
...Matur thank you ...
...untuk dyah anggraeni yang selalu memberi like....
...Juga; ...
...gadis sandman, garang anggriawan, moon struck traveller, squigglymunchkin, manah dabukke, snugglekitty, margoandme, wartini, widya pertiwi, blouses and houses, sweetwhimsy, flowerbean, eja drajat adriansyah, adalahdarling, dan peto yang sudah jadi koleksi papan komentar IRCI....
...Di tunggu ID hebat lainnya......
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
Bug,
Jancent langsung meninju rahang Arata saat pintu baru dibuka sampai ia terhuyung jatuh. Aika, bocah empat tahun itu seketika menjerit melihat sang ayah yang tiba-tiba dipukul.
Bocah itu menangis penuh ketakutan memanggil ibunya yang datang dari arah dapur.
Para polisi menatap horor Jancent, gesit sekali tindakannya.
"Anda tenang dulu presdir Jancent. " tegas salah satu anggota polisi itu menahan tubuh Jancent untuk tidak memukul Arata lagi.
"Ibu!, ayah... " rengek Aika yang langsung di gendong sang ibu.
Raut wajah istrinya sama terkejutnya dengan Aika. Kenapa tiba-tiba suaminya dipukul? dan kenapa ada banyak polisi yang datang?
Arata menyeka sudut bibirnya yang terasa asin, hidungnya dapat mencium bau anyir, bibirnya berdarah.
Perlahan Arata melirik wajah Jancent, ia ingat pernah memberi tisu basah dan plester luka padanya saat di bis. Sekilas seringai merekah dibibir Arata, ini yang disebut air susu dibalas air tuba.
Seorang polisi yang merupakan tetangga Arata langsung membantunya berdiri.
"Maaf sudah membuat keributan. Kami dari kantor polisi... " ketua polisi itu menunjukkan kartu identitasnya pada istri Arata.
"Tujuan kami kesini untuk membawa saudara Arata untuk diperiksa dengan tuduhan penculikan istri presdir Jancent. Mohon kerjasamanya. "
"Penculikan? " istri Arata tertegun, banyak pertanyaan yang langsung meracuni pikirannya.
Bagaimana bisa suaminya dituduh menculik istri orang?
Suaminya saja sibuk melatih klub baseballnya untuk lomba pekan depan.
"Menculik siapa?! Istri siapa?! Yang seharusnya kalian tangkap orang itu! kenapa dia tiba-tiba memukulku, memangnya aku berbuat salah apa padanya! " geram Arata menunjuk-nunjuk Jancent penuh emosi.
Merasa diprovokasi, Jancent langsung mengepalkan tangannya kembali akan meninju Arata kalau tidak dihalang polisi.
"Saudara Arata bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi, mohon kerjasamanya. Selamat malam. "
Para polisi itu langsung pergi menyeret Arata yang memberontak ke dalam mobil dinas, tidak lagi peduli dengan tangisan sang anak dan istri yang meronta meminta polisi untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Aku sudah bilang tidak mengenal istrimu, apalagi menculiknya! " sangkal Arata setelah sampai kantor polisi.
Mereka segera menginterogasi Arata dini hari itu juga. Mengunci Arata di ruang interogasi dengan beberapa polisi dan Jancent. Geram Arata ditanya ini itu pasal Liyun.
"Dia pergi setelah kau membeli di tokonya, toko LY fashion! Sekretarisnya juga bilang kalau liyun sempat menanyakan mu sebelum dia pergi ... Bisa saja, kan kau pura-pura tidak tahu di depan kami dan ternyata diam-diam memutilasi istriku yang entah kau buang dimana! "
Arata menyeringai, membuang muka sejenak sebelum membalas tatapan Jancent. Sedikit lucu mengetahui pemilik toko LY itu adalah Liyun, kenapa dirinya ikut terseret dalam permasalahan pelik hilangnya istrinya dari sekian banyak pembeli brand best seller itu.
Sial, seharusnya ia tidak shopping disana.
"Benar, aku belanja disana, tapi untuk apa aku melakukan itu, kurang kerjaan. Memangnya apa hubunganku dengan istrimu sampai memfitnah ku seperti itu! Kita saja tidak ada satu jam bertemu dalam bis. "
"Liyun bilang, kalian sudah bersama sejak kelas dua SMA. Bisa saja kau membual tidak mengenal istriku. "
Arata tergugu, otaknya seperti mendidih saking marahnya. Gemar sekali presdir itu memojokkan dirinya. Atau Jancent sengaja memfitnahnya sebab cemburu atas peristiwa dalam bis itu.
Wajah Arata bersungut, bosan mengulang kalimat yang sama. Sampai dirinya jungkir balik pun tetap saja tidak ada yang membelanya. Baru kenal di bis tapi rumitnya seperti sinetron beratus-ratus episode.
#♥#
Liyun menyibak selimut, bergegas keluar kamar dengan mata yang masih memejam. Ia terbangun karena mencium aroma wangi masakan dari dapur.
Berjalan tertatih, tanpa sengaja ujung kakinya tersandung sesuatu sampai mata lengket itu terbuka lebar, meringis dibarengi tangan yang mengucek mata.
"Good morning. "
Sapa Ryu sambil meniriskan omelet diatas piring dan membawanya ke tengah meja makan untuk sarapan.
"Woah... Kau jago memasak juga. "
Ryu tersenyum, bukan karena dipuji. Heran, kenapa wanita di depannya tetap cantik meski rambutnya berantakan dengan muka bantalnya.
