Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Mati lampu × 11%


__ADS_3

Liyun menarik tangannya menjauh dari genggam Ryu. Syok adinda dilamar-lamar begitu. Apalagi kalau kakanda Jancent tau, berabe urusannya. Bertumpuk- tumpuk masalah tak kelar-kelar.


Ia baru sadar punya suami murahan yang sibuk kerja di kantor. Pria itu benar-benar penggila kerja. Untung ingat, kalau tidak sudah ia terima pria tampan ini.


"Aku tidak bisa Ryu. "


"Kenapa? " Ryu mengernyitkan alis. Mimik bahagianya berubah sedih.


"Aku harus pulang sekarang. Ternak kadal ayahku belum diberi makan, empang dirumah juga belum dikuras. Aku sibuk Ryu. " alasan Liyun sekenanya. Entah itu masuk akal atau tidak yang penting Ryu tidak menuntut jawabannya lagi.


Beranjak dari tempat duduk, mengenakan kembali tas kulit buaya selempangnya.


"Mau aku antar pulang? "


Liyun menggeleng cepat, "tidak perlu. Tapi, beri aku ongkos untuk naik bis. " nyengir, menadahkan tangan meminta uang pada Ryu.


Sesaat Ryu tersenyum, geleng kepala akan tingkah Liyun yang bar-bar sebelum memberi perempuan itu selembar uang kertas. Perempuan itu benar-benar berubah tiga ratus enam puluh derajat dari saat ia kenal dulu. Lebih liar dari kata dingin, lebih cerewet dari cuek.


"Akan aku tunggu jawabanmu! jangan lupa memikirkannya lagi. " ucap Ryu setengah berteriak karena Liyun sudah berlari pergi lebih dulu setelah diberi uang.


"Aku harap kita tidak bertemu lagi. " gumam Liyun setelah keluar restoran.


Menghindari Ryu adalah hal terbaik. Jangan sampai pria itu mengikutinya.


Cinta bisa membutakan siapa saja. Termasuk mengubah orang untuk menjadi penguntit.


Liyun terburu-buru naik bis saat benda kubus besar itu berhenti tepat di pemberhentian halte. Entah bis jurusan mana yang penting ia naiki saja, untuk menghindari Ryu. Intinya menjauh dulu dari pria itu.


Alis Liyun mengernyit, ada ketakutan di air wajahnya melihat arah bis yang entah akan kemana. Ia tidak mengenal Tokyo dengan luas. Alamat rumahnya yang sekarang saja ia tidak tahu dimana.


Sampai Liyun terpaksa turun di halte pemberhentian berikutnya. Uang ongkosnya habis.


Ada kartu di dalam tas kulit buayanya, tapi Nana tidak tahu persis nomor pin Liyun. Uang tunai juga tidak ada. Dicari di selipan tas atau dompet juga nihil.


"Percuma kaya, duit berjuta-juta kalau dalam kartu gepeng begini. Mana bisa diambil, menyusahkan saja! " omel Nana yang hampir mematahkan card milik Liyun.


Nana menghela napas. Sayang jika patah, isi uangnya banyak. Nanti saja ia tanya solusi pada suami jadi-jadiannya itu. Ia menatap langit-langit, awan cumulus mulai merangkak. Sepertinya hujan akan segera datang.


"Bagaimana ini kalau sampai hujan? apa karena aku selingkuh jadi begini, karma begitu. Tidak bisa pulang ditambah bakal kehujanan. "


monolog Liyun sendiri memerhatikan rintik hujan yang mulai turun mengenai jalanan dihadapannya.


Di Kantor, beda dengan kakanda Jancent yang masih diselubung tanya dari kemarin-kemarin yang belum menemukan pencerahan. Beliau serius memperhatikan obat yang sengaja diambil dari genggaman Liyun tempo hari.


Apa karena meminum obat itu Liyun jadi berubah? Jancent kepo akut.


Tik... Tik... Tik...


