Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Hati ku sakit×22%


__ADS_3

...Have a nice day....


...Bagaimana kabarnya?...


...semoga diberi kesehatan dan kelancaran rezeki....


...Tak bosan-bosan author minta dukungan untuk semua. Niatkan untuk beramal,...


...Like, pav, komen dll....


...Pay, pay...


.


.


.


.


.


.


.


Dua orang tidak sejoli itu masih segar saja menatap dinding di hadapan masing-masing, saling memunggungi satu sama lain. Kalut dengan pemikiran mereka sendiri, mengingat topik yang sama tentang ciuman hot di mobil.


Tragedi pilu itu bagai benalu. Diputar berkali-kali macam film layar lebar di hari libur lebaran.


Dengan hati-hati Jancent berbalik, menatap Liyun yang memunggunginya.


"Hei, Liyun... Kau sudah tidur? " bisik Jancent yang tidak di jawab sama sekali.


"Kau benar-benar sudah tidur? benar sudah tidur? "


Kali ini Jancent mencolek punggung istrinya beberapa kali. Awalnya Liyun sengaja tidak menggubris, tapi lama kelamaan ia kesal juga di colak colek. Memangnya ia sambalado Ayu ting ting.


"Belum. " jawab Liyun dengan nada sok cuek yang terdengar sumbang.


"Kenapa belum tidur? "


"Kau membuat ranjang ku sempit! " tegas Liyun masih memunggungi suaminya.


Jancent mengernyit. Ingin rasanya menendang Liyun ke angkasa raya, untung istri.


"Memangnya tubuhku sebesar komodo. Ranjang ini saja muat untuk tiga orang. Salahmu sendiri tidur terlalu minggir! ... Aku kayang disini saja muat. "


Spontan Liyun menoleh Jancent dari balik punggungnya. Cengar cengir menyadari ia terlalu mepet di pinggir ranjang.


"Oh, benar juga. "


"Tidur jangan terlalu jauh, Memangnya aku orang lain. "


Liyun tertegun dengan tiba-tiba Jancent mendekap tubuhnya untuk dipeluk. Membuat telinganya begitu jelas mendengar suara detak jantung Jancent. 


Dan entah kenapa Liyun merasa begitu damai dalam pelukannya. 


Aroma khas seorang Jancent seperti romantik penenang jiwa. 


"Aku sudah bilang, kan akan belajar mencintaimu mulai sekarang... Berdebat boleh, tapi setiap kali sampai membuatmu emosi, ayo saling berpelukan. "


Liyun terdiam, seolah dirinya baru saja tersihir oleh ucapannya. 


Jancent bukan orang yang mudah ditebak bagi Nana. Ini kali pertama ia menemukan orang seunik pria manapun yang pernah ditemui.


Perasaan Jancent bisa begini, bisa begitu seberagam bunglon menirukan warna. Marah pun tidak jelas, seemosi TV rusak yang gambarnya recek naik turun. 


Namun hanya satu yang dapat Nana simpulkan, Jancent itu lelaki tulus, hatinya murni. Tanpa sadar level rasa sukanya bertambah meski rasa kesalnya lebih mendominasi. 


Apakah ia bisa bersama lagi dengan Jancent setelah kembali ke tubuhnya yang asli? 


"Kau sendiri kenapa belum tidur? "


Liyun mengalihkan topik. Takut dirinya baper berkepanjangan. 


"Jancent? "


Untuk kesekian kali Liyun memanggil, namun tetap tidak ada jawaban. Spontan Liyun menatap wajah Jancent yang tidak kurang sejengkal jaraknya. 


Liyun tersenyum menyadari suaminya itu sudah tertidur lebih dulu. 


Entah keberanian dari mana atau Nana yang sudah terperangkap muara cinta Jancent, ia berani mencium sekilas pipi suami jadi-jadiannya itu. 

__ADS_1


"Aku berharap lusa nanti ada keajaiban untuk kita. "


#♥#


Jancent melenguh, merasakan tangan kirinya sedikit kesemutan. Tidak pernah ia kesemutan di pagi hari, biasanya malah haus bangun tidur. 


Jancent termangu mendapati seonggok manusia yang menjadikan lengan kirinya sebagai bantal. Cukup lama mencerna keadaan sampai ia sadar alur semalam. 


Diam-diam Jancent tersenyum. Ada rasa senang karena tubuhnya tidak sakit semua. Tahu sendirilah bagaimana pola tidur Liyun. 


