Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Selamat ulang tahun pernikahan × 32%


__ADS_3

Jancent melepas headset bluetooth yang menyumpal di telinga, mengantongi benda itu bersama handphonenya. Ia tersenyum di sepanjang jalan menyusul Liyun yang asyik dibibir air laut, merasakan dorongan ombak kecil menyapu kedua kaki cantiknya. Wajah marah Liyun sangat imut. 


Ingat, Jancent pernah mengatakan akan memulai rasa cintanya kembali dengan Liyun. Menutup masa lalu yang sebaiknya untuk dilupakan. Memupuk sedikit demi sedikit kasih abadi bersama sang istri. Jancent ingin memulainya dengan kencan pertama. 


Jancent sengaja menyewa pantai ini untuk Liyun, tapi sedikit gengsi mengatakan niat tulus dari hati terdalam. Bukan Jancent kalau tidak memiliki seribu alasan untuk menutup dengan apik perasaannya. 


Tenang, Jancent juga memiliki seribu cara menjabarkan rasa cintanya tanpa harus mengutarakan. Mulut itu tidak selalu mewakili perasaan hati seseorang, catat pemirsa. 


Sejak dimobil tadi Jancent sibuk menelpon orang kepercayaannya untuk menyewa pantai itu. Menyuruh mereka mengosongkan pantai segera. Ia hanya ingin ada dirinya dan Liyun seorang, namun istrinya kepalang kesal gara-gara Boruto. Ok, Liyun cemburu. 


"Dar! " Jancent jahil mengejutkan Liyun yang serius menatap gelombang ombak kecil mengenai kakinya. 


Spontan Liyun menjerit sampai Jancent menutup telinganya karena lengkingan suaranya terasa menusuk-nusuk gendang telinga. 


"Kau mengagetkanku! Bagaimana kalau aku mendadak serangan jantung! "


"Kau tidak mungkin mati disini. "


"Aiss, diam! Aku malas berdebat dengan mu. "


"Oh ya? Kalau seperti ini… " Jancent menendang air lautnya, menciprat celana levis sepaha Liyun. Ia sengaja. 


"Agh, Jancent! Rasakan ini! " Liyun membalas hal yang sama. Ia puas melihat pakaian suaminya tampak sedikit basah. 


Saat Jancent akan membalas, Liyun sudah lebih dulu lari. Keduanya terlibat kejar-kejaran. Jeritan bahkan tawa bergema melawan melodi ombak. Perempuan itu sepertinya sudah lupa sedang kesal. 


Jancent mengeluarkan handphonenya mengajak Liyun foto bersama. Namun di hitungan ketiga istrinya malah lari dari kamera. Berulang kali Jancent mengulang foto, pun berulang kali Liyun kabur cekikikan membuat sang suami kesal. 


Alhasil di jepretan terakhir Jancent memeluk erat tubuh Liyun agar tidak kabur. 


***


Hari sudah petang saat keduanya mampir di sebuah restoran lesehan. Numpang ganti pakaian di toiletnya dan tentu untuk makan malam, karena sejak siang perut mereka belum diisi. 


"Kau sudah selesai makan? "


Liyun mengangguk. Dahinya mengernyit kala Jancent menyodorkan kaplet obat diatas meja padanya. 


"Ini obat apa? "


"Obat tidur. Supaya kau tertidur di pesawat. "


"Apa? Kau, kan sudah janji kalau kita tidak naik pesawat. "


"Kapan aku janji? Bilang iya juga tidak… memang kita naik mobil ke pantai itu, tapi tidak kalau ke Bali. Kita harus naik pesawat agar cepat sampai. Kau-nya saja yang tidak mendengarkan penjelasanku dulu… cepat minum, sebentar lagi cek-in. "


Liyun menghela nafas. Seketika wajahnya cemberut melihat Jancent pergi ke meja kasir, membayar tagihan. Merobek bungkus kaplet, meminum obat itu sesuai perintah sebelum ke bandara. 


Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di bandara. Tadi Jancent sengaja mencari restoran yang jaraknya dekat dengan bandara. 


Baru masuk pesawat saja Liyun sudah beberapa kali menguap. Sepertinya obat tidur itu sudah mulai mengeluarkan efeknya. 


"Sudah mulai mengantuk? "


Liyun berdehem, mengangguk. Kelopak matanya terasa berat sekali. Bulu matanya yang lentik bagaikan digantung barbel. Tubuhnya lelah sehabis main dipantai. 


Perlahan Jancent menyandarkan kepala Liyun di bahunya, "kau mau kue rasa apa untuk perayaan anniversary pernikahan kita nanti? "

__ADS_1


"Memangnya hari ini anniversary pernikahan? " gumam Liyun ditengah menahan kantuk. 


"Ah, jangan bilang kau lupa… Kira-kira kegiatan apa yang akan kita lakukan untuk pestanya? yang tidak membosankan, tidak buat mengantuk. "


"Hm… ketika… aku pik-nik dengan pacar-ku… aku… sangat su-ka bermain… truth or dare. " jawab Liyun yang terdengar lirih dan putus-putus juga mata hampir terpejam.


"Heh, kita bukan piknik anak sekolah. Lupakan masa-masa dengan pacar monyet mu itu! Kita akan bulan madu dan… kencan. "


Jancent termangu, tidak mendapatkan respon apapun. Menoleh Liyun saat dengkuran halus menyapa rungunya. 


Tidak lama senyuman menyembul di bibir Jancent, "kau sudah tidur. "


Sejenak Jancent menelpon seseorang di Bali. Meminta mereka menyiapkan kue, cemilan, dan mungkin kartu. Tidak ada salahnya mencoba permainan truth or dare itu. Sepertinya akan menyenangkan. 


