Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Mantan masuk × 9%


__ADS_3

Bagaimana rasanya satu ranjang dengan babon gorila?


Jancent baru saja mengalami nasib naas itu semalaman. Ia meringkuk bersandar di dinding, memperhatikan pola tidur Liyun.


Hari hampir subuh dan Jancent belum kunjung tidur juga. Matanya sudah berkantung. Tapi sayang, bukan kantong ajaib warna putih milik om doraemon.


Lima menit lalu saat Liyun memeluk Jancent tanpa sadar, melenguh dingin, ia melirik tubuh istrinya yang tidak terbungkus selimut. Tersibak sendiri mungkin. Ingin menyelimuti, tapi sialnya ia ditinju tanpa sadar oleh Liyun. Kakinya pun menjatuhi tubuh Jancent brutal.


Belum lagi tidurnya sampai berputar mirip gasing. Bantal yang seharusnya untuk kepala berubah ditiduri kaki dan tidak elitnya menendang wajah Jancent saat Liyun merubah posisi.


Jadilah Jancent yang meratapi nasib di pojokan, bersandar pada lemari super besar miliknya. Mengerjap berat, ingin sekali ia tidur sejenak.


"Kenapa kau tidur disini? " monolog Liyun menekan hidung bangir Jancent beberapa kali. Memiringkan kepalanya sesekali, agak kesulitan menatap wajah suami orang yang tertutup poni rambut.


Baru ingin menyingkirkan poni rambut Jancent, lelaki itu tiba-tiba saja terbangun. Sedikit terkejut mendapati wajah Liyun yang hanya sejengkal jaraknya.


Gelagapan Jancent berdiri, menoleh hordeng jendela yang sudah tersibak, "Sudah siang. "


"Kenapa kau tidur disini, bukan diatas ranjang bersamaku? " tanya Liyun yang benar-benar masih kepo.


Jancent menoleh Liyun yang memang tingginya lebih rendah darinya, tatapan tajam ia layangkan.


"Kau cari tahu kebiasaan tidur burukmu itu! ganas seperti babon gorila. " cibir Jancent berjalan ke kamar mandi dengan tergesa yang diikuti Liyun.


"Babon gorila? kurang ajar sekali! dasar badak. "  umpat Liyun sambil terus mengekori Jancent.


"Aku sampai tidak bisa tidur semalaman dan ini... "


Jancent tiba-tiba berbalik sebelum membuka pintu kamar mandi, membuat Liyun sigap berhenti jika tidak ingin bertabrakan. Jancent menunjuk lingkaran hitam dibawah matanya,


"Lihat! ada lingkaran hitam di mataku. "


Blam,


Jancent membanting pintu kamar mandi, kasar. Liyun sampai berjengit penuh kejut.


Beda dilantai atas, beda pula suasana di lantai dasar. Semua asisten rumah tangga sibuk bergosip. Berita terpanas, hangat dan terbaru "Tuan tidur berdua dengan nyonya", salahkan mulut dan pemikiran Hayase yang klimis minta ditampar.


Disana sini penuh gunjingan. Berdebat percaya atau tidak, ada yang masih kekeh jika Jancent impoten. Dari tukang kebun yang tengah standby memangkas pohon cemara mini sambil asyik gosip, para satpam yang tengah ngopi di pos ditemani gosip hangat, koki yang sibuk masak di dapur ditambah bergosip panas pula, sebagian yang bersih-bersih pun sama, menyapu, mengepel, mengelap kaca sambil cicit cuit tak mau ketinggalan.


Liyun turun dari kamar Jancent. Tiba-tiba perutnya jadi lapar usai berdebat unfaedah pagi-pagi. Kesal dirinya dikatai babon gorila. Mana ada wanita cantik begini dimiripkan gorila. Suami lagi yang bilang, ralat, suami orang maksudnya. Benar-benar tidak romantis.


Persetan pakaian Jancent yang masih ia pakai. Tenang, Nana sudah membenahi kancing dan celana yang compang camping sebelum turun.


