
...Have a nice day......
...Semoga hari ini diberi kemudahan untuk semuanya....
...Jangan lupa like, komen, pav....
...Pay... Pay...
.
.
.
.
.
.
.
Liyun langsung menelan bulat-bulat bawang putih di dalam mulutnya. Khilaf. Seketika lupa caranya mengunyah. Kedua mata Liyun melotot seperti akan lompat ke atas mangkok nasinya.
Menatap horor Jancent yang asal ceplos. Membuat satu meja gaduh, tersedak dan hampir jantungan.
"Apa ayah tidak salah dengar? mengidam kata mu? "
"Yang benar Jancent? " Lusi menyahut.
"Sudah berapa minggu? " tanya Darma.
Sesaat Liyun dan Jancent saling melirik. Guratan kebingungan hadir di wajah keduanya. Otak mereka tersesat sedikit, bagaimana menjawab pertanyaan Darma yang terlanjur diiyakan Tachibana dan Lusi.
Mereka bertiga masih menunggu dengan setia jawaban Liyun dan Jancent yang belum juga buka suara.
Di dalam hati, Liyun tanpa henti mengumpati suaminya itu. Persetan mulut Jancent yang tidak bisa diam.
"Tiga hari. " jawab Jancent.
"Satu minggu. " jawab Liyu.
Keduanya menjawab bersamaan. Kerutan di dahi ketiga orang itu tampak jelas bingungnya.
"Yang mana yang benar? tiga hari atau satu minggu? "
Untuk kesekian kali Darma mengajukan pertanyaan mewakili rasa greget kepo ayah mertua dan istrinya.
Jujur, rasanya Jancent ingin sekali mengikat bibir kakak iparnya agar tidak ribut bertanya ini itu. Memangnya ia mamang pedagang asongan.
Sama saja dengan suaminya, Liyun juga gemas ingin menggorok masa depan kakak iparnya diantara kedua pahanya itu.
"Satu minggu. " jawab Jancent.
"Tiga hari. " jawab Liyun.
Jawab keduanya tetap kompak dan sama, namun hanya kebalikannya.
Wajah ketiganya bertambah sangat menatap Jancent dan Liyun. Seolah akan menelan mereka hidup-hidup.
"Jancent yang benar, aku agak lupa ... Ya, satu minggu. "
Liyun terkekeh mengacungkan jari telunjuknya yang langsung di iyakan Jancent karena diam-diam kakinya diinjak brutal sang istri beberapa kali di balik meja.
"Tidak sia-sia ayah menasehati dirimu waktu itu. Dan akhirnya kecebongnya jadi. "
Jancent tertegun mendengar perkataan ayah mertuanya itu membuat ia ingat sesuatu, sesaat menoleh Liyun yang masih mengangguk dengan cengiran penuh kebohongan.
__ADS_1
"Jadi Liyun menangis sehabis menemui ayah tempo hari karena masalah ini. " begitu batin Jancent.
***
Hampir tengah malam Jancent dan Liyun berada di kediaman Tachibana. Mengobrolkan rencana ini itu pasal menimang cucu.
Wajah mertuanya itu benar-benar extaited. Sangat gembira berubah status menjadi kakek-kakek. Semangatnya empat lima tujuh belasan.
Padahal realitanya ucapan tadi hanya kelakar Jancent yang asal ceplos pasal Liyun mengidam. Yang Jancent maksud mengidam bukan karena hamil.
Mengidam tidak harus untuk ibu hamil adalah tren bahasa zaman now untuk orang yang benar-benar ingin makan sesuatu dan semacamnya. Tolong di catat saudara-saudara.
Namun Tachibana salah paham mengartikan. Kepincut ke hal berbau orok saking ingin balapan status seperti tetangganya yang bukan grandpa lagi tapi sudah buyut.
You know lah maksud author.
Tepat jam dua belas malam Jancent pamit untuk pulang. Alasannya takut nasibnya berubah jadi Cinderella yang kehilangan sandal swallow-ralat, karena Liyun butuh istirahat sebab janinnya masih lemah.
"Tapi ayah, mobilku mogok--- "
"Pilih saja mobil di garasi, ada selusin. Terserah mau bawa yang mana. "
Tegas Tachibana memotong ucapan Jancent. Tidak mau calon cucunya brojol nanti di tengah jalan kalau sampai pulang jalan kaki.
Namun kenyataannya memang sudah jalan kaki dengan lagu orang pinggiran berkumandang tadi siang.
"Tapi jangan lupa besok di kembalikan lagi. " bisik Tachibana membuat senyum Jancent mengkerut.
Jancent kira diberi mobil gratis, tidak tahunya minta di kembalikan.
Susah kalau dapat mertua medit model begini.
#♥#
"Semua gara-gara mulut ember mu! Ayah jadi mengira aku hamil. "
Nana sudah kembali ke jiwa dramanya. Ia tahu perannya sekarang dan sedikit paham akan sifat ayah Liyun itu.
