Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Rumor × 29%


__ADS_3

"Kembalikan handphone ku. "


Tangan Liyun menadah, meminta barang miliknya yang Jancent sita. Ngomong-ngomong mereka di toilet.


Liyun dengan brutal menyeret Jancent masuk ke toilet setelah meeting selesai karena lelaki ini mulai berlagak dengan Ryu. Mereka berdua seperti kucing dan anjing jika bertemu. Kapan akurnya, adinda pusing lihatnya.  


"Aku akan kembalikan, tapi kau jawab dulu dengan jujur. Apa yang ryu lakukan padamu? Kau tidak seperti biasanya. "


"Dia tidak melakukan apa-apa padaku, sekarang kembalikan. " tegas Liyun tanpa menatap lawan bicaranya. Untuk kedua kalinya ia menadahkan tangan. 


"Bohong. " Jancent menyematkan kedua tangannya di dalam saku celana. 


"Jangan memancing emosiku! Aku tidak ingin berdebat denganmu. " gertak Liyun meninggikan wajahnya menatap Jancent. 


Sesaat lelaki itu tertegun, ia menangkap kesedihan diiris mata wanitanya. Entahlah, Jancent tidak yakin kesedihan apa yang istrinya rasakan. 


Lama keduanya saling menatap hingga Jancent memberanikan diri mendekatkan wajahnya. Jakunnya naik turun sejak tadi melihat ranum tidak bertulang milik Liyun. Ia ingin menyentuh ranum merah muda itu. Berharap menghilangkan kesedihan istrinya. 


Diam-diam Jancent memiringkan kepala bersama kedua mata yang perlahan mengatup. Hampir satu centimeter lagi ranum keduanya menyatu, dorongan tangan Liyun didada Jancent memberi jarak. 


"A-aku tidak bisa... Aku tidak mau disentuh bibir kotormu itu. "


"Hah? " Jancent tertegun, tidak paham maksud dari kotor itu sendiri. 


"Ryu bilang, kau mencium mitsuha sampai dia pingsan seperti itu. Kenapa kau tidak jujur padaku, brengsek! "


"Bajingan itu! " batin Jancent, sebelah tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya. 


"Kau bilang akan mencintaiku mulai sekarang, tapi kau mengkhianati ku lebih dulu! "


Jancent termangu, apa istrinya ini cemburu? 


Apa Liyun mulai menaruh perasaan juga padanya? 


Spontan Jancent tertawa. 


Liyun mengernyitkan alis, kenapa suaminya tertawa?


Jancent sudah tidak waras?


"Aku baru percaya sekarang kalau cinta itu membutakan. Kau langsung percaya begitu saja pada kebohongan yang ryu katakan... Dengar, sebenarnya aku hampir meninju wajah dia di lift. Tapi ryu sepertinya semakin ahli menghindari pukulan ku dan tidak sengaja meleset pada mitsuha yang tiba-tiba berdiri disana, akibatnya dia yang terluka. Sepertinya mitsuha bermaksud melerai kami, "


"Aku tidak tahu tulang rahangnya itu akan retak atau malah tulang hidungnya, aku saja tidak melihat jelas memukul bagian wajah yang mana. " tambah Jancent. 


Liyun cengo, masih tidak percaya kalau Ryu yang ia anggap malaikat tanpa sayap membohonginya. Tapi bisa jadi Jancent hanya membual. 


"Kau benar-benar mencintaiku ya, sampai takut dicampakkan. " Jancent mencolek bagian bawah dagu Liyun dengan seringai mengejek. 


"Ti-dak, siapa juga yang mencintai pria menyebalkan seperti mu dan juga aku tidak berharap serumah dengan mu. "

__ADS_1


"Mulai bawelnya. " Jancent tersenyum, mengusak pucuk kepala istrinya. 


Hati Jancent menghangat, ia lega wajah Liyun kembali seperti biasa. Jangan lupakan rona merah muda yang menyembul di kedua pipi itu. 


Liyun tidak bisa mengungkiri kalau detakan jantungnya benar-benar acak sekarang. Hanya perlakuan kecil, tapi mampu menghipnotis tubuhnya untuk tersipu. Suami jadi-jadiannya ini manis juga, mungkin jika ia memiliki ekor akan bergoyang kiri kanan karena senang. 


"Sudah, nanti rambutku mirip singa! ... Aku mau pulang. Antar aku pulang sekarang, tidak menerima penolakan. "


"Iya, iya. " jawab Jancent sembari mencubit pipi Liyun. 


Ryu menghela nafas, sejak tadi menahan sakit di hatinya setiap melihat senyum kedua orang itu. 


Mungkin jika Ryu tidak mencari Liyun, dirinya tidak akan melihat kemesraan mereka. Seharusnya ia tidak terlalu mencintai istri orang lain yang hanya membuat luka hatinya menumpuk dengan kesedihan tiada batas.


#♥#


Siang itu Jancent langsung mengantar Liyun pulang sendiri tanpa Hiba. 


