
Ada yang nunggu novel ini up ndak?
Maaf lama... Ada kendala. Seharusnya udah up dari kemarin.
Kapan ya author double up. Pengen banget!!!
Sudahlah tar bosen readers nya baca curhatanku ae...
Selamat membaca...
pai
pai
.
.
.
.
.
.
.
.
Liyun gelisah di tempat duduknya. Sesekali melirik bergantian Jancent yang fokus menyetir dan jalanan di luar. Berharap rumah orang tua pemilik tubuh masih jauh.
Nana belum siap di tanyai ini, itu, begini, begitu, dan lainnya. Bertemu sekali pun orang tua Liyun belum pernah, apalagi mengetahui sifatnya.
Menjadi pemeran utama macam begini sungguh ribet, bikin ruwet, mending dirinya jadi pemeran pembantu saja yang muncul setahun sekali di novel-novel.
Sesekali Liyun menghela napas berat. Meliuk sana, meliuk sini. Tangannya juga tidak bisa diam, tepuk sana sini, jarinya di gigit, kadang tangannya mengepal untuk menetralisir ke gugupan. Liyun kena demam panggung, sudah mirip artis yang akan tampil konser.
Jancent menoleh Liyun yang sudah berwajah pucat dengan peluh sebesar biji jengkol menghiasi wajahnya, duduknya juga terlihat tidak nyaman sama sekali.
"Kau itu kenapa? ambeyen? duduk tidak bisa anteng sedikit. Mirip bayi tidak di bedong. "
Liyun melengos kesal. Suaminya ini tidak peka sama sekali kalau dirinya gugup. Segugup trainee militer menunggu giliran tiarap di lumpur.
Apa ia harus jujur saja?
Liyun menelan susah payah liurnya yang terasa sebesar batu. Susah sekali mendorong liurnya masuk ke tenggorokan. Ia menghela napas untuk ke sekian kali. Menatap tegas Jancent, duduknya di tegapkan.
"Aku jujur sajalah padamu... Aku ini bukan istrimu, bukan anak mertuamu, juga bukan Liyun..."
Menjeda. Liyun menghela napas lagi sebelum melanjutkan. Jancent berusaha fokus mendengarkan sembari menyetir. Bergantian menatap Liyun dan jalanan di depan.
"Aku ini Nana, masih anak sekolah. Aku tidak mau terlibat masalah keluarga orang begini. Mana aku tidak tahu sama sekali apa permasalahannya. Jadi aku mohon padamu, tuan CEO yang baik hati, tampan, berkharisma, berwibawa, dan adil, jangan libatkan aku lagi... Aku lelah."
"Kau itu bicara atau mengigau. Korban nonton karma wasiat bapak ya, beginilah. Awalnya hip hip hura hura, akhirnya minal aidzin wal faidzin. "
Liyun termangu. Tidak paham apa yang Jancent katakan. Itu judul film Indonesia atau judul lagu?
"Aku tidak bercanda badak! " tegas Liyun yang hampir setengah berteriak.
"Siapa yang bilang aku bercanda! "
__ADS_1
Bum!
Suara ban belakang mobil Jancent pecah.
Jancent terkejut, begitu pun Liyun yang langsung berpegangan erat pada pegangan di atas kepalanya saat suaminya mendadak banting setir ke kiri.
Siiiiiiiiiiit... Sreeeeeeek... Rrrrrrtt... Ciiiiiiiiit.
Jancent langsung menginjak rem sebelum menabrak batang pohon di pinggir jalan. Tubuh keduanya terpental maju, membuat dada sedikit sesak terbentur dashboard mobil. Untung pakai seatbelt.
#♥#
"Kau cari mati! mau aku mati muda jadi arwah penasaran! "
Sembur Liyun menohok ginjal saat mobil sudah berhenti. Masih terlihat kepulan asap dan debu bekas insiden tadi. Jantung ke duanya kembang kempis melebihi naik lo-***-kos-ter.
"Ini salahmu! coba kau tidak mengoceh terus sambil mendrama. Membuat aku tidak konsen menyetir! " jawab Jancent dengan nada sama ngegasnya seperti Liyun.
Jancent tertegun menatap Liyun yang langsung diam. Namun matanya melotot seakan sebentar lagi melompat ke pangkuannya.
"Matamu kenapa? kelilipan. "
"I-itu... " jari telunjuk Liyun menunjuk Jancent.
"Itu apa? aku? kenapa? " Jancent menunjuk dirinya sendiri sesekali melihat ke luar jendela mobil. Takut ada orang lain yang Liyun maksud. Namun tidak ada siapapun, hanya mobil yang berlalu lalang.
"Itu mu... "
"Itu? itu ku kenapa? kalau bicara yang jelas Liyun, jangan di potong-potong! " tegas Jancent.
Jancent gemas. Saking geregetannya ia ingin sekali memakan Liyun karena tidak langsung memberitahu. Memangnya ia sedang ikutan acara kuis super*deal.
Tangan Jancent diam-diam menutupi area selatannya. Takut ada yang Liyun lihat sampai sawan. Apa dia melihat anuku berdiri begitu?
"Hah."
"Dasar budek! bukan hah, tapi dahimu berdarah itu. "
"Aku dengar apa yang kau bilang! aku ini syok meresponnya. "
Jancent menyeka cairan kental, amis berwarna merah yang sudah merembet sampai batang hidungnya. Rasa nyerinya mulai terasa nano nano. Jancent memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Sepertinya ia tidak sanggup untuk melanjutkan acara musafir ke rumah mertua.