"Li bangun. "


Tidak ada respon, Jancent sedikit mengguncang tubuh istrinya supaya bangun. 


"Liyun bangun! "


Kali ini Jancent sedikit kasar membangunkan Liyun yang hanya merubah posisi. 


"Ck, Tidak bangun juga. Liyun bangun, kau harus pergi kerja! "


"Agh... Jangan ganggu! Aku baru saja tidur. " Gerutu Liyun masih memejamkan matanya.


Jancent sudah stres pagi-pagi. Ia langsung mengambil gayung berisi air dari kamar mandi. Gayanya sudah seperti emak-emak naik darah. 


Tidak main ciprat menciprat, tapi langsung menyiramkannya langsung di wajah Liyun. Yang disiram langsung duduk saking terkejutnya. Nafas Liyun tersengal, lubang hidungnya sampai kemasukan air. 


Liyun langsung menatap Jancent yang masih memegangi gayung seolah akan membunuh pria itu sekarang. Beberapa kali ia mengusap wajah yang kebas. 


"Kau cari mati pagi-pagi begini?! Bosan hidup, hah! "


"Aku sudah membangunkan mu dengan lembut, tapi kau maunya disiram baru bangun ... Sudahlah, aku malas berdebat. Bisa-bisa aku telat. "


Jancent pergi, namun baru membuka pintu ia kembali menoleh Liyun. 


"Cepat mandi, hari ini kau harus pergi kerja. Nanti aku suruh hiba untuk mengantarmu jika tidak tahu tempatnya dan tidak ada alasan. "


Blam, 


Jancent menutup pintu dan pergi, menyisakan Liyun yang masih berproses mengumpulkan nyawa. 


Hampir setengah jam, keduanya kembali bertemu di meja makan untuk sarapan. Sangat tenang, hanya suara kunyahan roti panggang dan seruputan susu yang terdengar. 


Jancent seperti biasanya, sarapan sambil membaca koran atau majalah keluaran terbaru, tapi kali ini ia sedikit memperhatikan asisten rumah tangganya. Menebak-nebak siapa yang menjadi mata-mata ayah mertua. 


" Tuan, hiba sudah datang. " lapor Ema. 


"Kau sudah selesai sarapannya? "


Liyun mengangguk akan mengelap sisa susu dibibirnya dengan tangan. 


"Eits... Jangan pakai tangan! Jorok sekali. Itu ada tisu. "


"Ah, aku lupa. " segera ia mengambil tisunya. 


"Kau berangkat lebih dulu dengan hiba. "


"Tidak, nanti kau telat. Aku naik--- "


"Aku yang punya perusahaan. Jadi terserah aku mau berangkat tahun depan atau sekarang. "


Liyun malas bersuara karena yang ada malah merembet ngalor ngidul, mendaki gunung, mendaki lembah tidak berujung. Bisa debat sampai tahun depan. 


#♥#


"Kita sudah sampai nyonya. "


Ucap Hiba setelah menghentikan mobil di depan toko pakaian brand LY milik Liyun. 


"Benar ini toko pakaian milikku? "


Liyun membuka kaca mobil, menyembulkan kepala melihat nama gedung yang bertulis "LY fashion collection".


Liyun langsung masuk dengan langkah keraguan. Dipikirannya saling bentrok antara ia bahagia menjadi seorang desainer terkenal dan tidak bisa merancang busana. Gambar saja ia kalah dengan anak SD. 


Liyun juga tidak paham dunia fashion saudara sekalian. Komplit sudah derita remaja SMA yang masuk kejamnya dunia pernikahan dan dunia kerja. Bisa lulus sensor kalau difilmkan. 


Untung si Liyun ini belum memiliki anak, begitu batin Nana. 


"Lama tidak berjumpa mrs Li. " sapa Kana yang merupakan asisten Liyun. 


Yang disapa auto cengo. 


Who are you? 

__ADS_1


Nana tiba-tiba ingin bunuh diri lompat dari jalan layang. Njelimet sekali jadi orang kaya, apalagi ia harus berperan sebagai orang lain yang tidak tahu kehidupannya. Kepalanya alamat berubah botak saking terlalu banyak berpikir. 


Liyun menyeringai, tidak sengaja melihat nametag yang terpasang di pakaian perempuan itu, "Kana."


"Iya, aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, Kana. " Beruntung mata Liyun tidak rabun. 


