
Ada yang kangen ndak sama Jancent, Liyun dan Ryu???
yeorobun readers uwu yang baca, ada yang ARMY-nya BTS ndak??
Tolong dijawab soal ujiannya...
Jangan lupa komen, vote, favorit, like, dan semua adanya.
Selamat membaca, pay pay....
.
.
.
.
.
Jancent uring-uringan di seret Liyun ke toilet. Entah toilet wanita atau pria, istrinya itu tidak peduli lagi. Untung toiletnya sepi. Suami di seret macam sapi.
Jancent kesal, langsung menepis tangan Liyun. Merah padam wajahnya emosi. Kenapa istrinya malah membela Ryu.
"Kenapa kau menghalangi ku! kau senang berselingkuh? "
Liyun berdecih membuang muka, "Ah, kau salah paham. "
"Salah paham kau bilang. Jelas-jelas kau selingkuh didepan ku! bukannya pergi bekerja. " Jancent tambah memprovokasi.
"Aku mencari kerja! terus, kau juga jalan dengan perempuan tadi didepan ku. Bukannya sama saja kau selingkuh! "
Liyun ikut darah tinggi. Tensinya melonjak tajam. Hal kecil dibuat rumit. Pada dasarnya Liyun tidak peduli Jancent jalan atau dekat dengan siapa pun. Tapi ia tidak mau jadi tersangka dan mencari perkara sekalian dengan Jancent.
Berakhir menjadi adu bibir karena mulut sudah biasa. Masalahnya kacau berantakan. Ambyar merembet ngalor ngidul saling menuduh tidak mau di salahkan.
Mata di pelototkan, ucapan di pedaskan, nada di tinggikan, dada di busungkan beradu kuat. Api terlihat jelas berkobar ditubuh keduanya.
Tadinya Liyun ingin menjelaskan secara manis, namun Jancent maunya dikasari. Memancing gorila mengamuk.
"Perempuan siapa? setiap hari aku sibuk kerja, mana sempat selingkuh. "
"Perempuan yang bersamamu di lif tadi. Dia itu kelaminnya perempuan bukan pria. "
"Kau salah paham. Mitsuha itu asisten ku, wajar dia ikut. Dan kami hanya terikat kontrak kerja. "
"Mau kau bilang salah paham atau bukan, tetap saja! "
__ADS_1
"Aku sudah menjelaskannya dengan jujur. Seharusnya kau dengarkan du---"
"Untuk apa mendengarkan penjelasan mu. Kau saja tidak mau mendengarkan penjelasanku! kau egois. " Liyun menghentakkan kaki, pergi. Persetan pada Jancent yang masih di toilet.
Jancent termangu. Mata melototnya menyipit, dadanya turun melayu, suaranya menciut, mingkem. Di talak pedas oleh Liyun yang mengatainya egois. Pedih hatinya di khianati istri sendiri yang lebih memilih selingkuhan.
"Kau anggap aku ini apa? "
Ryu termangu sendiri dengan dua cup boba yang ia pesan sebelumnya. Semua para netizen sudah membubarkan diri. Keadaan kembali normal seperti sebelumnya. Meninggalkan hati sedih penuh ke kecewaan Ryu yang menatap nanar bobanya.
Bingung akan diberikan pada siapa cup boba satunya. Tidak mungkinkan ia yang minum semua. Aura Ryu mirip orang putus harapan.
Benar kata lagu om Jud*ika si butiran debu. Sudah jatuh, lupa cara bangkit lagi. Wes kelelep (sudah tenggelam), dan tidak tahu arah untuk pulang karena tidak bisa berenang, jadilah ia mati terjerumus masuk ke dalam jurang relung hati terdalam. Sakitnya tuh disini, kata ci*ta-ci*ta*ta.
"Ryu, kau tidak apa-apa? "
#♥#
Ryu hampir jantungan melihat siapa yang kembali. Bukankah dirinya di campakkan?
Liyun kembali, menangkup wajah Ryu yang sayang kalau lebam atau meninggalkan bekas nantinya. Tampannya nanti hilang. Mengumpat kesal dalam hati pada Jancent yang main tinju sembarangan. Memangnya Ryu samsak.
Hati layu, mengabu, jatuh, sakit hatinya, ditikam samurai Ryu kembali. Seceria bunga matahari bermekaran, semencolok berlian dalam lumpur, film abu hatinya berubah biru. Baterai kebahagiaan Ryu terisi penuh. Liyun datang bagai penawar.
Bisakah Ryu percaya sekarang, bahwa ia bisa menggapai bunga dalam samudera.
Ryu berusaha menghilangkan ke khawatiran, ke gelisahan, ke takutan yang berdenyut dihati. Mengganti semua pikiran negatif menjadi positif.