Jancent menoleh kaca jendela yang terkena rintikan hujan diluar. Air dari langit itu terhempas angin. Hujan yang cukup membuat kebas, deras sekali.


Jancent merapat, membelai kaca bagian dalam yang mulai berembun. Sudah lama Tokyo tidak diguyur hujan.


Drrrt... Drrrt... Drrrt...


Jancent memeriksa handphone yang bergetar di saku jas, panggilan dari Hiba.


"Tuan, aku kehilangan nyonya. Sekarang aku sedang bersama hayase yang ditinggal pergi oleh nyonya. " lapor Hiba dari ujung telepon.


Jancent menghela napas, memijit batang hidungnya yang kelewat bangir.


"Bagaimana bisa hilang?! aku suruh kau mengawasinya dengan benar. Pasti jelalatan es krim gratis seperti kemarin!"


"Aku tidak terbuai makanan gratis lagi. Tadi ada pria yang--- "

__ADS_1


Jancent melirik hujan yang semakin deras di luar, sekelebat kekhawatiran muncul. Ia kepikiran Liyun.


"sudah-sudah, nanti kau lapor sendiri keruangan ku. Sekarang antar hayase pulang. "


Tut,


Jancent mengakhiri panggilan sepihak. Beranjak kembali ke meja kebesarannya. Menekan pada telepon yang tersemat di atas meja.


Jancent menghubungi pihak karyawan yang berjaga di meja resepsionis untuk menyuruh mereka menyiapkan mobil perusahaan. Tidak lupa membawa payung hitam disisian pintu keluar ruangannya.


"Loh, presdir mau pergi kemana? ini ada berkas yang perlu ditanda tangani. " ucap Mitsuha yang tidak sengaja berpapasan di lorong dengan setumpuk map dalam dekapannya.


"Aku ada urusan sebentar. Semua map itu, kirim saja kerumah. Biar aku periksa nanti malam. " Jancent bergegas pergi.


Mitsuha menghela napas, menatap punggung Jancent yang menjauh. Tidak seperti biasanya CEO itu buru-buru begini. Jancent tipikal orang mageran kalau turun hujan. Tapi kali ini ia akan pergi kemana?


#♥#


Jancent sibuk memperhatikan gedung sekitar dari sesi menyetirnya. Menebak tempat yang mungkin istrinya datangi. Hari ini ada informasi baru debit pengeluaran black cardnya di handphone.


Pengeluaran yang juga lumayan besar dari kemarin. Entah kali ini apa yang perempuan itu beli.


Namun sekarang kakanda panik. Istrinya hilang. Entah kemana perginya Liyun. Tapi kenapa juga Jancent peduli, biasanya ia tidak mau tahu. Maunya tempe.


Hampir tiga puluh menit berkeliling, hati Jancent menghangat mendapati Liyun duduk seorang diri di halte bis. Meringkuk kedinginan, persis anak ayam.


Tanpa berpikir dua kali Jancent langsung parkir di hadapan istrinya. Keluar mobil dengan payung hitam tersemat di tangan, melindungi agar tidak kehujanan.


"Ayo pulang. "


Liyun menatap Jancent yang berdiri dihadapannya. Tersenyum, suami jadi-jadiannya peduli juga.


"Jancent, kau lama sekali! " omel Liyun yang tanpa aba-aba langsung memeluk Jancent.


"Sudah, jangan mendrama. Seperti terdampar di gurun pasir beratus tahu saja. Ayo pulang atau aku tinggal kau sendiri disini! "


"Iya, iya! " ada rasa kesal, namun Liyun tersenyum diam-diam.


Walaupun ucapan Jancent dingin, tapi lelaki itu tidak tegaan orangnya.


Jancent masih berkutat dengan pekerjaannya yang tertunda di kantor. Sekarang ia sedang sibuk bekerja di ruangannya, dirumah usai membawa Liyun pulang. Diluar masih hujan sampai malam.


