
Darimana orang tampan berhakiki macam dewa, sudah jadi bekas. Mengaku memiliki hubungan masa lalu dengan Liyun. Sedangkan ia bukan Liyun yang asli, wanita yang menjadi mantannya itu.
Nana saja baru pertama kali bertemu. Tidak tahu persis kenangan mereka bahagia atau sebaliknya, nama saja belum jelas siapa. Duh, seharusnya pria itu awalnya bertemu dirinya saja, biar tidak disia-siakan Liyun. Sayang loh, kelewat tampan.
"Ki-kita man-tan? " tanya Liyun sekali lagi lebih pelan, memastikan.
Lelaki itu mengangguk, "iya. "
"Ini nona, handphonenya sudah selesai. Mau langsung dipakai atau---" ucap karyawan wanita itu yang terpotong lelaki disamping Liyun.
"Pakai saja. " tegas lelaki itu, mengambil handphone Liyun lebih dulu.
Liyun dan Hayase serempak tertegun. Menatap horor lelaki yang seenak jidat menyentuh handphone baru miliknya, ia saja belum pegang. Sebenarnya siapa sih dia, penyerap kesenangan batur!
"Itu punyaku! " geram Liyun ingin merebutnya, tapi lelaki itu malah akan beranjak.
"Bayar dulu sana! Baru rebut handphone mu dariku. " ucapnya tersenyum, lalu pergi.
"Kurang ajar! "
Alis Liyun mengernyit, kesal. Buru-buru mengambil black card Jancent dan memberikannya pada Hayase.
"Ini apa---"
"Kau yang bayarkan! Setelah itu susul aku. "
Tegas Liyun pergi mengejar lelaki tadi yang masih berjalan santai sambil melempar tangkap handphone miliknya. Tentu Liyun syok melihat tingkah brandalnya itu.
Tangannya mengepal, jalannya lebih cepat sambil dihadiahi lari-lari kecil. Menabrak asal bahu semua orang yang tidak mengalah dengannya. Sudah tahu buru-buru malah menghalangi. Mengumpat dalam hati jika handphonenya sampai jatuh.
Banyak orang dalam gedung, tapi pakaian pria itu paling mencolok sendiri. Bukan aneh, namun terlalu formal.
"Sepertinya dia CEO juga seperti Jancent. "
"Tunggu! kembalikan handphone ku. " Liyun menarik jas belakangnya.
Sesaat ia tertawa, "Kau cepat juga menyusulku. "
"Handphonenya! " geram Liyun menadahkan tangan, tidak peduli ucapan pria itu.
Untuk kesekian kali lelaki itu tertawa ringan. Liyun heran, bagian mana yang lucu bagi dirinya. Padahal ia sedang tidak melawak.
"Iya, iya, cantik. "
Ia benar-benar mengembalikannya kali ini. Sudah puas dirinya mengerjai Liyun setelah lama tidak bertemu. Tidak ingin membuat Liyun menangis nantinya.
Blus, spontan kedua pipinya bersemu merah muda dibilang cantik barusan.
Jancent yang tampan saja belum pernah membuat pipinya semerona ini. Tapi orang aneh yang mengaku mantan sekaligus membuatnya kesal, malah membuat dirinya malu-malu bebek sendiri. Tidak marahlah jadinya dikatain cantik.
"Hm? " Liyun tertegun melihat kontak nomor yang tertulis di layar handphonenya,
"Ryu? "
Yang merasa pemilik nama berdehem,
"Iya, itu nomorku. Jangan sampai dihapus, ingat!"
"Sudah lama aku mencari informasi tentangmu. Dari tempat kuliah, rumah sewaan yang mungkin kau tempati selama kuliah, mendatangi alamat rumah yang dulu, tapi mereka bilang keluargamu sudah pindah. Menghubungi nomor lamamu berkali-kali yang aku tahu, itu tidak akan tersambung. " perjelas Ryu.
Perasaan Nana menghangat. Ternyata ada juga model mantan macam Ryu yang masih bucin walaupun sudah putus. Iri sekali pada Liyun yang punya lelaki sepenyayang Ryu. Kenapa mereka harus putus?
