
...Good night....
...Semoga yang lagi tidur tidak terganggu....
...Dan terimakasih sudah mampir untuk membaca karya author yang amatiran dan acak adul bahasanya. Semoga terhibur....
...Tetap jangan lupakan like, komen, pav. Karena satu sentuhan jari dapat merubah hal yang mungkin tidak bisa di rubah seseorang....
...Salam hangat...
...Pay Pay...
.
.
.
.
.
.
.
Tidak ada yang berani berbicara setelah adegan kiss itu terjadi. Aura mobil sudah melebihi rasa kuburan.
Liyun bergelayut dengan pikirannya sendiri. Menatap keluar jendela yang sengaja dibuka. Tangannya sibuk memegangi bibir yang tidak suci lagi.
Begitu pun Jancent yang juga fokus menyetir. Merutuki diri sendiri atas apa yang ia perbuat. Berharap anak orang tidak sawan karena aksi menegangkan tadi. Entahlah, setan tingkat berapa yang merasuki jiwanya sampai selihai itu.
Oppa-oppa Korea saja kalah buas. Ah, malu sekali Jancent sekarang. Kalau bisa ia ingin memasukkan wajahnya ke asoy hitam lalu dihanyutkan yang jauh ke samudra, bila perlu dijual ke alien agar dibawa keluar bumi sekalian.
Sampai rumah pun, baik Liyun atau Jancent tidak ada yang mangap. Malah buang muka masing-masing. Sampai satu atensi membuat mereka jadi bertanya-tanya.
"Hm ... Itu Hiba? "
Tanya Liyun heran pada Jancent. Melihat supir pribadi suaminya itu tidur dengan malang melintang di teras rumah. Sudah terasa kamar pribadi.
Jancent tidak sengaja menendang tepat di tulang kering Hiba sampai perjaka bin jomblo itu terbangun. Bahkan ia sampai berdiri tegak saking terkejutnya.
"Ah, tuan mengejutkan aku saja. " gerutu Hiba mengelus kakinya, bekas tendangan Jancent.
Sesaat Liyun masuk rumah, merasa tidak ada sangkut pautnya dengan Hiba. Dan lagi, ia teringat kiss panas di mobil tadi. Persetan pada otak kotornya yang sangat meresahkan.
Hiba tidak sengaja mengetahui sesuatu yang ada apanya. Sedikit hal yang mengganjal pada Liyun. Apa mereka bertengkar lagi?
Seketika Hiba menatap Jancent dan kembali menoleh Liyun yang baru saja hilang di balik pintu. Menganalisis suatu perkara unfaedah yang tidak berhadiah. Tapi keponya akut.
"Kau sudah urus mobilnya? "
Hiba beralih fokus. Sesaat ia lupa akan penelitian tidak berhadiahnya itu.
"Ah, sudah tuan. "
Sebelumnya Jancent mengirim chat, menyuruh Hiba memanggil petugas derek mobil untuk membawa mobil mogoknya ke ketok magic.
Ketok magic is bengkel.
"Maaf aku ketiduran tuan. Tadinya aku hanya duduk--- "
"Kau dlosor. " tegas Jancent. Logat Jawanya keluar dengan medok.
Spontan Hiba kicep. Berpikir keras menerjemahkan kata "dlosor" dalam kamus bahasa Jepangnya. Bahkan bahasa tuannya lebih rumit dari bahasa Inggris. Is emezing.
"Ah! Aku hampir lupa. Kenapa kau tidak melapor kalau Liyun makan siang dengan ryu di restoran sushi? "
"Tuan lupa, aku baru mau menjelaskannya waktu itu, tapi tuan bilang nanti saja. Antarkan hayase pulang dan laporkan secara pribadi ke--- "
"Sudahlah! Aku mengantuk. Aku juga sudah terlanjur tahu. Ini... " Jancent melemparkan kunci mobil ayahnya yang langsung sigap di tangkap Hiba.