"Kenapa kalian menatapku begitu? ada yang salah, mau mengataiku gorila juga! " tegas Liyun menatap nyalang para asisten rumah tangga yang tidak hentinya memeta dirinya. Terasa habis kepergok berzina saja.


Semua langsung menggeleng, melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing. Ema berlari kecil menghampiri setelah mendengar suara Liyun menyentak.


Tumben sekali nyonya besarnya turun kemeja makan, biasanya Liyun meminta Hayase membawakan sarapannya ke balkon kamar.


"Nyonya ingin disiapkan sarapan sekarang atau---"


"Lah itu sarapan untuk siapa? " potong Liyun menunjuk meja makan. Sudah ada roti panggang, susu, dan juga buah tertata cantik disana.


"Tuan jancent... Nyonya ingin sarapan terpisah atau bersama? "


"jancent siapa? oh! suamiku itu, jancent namanya. " Liyun menyeringai, nada bicaranya agak meninggi yang kentara terkejut. Maklum, ia belum mengetahui nama lelaki itu dari awal terdampar.


Ema ikut tersenyum pongah, bergidik bahu mendengar pengakuan Liyun yang menurutnya seperti orang kurang waras. Suami sendiri Liyun tidak tahu namanya.

__ADS_1


Jancent sibuk membaca koran sambil mengunyah roti gandum panggang kesukaan yang sesekali menyeruput susu. Acuh pada seseorang yang ikut sarapan semeja dengannya. Jancent masih merajuk ngomong-ngomong.


Liyun juga sama kesalnya dikatai gorila. Tapi ia sadar pola tidurnya tidak pernah anggun. Sedikit demi sedikit menggerogoti rotinya, biar awet sambil sesekali melirik Jancent yang masih fokus pada koran.


"Aku tahu aku ini tampan... " tegas Jancent menaruh korannya di meja. Ia tahu kegiatan istrinya sejak tadi.


"Sial, ketahuan. "  batin Nana, hampir tersedak saat menelan roti dalam mulutnya.


"Sudah kenyang lirik-liriknya? " Jancent menghabiskan susu dalam gelas miliknya sebelum melanjutkan,


"Aku beritahu ya, melirik orang tampan sepertiku itu ilegal. Bisa sakit mata... Itu juga untuk kalian yang bersembunyi di sana! "


Seru Jancent membubarkan paksa para pembantunya yang juga mengintip di balik tiang atau pintu dapur. Jancent heran, hobi sekali pembantunya kalau masalah mengintip dan bergosip.


Baru ingin menyumpah serapahi Jancent, namun tak jadi, Liyun tertegun melihat tingkah pembantu yang diam-diam menghanyutkan.


"Yah, ketahuan. " gumam Hayase yang juga ikut mengintip dengan para pekerja senior.


"Cepat selesaikan pekerjaan masing-masing atau uang gajian kalian aku potong! "


Yang diperingati langsung mencari kesibukan. Entah pekerjaannya atau bukan yang penting sok sibuk.


"Dan kau Liyun, jangan lama-lama memakai bajuku. " tegas Jancent sebelum pergi karena Hiba sudah datang menyusul untuk ke kantor.


#♥#


Liyun sedang berbaring diranjang kamarnya. Hayase yang sebelumnya menuntun ke kamar. Pakaian Jancent juga sudah ia berikan pada Ema untuk dicuci, bila perlu dengan sabun tujuh rupa dari merek yang berbeda. Biar si Jancent itu tidak sensi terus, seperti wanita menstruasi.


"Mau beli apa lagi ya? " monolog Liyun sendiri, menimang black card  Jancent dalam genggaman.


Dibolak, dibalik sambil berpikir ria ingin dibelikan apa.


Liyun beranjak keluar kamar mencari Hayase. Untung yang dicari langsung terlihat mata.


"Ada apa nyonya mencariku? "


"Pinjamkan handphone mu. "


"Nyonya, kan punya handphone di tas biasanya ... Tas kulit buaya warna hitam, biasanya nyonya suka menyimpannya disitu. "


Nana merutuki diri. Ia lupa kalau nyonya besar super kaya ini, mana mungkin tidak memiliki handphone.


