
Nana tidak pernah membayangkan dirinya mabuk di pesawat. Ini pertama kali ia naik benda besi ajaib yang bisa terbang. Kesempatan jalan-jalan keluar negeri adalah impiannya. Tapi kalau mabuk begini, koala saja lebih memilih tidur dari travelling.
Pakaian Jancent sampai jadi korban cairan kental berbau tidak sedap yang terus saja keluar dari mulutnya. Pramugari ikut rempong mengurus Liyun.
Beruntung suaminya itu memesan kelas VVIP yang tidak terlalu banyak penumpang. Ditaruh dimana wajah adinda kalau semua penumpang tahu ada orang kaya mabuk udara, kan norak.
"Kau makan apa sih semalam, huek… bau sekali. Di bajuku lagi! "
Jancent masih sempat mengomel riya di tengah mengoek. Mungkin jika imannya tidak kuat ia juga sudah muntah. Orang bilang muntah itu menular.
"Memangnya aku makan apa! Yang semalam sudah aku keluarkan diwc tadi pagi. Tadi saja aku belum sarapan gara-gara kesiangan, belum lagi kau mengoceh suruh cepat-cepat, huek… "
Spontan Jancent membekap mulut istrinya, "agh, jangan lagi! Ayo kita ke toilet. "
Jancent buru-buru menggelandang Liyun ke toilet pesawat.
Hampir tujuh jam perjalanan mengudara, akhirnya mereka mendarat di ibukota Jakarta.
Tidak ada sehari, tapi berasa tujuh turunan Jancent tersiksa. Walaupun sudah mengganti pakaiannya, namun aroma tengik yang tidak mampu dijabarkan itu tetap saja semeliwir terendus hidung.
Haruskah Jancent mandi kembang tujuh rupa ditambah sabun tujuh merek.
"Aiss, cepat sedikit. Siput saja menang balap jalan dengan mu. "
Liyun mengerucutkan bibir. Selambat itukah dirinya dibandingkan seekor siput.
"Kau itu tidak berperikemanusiaan! Tinggal saja di hutan dengan hati berperikehewanan… tubuhku lemas, perutku keroncongan, kepalaku pusing, kakiku gemetaran, tidak sanggup jalan lagi. " keluh Liyun langsung berjongkok disamping kopernya.
Jancent tertegun melihat wajah Liyun sangat pucat. Sepertinya perempuan itu serius tidak enak badan. Sepasang matanya terlihat berembun.
"Jangan menangis. Ayo, kita istirahat di hotel. "
Jancent mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Liyun.
***
"Ayah. "
Panggil Jancent melihat Yancent sedang berjongkok di pekarangan belakang rumah. Entahlah sedang apa si tua itu.
Yang dipanggil tertegun. Merasa mendengar suara anaknya, tapi mana wujudnya?
Tidak mungkin ada hantu di siang bolong. Kalau bunga janda bolong ada banyak, merentet rapi di pekarangan.
Yancent sekilas mengangkat kedua bahu, melanjutkan menggosok tempurung Mariko.
"Agh, ayah… menengoklah kebelakang! " tegas Jancent setengah berteriak.
Yancent membelalakkan kedua mata, langsung menoleh kebelakang sesuai instruksi. Ia terkejut mendapati anak dan menantunya datang.
"Jancent. " Yancent bangkit, mengulurkan kedua tangan memeluk putranya.
"Ayah sedang apa disini sendirian? Aku dari tadi memanggil ayah tapi tidak ada yang membukakan pintu. Biasanya ada pembantu yang membukakan, kemana mereka? Sepertinya ayah sendiri dirumah. " tanya Jancent melepas pelukan sang ayah.
"Memang tidak ada. Sudah beberapa hari ini ayah sendirian dirumah. Semua pembantu sengaja ayah liburkan… Ngomong-ngomong ayah sedang memandikan Mariko, jadi ayah kira berhalusinasi mendengar suaramu. "
Liyun terasa baygon ditengah ayah dan anak itu. Ia melompong tidak paham bahasa Indonesia. Namun ada satu kata yang membuatnya penasaran.