"Kembalikan itu besok pada ayah mertua ku. Dan jemput aku seperti biasa. "
Jancent pergi, namun ia kembali menoleh untuk mengatakan sesuatu yang merugikan paru-paru Hiba.
"Gajimu aku potong dua bulan. Alasannya, perkerjaan mu awur awuran. Tidak berkompeten. "
Hiba syok, seolah butuh gas oksigen akibat paru-paru yang tiba-tiba mengempis.
"Tapi--- "
__ADS_1
"Mengeluh? Aku tambahkan jadi tiga bulan. "
Baru mangap ingin menjelaskan sejamban raya, Hiba langsung melipat bibir saat dipelototi Jancent.
"Bicara lagi, aku pecat. "
Blam,
Pintu di tutup dengan kasarnya. Sesedih lagu mbak Rosa "ku menangis" yang otomatis dan faseh terngiang-ngiang. Background soundtrack yang cocok untuk menggambarkan ke galauan hati di potong gaji. Kapan bahagianya?
Tapi ngomong-ngomong, Hiba menemukan sesuatu. Penemuan yang lebih menghebohkan dari para profesor berkepala botak, saking kenceng lek mikir.
Terupdate, terkini, dan terhot.
"Sepertinya mereka habis ciuman. "
Hiba terkekeh selanjutnya, berjalan menaiki mobil Tachibana. Membanggakan diri mengetahui berita heboh itu. Ibarat menang lotre berjuta-juta senangnya.
Bagaimana Hiba tidak berasumsi kalau Jancent habis kiss kiss dengan Liyun. Lah wong lipstik Liyun berpindah ke bibir Jancent. Tidak mungkinkan bisa jalan sendiri kalau bukan bibir yang menyambar.
Dan tidak elitnya lipstik merah mencolok itu compang camping berantakan di sekitaran bibir Jancent.
#♥#
Seluruh ruangan sudut rumah sudah hening. Beberapa lampu di sudut-sudut tempat juga sudah dimatikan sesuai aturan.
Semua asisten rumah tangga sudah beristirahat di kamar masing-masing yang di sediakan.
Jancent dan Liyun juga sama, masuk kamar mereka sendiri-sendiri.
Namun Jancent belum kunjung tidur sampai sekarang. Beberapa kali ia miring ke kanan, ke kiri, kanan lagi, kiri lagi, melempar selimut, pakai selimutnya. Ia juga mendengar aungan serigala tetangga.
Sesaat Jancent meraih handphone di atas nakas.
"Hah, jam satu pagi! "
Jancent melempar asal handphonenya dan menarik selimut kembali menutupi seluruh tubuhnya. Memejamkan mata serapat mungkin agar tertidur.
Mencoba menghitung domba supaya mengantuk tapi yang ada Jancent pusing sendiri. Berbelit-belit menghitung domba yang sudah ratusan ekor. Pokoknya kakanda butuh OBH.
Namun sangat kurangajarnya mata Jancent kembali melotot. Adegan ciuman gila itu membuatnya insomnia.
Spontan ide unfaedah Jancent keluar diatas kepala seperti lampu taman. Buru-buru mengambil kembali handphonenya untuk mengirim chat pada Liyun.
"Kau sudah tidur? "
Jancent menghela nafas, "lama sekali balasnya. "
Ocehnya, yang sebenarnya baru lima detik lalu chat itu terkirim. Dengan tidak sabaran Jancent kembali menyepam chat untuk Liyun.
"Sudah tidur belum? "
"Kau benar-benar sudah tidur? "
"Lihat chat ku! "
"Liyun! "
Ting,
Sebuah notifikasi balasan masuk dengan nickname "Liyun si cerewet".
"Aku belum tidur! "
"Kau membuat aku kalah main game! "
Balas Liyun dengan emotikon marah disetiap kalimatnya.
Jancent jadi tidak enak hati menyepam. Sejenak menaruh handphonenya kembali diatas nakas.