Tanpa banyak tanya macam petugas kasir, Liyun langsung kembali ke kamar. Beruntung tas kulit buaya itu bertengger apik diatas meja rias.


"Ais... Aku tidak tahu sandinya! "


Keluh Liyun mendapat surprise bertulis "masukan sandi"  di layar. Mana ia bukan Liyun yang asli.


Baru ingin memastikan majikannya menemukan tas yang ia maksud, Hayase tanpa sengaja bertemu Liyun ditangga.


Majikannya terlihat rapi dan tas kulit buaya tersampir apik di bahu. Liyun akan kemana?


"Hayase, temani aku beli handphone baru. "


Belum dijawab lengan Hayase sudah digaet lebih dulu.


"Memangnya yang itu sudah rusak? "


"Sudah ku getok pake palu. " Jawab Nana sekenanya. Malas dijatuhi pertanyaan yang menyangkut hidup Liyun.

__ADS_1


Wong aku bukan Liyun.


"Emannya... " Hayase menangis dalam hati, mengingat merek handphone itu apel kroak.


Kali ini mereka tidak jalan kaki seperti kemarin. Nana sadar diri, ia dikehidupan siapa sekarang. Nyonya dari CEO pemilik perusahaan Kireen yang tampan dan kaya. Harus naik mobil mewah tentunya.


Untungnya jalanan Tokyo tidak terlalu padat, ditambah cuaca yang mendukung. Secerah senyum Liyun yang akan beli handphone baru.


"Nyonya, kita sampai. Sesuai permintaan nyonya, pusat penjualan handphone terbaru semua ada disana. "


"Di Gedung lima lantai itu? " tanya Liyun setengah takjub. Maklum dirinya belum pernah melihat gedung penjual handphone sebesar itu di Fukushima.


"Iya, lima lantai itu penuh para penjual handphone. Bukan cuma itu, diselingi juga laptop dan sejenisnya. "


Liyun berdeham, mengangguk khidmat dan langsung turun dengan Hayase. Tidak sabar ingin melihat-lihat.


#♥#


"Selamat datang. " Ramah, para karyawan penjaga pintu menyambut.


Benar kata supirnya tadi, penuh koleksi handphone terbaru nan canggih. Pengunjung pun ramai berdatangan. Dan yang paling menarik perhatian Liyun, merek S yang dapat dilipat tiga dan layar bisa jadi dua sisi. Jika dibuka sebesar talenan ibu-ibu didapur.


"Wah... Keren, aku ingin yang ini. Aku beli tunai sekarang! " seru Liyun, tidak perlu memikirkannya dua kali.


"Baik, akan kami lengkapi data-data terlebih dulu dan membungkusnya. Mohon tunggu sebentar. "


Liyun mengangguk semangat, menunggu dengan Hayase. Sesekali bersenandung. Tiba-tiba seseorang memegang bahunya.


"Li... "


Liyun menoleh pun Hayase. Ia tidak tahu siapa lelaki yang tengah tersenyum menyebut namanya. Tubuhnya tinggi, berjas dan jangan lupa, tampan.


Maksud hati ingin berbisik pada Hayase, lelaki itu menggenggam tangannya.


"Kau Liyun, kan? "


Gugup, dirinya mengangguk, kemudian menepis lengan itu, "iya, kau siapa? "


Sesaat lelaki itu tertawa ringan, "yakin tidak ingat? ... Aku senior mu waktu SMA dulu. Bukan hanya itu, spesialnya aku... Mantanmu. "


Liyun dan Hayase syok mendengar pengakuan lelaki tampan itu yang dengan bangga mengaku mantan pacarnya di siang bolong begini.


Dan bukan mereka saja, jangan lupa Hiba yang juga terkejut. Ia bingung bagaimana harus melaporkannya pada Jancent.


.


.


.


.


.


..


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2