"Ya salahkan otak cetek ayahmu itu yang salah tanggap, tidak cerdas cermat... Maksud ku bukan mengidam karena hamil. " Jancent membela diri di sela menyetirnya.
"Terus bagaimana sekarang? semuanya sudah terlanjur berantakan begini. "
"Tinggal buat saja kecebongnya, kan beres. "
Pletak,
Liyun langsung memukul kepala bagian belakang Jancent. Ia tahu maksud biadab lelaki di sampingnya.
Nana sudah kelas tiga SMA om, sudah paham lahir batin di luar otak adegan delapan belas plus. Tapi tidak mungkin dengan Jancent juga. Lah wong bukan suaminya.
Sementara Jancent yang termangu biru di gampar,
What happened?
Apa kata-katanya tadi salah?
Jancent langsung meringis memegangi kepalanya yang terasa sakit. Beralih menatap tajam Liyun yang memukulnya tiba-tiba dan tidak kira-kira sakitnya. Untung kepala berotak pintar kakanda tidak bocor.
"Kau sudah gila! bagaimana kalau kita kecelakaan gara-gara aku banting stir tadi ulah kau memukul kepalaku. Katanya tidak mau jadi arwah penasaran ... Sakit tahu! "
Jancent kembali mengeluh mengelus kepala belakangnya.
"Salahmu berpikiran yang aneh-aneh. " bibir Liyun dimajukan. Merajuk karena perkataan Jancent tadi.
Liyun buang muka, menatap keluar jendela mobil dengan tangan menyilang di depan dada.
Ciiiiiiiiiiiiiit...
__ADS_1
Tiba-tiba Jancent menginjak rem sangat dalam.
Mendadak membuat Liyun jantungan yang untung tidak sampai melompat keluar.
Jancent sengaja memang menepikan mobilnya tiba-tiba. Rahangnya tampak mengeras juga tangan yang meremas sangat kuat gagang kemudi.
"Ais... Aku hampir mati jantungan Jancent! jangan bercanda kalau sedang menyetir. Kau pikir--- "
"Aku tidak pernah bercanda. " tegas Jancent langsung menoleh Liyun.
Liyun tergugu. Menatap heran wajah Jancent yang berubah menjadi seribu persen serius tanpa neko-neko. Suaranya terdengar berat, persis suara laki-laki maco.
"Kenapa Jancent jadi begini? apa dia ingin mengerjai Liyun karena ulang tahun? " begitu pikir Nana. Jancent memang orang yang sulit di tebak menurutnya.
Sesaat helaan nafas Jancent terdengar. Masih bertahan menatap lekat iris sang istri di sampingnya.
"Aku bosan kita kekanak-kanakan seperti ini. Bukan style ku dan aku lelah. "
"Dia mau mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Liyun? " Nana membatin. Memutar acak bola matanya. Sedikit malu ditatap intens oleh Jancent.
"Aku akan belajar mencintai mu dari sekarang. Dan kau ... Juga harus belajar mencintai ku, Liyun. "
Liyun masih diam. Kerutan di dahinya sekilas hadir, sampai suara samar dan tatapan nanar Jancent membuat kedua matanya terbelalak.
"Setelah ciuman ini, perjanjian kita tidak berlaku lagi! "
Tangan Jancent langsung langsung meraih tengkuk Liyun, mendekatkan wajahnya dan...
Cup,
Dengan berani Jancent mencium ranum semerah ceri itu. Tidak peduli lagi pada tuannya yang pasti melototkan matanya.
Liyun masih loading menerjemahkan situasi sekarang. Terlalu cepat dan tiba-tiba. Antara nyata dan mimpi, harus menikmati atau meronta.
Ciuman pertama Nana yang tidak terduga-duga di renggut Jancent. Jujur, pacarnya si Arata itu belum pernah menjamah bibirnya. Sekali saja, tidak.
Dan kalau Nana tahu, ciuman itu juga pertama kali untuk Jancent sejak awal status suami istri di sandang. Namun Jancent tidak tahu kalau yang ia cium bukan Liyun.
***
Liyun merasa bibir bawahnya dihisap dengan suara kecipak yang dapat didengar begitu jelas. Ada rasa aneh yang menggerayangi perutnya. Belum lagi lidah yang mengetuk, ingin bertamu dirongga mulutnya.
Spontan Liyun sadar ini salah dan langsung mendorong tubuh Jancent untuk menjauh.
"Eunghm... hpmm... "
Namun brengseknya Jancent menekan tengkuk Liyun dan semakin memperdalam ciumannya.
Mungkin sekitar dua puluh menit terjadi perang panas antar bibir itu di dalam mobil.
Jancent bersyukur dalam hati karena tidak memarkirkan mobilnya di bawah lampu jalan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...