
...Have a nice day...
...How are you ?...
.
.
.
.
.
.
.
Hidup itu singkat dan simpel, lalu pergi. Namun ingatan dari kehidupan itu sendiri yang mengikat kita enggan untuk meninggalkan.
Rasa cinta membuat kita ingin kekal selamanya di sisi mereka. Memeluk, mencium, menjadi candu untuk terus mengulang masa-masa penuh kasih setiap detiknya, menumpuk memori bahagia. Begitu menyiksa kala umur kita sangatlah singkat.
Sama dengan perasaan semua orang, Laila ingin sekali berada lebih lama di sisi orang yang ia cintai. Melihat putranya tumbuh, membuat dirinya menangis setiap malam. Tanpa terasa bayi yang dulu ditimang-timang sudah dewasa dan menikah.
Andai benar-benar ada jin yang dapat mengabulkan sebuah permintaan, Laila hanya ingin meminta hidup sedikit lebih lama lagi.
Jancent tertegun melihat ibunya menyeka air mata dipipi. Spontan menoleh Liyun yang masih duduk di pinggiran bed.
"Kau apakan ibuku? "
"Aku tidak melakukan apa-apa. Memangnya kau pikir aku berbuat apa? " tegas Liyun, enggan menatap lawan bicaranya. Takut ketahuan habis menangis.
Jancent tertegun mendengar suara Liyun yang tiba-tiba parau, sedikit serak.
"Kau habis menangis? "
"Hanya menangis sebentar… dia kesal padamu yang selalu mementingkan pekerjaan. Membuatmu tidak ada waktu untuknya. " sahut Laila.
"Hah? " Jancent tertegun menatap ibunya. Apa benar Liyun menangis gara-gara itu?
Bertemu sehari saja mereka seperti Tom & Jerry.
Yang merasa namanya dibawa-bawa membelalakkan mata. Menatap horor Laila yang malah tersenyum padanya. Tingkah ibunya itu lebih seram dari zombie.
Detik sebelumnya perempuan tua itu berdrama mellow, mengakibatkan air mata berbak-bak jika diwadahi. Entah berapa karung bawang yang ditabur sampai Liyun sulit sekali untuk tidak menangis. Kali ini, apalagi yang Laila rencanakan sekarang.
"Ibu tahu kalian sama-sama sibuk dan jarang berduaan, jadi ibu meminta ayah menyewakan villa untuk kalian berdua berbulan madu di Bali… apalagi Liyun sedang hamil muda. Butuh pikiran yang benar-benar rileks, suasana tenang juga udara segar, dan tentu saja bermanja dengan mu. Tidak apa, kan bulan madu dua kali? "
Liyun menyeringai, menggerakkan tangannya kekiri dan kanan.
"Tidak perlu ibu. Datang kesini saja aku sudah senang. Ibu tidak perlu memesan villa, lebih baik dibatalkan saja dan uangnya digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting. "
"Baiklah, aku dan Liyun akan pergi besok. " talak Jancent.
Liyun termangu, apa dirinya tidak salah dengar?
Bagaimana jika mereka kembali nanti, Jancent tidak akan pernah melihat Laila lagi?
Bukankah Laila ingin menghabiskan sisa nafas terakhirnya bersama putra juga suaminya.
Semua ketakutan itu tertanam sendiri dalam hati Nana tanpa tahu cara menyatakan kepada dua lelaki yang sangat berharga bagi Laila. Sejenak ia menghela nafas, lelah berbohong lagi.
__ADS_1
***
Esok paginya Jancent benar-benar mengajak Liyun pergi ke villa di Bali sesuai rekomendasi ibunya. Bahkan sudah disewa untuk beberapa hari kedepan.
Jujur, Laila tidak menginginkan Jancent jauh darinya selama putranya berada di Indonesia dan selama sisa hidupnya yang tinggal hitungan hari. Namun ia menginginkan anaknya menghabiskan waktu berdua di detik-detik anniversary pernikahan mereka.
Ya, Laila yakin masih ada cukup waktu menunggu anak dan menantunya pulang, berkumpul kembali merencanakan liburan keluarga.
Jancent dan Liyun sibuk mondar mandir mengemas barang-barang yang akan mereka bawa. Hebatnya lagi jalan kesana kemari sambil mengganti pakaian, tepatnya hanya Jancent yang sibuk gonta-ganti pakaian, merasa tidak cocoklah pakai yang itu, tidak tampanlah dengan atasan itu, kurang paslah dengan celananya dan lah lah lainnya.
Padahal semua pakaian yang Jancent kenakan selalu cocok karena bentuk tubuh dan wajahnya itu mendukung.
"Kita tidak naik pesawat lagikan? "
"Sebenarnya naik pesawat lebih cepat sam--- "
"Agh, kau tidak berperikemanusiaan. " ketus Liyun spontan. Ia terlanjur trauma naik benda besi terbang itu.
"Ck, dengarkan dulu! Aku belum selesai bicara. "
"Ma-af… kita naik mobil saja ya, ya? " pekik Liyun menatap manis Jancent dengan mata bulatnya. Sengaja dibuat imut, berharap suaminya terpancing.
Jancent berdehem, beralih ke belakang mobil memasukkan koper mereka. Ia mengabaikan Liyun yang memekik penuh gembira sambil lompat-lompat kecil. Istrinya itu kekanak-kanakan sekali. Namun diam-diam Jancent menarik setiap sudut bibirnya, tersenyum.
#♥#
Sepanjang jalan Jancent sibuk berkutat dengan handphonenya. Menelpon atau membalas chat yang entah dari siapa.
Sedangkan Liyun sibuk dengan dunianya sendiri, menatap keluar jendela mobil sambil memakan keripik atau ciki-ciki makanan ringan lain yang Jancent belikan di minimarket dekat SPBU saat mengisi bahan bakar.
