
...Have a nice day... ...
...Autor lagi senang, tapi kemarin. Jadi update lumayan. ...
...Jangan lupa wajib komennya! ...
...dan kawan-kawannya juga...
...like, fav, vote, dll...
...pay pay... ...
.
.
.
.
.
.
.
"Loh, tuan tidak naik mobil? " tanya satpam yang berjaga di rumah Tachibana setelah dua manusia itu sampai.
Kurang lebih hanya sejam perjalanan, namun rasanya seperti berhari-hari bagi Jancent. Ia sampai kembung dicekoki Liyun yang terus berceloteh mirip mamang pedagang asongan.
Satpam itu bergegas mengantar Jancent dan Liyun dengan mobil mini yang mungkin hanya muat maksimal empat orang penumpang saja. Mirip mobil yang biasa digunakan para pemain golf menuju area hijau lapangan golf.
Maklum, Tachibana sungguh kaya sekali, bisa pusing nanti kalau dijabarkan satu persatu. Sampai Yancent kepincut menjodohkan Jancent dengan Liyun agar kayanya ketularan.
Nana yang baru melihat rumah seluas satu RT itu, sejak awal masuk gerbang yang tingginya tiga meter tidak berhenti mendesahkan kata "waw" dan melafalkan kalimat-kalimat tobat kalau-kalau mendadak ia matek serangan jantung akibat tidak kuat pada setiap yang ia lihat.
Besar dan luas rumahnya saja melebihi rumahnya dan Jancent. Ini bukan rumah besar lagi tapi jumbo.
Diam-diam Jancent melirik mimik wajah terpukau istrinya. Seperti baru pertama kali lihat rumahnya sendiri. Ternyata pak satpam juga memperhatikan Liyun dari kaca spion.
Antara fokus dan tidak pak satpam itu menyetir sambil melihat anak majikannya itu yang sedikit aneh. Untung tidak sampai kebablasan masuk kolam ikan kalau Jancent tidak berteriak heboh menjambak brutal rambutnya. Sudah mirip ibu muda yang ketar ketir sedang melahirkan.
Bisa basah nanti kakanda masuk kolam ikan. Kan tidak lucu karena novel ini bukan genre komedi.
"Kalau nyetir perhatikan jalan! " Hardik Jancent setelah mereka sampai di depan rumah dengan hampir tidak selamat.
Tangan Liyun meremas kuat lengan jas Jancent, memepetkan tubuhnya pada sang suami. Peluh di sekitaran dahi sudah kentara, bibirnya juga terlihat pucat, bahkan tangan Liyun terasa dingin seperti es. Gugupnya melebihi masuk rumah hantu.
"Jangan di cengkraman terlalu kuat, bisa-bisa bolong jas ku. "
Tegas Jancent yang setengah kesal dan juga kasihan melihat Liyun begitu ketakutan sepertinya. Mengundang pertanyaan tanpa jawaban dipikiran Jancent.
"Jangan di pegang, peluk saja. "
__ADS_1
Liyun tertegun. Menatap penuh selidik suaminya. Suara Jancent lebih lembut dari ucapannya tadi. Jancent juga membenarkan posisi tangan Liyun menjadi memeluk lengannya. Sudah mirip pangeran dan ratu Inggris berjalan di red carpet.
Bukankah seharusnya begitu dalam perjanjian yang Liyun buat sendiri. Hanya terlihat mesra di depan orang tuanya. Catat.
Namun sepertinya Jancent tidak melakukannya kali ini karena perjanjian. Ada rasa lain yang menjadi bumbu. Dan entahlah, Jancent bimbang.
"Baru sampai! " suara sambutan yang menggelegar jiwa.
Tachibana sudah duduk dengan posisi angkuhnya di sofa seperti dalam film-film. Kaki kanannya ia tumpangkan menyilang di kaki kiri.
"Maaf ayah, kami agak lama. Tadi---"
"Bukan lama lagi! Bahkan ayah sudah beberapa kali makan, minum, bermain, mengajak peliharaan jalan-jalan, shoping, mandi, tidur, pagi lagi, dan mandi, makan, sampai berhari-hari diulang-ulang. Kalian tidak sampai-sampai! "
What!
Liyun berubah bego.
Perasaan tidak ada satu hari perjalanan tapi si tua itu bilang sudah beberapa hari?
Apakah mereka tinggal di belahan dunia yang berbeda?
"Lihat, pou ayah bertambah gemuk itu. "
Tachibana menaruh tabnya di atas meja. Pusing ayahanda melihat pou kelebihan lemak.