Mereka tidak pernah berpikir sesuatu merepotkan sedang menunggu dirumah. Tidak juga mengira-ngira kalau Tachibana akan hanyut dalam scenario hamil pura-pura anak dan menantunya. 


Keduanya dikejutkan oleh para asisten rumah tangga yang riuh menyambut majikannya pulang. Taburan kelopak bunga, terompet abal-abal ditiup disana sini, kalung dari bunga kertas sudah mengalung di leher Jancent dan Liyun, dan bla bla lainnya sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. 


Memangnya ini tahun baru!


Untung tidak melakukan upacara bendera. 


"Ini bukannya kereta bayi? Kenapa ada disini? "


"Kau kira apa? Gerobak. " sahut Jancent. Ia juga sebenarnya terkejut melihat ruang tamunya penuh peralatan bayi. Memangnya siapa yang lahiran. 


"Kau yang membeli semua ini? "


Jancent langsung menggeleng. Kurang kerjaan sekali ia membeli semua itu. 


"Tadi pagi ayah nyonya datang memberi berita menggembirakan pada kami semua, kalau sebentar lagi ada baby Jancent dirumah ini. " perjelas Hayase. 


"Beliau meminta aku dan beberapa bibi yang lain untuk ikut dengannya berbelanja peralatan bayi. " tambah Ema. 


"Ayah! " pekik kedua majikannya bersamaan. 


"Kenapa tuan dan nyonya merahasiakannya dari kami, kan kami bisa lebih perhatian lagi pada nyonya. " sahut bibi lain. 


"Apa tuan takut kami bergosip soal tuan yang impoten?... Tenang saja, kami tidak akan menggosipkan itu lagi. Tuan sudah gagah menghamili nyonya. " 


Jancent mengusap wajah frustasinya dengan semua tingkah mereka. Kakanda stress menghadapi mertua yang begitu eksaited menjadi seorang kakek. 


Sebelah mata Liyun berkedut melihat kegilaan yang terjadi. Lidahnya kelu sekedar menjelaskan bahwa sebenarnya ia tidak hamil. Mereka semua ditipu, namun tidak mungkin dirinya bisa berkata begitu.


Drrt... Drrt... Drrt

__ADS_1


Jancent merogoh saku jasnya yang bergetar, sejenak memeriksa panggilan masuk di handphonenya. Seketika mata itu terbelalak membaca nama yang tertera di layar. 


"Siapa? "


"Aku keluar sebentar. " Jancent menepuk lembut bahu Liyun sebelum pergi menjawab teleponnya. 


Lagi, Liyun ditinggal sendiri dengan semua kekacauan yang hampir membuat kepalanya pecah. 


***


Keduanya sibuk menatap sesuatu. Liyun memunggungi Jancent yang sama-sama belum tidur. 


Pukul sembilan malam, masih terlalu sore untuk istirahat lebih awal. Biasanya jam segini mereka sudah berlabuh dalam mimpi. Entah kenapa keduanya masih betah melotot. 


Padahal mereka menjalani aktivitas melelahkan siang tadi, tetap saja tubuh mereka menolak untuk tidur. Keduanya sibuk dengan pikiran sendiri. 


Jancent tidak tahu apa yang dipikirkan Liyun atau perempuan itu sudah tidur. Ada sesuatu mengganggu pikirannya sejak tadi. Ia tiba-tiba ingin memiliki keturunan dari Liyun, meski dirinya tahu betul istrinya pernah bilang tidak menginginkan keturunan dari pernikahan mereka. 


Namun rumor itu tetap meresahkan bahkan jadi beban jika tidak benar-benar membuat Liyun hamil. Bila kebohongan mereka terbongkar, Jancent takut akan membahayakan nyawa Tachibana. 


Ingat, ayah mertuanya itu punya penyakit riwayat jantung. 


Bahkan yang mengejutkan lagi, berita kehamilan Liyun sudah sampai telinga ayah dan ibunya di Indonesia. Tiba-tiba Jancent ingat pesan ayahnya yang tadi menelpon. 


"Liyun, kau sudah tidur? "


Liyun berdehem, membenahi posisinya menghadap Jancent. 


"Belum... Entah kenapa aku tidak bisa tidur. Berita kehamilan itu sangat mengganggu. Kita harus berbuat apa supaya rumor itu hilang? "


Jancent menghela nafas, "ya, tidak ada jalan lain selain melakukan ... itu. "


"Ais... Jangan macam-macam! " spontan Liyun menggertak, memukul lengan Jancent. Ia tahu arah pikiran lelaki itu. 


Seketika Jancent tersenyum, memeluk tubuh istrinya. Gemas sekali melihat Liyun dalam mode kesal begini. 


"Bagaimana kalau kita liburan satu minggu ke Indonesia untuk menghilangkan stress, sekaligus menjenguk ayah dan ibuku?... Tadi ayahku menelpon, katanya ibu rindu aku dan ingin bertemu denganmu. "


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2