"Aku tidak apa-apa. Cuma luka sedikit. "
Sesaat Liyun berdeham, "bobanya? "
Ryu menghela napas. Merutuki hati sendiri. Berharap alurnya seperti difilm layar lebar romantis. Posesif harus bawa ke rumah sakitlah, harus di obatilah, di tiupilah lukanya, ini itu dan lah lah lainnya. Eh, semua diluar ekspetasi.
Liyun menatap heran perubahan mimik wajah Ryu. Apa dia kebelet?
Jujur, Liyun tersipu malu. Berubah menanyai boba, takut kentara tersipunya. Hatinya lompat-lompat ingin keluar saat Ryu menggenggam tangannya. Mungkin detakan jantung tidak konstannya dapat didengar jelas pakai toak masjid. Jancent belum pernah membuatnya begini.
Ngomong-ngomong soal Jancent, pria itu berjalan menggebu ke arah Ryu dan Liyun. Langkanya di lebarkan, jalannya di cepatkan. Wajahnya gimana gitu, persis baru ditagih rentenir. Nano nano rasanya.
Secepat sambaran petir Jancent menarik lengan Liyun, membawa pergi istrinya. Untuk kesekian kali Ryu dicampakkan.
"Ayo pulang. " tegas Jancent tidak mengendorkan genggamannya.
"Heh, pelan-pelan. Tangan ku sakit! ... Memangnya rumahnya kenapa sampai harus buru-buru begini? rumah kita terbalik. "
Kentara sekali Liyun kepayahan mengeimbangi langkah kaki Jancent. Ia heran dengan tempramen Jancent yang serba dadakan tidak jelas. Tiba-tiba begini, begitu, pukul sana, pukul sini.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan dimobil. "
Hati Ryu patah. Retak, sulit menyatukannya kembali sesempurna sebelumnya seperti cermin. Liyun datang seolah memberi harapan. Pupus harapan untuk kedua kali. Kecewa menerima kenyataan pahit, sepahit brotowali jamu mbok Iyem.
Benar kata Mitsuha kalau Jancent adalah suami Liyun.
Mitsuha memberitahu Ryu kebenaran yang ada apanya itu saat Liyun menyeret Jancent pergi. Hubungan Liyun yang berstatus suami istri dengan Jancent. Ia Menasehati Ryu untuk tidak lagi mengejar istri orang.
Sayang kalau orang tampan dikatai pelakor.
#♥#
Lima menit lalu sesudah Liyun pergi, Jancent mendapat panggilan telepon dari Tachibana. Ayah mertuanya itu mengomel parah. Disembur pertanyaan ini itu yang tidak Jancent tahu. Kepala kakanda pusing jadinya. Lagi-lagi menyangkut soal Liyun.
Jancent belum selesai dengan Ryu sudah di talak mentah Liyun dan sekarang, datang lagi masalah lain. Di omel mertua karena tidak memerhatikan putrinya.
Katanya ia akan menceraikan anaknya. Katanya lagi, ia tidak peduli pada Liyun sampai putri seorang CEO kaya menggelandang di pinggir jalan. Liyun lupa pada kakaknya sendiri saking stresnya, suami macam apa Jancent sampai putrinya seperti itu.
"Apa? ayahku? "
Liyun tertegun setelah mendengar semua cerita Jancent. Memekik penuh kejut sampai Jancent berjengit saking kencangnya teriakan Liyun yang tepat membuat gendang telinganya berdengung.
"Selow sedikit teriaknya, bisa tuli aku. "
"Si Liyun ini punya ayah, keluarganya utuh begitu? kenapa kau tidak memberitahu ku dari awal! "
Jancent tertegun. Menatap nyalang Liyun. Istrinya ini benar-benar gila?
"Untuk apa aku melapor padamu! mereka orang tuamu, yang melahirkanmu, membesarkanmu. Memangnya kau lahir langsung dari kolong jembatan layang. Yang tahu merekakan kau sendiri. Kenapa harus bertanya padaku! "
Jancent meracau tidak selow tanpa rem. Tidak mau kalah dengan rapper Su*ga BTS. Cepatnya naudzubillah. Kepala Jancent seperti akan meledak sekarang. Pusing. Kenapa istrinya jadi begini.
Sama halnya Jancent, Nana migran. Kenapa ia tidak bertanya pasal keluarga Liyun pada Hayase. Bagaimana kalau ayah dan ibunya menyadari putri mereka berubah?
Nana tidak bisa bertingkah persis Liyun. Ia belum pernah melihat sifat si pemilik tubuh. Ia memeras sebelah otaknya. Berpikir keras mencari jalan keluar sampai migran.
Apa yang harus di perbuatnya sekarang?
.
.
.
.
.
__ADS_1
..
Bersambung...