"Mariko? Apa itu sebuah nama? Aku seperti pernah mendengarnya dalam tokoh kartun. "
Spontan Yancent tertawa. Ia baru ingat ada menantunya. Pastilah Liyun tidak paham apa yang mereka bicarakan. Terlihat jelas dari mimik wajah Liyun yang suram. Sesuram para jomblo di hari minggu.
__ADS_1
"Mariko adalah nama kura-kura itu, peliharaan kesayangan ayah. " tunjuk Yancent pada hewan berkaki empat itu.
Liyun tertegun, "wah, paman bisa berbahasa Jepang! "
"Eh? " apa dirinya tidak salah dengar?
Yancent tertegun dipanggil paman. Dan ia baru menyadari satu hal, aura Liyun begitu asing. Perempuan di depannya seperti bukan menantunya. Namun tidak mungkinkan Jancent membawa duplikat Liyun.
Spontan Jancent mencubit bokong istrinya diam-diam, membuat perempuan itu berjengit terkejut dan tentu saja sakit.
"Ah, maksud Liyun tadi ayah, bukan paman. Akhir-akhir ini dia sering salah eja. "
"Sakit bodoh! " gerutu Liyun mengusap bokongnya.
Yancent tertawa pongah yang berujung terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.
Liyun sampai sawan melihat mertuanya itu. Apa otak Yancent sedikit miring?
You know lah otak miring.
"Oh, ayah tahu alasannya. Orang hamil memang suka aneh-aneh efek sampingnya. "
Gantian Liyun dan Jancent menyeringai pongah. Merasa berdosa lebih tepatnya membohongi orang tua.
#♥#
"Aku tidak melihat ibumu. Dia dimana? Atau… "
Tanya Liyun setelah Jancent datang membuka pintu kamar sehabis menemui Yancent di ruangannya. Liyun sedikit ragu menanyakan, takut kalau ibu Jancent sudah tiada.
Tapi Liyun penasaran sejak tadi berkeliling rumah sebesar waterboom nan mewah, namun tidak melihat siapapun.
"Oh, itu… ibuku di rumah sakit. " jawab Jancent sambil membuka kancing kemejanya.
Jancent menghela nafas, "ibuku sudah lama dirawat dirumah sakit. Kalau dihitung kira-kira jalan empat tahun… beliau tidak kemana-mana kecuali berbaring dirumah sakit. Dan ayah tidak pernah memberitahuku soal penyakitnya. "
"Kau ingat saat pernikahan kita? ibuku tidak bisa hadir karena penyakitnya kambuh. " tambah Jancent.
Liyun termangu, meninggikan wajahnya menatap sendu Jancent yang sibuk mengganti pakaian. Ia tidak pernah menduga kesedihan dibalik wajah tampan bin menyebalkan yang mengajaknya berdebat setiap hari.
Entah dorongan dari mana dirinya ingin memberi kebahagiaan untuk Jancent, sebelum Liyun yang asli kembali merebut tubuhnya dan ia kembali menjadi Nana, si gadis SMA.
Tak,
Jancent menyentil kening Liyun cukup keras membuat perempuan itu meringis, tersadar dari pikirannya.
"Jangan melamun, cepat ganti baju! Ayah sudah menunggu di bawah. Kita akan menjenguk ibu… Jangan sibuk memikirkan ryu! "
"Siapa yang memikirkan dia! " tegas Liyun mengelus keningnya.
***
Liyun membenahi tali tas kulit buayanya yang sesekali melorot. Gugup, sebentar lagi akan bertemu ibu mertua.
Banyak kekhawatiran dipikiran Liyun. Tepatnya bingung harus menyapanya bagaimana nanti, harus menjawab seperti apa jika ditanya, ia juga tidak tahu topik obrolan yang disukai kaum ibu mertua.
Pokoknya sudah mirip bujangan ingin melamar gadis njelimete.