"Kau tidak apa-apa? apa perlu ke rumah sakit? "
Belum sempat di jawab, handphone Jancent berdering dalam dashboard. Ia segera mengambil setan gepeng itu. Jancent tertegun. Lukanya semakin berdenyut kala membaca nama si pemanggil.
"Ayahmu."
Nada Jancent mensedih menyodorkan handphonenya pada Liyun. Tangan sebelahnya sibuk menyumbat luka di dahi. Berharap Liyun peka mengangkat panggilan ayahnya. Kalau dirinya yang mengangkat, bisa di sembur habis-habisan.
Liyun menggeleng. Sama takutnya dengan Jancent. Takut ayahnya seseram hulk.
"Jangan! tidak perlu di jawab. Matikan saja handphonenya. " Liyun langsung merebut handphone Jancent dan benar-benar menonaktifkannya seperti yang ia katakan.
Jancent stres. Mengumpati Liyun dalam hati. Kalau begini caranya, ia tambah di omel ayah mertuanya karena tidak sopan menolak panggilannya.
Sesaat Jancent turun dari mobil yang di ikuti Liyun. Menatap nanar ban mobilnya yang kempes. Bahkan tadi sudah meledak juga. Menyesal dirinya tidak menyuruh Hiba yang menyetir.
"Kenapa di tonton terus ban mobilnya? seharusnya di ganti. "
Jancent menipiskan bibirnya mendengar ucapan klimis Liyun tanpa di sortir dulu. Dahinya berkerut dengan urat yang bertonjolan. Panas hatinya di salahkan terus. Kapan benarnya.
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi tidak ada ban serep di mobil... Sudahlah, tinggalkan saja mobilnya. Tidak ada waktu mengurus itu, ayah sudah menunggu. "
Jancent menarik lengan Liyun kasar. Sebelah tangannya masih setia memegangi dahinya. Persetan darahnya tidak mau berhenti juga.
"Kita mau ke mana?"
"Dasar pikun. Aku sudah bilang berjuta kali, kita mau ke rumah ayahmu! "
Liyun kicep. Jancent kasar sekali membentaknya, suaminya benar-benar marah. Liyun merasa bersalah. Ia kasihan melihat Jancent yang sesekali meringis.
"Kita ke rumah sakit saja ya. "
Jancent tidak menjawab, sibuk melihat kiri kanan mencari taxi kosong. Liyun anti di cueki, ia tidak suka. Liyun sibuk menggoyangkan lengan Jancent berharap suaminya itu menoleh, menanggapi.
"Jancent... Kita ke rumah sakit dulu, obati lukanya baru ke rumah ayah. "
"Nanti saja setelah pulang dari rumah ayah. " jawab Jancent yang kelewat santai, masih sibuk mencari taxi.
"Kalau kau pingsan di jalan bagaimana? "
Kali ini Jancent menoleh, "ya, kau yang gotong aku pulang. Kenapa harus di pusingkan. "
"Kalau kau tiba-tiba hilang ingatan nanti bagaimana? "
"Tinggal kemoterapi. Uangku, kan banyak. "
"Lihat itu, darahnya mengalir terus. Nanti kau bisa kekurangan darah. "
"Manusia belum langka. Stok darah masih banyak di rumah sakit, tinggal beli. Jangan seperti orang susah, aku ini kerja terus setiap hari. Tidak ada waktu untuk selingkuh! "
Jancent sengaja berucap pedas. Menyindir Liyun tepatnya agar ia diam. Jujur ia tidak melupakan kekesalannya di kantor tadi. Jancent tahu istrinya itu sedang membujuknya, namun ia kesal juga Liyun terus menanyai dirinya macam sedang melamar gadis. Di tanya bibit, bobot, bebet, bubut, sudah setara soal ujian nasional.
Sesaat Liyun diam, ia tidak berusaha berbicara yang aneh-aneh lagi. Tapi tetap saja lima menit kemudian ia mengoceh. Mana taxi sama sekali tidak ada yang lewat. Kalau pun ada, pasti penuh penumpang. Jancent kesal.
"Kalau luka itu tidak segera di obati nanti meninggalkan bekas. Kau mau wajahmu jadi jelek?! " Liyun sengaja memprovokasi supaya hati Jancent terbujuk mau pergi ke rumah sakit.
Namun bukan keturunan Yancent namanya kalau tidak punya seribu satu alasan.
"Langsung oprasi plastik biar lebih tampan dari taehyung BTS. "
Liyun memajukan bibir. Kesal sendiri membujuk CEO satu ini. Lelah, letih, lesu di campur terus di beri pernipan.
"Nanti kalau dokter bilang kau harus oprasi otak terus meninggal bagaimana? kau mau aku menjanda?! " Liyun ngegas sekalian. Sudah bosan ia bersabar sejak tadi.
"Kalau mati, ya kubur. Apa sulitnya... Kata orang-orang janda lebih menawan dari perawan. Kan lebih menguntungkan jadi janda. "
Liyun tersenyum miring. Menggolak emosinya menjadi kolak. Bingung harus membujuk seperti apa lagi. Suami jadi-jadiannya ini sekeras batu karang. Pintar sekali bersilat lidah. Kata-katanya mengalir terus sudah setara om penyair.
Pusing pala barbie Li.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...