Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Huru hara Liyun petaka Jancent × 4%


__ADS_3

"Ada apa? " ini Mitsuha yang menengahi. Datang memastikan Hiba yang sedikit lama.


"Hm, sekretaris Mitsuha, anu... "


Karyawan penjaga meja resepsionis itu mendekat. Berbisik pada Mitsuha, mengacuhkan Hiba yang mengernyit ingin tahu juga. Apa ini rahasia wanita?


Karyawan itu pergi. Hiba akan bertanya pada Mitsuha, tapi sekretaris itu malah langsung meninggalkannya. Berjalan agak cepat mendekati Jancent yang menatap penasaran.


"Tuan... " Mitsuha merapat, mensejajarkan bibirnya dengan telinga Jancent, "Tadi pihak rumah menelpon. Mereka bilang, nyonya mengamuk mencari tuan. "


Diam, tidak ada reaksi apapun. Sesaat Jancent menekan pelipis.


Sudah Mitsuha tebak atasannya tidak peduli dengan istrinya yang hanya merusuh. Tersenyum tipis akan duduk kembali, namun kali ini ia salah. Jancent beranjak dari kursinya, memakai kembali jas yang sebelumnya ia lepas.


"Maaf sebelumnya, aku tidak bisa memimpin meeting sampai selesai ... Sekretaris Mitsuha, tolong gantikan aku. "


Mitsuha tertegun. Ini bukan Jancent, atasan yang ia kenal. Pria itu biasanya tidak peduli hal-hal yang berkaitan dengan Liyun. Bukan hanya Mitsuha, semua yang hadir dalam meeting tercengang.


Baru pertama kali Jancent mendadak pergi di tengah meeting. Hal apa yang membuat CEO tampan itu khawatir?


Teriakan, amukan, barang pecah berserakan disana sini-ralat, malah Jancent tidak mendapati hal buruk apapun setelah sampai. Pikirannya terlalu travelling.


Rumahnya juga tidak terbalik. Masih sama sebelum ia pergi tadi. Aman, damai, bersih, rapi, dan pembantunya juga komplit. Mana yang katanya nyonya besar mengamuk?


"Sepertinya nyonya pingsan tuan. " Adu Hayase, pelayan pribadi Liyun setelah tuannya datang.


Tanpa menjawab sepatah kata apapun, Jancent merogoh kantong jas bagian dalam. Mengambil kunci kamar Liyun sebelum membuka.


Insting Hayase tepat. Istrinya terbaring di lantai kotor, berserakan bulu-bulu kapas bantal bekas keributan pagi tadi. Berantakan sekali.


"Ambilkan segelas air. "


Sekilas Hayase mengangguk sebelum beranjak.


Jancent bersimpuh. Memapah tubuh Liyun, menggendongnya, membaringkan tubuh istrinya perlahan diatas kasur. Memungut selimut yang terlempar sampai depan pintu kamar mandi, mengibaskannya sebelum menyelimuti tubuh tak sadarkan diri istrinya.


Namun saat hendak membenahi selimut sampai dada, perempuan itu terbangun. Melotot, pasti. Kedua bola mata itu akan copot sepertinya. Pikiran negatif merajai, ambigu, tangan Jancent tepat diatas buat dada.


"Ja-jangan berpikiran aneh-aneh ... Tadi kau pingsan. " Sanggah Jancent sebelum perempuan itu angkat suara.


Buru-buru melepas selimutnya. Maksud hati berniat baik malah takutnya ia difitnah. Kentara sekali wajah perempuan itu akan menyemburkan kata-kata menohok ginjal.


"Aku juga tidak doyan tubuhmu. " Pertegas Jancent sekenanya.


What!


Liyun tersedak ludah sendiri. Wajahnya berubah seperti terkena diare. Apa yang dipikirkan perempuan itu?


"Wajahmu itu, kenapa?"

__ADS_1


"Kau gay, ya?" Liyun malah tidak menjawab sesuai pertanyaan Jancent.


Jangan tanya perasaan Jancent yang dikatai gay, berwajah kecut. Menyesal juga asal ceplos sebelumnya yang mendapat argumen lain oleh istrinya. Harga dirinya anjlok. Jelas-jelas ia bukan kaum homo.


"Maksudnya homo, pria suka pria. "


Sialnya Liyun mengatakan lebih spesifik. Belum hilang kalimat sebelumnya terngiang dalam pendengaran, malah ditambah ucapan yang lebih frontal.


Ini yang namanya jatuh tertimpa tangga diinjak-injak pula. Ia lurus, tidak belok. Rasanya Jancent ingin menggantung Liyun dan mengulitinya. Sadis sekali.


"Jaga ucapanmu atau lidahmu hilang setengah. Aku lurus, penyuka wanita!"


"Seharusnya kau tergoda dengan tubuh elok ku, apalagi kita cuma berdua. Semua pria pasti mencari kesempatan. Pikiran pria tidak ada yang baik, imannya juga lemah, atau kau tidak memiliki ***** sama sekali? berarti kau impoten. "


"Tuan, ini airnya. "


Hayase datang menengahi. Memberi air yang Jancent minta sebelumnya. Tepat sekali pembantunya ini datang. Telinganya terlanjur panas mendengar Liyun meracau. Perempuan itu banyak mengoceh hari ini, tidak seperti biasanya yang tidak pernah kelihatan.