"Kenapa pipimu sangat merah? "
Tangan Ryu diam-diam menyentuh pipi Liyun yang semakin merah saat ia pegang.
"Sudah tahu aku tersipu, malah pipiku dipegang. " Batin Nana; dengan berani menepis tangan Ryu. Sesaat tertawa pongah,
"Mungkin karena suhunya panas... Iya, panas. " jawab Liyun sekenanya mengipas-ngipasi wajah dengan tangan.
Namun Ryu tahu Liyun tidak kepanasan. Wong ACnya dingin begini. Dasar wanita, alasannya selalu tidak tepat.
Ryu tersenyum, yang tololnya tingkah pria itu membuat pipi Liyun semakin merah akan menyemburkan lava vulkanik.
"Nyonya... Nyonya... " teriak Hayase yang terdengar samar bercampur musik ruangannya.
__ADS_1
Pembantunya itu masih bingung mencari Liyun yang entah lari kemana di ratusan orang berseliweran dan luas gedung yang bukan sekecil kamar mandi. Belum lagi banyak etalase yang menyilaukan mata juga papan iklan yang lebih dari satu.
"Hm, hayase... " gumam Liyun dapat mendengar samar suaranya.
"Mau aku tunjukkan hal seru? "
"Apa? " Ucap Liyun tanpa minat sebenarnya. Ia masih celingukan mencari batang hidung Hayase.
"Lari."
"Lari? " Liyun masih tidak mengerti maksud Ryu.
"Ayo lari! " seru Ryu menggandeng tangan Liyun untuk ikut lari bersamanya.
Masa bodoh pada Hayase yang kepayahan mencari Liyun.
"Aduh, nyonya dimana sih? bisa digantung aku kalau pulang tidak bawa nyonya. "
Keluh Hayase masih mencari sambil meremas black card dan menenteng paper bag putih berisi kotak handphone Liyun.
#♥#
Kali ini Liyun kepanasan betulan. Pelarian tadi lumayan membuatnya berkeringat. Ngomong-ngomong ia tengah duduk menunggu Ryu dibangku taman, dibawah pohon pinggir jalan.
Ryu bilang ingin membeli minuman sebentar.
"Eh, jangan! " Ryu mencekal tangan Liyun yang akan menyeka keringat di dahinya dengan lengan pakaian dan segera memberi perempuan itu tisu. Untungnya ia juga beli tisu tadi.
"Ini, minum. "
"Terimakasih. " Liyun tersenyum.
Ryu duduk disisian Liyun, ikut meneguk rasa minuman yang sama.
"Woah... Segar sekali. Sudah lama aku tidak berlarian seperti tadi. "
"Mau jogging setiap hari denganku? "
"Eh! tidak kok. "
"Tidak! boro-boro pacar, kenalan saja tidak ada. " tegas Liyun dengan lantang.
Lalu Jancent yang sebelumnya dibilang tampan, diaku suami dikemanakan?
"Oh... Mau makan siang bersama? "
Liyun diam. Jika ditolak ia lapar, tapi jika diterima, black cardnya ada pada Hayase.
"Tenang, aku yang traktir. " Ryu seolah tahu apa yang Liyun pikirkan.
"Okelah, ayo! " teriak Liyun saking semangatnya, berjalan lebih dulu di depan.
"Kau ingin jalan kaki? aku membawa mobil loh. "
Tin... Tin...
Ryu menekan kunci mobilnya agar mobil yang terparkir di seberang jalan miliknya bersuara. Lagi-lagi Liyun dibuat salah tingkah oleh Ryu.
Mereka berhenti di depan restoran sushi yang terkenal enak itu. Model bangunannya juga tradisional dan terlihat asri walaupun di tengah ibukota.
Banyak juga pengunjung yang datang. Dari anak-anak sampai lansia ada, bersama keluarga atau orang terkasih mereka. Para pelayannya juga ramah menyambut.
