
"Sejak dulu nyonya, kan tidak pernah sekamar. Bagaimana mau anu anunya, ngobrol berdua saja kami belum pernah lihat ... Jujur, nyonya sama tuan baru ini terlihat dekat, mesra lagi. Ah, tapi sayang tuan impoten. "
Liyun cengengesan, pongah, menggaruk kepala asal.
Ternyata nyonya ini seratus persen suci.
Sekilas mengangguk lagi.
"Berarti aku cuma tinggal berdua dengan suami. "
Hayase menggeleng cepat, "bukan cuma berdua, tapi dengan dua puluh orang pembantu. "
Liyun melongo. Pembantunya saja sampai segitu banyak.
"Ada satu pembantu pribadi, yaitu aku yang khusus memperhatikan nyonya, tiga orang koki, empat orang satpam, tiga orang tukang kebun, tujuh orang penanggung jawab masalah kebersihan juga pelayanan, satu orang supir, dan satu orang cleaning service, kalau-kalau ada kerusakan. " Tambah Hayase panjang lebar.
"Memang butuh pembantu sebanyak itu. "
"Tentu harus. Rumah ini, kan begitu luas. Sekitar setengah hektar. "
Liyun tercengang, terkejutnya akut. Tulang tengkorak tubuhnya seperti terkena osteoporosis dadakan. Syok adinda. Rumahnya saja tidak ada setengahnya. Ternyata dirinya sekaya itukah sekarang. Beruntung sekali mendapatkan tubuh perempuan macam Liyun.
Sesaat ia ingat black card yang Jancent berikan.
"Kalau ini, Kira-kira jumlah uangnya berapa?" seru Liyun mengacungkan black card itu.
Hayase mengerjap, kenapa nyonya ini menanyakannya. Mana ia tahu jumlah uang dalam kartu itu. Bukankah seorang istri lebih tahu gaji suaminya sendiri.
Sesaat Hayase menggaruk-garuk kepala, mengira-ngira isinya.
"Mungkin jutaan atau bisa jadi triliunan dolar. "
"Hah? woah... " Kedua mata Liyun berbinar. Senyumnya lebar sekali, dari ujung telinga sampai ujung telinga.
Hayase panas dingin, ngeri melihat Liyun yang seperti itu. Bagaimana bisa perempuan itu tiba-tiba berubah dalam semalam.
Liyun saat ini lebih mengerikan dari biasanya yang diam, jutek, tidak peduli juga dingin.
"Kita bisa membeli apapun sepuasnya!" Gumam Liyun sesegera mungkin mengepang rambutnya sendiri.
Kedua mata itu mengerjap heran, Hayase tidak salah lihat, kan? Liyun menganyam rambutnya sendiri!
__ADS_1
Tapi setahunya Liyun tidak punya keterampilan seperti itu. Liyun lebih sering membiarkan rambutnya tergerai atau jika musim panas ia hanya mengikatnya saja.
Mereka naik bis. Liyun yang menarik Hayase untuk naik, tepatnya. Mengajak pelayannya lari maraton yang memang halte lumayan jauh. Tidak lupa tangannya ditarik paksa agar segera naik bis ketika kendaraan kubus besar itu datang.
Kaki sampai terjerembab, untung tidak terjungkal. Masih untung saja.
"Hah... " Hayase terengah setelah duduk, memijat kaki sesaat, pegal. Seluruh tubuh terasa remuk. Majikannya ini tidak bisa slow sedikit, membuat ia jadi melow. Sengsara.
Kenapa tidak naik mobil pribadi?
Itu malapetakanya. Hayase ingin bilang jika mobil sudah siap, supir juga selalu standby. Liyun dengan tidak elit menarik lengannya sebelum ia mengatakan itu.
"Tunggu apa lagi, kita bisa telat keliling Tokyo-nya. " Cicitan Liyun yang masih terngiang jelas.
Lol. Berlari seperti itu malah lebih lama, membuang tenaga. Untuk apa memiliki mobil kalau nganggur sampai basi jadi bangkai di garasi. Hayase heran, baru ini ia bertemu orang kaya memilih naik bis. Biar irit bensin atau bingung cara alternatif menghabiskan uang.
Kalau bingung sedekahkan saja pada dirinya.
"Woah... Wah... Ternyata Tokyo sangat luas. Indah sekali. "
Sesekali Hayase menoleh Liyun yang bergumam takjub melihat luar jendela bis, persis anak kecil yang diajak bertamasya. Seperti baru pertama kali melihat Tokyo. Matanya berbinar, kedua tangannya menyentuh kaca jendela bis.
