Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Banana boat × 35%


__ADS_3

...Have a nice day...


...Maaf author kurang performa nulis bab ini...


...Sedihe, huhuhu...


.


.


.


.


.


.


.


.


Betapa sulitnya memilih diantara dua jurang. Sama-sama mencintai dan sama-sama sulit melepaskan. Hati Jancent bimbang, terombang ambing. Tidak bisa mengorbankan salah satu. 


Jancent tidak ingin kehilangan keduanya. Sungguh serakah. Irisnya menatap sendu Liyun yang tertidur di sofa. Ia baru kembali ke villanya. Semalaman Jancent menemani Wina sampai tertidur. Bejat sekali dirinya.


Perlahan ia menghampiri istrinya yang tidak terusik sama sekali akan kehadirannya. Bersimpuh, menatap wajah lelah terlelap itu teramat dalam. 


"Apa kau menunggu ku sampai tertidur disini? " 


Tanya Jancent, yang ia tahu Liyun tidak akan menjawab. Tangannya terulur membenahi anak rambut di pipi istrinya.


"Aku brengsek… aku tidak pantas untuk mu. Ini sangat sulit… tapi aku juga mencintaimu. " Gumam Jancent lirih. Ia tahu Liyun tidak akan mendengarnya. 


Pernyataan Wina semalam terus berputar di pikirannya seperti piringan hitam rusak. Terngiang-ngiang melebihi mimpi buruk. Dengan biadab hatinya gembira. 


Jancent menggendong Liyun, memindahkan istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang. Sesaat Liyun bergumam halus, kesadarannya terguncang. Sepasang mata itu terbuka. 


"Jancent… kapan kau kembali? Aku mencarimu, tapi kau tidak ada dimana-mana? " Tangan Liyun mencekal tangan Jancent yang berniat menyelimuti tubuhnya. 


Jancent tertegun, menoleh. Mulutnya tidak berniat mengatakan apapun. 


"Aku takut kau marah dan meninggalkan aku disini… maaf semalam aku--- "


"Jangan dibahas lagi. Aku sudah lupa… aku tidak akan memaksamu lagi untuk melakukan itu. " potong Jancent menjauh, mengambil jubah mandinya. 


Diam, Liyun menatap punggung Jancent hilang di balik pintu kamar mandi. Sekilas dahinya menekuk. Apa terjadi sesuatu pada suaminya itu? 


Jancent sedikit berbeda dari biasanya. 


***


Shuup… ah… 


Liyun geleng-geleng kepala menyesap air kelapa muda dari tempurung hijaunya langsung. Kesegaranya meluncur seketika sampai lambung. Kembung matanya menatap indahnya pantai Kuta. Teramat cantik, benar-benar surga dunia.


Ngomong-ngomong Jancent mengajaknya ke pantai. Suaminya bilang nanti malam mereka akan pulang ke kediaman Yancent. Tidak afdol kalau belum berkunjung ke pantai yang menjadi maskot pariwisata terkenal di Bali itu di hari terakhir sebelum pulang. 


Namun entah dimana Jancent sekarang. Ia meninggalkan Liyun sendirian dibawah payung setelah membelikannya kelapa muda.

__ADS_1


"Dia kemana lagi sih? " gerutu Liyun celingukan. Memeta luasnya pantai yang dihuni orang banyak. Dari anak-anak sampai orang dewasa, turis asing maupun lokal. Tetap saja ia tidak melihat batang hidung Jancent.


Jancent yang mengajak, ia juga yang meninggalkan. Liyun memilin sedotannya, kesal dari semalam ditinggal sendiri. Suaminya bilang tujuan mereka kesini untuk bulan madu, tapi ia malah ditinggal sendirian setelah pesta anniversary pernikahan. 


"Boleh aku bergabung? "


Liyun tertegun, melirik sepasang kaki mengenakan sandal di sampingnya. Spontan senyumnya mengembang. 


"Jancent, kau--- "


Seketika Liyun kicep, senyumannya melayu saat ia mendongak melihat seseorang yang datang bukan pria yang ditunggu. Mimik bungah itu berubah heran, alisnya menyatu. 


"Ryu? Bagaimana kau bisa ada disini? "


#♥#


"Dimana jancent? " Ryu balik bertanya sambil menoleh kiri kanan. Tidak menjawab seperti pertanyaan perempuan itu.


Liyun menghela nafas, lebih memilih menyeruput kelapa mudanya. Ia jadi kesal kembali diingatkan soal Jancent yang entah hilang kemana. 


Sesaat Ryu ikut duduk di sisi kosong samping Liyun. Ia paham apa yang kemungkinan terjadi dan sudah memprediksi akan seperti ini akhirnya. Beruntung sekali dirinya datang di waktu yang tepat. 


"Aku akan merebutnya darimu, jancent. " batin Ryu berseringai miring. 


Dua hari lalu Ryu membayar seseorang untuk mencari informasi tentang keberadaan Jancent dan Liyun. CEO itu tidak hadir dalam meeting yang hanya diwakilkan kepada Mitsuha. Ia juga curiga pada Liyun yang tidak ada di tokonya lewat Kana. Pegawainya bilang Liyun cuti tanpa keterangan lain. 


Aneh jika keduanya rehat bersamaan tanpa alasan, begitu pikir Ryu.