"Tidurmu nyenyak? "
Liyun mengangguk, "kasurmu empuk sekali dan sangat nyaman ... Maaf ya, membuatmu tidur di sofa. "
Liyun terus bercerita selama mengunyah makanannya yang sesekali membuat Ryu terkekeh karena beberapa bulir nasi muncrat dari mulutnya. Spontan Liyun diam, tidak lagi berceloteh mendengar nada dering handphone miliknya.
"Sepertinya handphone mu. "
"Perasaan aku belum mengaktifkan handphone ku. "
"Aku yang mengaktifkan handphone mu karena baterainya sudah penuh dan mengisi daya handphone ku. "
Liyun beranjak mengambil handphonenya didekat TV. Ada banyak panggilan tak terjawab dan spam chat Jancent yang menumpuk. Beberapa nomor asing juga muncul dalam daftar panggilan tak terjawab dan kontak Kana juga ikut tertera.
Adinda sampai pegal membaca spam chat Jancent, jika dirangkai bisa sepanjang cerpen lima halaman. Liyun abai, memilih melanjutkan sarapannya. Ia tidak bisa berpikir jernih kalau perutnya kosong.
"Mau aku belikan baju ganti untuk kerja? "
Liyun terkejut yang hampir tersedak. Baik sekali mantannya itu. Sudah di masakan sarapan, dibelikan pakaian dan tidur di kasurnya, sekarang Ryu masih ingin repot membelikan pakaian lagi untuknya kerja. Benar-benar suami idaman para kaum hawa.
Liyun menggeleng, "tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu lagi. Cukup antar aku pulang saja untuk ganti. "
Ryu mengiyakan, sudah waktunya Liyun untuk pulang. Kebersamaannya tadi malam tidak akan ia lupakan.
Ryu bahagia walau sesaat. Ia sadar perempuan itu bukan miliknya lagi sekarang. Lagi-lagi rasanya dicampakkan itu kambuh. Sulit sekali menemukan obat yang cocok untuk rasa itu.
"Stop! Berhenti disini saja. " tegas Liyun
Ryu mendadak menginjak rem tepat di dua rumah sebelum kediaman Jancent.
Menoleh Liyun, "kenapa berhenti disini? Sedikit lagi sampai rumahmu. "
__ADS_1
"Tidak, berhenti disini saja. " Liyun langsung membuka seatbeltnya.
"Benar tidak mau aku antar sampai dalam? "
"Iya, aku tidak mau kau dipukul lagi oleh jancent ... Terimakasih Ryu. " Sejenak Liyun melambaikan tangan sebelum membuka pintu mobil dan pergi.
Merasa tidak puas melihat Liyun pergi dari dalam mobil, Ryu keluar, berdiri di sisi pintu mobilnya. Tersenyum hangat menatap Liyun yang berlari masuk ke kediaman Jancent.
"Itukan ryu... " gumam Hiba setelah Ryu pergi dengan mobilnya.
Diam-diam sejak semenit lalu, Hiba memperhatikan keduanya dari kejauhan. Maksud hati ingin menjemput sang bos, malah menang lotre pagi hari.
Hiba tersenyum miring, berangan dapat tip besar jika ia melaporkan apa yang dilihatnya tadi.
#♥#
"Nyonya! "
Ema langsung berlari menghampiri Liyun yang baru masuk rumah. Asisten rumah tangga lainnya juga ikut mengerumun, macam semut melihat gula.
Mimik wajah mereka penuh haru bahagia, sangat dramatis seperti tidak pernah bertemu majikan bertahun-tahun.
"Kalian ini kenapa? "
"Nyonya pergi kemana saja? Tuan sangat khawatir mencari nyonya sampai meminta bantuan polisi karena tuan kehilangan kontak dua puluh empat jam dengan nyonya. " celoteh Hayase sambil sesekali menghapus air mata dipipi.
Aduh, Liyun jadi ikut terhura mendengar suami jadi-jadiannya yang mulai bucin. Kalau begitu ia kabur saja dari rumah setiap hari.
Alay juga CEO dingin, arogan, tampan, dan si pemilik hati seangkuh karang itu kalau sudah dibutakan cinta. Kekuatan cinta memang tiada tara.
Liyun hanya manggut-manggut, ber-oh riya meninggalkan semua asisten rumah tangganya untuk menemui Jancent yang katanya dilanda rindu tidak bertemu sehari sampai kehilangan akal membawa-bawa polisi.
Memangnya ia buronan. Tapi senang juga jadi buronan CEO kaya bin tampan.
Liyun berdecak, menipiskan bibirnya melihat Jancent yang tengah tidur di ranjangnya. Mendengkur halus yang jelas terdengar.
Mana yang katanya khawatir, hilang akal ditinggal pergi tanpa kabar?
Jancent malah tidur nyenyak di kamarnya.
Srek,
Liyun langsung membuka hordeng supaya sinar matahari pagi menyorot wajah Jancent.
"Jancent bangun! Kau tidak pergi bekerja? Lihat sudah jam berapa sekarang! "
"Hm... " Jancent menggeliat, merubah posisi memunggungi Liyun.
Jancent kesal dengan orang yang tiba-tiba membuka hordeng. Mengganggu tidurnya saja. Tapi mata itu melotot kemudian,
"Seperti suara Liyun? ... Ah, hanya salah dengar. " Jancent menarik selimutnya, mencoba untuk tidur kembali.
"Memang aku yang bicara Jancent! Kau pikir setan! "
"Hah, Liyun! "
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...