
...Good night...
...Di lampung hujan, enaknya tidur ini....
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah lepaskan! Tubuhmu bau. "
Jancent langsung melepas pelukannya. Saking senangnya melihat Liyun pulang sampai kelepasan memeluknya begitu erat. Untung Liyun tidak mati.
"Tubuhmu bau alkohol, kau mabuk semalam? " Liyun menyipitkan mata, menatap penuh selidik Jancent.
Yang merasa ditatap beranjak mengambil handuk, "kalau iya, kenapa? "
"Aku stres semalaman menginterogasi arata. " Jancent melenggang ke arah kamar mandi.
"Arata? " batin Nana.
Liyun langsung mencekal tangan Jancent yang akan membuka gagang pintu kamar mandi.
Sederet pertanyaan menumpuk di kepalanya. Rasa kepo semakin menjadi-jadi kala nama pacarnya itu disebut.
Kenapa Jancent menginterogasi Arata?
Bagaimana Jancent tahu rumah Arata? Tidak mungkin Jancent mengikutinya, begitu pikir Nana.
"Untuk apa kau menginterogasi arata? "
"Memangnya kenapa? Kok wajahmu tiba-tiba panik begitu?! "
Liyun kikuk, kelu lidahnya akan menjawab. Bingung harus beralasan apalagi.
Jancent berdecak, "kenapa tidak dijawab? Jadi benar ya, kalian bermain di belakangku ... Dia menyembunyikan mu dimana sampai polisi tidak dapat menemukan mu? Berapa dia membayar tubuhmu? Aku saja belum pernah menidurimu! "
"Kau pikir aku pelacur! Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. " Jawab Liyun tidak kalah menyentak. Ia kesal kalau Jancent sudah mode cemburu.
"Lantas kau bilang dekat dengannya sejak kelas dua SMA itu apa?! "
"Aku salah orang. Dia terlihat mirip teman lamaku. "
"Terus kau pergi kemana seharian? kana bilang, kau menanyakan arata sebelum pergi pada petugas kasir. "
"Memangnya salah menanyakan pelanggan yang membeli di tokoku?! Itu hak ku. "
Jancent menghela nafas. Jawaban Liyun tidak cocok dengan pertanyaannya. Ia sudah tidak mood untuk mengulang pertanyaan yang sama.
"Tadinya aku berniat membebaskan arata karena kau sudah pulang, tapi tidak jadi. Dia harus aku adili karena kau tidak jujur. "
Blam,
Jancent membanting pintu kamar mandinya, hampir menjepit tangan Liyun yang ingin menahan pintu itu.
Maksudnya Arata dipenjara?
Beberapa kali Liyun memanggil Jancent untuk meminta penjelasan ucapannya barusan, sampai pintu kamar mandi digedor gedor tidak sabaran. Persetan, Jancent yang malah konser didalam kamar mandi.
__ADS_1
Lelaki itu menambah volume shower hingga suara Liyun tenggelam dalam gemericik air dan lagu solo yang ia nyanyikan.
***
Jancent keluar kamar mandi sambil mengusak-usak rambut basahnya dengan handuk kecil di kepala. Celingukan melihat tidak ada siapapun di kamar.
"Liyun kemana? " monolog Jancent dalam hati, berjalan mendekati pintu kaca yang merupakan jalan masuk ke ruang pakaian.
Perempuan yang dicari sibuk menginterogasi Hiba di dapur dengan pisau buah dalam genggaman.
Semua asisten rumah tangga berlarian menuju dapur setelah mendengar kegaduhan dari sana, spontan pekerjaan mereka terbengkalai.
Entah bagaimana awal mulanya sampai Liyun menodongkan pisaunya pada Hiba. Mereka panik melihat aksi nekat Liyun.
Hayase sudah seperti pawang hewan membujuk Liyun, tubuhnya tremor berbisik-bisik, siapa tahu hati majikannya luluh dan menurunkan pisaunya.
Tapi sayangnya Liyun tidak mendengar apapun. Suara Hayase malah terdengar seperti desisan tawon saking takutnya.
