjut soal Liyun. Membahas istrinya lagi, sama seperti mengulang masa lalu. Jancent tidak mau.
"Wajahmu kenapa tegang begitu? "
"Ah, tidak. Mungkin karena lama tidak bertemu membuat aku gugup. " jawab Jancent sekenanya.
Wina tahu Jancent menyembunyikan kegelisahan. Ia tahu persis isi pikiran lelaki itu. Iris matanya selalu berbicara.
"Aku sangat merindukanmu… "
Ucap Jancent segera untuk menghancurkan pikiran Wina, mencegahnya menanyakan hal lain. Sesaat dirinya ditatap.
Sudut bibir Jancent tersenyum. Menatap lekat sepasang mata berbulu lentik dihadapannya. Mengapit anak rambut yang menutupi wajah cantik Wina dibalik daun telinga.
"Kau semakin cantik setelah putus dariku. " lanjut Jancent.
Sesaat Wina menggenggam tangan Jancent di pipinya. Risih mendengar bibir itu berucap "putus". Jujur, kata itu tidak pernah ada dalam kamus seorang Wina.
Perasaannya masih sama, tidak pernah kurang suatu apapun. Janji setianya tidak pernah lekang oleh masa. Bolehkah ia merebut kembali kekasihnya yang sudah menjadi suami orang?
" aku tahu ini tidak mungkin bisa. Keinginan ku hanya sebatas angan. Tapi… bolehkah aku menyatukan hati kita yang dulu patah? "
Jancent tertegun, menatap sepasang mata Wina yang sudah berkaca-kaca.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1