Entahlah, Hayase mendengar percakapan mereka atau tidak.


Liyun mengernyit, menatap segelas air di tangan Jancent. Tidak berniat menerimanya. Curiga lebih tepatnya.


Sesaat Jancent menghela napas, "aku tidak meracunimu. "


Nyengir. Liyun merasa Jancent mengetahui pikirannya. Sesaat merebut gelasnya dan meneguk sampai habis. Ia haus juga ternyata.


"Nyonya baik-baik saja? aku khawatir nyonya belum makan dari semalam. " Hayase duduk di tepian ranjang. Memijat kaki Liyun.


Hening. Sesaat tertegun. Hayase bersitatap dengan Jancent. Kenapa majikannya tidak ingat dirinya? ia,kan pembantu pribadinya.


"Aku Hayase, pembantu pribadi nyonya, Lupa?"


"Aish... Pantas lupa. Perut itu tidak diisi dari semalam. Ini... Pergi keluar, cari makanan enak. " Tegas Jancent melempar black card sebelum pergi.


Tidak ingin mendengar jawaban yang pasti sama saja. Dan seperdetik Jancent menyuruh bibi bagian kebersihan rumah untuk merapikan kamar istrinya.


Beda lagi dengan Hayase yang termangu. Tumben sekali tuanya memberi Liyun card miliknya, menyuruhnya mencari makanan enak di luar, padahal di rumah ini ada tiga orang koki profesional yang bisa masak menu restoran  bintang lima. Dan lagi, Liyun punya card sendiri. Dompetnya penuh kartu berisi jutaan dolar.


#♥#


"Sepertinya, kali ini nyonya sakitnya parah tuan. " Hiba mengusir sunyi.


Jancent hanya berdehem, tetap fokus menatap luar jendela mobil. Perjalanan kembali ke kantor memakan waktu lumayan lama dari biasanya. Mereka terjebak macet.


Hening kembali setelahnya. Suara klakson mobil lain mengintimidasi tak sabaran. Sesekali Hiba melirik Jancent yang duduk di kursi penumpang lewat cermin mobil diatasnya.


Jancent tetap diposisi itu dari awal bokongnya mendarat. Tidak juga menoleh Hiba yang mengajaknya bicara.


"Kenapa tuan melamun?"

__ADS_1


Tidak. Ia tidak melamun. Pikirannya dikuras habis untuk menjawab huru hara Liyun yang berubah 360°. Tatapan istrinya juga berubah, bukan milik Liyun.


Apa Liyun punya kepribadian ganda?


"Kau percaya orang bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat dalam semalam?"


Hiba termangu, tidak mendengarkan dengan seksama ucapan Jancent. Salahkan dirinya yang terlalu fokus menyetir, kegirangan berhasil melewati macet.


"Hm, apa tadi yang tuan katakan?"


"Hari ini aku tugaskan kau mengikuti liyun kemanapun. " Tegas Jancent yang kelewat malas mengulang kalimatnya tadi.


Ingat, Jancent tipe orang yang tidak suka mengulang kalimat yang sama.


Mungkin menugaskan Hiba menguntit Liyun cara yang lebih efektif.


***


Dirumah beda cerita. Hayase jadi ikutan linglung ulah Liyun. Menonton majikannya itu mengoceh di depan cermin, seperti baru pertama kali melihat wajah sendiri. Bergumam ini itu yang kadang tidak jelas.


"Tapi wajah ini lebih terawat dari wajahku, dan... Woah... " Liyun menyigar rambutnya dengan jari,


"Rambut ini selain panjang, lembut juga. Berkilau seperti rambut iklan shampoo. Aku tidak menyangka rambutku bisa sepanjang ini, padahal sebenarnya segini. " Liyun menyentuh pundaknya, beri syarat jika sebelumnya pendek.


Hayase menatap parau Liyun. Sejak kapan rambut majikannya ini pendek. Beliau pernah bilang, paling benci rambut pendek.


"Siapa tadi namanya? Liyun, ya? nyonya Li. "


Hayase mengangguk kaku, bagaimana nama sendiri bisa lupa. Wajahnya terlihat seperti habis melihat puluhan zombie, pucat.


"Tidak ada salahnya bereinkarnasi di tubuh ini. Menjadi orang kaya, harus dimanfaatkan. Sudah menikah pun tidak masalah. Toh suaminya tampan juga. " Nana bermonolog dalam hati. Terkekeh ala orang jahat.


"Ssh... Ngomong-ngomong anakku dimana? kok aku tidak melihat ada anak kecil. "


Lol,


Majikannya ini sedang ngelawak atau pertanyaan kuis hadiah dadakan.


Bagaimana mau punya anak, wong tidur tidak seranjang, tidak sekamar, makan tidak semeja, komunikasi apalagi, tidak pernah peduli.


Apa ini alasan majikannya jadi aneh yang menyerempet gila saking ingin punya anak tapi tuannya ternyata impoten?


Pantaslah pisah kamar.


Hayase tidak sengaja menguping percakapan keduanya tadi. Bukan hanya dirinya, sekarang semua asisten rumah tangga mempercayai kalau tuannya adalah si pria impoten yang kurang ajarnya terlanjur tampan. Pantas dinginnya tidak manusiawi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2