Sesaat Jancent termangu mendengar Liyun bersenandung. Walaupun suaranya samar, namun ia tahu persis lagu itu.
Darimana Liyun belajar lagu itu?
Lagu yang sering Wina nyanyikan untuk Jancent setiap kali mereka telponan. Wina selalu bilang kalau lagu itu adalah melodi pengantar tidur untuk pacarnya. Wina akan menyanyikan lagu itu sampai Jancent tertidur.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? "
"Hah? " Jancent tersadar dari lamunannya dan langsung kembali fokus menyetir. Untung mereka tidak kecelakaan saat dirinya tidak memperhatikan jalan.
"Berhenti makan ciki itu, nanti kau gemuk. " oceh Jancent sekenanya, menetralisir kegugupan. Kenapa jadi salting begini.
"Eih, untuk apa dibeli kalau bukan untuk dimakan. Makanan itu fungsinya untuk dimakan… iri bilang. Aku paham kau juga mau makan ciki ini, kan? Sini, buka mulutmu, aaa… " Liyun mengulurkan tangan akan menyuapi Jancent.
"Ck, jangan ganggu aku menyetir. Nanti kita kecelakaan bagaimana! "
"Em… yasudah kalau tidak mau. Jangan menyesal ya. "
Sejenak Liyun mengapit stik ciki itu diantara bilah bibirnya yang langsung disambar Jancent. Begitu cepat gerakannya itu, menyisakan Liyun termangu cukup lama. Otaknya loading, baru saja bibirnya disentuh oleh bibir pria yang menyetir di sampingnya?
Tidak ada *******, namun jelas sekali Jancent mengecup bibir Liyun sekilas setelah menggigit sebagian stik ciki dalam bibir perempuan itu.
"Hahaha… kau kenapa tiba-tiba kaku begitu? Terkejut atau senang? "
"Aaa, Jancent!... Dasar brengsek, brengsek, aku bunuh kau ya! "
Liyun menjerit tidak karuan, memukul lengan Jancent berkali-kali. Persetan soal Jancent yang memohon ampun, ia tidak peduli. Salah sendiri mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Hentikan Li, kita bisa kecelakaan! "
"Aku tidak peduli! Tadi kau juga bilang begitu, tapi ujung-ujungnya mencium ku! "
__ADS_1
Liyun kekeh memberi Jancent hukuman. Kali ini rambut Jancent jadi korban keganasan selanjutnya.
Tolong selamatkan kakanda dari kudanil mengamuk!
***
"Li bangun. " Jancent mengguncang kecil tubuh Liyun sampai perempuan itu terbangun.
"Sudah sampai. " monolog Liyun sendiri, meregangkan otot punggung dan Menyempurnakan nyawa yang masih setengah sadar dari mimpi.
Ngomong-ngomong Jancent sudah pergi keluar mobil. Entahlah kemana suaminya itu, Liyun tidak memperhatikan dengan jelas arahnya.
Sejenak Liyun memperhatikan lingkungan sekitar. Irisnya menangkap ada seekor kepiting kecil berjalan diatas pasir.
Pasir?
"Loh, bukannya ini pantai? " spontan mata Liyun membola, buru-buru memasukkan handphone kedalam saku yang sebelumnya tergeletak di dasbor mobil. Mencari Jancent yang sepertinya di sekitar pantai.
Liyun celingukan, tidak ada satu pribumi pun dipantai seluas ini. Tidak mungkinkan dirinya bertanya pada kepiting kecil atau klomang. Ia bisa dibilang ODGJ (orang dalam gangguan jiwa).
"Ah, akhirnya aku menemukanmu! " seru Liyun mendapati Jancent duduk anteng di sebuah saung. Jaraknya lumayan jauh dari lokasi mobil. Nafasnya kentara terengah-engah.
Liyun membaringkan diri disamping Jancent. Sigap mengipasi wajahnya dengan tangan. Entahlah Jancent sedang bermain game atau membaca dokumen, wajahnya datar semulus tol jagorawi melihatnya datang. Tidak peka sekali kalau kerongkongan istrinya segersang tanah belah di musim panas.
Suaminya tu sibuk je dengan HP.
"Ini Bali? "
"Bukan." Jawab Jancent tanpa berpaling dari handphone.
"Terus kenapa kita kesini? "
"Tempat yang ingin aku datangi, sebelum kita pergi ke Bali nanti sore. "
"Oh… ini pantai mati? Tidak ada siapapun disini kecuali kita. "
Jancent menghela nafas. Kesal juga ditanya terus, memangnya ia narasumber. Aktivitasnya jadi terganggu.
"Bukan pantai mati, tapi aku sengaja menyewa tempat ini. "
"Woah… " Liyun tersanjung, suami jadi-jadiannya diam-diam bisa romantis ternyata.
"Tidak perlu sampai begini, lebih seru lagi kalau ramai orang. " cuit Liyun dengan pipi yang sudah merona.
"Kau kira aku menyewa pantai ini untuk mu. Aku menyewanya untuk menonton serial Boruto episode terbaru yang rilis minggu ini. " Jancent menunjukkan video yang sedang ditontonnya.
Liyun menipiskan bibir, rona di pipinya menggosong. Ternyata sejak tadi Jancent sibuk menonton video anaknya Naruto itu. Sespesial itukah Boruto sampai butuh tempat luas nan sepi untuk menontonnya.
Liyun berdecak, "aku kira kau berniat mengajakku kencan. "
Lirih Liyun mengatakannya sebelum pergi, namun Jancent dapat mendengarnya.
Jancent tertegun menatap punggung Liyun yang menjauh. Perlahan ia menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Rencananya sukses besar.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...