"Nyonya tenang dulu, jangan gegabah dengan membawa-bawa pisau. " Hiba melirik pisau dan Liyun bergantian, mewanti-wanti jika tiba-tiba pisaunya melayang.
"Aku hanya ingin bertanya dimana arata? "
Hiba meneguk liurnya melihat Liyun yang semakin mendekat dengan pisau yang mengacung itu. Entah sejak kapan ia duduk di kursi, saking syoknya ia lupa kondisi diri.
Istri bosnya ini tidak kalah seram dari psikopat asli. Tatapannya sebengis orang-orang kanibal di pedalaman.
Berharap nyonya besarnya sedang nge-prank. Tapi sepertinya memang majikan ini kesurupan!
#♥#
Ema buru-buru pergi ingin melaporkan situasi mencekam di dapur pada Jancent. Kebetulan sekali, ia melihat majikannya sedang menuruni tangga. Sepertinya akan sarapan.
"Dimana liyun? Dia tidak ada dikamar, aku tidak melihatnya dimana-mana. Dan... "
Jancent tertegun, celingukan melihat kain pel, vacum cleaner, kemoceng dan parabah lain berantakan.
"Kenapa semua berantakan?! Dimana yang lain? "
Jancent langsung berlari ke dapur setelah mendengar laporan Ema, kalau istrinya akan membunuh Hiba. Ia langsung mencekal tangan Liyun yang memegang pisau.
"Kau sudah gila! "
Diam-diam Hiba mengelus dada, lega sekali pawangnya datang. Nyawanya dipertaruhkan beberapa menit lalu yang terasa disekap psikopat. Adegan mengerikan melebihi film horor yang patut masuk buku diarynya.
"Aku tidak gila! Aku hanya menanyakan arata ... Bebaskan dia, kau tidak kasihan pada anaknya? Istrinya? Bagaimana kalau kau diposisi dia? "
"Dia tidak ada kaitannya dengan ku, lagipula aku sudah disini denganmu ... Aku hanya bertanya saja dia membeli baju apa pada penjaga kasir, seharusnya aku memberi dia diskon karena pernah menolongmu dibis. "
"Aku pergi kerumah temanku kemarin dan tiba-tiba hujan... Temanku meminta aku untuk menginap, tidak mungkinkan menolak. "
Perjelas Liyun ngalor ngidul meyakinkan Jancent yang hanya menatapnya, tangan itu masih setia mencekal pergelangan tangan istrinya. Suaminya itu belum juga mengatakan apapun, sekedar tanda-tanda membuka mulut saja tidak.
"Ah, sudahlah kalau kau tidak percaya. Aku mau potong--- "
"Tidak! " teriak dramatis semua yang menonton. Mereka masih kalut dalam kecemasan, ketegangan, ketakutan akan nasib supir tuannya itu.
Hiba sudah ketar ketir melihat pisau yang mengkilap itu. Ia langsung menarik tangannya yang entah sejak kapan diatas meja.
Jancent sigap, mencekal lebih kuat pergelangan tangan Liyun, "Kau gila akan memotong jarinya!... Iya, iya, aku akan membebaskan arata. Kita ke kantor polisi sesudah sarapan. "
Liyun melongo, sepertinya ada kesalahpahaman sejak awal. Namun ia tersenyum miring setelahnya, terkekeh jahat dalam hati melihat wajah-wajah ketakutan terkena prank darinya.
Liyun hanya berniat menakut-nakuti Hiba untuk berkata jujur soal Arata yang diapakan oleh suaminya. Kenapa seisi rumah jadi ketakutan.
Dan sebenarnya Liyun berniat memotong apel di meja yang sudah ia kupas sebelumnya.
***
Sesuai janjinya tadi, Jancent membawa Liyun ke kantor polisi untuk menyelesaikan perkara dengan Arata.
__ADS_1
Namun terlambat, Arata terlanjur menaruh kebencian setiap kali melihat Jancent, bahkan muak melihat Liyun. Ia bersumpah tidak akan membeli pakaian lagi di tokonya. Bahkan sekarang ia menatap tajam suami istri itu.