"Tidak apa, kan aku ajak makan disini? aku sudah lama tidak makan sushi. "
Liyun mengangguk, "tidak masalah. Aku bisa makan dimana saja, asalkan tempatnya nyaman dan makanannya enak. "
Ryu tersenyum, "kau banyak berubah ya Li, selama kita putus. "
"Hm? " Nana merutuki dirinya dalam hati. Mana ia tidak tahu berubah dari kadar apanya.
"Hahaha... Bisa jadi sih, tapi aku masih sama kok. "
"Aduh, aku ini bicara apa sih! " batin Nana.
Tidak lama pelayan datang menengahi obrolan keduanya, beruntung Nana dapat bernapas lega. Menyajikan pesanan Ryu yang sebelumnya ia pesan untuk mereka.
__ADS_1
Kegiatan makan keduanya berlangsung sunyi tanpa obrolan. Sibuk mengunyah sushi masing-masing.
Liyun berdeham sesekali, mengusir canggung karena Ryu tengah membalas chat dari seseorang. Entahlah siapa itu.
"Kenapa? kau bosan ya, aku cuekin. " Ryu memasukkan handphonenya di saku jas bagian dalam.
"Tidak kok. " jawab Liyun sewot yang malah jadi hiburan bagi Ryu.
Pria pemilik dimple itu tersenyum gemas.
"Memangnya kau tinggal dimana? kenapa mencariku? "
Liyun memberanikan diri bertanya, walaupun tidak yakin akan menjawab seperti apa jika Ryu balik bertanya.
"Setelah lulus SMA, aku kuliah di London. Itu sebabnya aku rindu sushi buatan orang Jepang. Di Sana ada, tapi tidak seenak disini. "
Liyun mengangguk-angguk, "terus, kenapa kita putus? "
Ryu mengernyitkan alis.
"Hm, aku pernah kecelakaan sebelumnya dan sebagian kecil ingatanku hilang. " Liyun beralasan sepintar mungkin.
"Pantas saja kau tidak mengenalku, ternyata ... Seharusnya kau memberitahuku dari awal. "
"Alasan kita putus... Kau-nya selingkuh. "
"Aku! " teriak Liyun spontan dan berakhir terbatuk-batuk, tersedak saking terkejutnya.
"Hei, hati-hati. " Ryu memberi Liyun minuman miliknya.
"Tentu bukan. Aku bohong tadi... Aku yang jahat, aku yang mau kita putus karena aku akan pergi kuliah di London. Dan kau belum lulus SMA waktu itu, masih setahun lagi. Aku takut membuat nilai ujianmu buruk karena terus memikirkan aku nantinya. "
"Tidak, kau tidak jahat. Buktinya kau traktir aku makan. " Liyun kembali meneguk minuman milik Ryu.
"Kau masih ikut klub tinju? "
Spontan Liyun tersedak es batu. Batuk lagi kemudian.
"Kau bercanda? "
Ryu menggeleng, "tidak, serius. Kau pernah menang medali emas dulu. Kau juga sering mengajakku ke klub latihanmu."
"Ah... Klub itu... " Liyun sumringah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tidak tahu menahu soal hobi nyonya besar satu ini.
"Aku su-dah tidak per-nah kesana sejak kecelakaan yang menimpaku tempo hari dan dokter juga tidak menyarankanku untuk bermain tinju lagi. "
Hati-hati Liyun memberi penjelasan yang masuk akal.
"Untung aku pintar ngehalu dulunya. " batin Nana.
Ryu mengangguk, sesaat menggenggam tangan Liyun yang sejak tadi bergerak tak konstan diatas meja. Ia ingin mengungkapkan alasannya kembali mencari Liyun.
"Li... Liyun... Dulu aku menyesal tidak menyuruhmu menungguku. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu menunggu hal yang bisa jadi tidak ada kepastian... "
Liyun diam, panas dingin tangannya digenggam. Jantungnya berantakan detakannya. Masih setia menunggu Ryu melanjutkan.
"Selama beberapa tahun ini, perasaanku masih sama padamu... Liyun, aku ingin kita kembali seperti dulu, kita pacaran lagi... Aku janji tidak akan pergi seperti dulu. "
Deg,
"Gawat, kenapa malah begini! "
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...