Semua rasa ingin tahunya terjawab sudah ketika orang suruhannya melapor kalau Jancent mengajak Liyun mengunjungi orang tuanya di Indonesia. Namun ada satu fakta yang tidak Ryu ketahui sekaligus menjadi senjata ampuh merebut mantannya kembali.


Ryu bersyukur Tuhan mempertemukan Jancent dengan Wina, mantan terkasih CEO songong itu. Kenapa tidak bertemu saja sejak awal!


Tuhan terlalu baik memberinya kesempatan untuk memiliki Liyun kembali. Bahkan saat Ryu datang, Liyun terabaikan oleh Jancent yang pasti lebih mempedulikan Wina. 


Liyun belum menjawab, masih menatap telapak tangan yang tampak memerah terkena sengatan matahari. 


"Sudah jangan pikirkan jancent. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan pacarnya. "


"Apa maksudmu? "


"Sudahlah ayo! "


Ryu menggenggam paksa tangan Liyun, mengajaknya naik wahana yang dimaksud. Membuat Liyun sejenak lupa sedang memikirkan Jancent. 


Liyun juga mendadak lupa untuk menuntut maksud perkataan Ryu tadi, Jancent bersenang-senang dengan pacarnya? 


***


Kalian tahu, prediksi Ryu sangat tepat. Jancent sibuk mengamati Wina dibalik kru dan tiang-tiang tripot, monopod, payung reflektor yang sedikit menghalang penglihatannya. Jancent geregetan, tapi tidak bisa menyingkirkan semua benda itu. 


Wina sedang serius berpose untuk majalah terbaru akhir tahun dengan tema pantai. Meliukkan tubuh seerotis mungkin, menajamkan tatapan, memikat siapa saja. Tidak ada yang bisa menolak pesonanya. 


Mantannya itu terlihat sexy memakai bikini sampai Jancent tidak menoleh ke lain, barang sekali saja. 


"Kau menungguku? " tanya Wina mendekati Jancent setelah gilirannya usai. 


Jancent mengusap tengkuknya canggung. Sial, ia ketahuan menunggu. 


"Ah, aku tidak sengaja jalan-jalan di sekitaran sini dan melihat ada banyak kru, terus benda-benda itu tampak tidak asing mengingat kau seorang model jadi … apa salahnya untuk melihat. " Jawab Jancent sekenanya, padahal ia sengaja datang untuk melihat wanita itu. 

__ADS_1


Wina mengangguk sambil ber-oh ria. Ia tahu Jancent hanya beralibi. Biasalah, Jancent terlalu gengsi untuk jujur. Semua orang tahu itu. 


Sejenak Wina memperhatikan sekitaran Jancent. Tidak mungkin mantannya itu datang sendiri, kan? 


"Sesi pemotretan mu sudah selesai? "


Wina terkejut, menepis pikirannya sendiri, "sudah… " sekilas menoleh teriakan para gadis yang naik wahana banana boat di tengah laut. 


Pasti seru naik wahana itu bersama Jancent, begitu batin Wina. 


"Mau naik banana boat bersamaku? " lanjutnya. 


Jancent tertegun, sejenak berpikir. Bukan karena tidak berani, ia bingung harus menolak atau justru menerima tawaran Wina. 


Kalau menolak, pasti Wina akan kecewa padanya. Tapi jika mengiyakan, ia takut Liyun melihatnya nanti. Istrinya tengah bersantai di tengah pantai menghadap laut lepas. 


"Jancent, are you okay? " 


Wina melambaikan tangan didepan wajah Jancent yang melamun. Menyadarkan pria itu. 


"Hm, boleh juga. " jawab Jancent kaku. 


"Kau baik-baik saja? "


Jancent berdehem, menampilkan senyum yang jelas dipaksakan. Menggandeng tangan Wina, berjalan beriringan menuju star wahana banana boat yang diinginkannya. 


Jujur, Jancent merutuki dirinya sendiri sejak tadi. Menyesal mengabulkan ajakan Wina, seharusnya ia mengajaknya ke tempat lain saja. 


Jancent terus mewaspadai setiap orang yang terlihat berjemur dibawah payung warna-warni, takut salah satunya adalah Liyun. Repotnya ia tidak ingat meninggalkan istrinya di payung sebelah mana. 


Melewati semua pengunjung wanita dengan jakun naik turun, menelan ludahnya acak. Ketar ketir hatinya tidak tenang. 


Cup, 


Jancent melotot. Spontan tangannya memegangi sebelah pipinya. Wina baru saja menciumnya? 


Bagaimana jika Liyun melihatnya? 


"Kau terlihat tidak enak badan? Kau memikirkan apa? "


Jancent tersenyum. Diam-diam kekhawatirannya hilang melihat Wina ikut membalas senyumannya. Wina selalu mampu menaklukkan bawah sadarnya akan apapun. Membuat dirinya hanya menatap lurus kepada Wina seorang. Seperti orang yang terhipnotis. 


"Aku baik-baik saja asalkan bersamamu. "


Tanpa sadar Jancent mengatakannya. Seolah dunia milik mereka berdua.


Keduanya segera memakai rompi pelampung yang diberikan petugas wahana setelah sampai. Namun kali ini Jancent benar-benar serangan jantung melihat perempuan yang duduk diatas banana boat itu adalah Liyun. 


Liyun sama terkejutnya melihat wanita yang datang bersama Jancent, bahkan memeluk lengan suaminya dengan mesra. 


Belum lagi seorang pria yang paling Jancent benci ikut duduk di belakang istrinya. Kenapa ada Ryu disini? 


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2