"Aku minta maaf atas perilaku suamiku yang terlalu posesif, dia salah paham padamu. Aku tidak tahu, apa semua suami selalu begitu pada istrinya... Sekali lagi aku minta maaf. "
Liyun membungkuk, mengucapkan permohonan maaf setulus mungkin setelah polisi membuka borgol yang membelenggu kedua tangan Arata. Bahkan ia rela bersujud di depannya, jika Arata suruh.
Arata tidak menanggapi, justru jijik melihat sikap Liyun yang sok manis meminta maaf. Ia langsung pergi tanpa sepatah katapun setelah polisi membebaskannya.
Arata tidak peduli pada Jancent yang menatap nyalang dirinya, mungkin lelaki itu marah karena ia tidak menghargai istrinya yang meminta maaf.
"Sudah puas?! Kau meminta maaf saja dia tidak peduli, untuk apa minta maaf mewakiliku. Aku sudah muak melihat wajahnya dari awal. " gerutu Jancent menghidupkan suasana mobil yang sunyi.
Hiba sampai melirik keduanya dari kaca spion diatasnya. Liyun buang muka, menatap keluar jendela mobil. Malas berdebat dengan Jancent.
Ngomong-ngomong mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Nana tidak memperdulikan omelan Jancent. Pikirannya kalut mengingat kembali kejadian pelik kemesraan Arata bersama keluarga kecilnya, itu sudah sangat menyiksanya. Apalagi sekarang, mungkin Arata benar-benar membencinya.
Tidak ada lagi alasan untuk memperjuangkan cintanya. Semua itu gara-gara Jancent. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk melepas Arata dengan orang lain. Berbaik sangka jika Arata memang ditakdirkan bukan untuknya.
Selagi menyalahkan Jancent dalam hati, tiba-tiba Nana teringat Ryu. Lebih tepatnya, janji untuk membantu Ryu mendapatkan kembali proyek Jancent yang batal itu.
Ia segera menepis sakit hatinya dan mengubah topik yang lebih penting.
"Benar kau membatalkan proyek itu dengan ryu? "
Jancent tertegun, spontan menoleh Liyun, "kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Bukan urusanmu. "
"Tentu saja urusanku, karena aku sekretarisnya waktu itu. "
What!
Jancent menatap nyalang Liyun. Hanya sekretaris sehari, tapi peduli sekali pada si kurang ajar itu, begitu batin Jancent.
Sesaat seringai licik mengembang di bibir Jancent. Ia seperti baru mendapatkan mangsa empuk.
"Oh ya... " tangan Jancent mencolek nakal dagu Liyun.
Bulu kuduknya merinding melihat Jancent yang tiba-tiba menjadi binal. Jangan lupakan Hiba yang sudah panas dingin tidak karuan sambil menyetir. Diam-diam ia penonton setia dari kaca spion.
"Terus kau mau apa kalau proyek itu sudah dibatalkan? "
"Aku mau kau menandatangani lagi kontrak itu! Jangan karena cemburu, kau campur adukkan dengan pekerjaan. Ryu tidak ada hubungan apapun denganku, kau salah paham waktu itu. "
Sekilas Jancent tersenyum tipis membuang muka, masih peduli juga istrinya pada Ryu. Sepertinya pukulan tempo hari perlu ia tambah lagi pada pria itu.
"Jaminannya apa? Ingat ini bisnis, aku tidak mau menerima sampah yang sudah ku buang kecuali ada jaminan. Secara harfiah ini legal karena kau yang memaksa. " tatapan Jancent semakin tajam.
Permainannya semakin menarik, Jancent suka. Ia sengaja menguji Liyun, ingin tahu sampai mana istrinya ini membela selingkuhan.
Sejenak Liyun meneguk liurnya, "jaminannya... "
Bingung, Liyun merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa kalau Jancent itu licik dan tidak mudah terbujuk kalau tidak ada maunya. Liyun berusaha berpikir cepat mencari sesuatu sebagai jaminan.
"Aku mau kau menjadi asisten ku, mulai hari ini! ... Dan akan aku tanda tangani kontrak itu."
"Eh? "
Talak Jancent membinasakan semua pikiran Liyun.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...