Ting,
"Dari mana kau tahu nomor ku? "
"Dan siapa yang menyimpan kontak dihandphone ku dengan nama suami tercinta?! "
Seketika senyum Jancent menyembul dari ujung telinga ke telinga. Ia langsung tancap gas ke kamar Liyun.
Merasa tidak afdol membalas chatnya lewat handphone.
#♥#
__ADS_1
Tok... Tok... Tok
Jancent sudah didepan pintu kamar Liyun. Mengetuk pintu itu bahkan memanggil nama istrinya beberapa kali.
Liyun termangu saat membuka pintu. Bukan terpesona karena visual suaminya itu, melainkan melihat benda yang Jancent peluk.
"Untuk apa dia datang membawa guling? "
Jancent celingukan sebentar, memastikan tidak ada asisten rumah tangga yang melihatnya.
"Cepat tutup pintunya! " seru Jancent mendorong Liyun untuk masuk dan menutup pintu.
"Kau mau apa membawa benda itu? Terus untuk apa kau kesini? "
"Tentu saja untuk tidur. " jawab Jancent yang langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Tidur?! "
"Jangan marah dulu. " Tegas Jancent yang langsung merubah posisi menjadi duduk.
Liyun diam. Matanya menatap penuh selidik Jancent. Suaminya itu pandai bersilat lidah dan Liyun tidak akan mau dikalahkan kali ini.
"Pertama, aku minta maaf soal... Ciuman di mobil tadi. Serius aku khilaf. "
Jancent menggaruk lehernya yang tidak gatal. Malu sekali mengutarakannya. Pipi Liyun bahkan terlihat merah muda.
"Aku sudah lupa. Jangan bahas itu lagi. " jawab Liyun sekenanya untuk menghilangkan kecanggungan.
Jancent mengangguk dibarengi deheman.
"Dan yang kedua, kau tidak ingat dimana tempat kerjamu? "
"Memangnya aku sudah memiliki pekerjaan sendiri? "
Liyun langsung naik ranjang duduk di samping Jancent. Sedikit tertarik dengan pekerjaan si pemilik tubuh.
Tak,
Jancent menyentil dahi istrinya.
"Kau punya toko brand pakaian sendiri. Gedung distro pakaian wanita dan pria LY ... Pernah ditampilkan di galeri fashion bergengsi di Paris bulan lalu. Kau lupa seorang disainer? "
Dengan mata polosnya Liyun menggeleng saking takjub. Jadi aku seorang disainer terkenal, begitu batin Nana yang sungguh tak menyangka.
"Sudah dua kali asisten mu melapor padaku kalau kau resign tanpa alasan dan sulit dihubungi ... Aku takut kalau mereka sampai melapor pada ibu mertua. Apalagi ayahmu. Tapi untung tidak marah karena saking senangnya kau hamil. "
"Mulai besok masuklah kerja. " Tegas Jancent diakhir.
Jancent merubah posisinya mencari yang nyaman untuk berbaring. Namun tiba-tiba lengannya ditarik lebih dulu oleh Liyun.
"Eh, kau mau apa? "
"Berenang! Ya tentu tidur. Kau pikir apalagi. "
"Kalau mau tidur pergi sana ke kamarmu! Jangan tidur di kamarku. "
"Ck, pelankan suaramu! Kau tidak sadar dengan ucapan ayah yang mengetahui kita tidak tidur sekamar?... Kalau dipikir, ayah tahu dari mana selain orang dalam yang melapor. "
"Intinya? "
"Makannya otak diupgrade. Ya pastinya dirumah ini ada mata-mata suruhan ayah. "
Liyun memicingkan mata. Menelisik kalau-kalau Jancent membual. Tapi sepertinya yang ia katakan ada benarnya juga.
"Dan mulai malam ini dan seterusnya kita tidur berdua di kamarmu, titik. Tidak koma, tidak tanya, tidak seru, tidak petik. "
Jancent langsung menarik selimut dan berbaring disamping Liyun.
Tidak peduli lagi pada adinda yang syok. Matanya bulat sebesar jengkol saking terkejutnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1