#♥#


"Hm? "


Liyun tertegun saat terbangun, mendapati dirinya berbaring diatas kasur dan Jancent tersenyum menatapnya. Pria itu duduk di kursi di depan meja rias. 


Spontan bola matanya menelisik sekitar yang tampak asing, kenapa mereka bisa didalam kamar? 


Ini kamar siapa? 


Bukankah mereka berada dalam pesawat?


"Wajahmu kenapa terkejut begitu. Kita sudah sampai di villa. "


Liyun terkejut, "ini Bali? Kenapa kau tidak membangunkan aku kalau sudah sampai?! Terus kau menggendongku sampai villa? "


"Aku malas membangunkan mu. Mana mungkin aku menggendongmu dari bandara sampai kesini, kau pikirkan saja sendiri caranya. Sudah sana, cuci muka dulu. Sebentar lagi jam dua belas malam. "


"Memangnya ada apa jam dua belas nanti? "


Jancent menghela nafas. Sudah berjuta kali ia mengingatkan tapi istrinya ini cepat sekali lupa atau memang tidak pernah menyimak setiap kali ia bicara. 


"Kau benar-benar lupa hari anniversary pernikahan kita? Aku sudah berkali-kali--- "


Liyun tertawa renyah dan langsung ber-oh riya memotong ucapan Jancent, kentara sekali suaminya itu naik darah. Liyun heran, belakang ini pria itu cepat sekali marahnya. Mungkin Jancent sedang PMS.


Nana pura-pura mengingat hari spesial itu meski sebenarnya ia tidak tahu sama sekali. Berapa kali Nana harus mengatakan kalau dirinya itu bukan si pemilik tubuh, tapi malah dianggap arwah jahat yang suka merasuki manusia kalau dirinya berterus terang. Kan stress adinda.


"Wah, tiramisu cake! "


Liyun berteriak melihat sesuatu diatas meja saat baru kembali dari toilet. Menghampiri suaminya di sofa santai yang masih satu ruangan dengan ranjang tadi. 


Jancent sibuk mencari pemantik api untuk menyalakan lilin. Ia lupa meninggalkan benda itu dimana, belum lagi makanan ringan dan beberapa plastik lain mengecohkan sudut pandangnya. 


"Jangan coba-coba kau memakan kue itu! " gertak Jancent disela mencari pemantik api. 


Saat Jancent terlihat lengah, Liyun diam-diam mendekati kue diatas meja, berniat mencuri sepotong atau sekedar mencolek creamnya sedikit. 


Hanya mencicipinya sedikit bukan memakannya, tidak masalahkan, begitu batin Nana. 


Plak! 


"Aku bilang jangan dimakan dulu! " seru Jancent memukul tangan nakal istrinya. 

__ADS_1


Liyun menghela nafas kesal. Seharusnya kue itu ia bawa kabur saja tadi. 


"Jam berapa sekarang? " tanya Jancent yang mulai menghidupkan lilin. 


"Sebelas lewat lima puluh tujuh. "


"Sebentar lagi. " gumam Jancent beralih mengeluarkan kamera digital miliknya dari dalam koper.


Keduanya menghitung mundur dari sepuluh saat waktunya akan datang. Kentara sekali wajah Liyun sangat gembira, sebentar lagi tiramisu cake itu masuk kedalam mulutnya. Membayangkan rasanya saja sudah membuat mulutnya kebanjiran air liur. 


"Tiga… dua… satu… yeay! Happy anniversary. " teriak keduanya kompak, meniup lilinnya bersama-sama. 


Liyun segera menyingkirkan semua lilin dari kuenya. Ia sudah tidak sabar ingin memakannya. 


Jancent sumringah melihat istrinya yang tidak sabaran, padahal ia berniat mengajaknya berfoto sebelum memotong kue itu. 


"Kau benar-benar gila pada tiramisu itu. " Jancent geleng-geleng dengan tawa renyahnya. 


"Aku sangat menyukai tiramisu ini. Kenapa kau hanya membeli satu? Satu saja tidak cukup untuk aku sendirian. Aku tidak akan menyisakan untukmu. "


Liyun berkali-kali berdzikir lafadz "enak" mengunyahnya. Matanya sampai terpejam saking lezatnya. Tubuhnya seperti terhempas di atas tiramisu cake berukuran jumbo. 


"Terserah mu saja. " Jancent beralih duduk disofa. Mengambil sebungkus keripik kentang. 


"Kalau masih kurang, aku beli lagi nanti. " tambahnya. 


Jancent tidak bisa menghentikan senyumannya karena Liyun lebih fokus memakan kuenya daripada mendengarkan ia berbicara. 


Diam-diam Jancent memotret Liyun yang sibuk makan. Benar saja, perempuan itu tidak sadar tengah menjadi objek foto. 


***


"Ah… tiramisunya enak sekali. "


Pekik Liyun menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Mengelus perutnya yang kencang karena kekenyangan menghabiskan tiramisu cake sendirian. 


Lagi-lagi Jancent geleng kepala melihat tingkah Liyun. Lalu ia beralih mencari sesuatu di dalam kantong plastik putih berisi makanan ringan juga beberapa kaleng minuman. 


Liyun menegakkan tubuhnya, penasaran. Apa yang Jancent cari? 


"Itukan kartu. "


Jancent berdehem membuka kotak kartu itu dan mensejajarkan kartunya serapi mungkin diatas meja.


Jancent menatap Liyun, melipat tangannya didepan dada "aku heran, kau sama sekali tidak berniat meminta hadiah padaku? "


"Memangnya kau menyiapkan hadiah untukku? " Liyun menatap dengan mata penuh binar. 


"Tentu saja, tapi bermain truth or dare lebih dulu. Berani tidak? "


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2