"Nyonya tidak lelah?" Hayase iseng bertanya, sejak duduk Liyun nyengir saja.
"Tidak, besok-besok kita harus sering keluar.
Majikannya kira Tokyo selebar daun kelor. Gempor kakinya jika model keliling Tokyo seperti ini.
#♥#
Bisa dibilang Tokyo tak pernah sepi akan pelancong lokal maupun non lokal. Ada saja turis yang datang setiap minggu bahkan harinya, apalagi saat akan memasuki hari libur panjang seperti sekarang.
Tempat wisata pilihan sudah ramai saja, terkadang hotel sampai kelebihan kapasitas. Beragam promosi makanan unik atau diskon spesial ditawarkan untuk memancing turis datang ke toko mereka.
"Hm? Hayase... Ada film baru, nonton yuk. " Seru Liyun tidak sengaja melihat poster lipat di teras bioskop.
Film romantis sad berakhir happy ending terbaru yang dibintangi aktor Ryusei Yokohama.
Tunggu, Hayase menyadari sesuatu. Melirik Liyun tengah sesenggukan, menangis. Tidak membawa tisu, pakaian sendiri jadi korban. Ia heran, sejak kapan Liyun suka film melow?
Liyun penyuka film action garis keras. Tindak kriminal, mafia, pembunuh berantai, psikopat, persaingan bisnis atau perebutan jabatan, sampai pengacara yang berbau adegan menegangkan menguras jantung jadi seleranya. Liyun bilang drama percintaan atau bercinta paling garing.
__ADS_1
Konfliknya itu-itu saja. Awalnya pertemuan tidak jelas, akhirnya jatuh cinta, setelahnya muncul pelakor, akibatnya putus lalu nyambung dan putus lagi atau salah satunya dibunuh karena dendam atau bunuh diri akibat depresi. Membosankan ditambah bawang, tidak menantang mental juga menguras otak. Namun, apa yang terjadi pada perempuan itu, kenapa memilih film romantis sad? Apa seleranya sudah berubah?
"Kenapa kau malah menonton ku, kau tidak suka filmnya?" Ucap Liyun sambil menyeka air mata dengan lengan pakaiannya.
Hayase buang muka, sadar filmnya sudah selesai yang entah sejak kapan. Menggeleng segera.
"Tidak... Filmnya bagus. Aku menontonnya tadi. Nyonya, habis ini kita akan kemana?" Hayase sengaja mengubah topik.
"Bagaimana kalau belanja, setelah itu makan?"
Liyun benar-benar mengajak Hayase belanja pakaian. Tak tanggung-tanggung tempatnya, brand ternama.
Harga sebuah topinya saja bisa untuk membeli tiga pasang paket komplit pakaian di pasar biasa. Belum lagi kaos atau kemeja, bisa untuk membeli seperangkat perabotan rumah tangga. Jas sampai dress juga seharga satu unit mobil atau apartemen. Sadis harganya.
"Kau kenapa tidak memilih? tidak mau?"
Hayase tertegun. Melihat angka bandrolnya saja sesak napas, bagaimana ia mau membeli. Gaji sepuluh tahunnya saja tidak cukup.
"Tenang, aku yang bayar. "
Hayase menatap horor Liyun. Apa dia bercanda? alisnya mengernyit, ia melihat keseriusan dimata Liyun.
Tidak menunggu Liyun berkata lagi, Hayase bergerak cepat memilih pakaian yang ia suka. Tidak mungkin ia melewatkan rezeki nomplok ini. Rugi sekali.
Diam-diam Liyun tersenyum melihat Hayase berantusias, lalu menatap black card suaminya penuh puja.
"Ternyata begini rasanya jadi orang kaya. Kalau begitu akan aku habiskan dulu isinya sebelum dikembalikan. Sayang menolak rezeki, mubazir pula jika tidak habis. " Monolognya dalam hati. Menggerakkan alisnya naik turun, persis ibu-ibu pedofil yang gila barang diskon.
"Pilih dua-duanya jika bingung. " seru Liyun yang mana Hayase sedang berdebat dengan hati, memilih baju ditangan kanan atau kiri.
Kedua mata itu langsung membola, tergugu. Menampar pipinya sendiri, ini nyata atau mimpi. Setelahnya Hayase mengerang sakit. Ini nyata.
Sayang Liyun banyak-banyak.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...