"Hampir dua minggu ini pihak konsumen menanyakan brand terbaru LY untuk menyambut musim panas. Dan aku sudah menjelaskan kepada mereka penundaan koleksi baru anda saat cuti tanpa kabar. "


Liyun sumringah pongah. Sedikit loading otaknya memahami laporan Kana. Otak anak SMA belum berpikir senjelimet itu. Paling pusingnya memikirkan cinta monyet. Lisannya seketika kelu akan menjawab. 


"Aku sudah beberapa kali menghubungi anda, tapi tidak tersambung. "


"Ah, maaf untuk masalah itu karena aku ganti handphone dan seperangkatnya. Jadi, nomor kontak kalian hilang. "


Kana berbaik hati bertukar nomor telepon dengan Liyun. Saking baiknya sampai mengajak atasannya itu berkeliling, menagih kontak telepon para pekerjanya yang lain. Dari ruang kain, penjahitan, dan packing. Jangan lupakan juga pegawai kasir di lobby. 


Mata Liyun hampir terbalik saking banyaknya nomor yang ia catat. 


"Aku akan belikan coffee ice untuk anda. " Tegas Kana segera pergi setelah menambah beban setumpuk map diatas meja. 


Liyun langsung mengeluh baru membaca beberapa map itu. Pusing adinda. Ia lebih memilih membaca selusin majalah. 


"Selamat datang tuan di LY fashion collection. Silahkan dilihat-lihat dulu. "


Liyun menoleh dengan siapa petugas kasir itu berbicara. Sesaat rasa ingin tahu mengusik Liyun yang tengah jengah melototi map di mejanya. Liyun mengintip dari jendela kaca besar di ruangannya yang tepat menghadap meja kasir. 


"Tolong pilihkan pakaian LY yang paling cantik untuk anak perempuan umur empat tahun. "


Liyun tertegun mengenali siapa yang membeli. 


"Arata! Untuk apa dia kesini? " gumam Liyun sendiri. 


Hampir lima menit Liyun mengawasi Arata yang sesekali bertanya pada pegawai kasir itu. Sebelum akhirnya pria itu pergi setelah membayar. 


Tok... Tok... Tok... 


Spontan Liyun menoleh saat pintu ruangannya diketuk, mempersilahkan


Kana masuk membawa minuman yang dijanjikannya tadi. 


"Aku ada urusan pribadi, tolong kerjakan semua tugasku. " Liyun buru-buru menyampirkan tas kulit buayanya di bahu. 


"Tapi... esnya? "


Seketika Liyun menyambar es kopi itu dari tangan Kana dan pergi. Sebelum mengikuti Arata, ia menyempatkan bertanya pada penjaga kasir, apa yang pacarnya beli. 


"Pakaian anak perempuan umur empat tahun? "


"Anak siapa? Apa dia benar-benar sudah menikah? "


Liyun terus bergumam disepanjang jalan mengikuti Arata. Rasa keponya sangat akut pada anak perempuan umur empat tahun itu. 


Beberapa kali naik bis, jalan kaki yang lumayan membuat Liyun berkeringat, sampai es kopinya tanpa sadar habis di minumnya. Mampir ke toko aksesoris wanita, kemudian jalan lagi dan mampir ke toko chicken. 


"Ah, aku lelah... Kenapa tidak sampai rumahnya juga. " 


Gumam Liyun masih mengikuti Arata berbelok di sebuah gang dengan jarak aman supaya tidak ketahuan kalau ia mengomel. Sesekali mengumpati Arata dalam hati. 


"Ayah! "


"Wah, Aika menunggu ayah pulang? "


Liyun tergugu. Langkahnya terhenti begitu saja di seberang jalan. Semua rasa lelah itu hilang melihat Arata yang langsung berlari ke halaman rumah. Menggendong anak perempuan umur empat tahun itu dengan wajah senang. 


"Lihat, ayah bawa sesuatu untuk Aika. " Arata langsung menunjukkan pakaian yang ia beli di toko Liyun. 


"Ibu! ... Ayah membelikan aku pakaian baru. "


Sudah sakit tertimpa tangga, mati sekalian. Begitu kira-kira definisi perasaan Liyun melihat istri Arata datang memenuhi panggilan putri kecil mereka. 


Sakitnya tuh disini, disini, disini, dan disini. Semua tubuh Liyun sakit. Tidak terima hati yang terluka, bukan lagi retak hatinya, langsung runtuh melihat wanita yang dinikahi Arata. 


Apa dirinya ditinggal kawin? 


Bagaimana dengannya yang masih berstatus pacar? 


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2