Lol,
Ya, Tachibana itu maniak game pou. Si alien kecil yang bentuknya mirip segitiga tapi tidak sempurna dengan dua mata bulat bin jumbo. Sampai-sampai ia mandi dan BAB pun menyempatkan diri memanjakan pou. Swag sekali eperi badi.
Liyun menyeringai dengan senyum seringainya yang sulit diartikan. Sama dengan Jancent yang mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi campur aduk.
Mereka baru saja di prank.
#♥#
Sekarang suasana berubah canggung setelah Tachibana melempar sebuah majalah keluaran Knews diatas meja. Seketika wajah menjadi tegang binti serius.
Tachibana menatap tajam Jancent yang duduk di sofa panjang di dekatnya.
"Apa maksudnya berita itu! Kalian hanya pura-pura mesra di depan ayah?! " bentak Tachibana yang kepalang emosi.
Memperlihatkan scandal Jancent yang jadi cover utama majalah Knews itu, bertuliskan "Jancent akan menceraikan Liyun, putri bungsu dari Mr. Tachibana CEO berpengaruh di Jepang. Apakah karena adanya orang ketiga? Baca selengkapnya ".
"Tidak! "
"Tidak ayah! "
Keduanya serempak mengelak. Takut tiba-tiba Tachibana berubah menjadi hulk nantinya, kan bisa repot. Berbohong saja dulu untuk memadamkan gejolak emosinya. Masalah ketahuan urus nanti.
"Kalau tidak, ini apa maksudnya Liyun! Bisa kau menjelaskan?! "
Tachibana membuka lembar pertama, menampilkan berita terhot. Foto Liyun yang sedang makan siang dengan Ryu di restoran sushi tempo hari bercetak sehalaman bukunya. Gambarnya di zoom sangat besar, jernih dan jelas sekali itu Liyun. Namun foto Ryu tersensor, wajahnya diburamkan.
__ADS_1
Hati Jancent agak tersentil. Panas melihat gambar di majalah itu. Kenapa ia baru tahu soal ini. Hiba tidak pernah melapor kalau Liyun pergi makan dengan seorang pria.
Liyun yang melihat fotonya langsung tersedak air liurnya sendiri. Gawat, ia harus beralasan apa?
"Mati saja aku kali ini. " begitu batin Liyun.
"Pada intinya artikel ini berisikan kalau Jancent kurang memuaskan hormon seksual hingga kalian saling cekcok dan Liyun ketahuan berselingkuh. Dan Jancent menjatuhkan talaknya untuk bercerai karena sebenarnya kalian itu tidak saling mencintai… bagaimana kalian menjelaskan ini pada khalayak umum kalau semua foto bukti sudah tersebar? Reputasi ayah hancur kalau begini. "
Tachibana memijat keningnya. Napas beratnya terdengar. Ia terlihat sangat frustasi.
"Itu semua hoax. Aku dan Liyun kenyataannya selalu harmonis. Mesra juga. "
"Hoax udel mu! Jelas-jelas ayah dengar kau impoten. "
Jancent tertegun, "Siapa yang bilang? "
"Pembantumu."
Duh, ternyata gosip itu masih debut dan mampir ke telinga mertuanya.
"Itu bohong, tidak benar! "
"Katanya juga kalian pisah ranjang! " Tachibana menatap penuh selidik Jancent yang sudah ketar ketir jakunnya naik turun menelan liur sendiri.
"Tidak kok ayah. Aku dan Jancent beberapa kali tidur bersama. Kalau tidak percaya tanya saja pada hayase."
Liyun menyiku lengan Jancent untuk mengiyakan ucapannya. Untung suaminya itu peka kode darinya kalau ia sedang membantunya. Langsung Jancent mengangguk.
Tachibana lebih menyipitkan matanya, menyensor cengiran Liyun yang terlihat mengada-ngada lewat laser matanya.
"Kalian tidur berdua hanya beberapa kali saja! " tangan Tachibana sibuk menggulung majalah di meja tadi.
"Tidak ayah! Maksud Liyun itu setiap hari. Dia salah eja ayah, lidahnya kepeleset. " Sanggah Jancent segera.
Jancent hampir loncat dari sofa karena ayahnya akan melempar majalah itu ke dirinya. Untung kakak iparnya datang disaat yang tepat untuk memenangkan sang ayah.
"Kalem dong ayah, jangan pakai emosi. " Darma memegangi kedua bahu Tachibana. Mengajak ayahnya untuk duduk kembali.
Jangan lewatkan satu atensi yang mulai mengernyitkan dahi. Liyun mulai bersungut-sungut menyadari wajah kakak iparnya itu adalah orang yang mengaku mantannya di pinggir jalan tadi.
"Loh, kau! Kenapa bisa ada di sini? "
.
.
.
.
..
Bersambung...
__ADS_1