"Ibu… "
Perempuan tua itu tersenyum melihat putranya datang. Jangan lupa tatapannya yang sejak tadi memperhatikan Liyun dibelakang Jancent.
__ADS_1
"Istrimu cantik sekali. Kamari nak, ibu ingin memelukmu. "
Liyun tertegun. Ibu Jancent ternyata pandai berbahasa Jepang juga.
Laila tersenyum, mengulurkan kedua tangan yang langsung dibalas pelukan oleh Liyun. Hangat, seperti pelukan ibunya.
Liyun tidak berhenti tersenyum melihat kehangatan penuh cinta keluarga kecil Yancent. Mereka banyak mengobrol. Dan fakta lain yang baru ia pahami adalah Jancent itu orang yang jahil juga periang.
Sesekali Jancent menjahili ibunya yang sulit menghindar karena gerakannya terbatas oleh selang infus. Harap maklum, masa kecil suami jadi-jadiannya itu kurang bahagia.
Yancent juga antusias memesan makanan delivery, menambah suasana penuh kasih. Seperti piknik keluarga.
Jangan lupakan senyum Laila begitu cantik di usianya yang tidak lagi muda, bahkan kulit diarea mata sudah terlihat mengendur. Liyun dapat merasakan ketegaran hidup yang Laila rasakan lewat selang infus di tangannya itu.
Tiba-tiba Laila meraih tangan putranya di pinggiran bed, "boleh ibu bicara berdua saja dengan Liyun? "
Jancent berdehem dibarengi anggukan. Yancent yang paham keinginan istrinya langsung beranjak keluar ruangan.
"Ada apa? " tanya Liyun yang tidak paham bahasanya.
"Ibuku ingin bicara dengan mu. "
"Kau mau kemana? " Liyun sedikit takut melihat Jancent ikut beranjak dari tempatnya.
"Tidak apa-apa, ibu ku tidak akan memakanmu. "
Sesaat Jancent melihat ibunya tersenyum sebelum menepuk pelan bahu istrinya dan pergi.
"Jangan gugup, aku hanya ingin mengobrol sedikit. " ucap Laila setelah Jancent menutup pintu.
Liyun tersenyum sambil mengangguk, mencoba bersikap biasa.
Sejenak helaan nafas Laila terdengar. Tangan tua itu menggenggam erat tangan Liyun.
"Ibu senang, akhirnya bisa bertemu anak dan juga menantuku yang cantik ini… terima kasih telah memenuhi permintaan terakhirku. "
Liyun tertegun, memberanikan diri menatap Laila. Memastikan bahwa ia salah dengar.
"Sudah lama kanker ini bersarang di tubuhku. Hampir berjuta-juta bahkan triliunan uang yang suamiku keluarkan demi kesembuhan ku. Tapi tetap saja, tidak ada yang bisa menentang takdir Tuhan… umurku tidak lama lagi, akan percuma jika melakukan operasi. Itu yang dokter katakan, tapi di sisi lain suamiku kekeh meminta dokter untuk melakukan operasi. "
"Aku yakin ibu akan sembuh. "
Laila menggeleng, "aku membatalkan operasinya tanpa sepengetahuan suamiku. Aku meminta dokter berbohong, membawa kabar gembira untuk suamiku kalau operasinya berhasil… aku tidak ingin merepotkannya lagi atau anakku. "
"Aku hanya ingin mereka menemaniku di sisa nafas terakhir… Aku sangat bahagia mendengar kabar kau hamil. Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sebentar lagi aku menjadi seorang nenek. " lanjut Laila.
Entah siapa yang memulainya lebih dulu, kini keduanya menangis. Memeluk satu sama lain. Liyun begitu memeluknya erat.
Belum ada satu jam pertemuan mereka, namun Liyun sudah merasa menjadi bagian dari keluarga Yancent. Tidak bisa mengindahkan takdir maut yang harus diderita ibunya.
"Berjanjilah pada ibu, jangan beritahu jancent atau ayahmu disisa hari terakhir kita. Ibu tidak ingin mereka sedih. "
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...