Suaminya sibuk bekerja, beda lagi Liyun yang sibuk main dengan handphone barunya di kamar. Cekikikan menonton video lucu. Tiba-tiba dehaman seseorang menyadarkan Liyun dari gelak tawanya.


"Sudah ketawanya. " tegas Jancent masuk.


Entah sejak kapan ia membuka pintu kamar Liyun.


Padahal sebelumnya Jancent tidak bisa diganggu gugat dengan tugasnya, atau pekerjaan lelaki itu sudah selesai.


Liyun tertegun, langsung duduk dari mode baringnya. Menatap kesal Jancent yang masuk tanpa mengetuk pintu dulu.


"Kau mau apa? masuk tidak bilang-bilang. "


"Kau saja yang tuli! aku sudah mengetuk pintu sampai tanganku memar. "


Liyun mendengus. Kenapa jadi dirinya yang dibentak.


"Kembalikan black card ku. "


"Aduh, uangnya, kan belum aku habiskan. " Nana membatin.


"Black Card apa? "

__ADS_1


"Ck, jangan pura-pura tidak ingat, Kembalikan! bisa bangkrut lama-lama kau yang pegang."


"Iya, iya. " tegas Liyun mengambil benda yang dimaksud Jancent dalam tasnya.


"Besok kau harus bekerja. Di dunia ini tidak ada yang gratisan. "


"Aku, kan masih pelajar, belum ada ijazah. " tegas Liyun membuat Jancent tidak jadi pergi.


Jancent menatap nyalang istrinya yang beralasan tidak masuk akal.


"Kau itu sudah menikah, sudah bukan pelajar lagi. Kau sudah setara ibu-ibu senam di komplek sebelah... Bahkan kau lulusan S1, setara denganku. Jangan mengadi-nga---"


Tek,


Lampu tiba-tiba padam. Kegelapan yang paling Nana benci. Sesekali siluet petir mengintimidasi. Diluar masih turun hujan. Sepertinya listrik padam akibat hujan petir di luar.


"Jancent, aku takut! " seru Liyun mencari sosok Jancent dalam gelap.


Yang merasa dipanggil sigap menyalakan flash lampu di handphone. Kebetulan Jancent mengantongi handphone. Seperti anak kecil, Liyun langsung memeluk tubuh suaminya, erat.


"Aku cari lilin dulu. "


"Jangan! aku takut sendirian. Takut gelap. "


"Ya justru itu cari lilin biar terang. " jawab Jancent dengan nada setengah meninggi. Liyun terlalu erat memeluk lehernya sampai mencekik rasanya.


Liyun menggeleng brutal, "pakai lampu handphonemu saja, atau aku tidur di kamarmu ya? "


"Kamarku? " Jancent menggeleng. Ia trauma tidur dengan babon gorila.


"Tidak, tidak! Aku temani kau saja disini sampai kau tidur. "


"Tidak mau! nanti kau pergi meninggalkan aku ditengah gelap. "


"Baiklah, aku temani sampai lampunya kembali menyala. "


"Janji nih? "


"Iya, janji. "


Liyun tersenyum bungah, menarik Jancent untuk berbaring dengannya diatas ranjang.


Menatap langit-langit yang terlihat samar, remang-remang pencahayaan dari handphone Jancent berpendar di ruangan yang luas.


Belum lagi aroma shampoo Liyun yang menyeruak dalam penciuman Jancent.


Liyun erat sekali memeluk lengannya, sibuk mendusel dan merapat tubuh suaminya.


Sesekali menghimpit tubuh Jancent saat suara gemuruh petir menggelegar membuat Liyun takut. Namun tanpa sadar Jancent diam-diam kesulitan menahan jantung yang meraung.


Tidak bisakah Liyun tidak membuat dirinya tersiksa karena terlalu berdebar-debar. Tapi kenapa pula.


"Apa aku sudah jatuh cinta pada gorila ini? "


.


.


.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2