Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Jancent VS Ryu × 28%


__ADS_3

Ryu menoleh asistennya yang tampak ragu, terlebih lelaki itu tahu rumor tentang dirinya dan Jancent tidak terjalin baik sejak bogeman tempo hari. 


"Tidak apa-apa, kita bertemu di ruang meeting. "


Ting, 


Pintu lift terbuka, Ryu segera masuk tanpa ragu. Diam-diam Jancent tersenyum miring. Sesaat menepuk pundak Hiba dan ikut masuk menyusul Ryu. 


Kedua bawahan itu ketar-ketir menatap nanar atasan mereka menghilang dibalik pintu lift yang menutup otomatis. Tidak terbayang apa yang terjadi jika pintu lift itu kembali terbuka nanti. Semoga salah satu dari mereka tidak berakhir mengenaskan. 


"Sepertinya ada yang ingin kau katakan? "


Ryu angkat bicara lebih dulu. Ia ingin tahu tabiat mencengangkan Jancent yang lain, namun ia tetap waspada mengingat dirinya pernah diserang tiba-tiba waktu itu. 


"Jangan senang dulu karena aku kembali menandatangani kontrak itu. " tegas Jancent. 


Ryu tersenyum remeh, "Aku bukan pengemis seperti pikiranmu! Kalau bukan karena istrimu yang keras kepala itu, aku tidak sudi bekerja sama lagi dengan perusahaanmu. "


Spontan Jancent menatap tajam Ryu, "aku tahu kau menggoda liyun untuk menginap di rumahmu. Apa yang kau lakukan pada istriku?! " tangan Jancent mengepal di sisi tubuhnya. 


"Melakukan apa? Kau cemburu dia tidur di rumahku? Sekarang aku tanya, dimana kau saat liyun membutuhkanmu?! Dia menangis dibawah hujan--- "


"Jangan mendongeng! " gertak Jancent memotong ucapan Ryu. 


Sejenak Ryu membuang muka dengan seringainya, "pikiranmu selalu saja negatif... "


"Katakan apa yang--- "


"Kau tetap saja akan memukulku, meskipun aku berkata jujur sekalipun. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku... Dengar, liyun lebih cocok menjadi istriku daripada orang tidak berperasaan seperti dirimu. "


"Kau! " spontan Jancent meremas kerah kemeja Ryu. Kedua matanya memanas, rahangnya tercetak tegas bahkan deru nafasnya acak tersulut emosi. 


"Kenapa? Tadinya aku ingin menyerah saja karena dia milikmu, tapi aku keliru... Dari awal dia milikku, bagaimanapun caranya akan aku rebut kembali. "


"Diam! Jangan bicara lagi atau aku benar-benar menghabisi mu disini! "


Namun Ryu tetaplah keras kepala jika menyangkut soal cinta. Ia tidak berbeda jauh dengan perasaan Jancent yang begitu mencintai Wina, tidak peduli apapun resikonya meski harus mengorbankan nyawa sekalipun. 


Ryu menunjukkan sifat aslinya, ia tidak akan mengalah pada Jancent. 


"Aku tahu kau belum meniduri liyun. Malam itu seharusnya aku buat dia hamil saja agar menjadi milikku. Mungkin lain kali aku harus mengajaknya ke hotel. "


"Brengsek! "


Tangan kanan Jancent lebih kuat meremas kerah kemeja Ryu sampai tremor. Tangan kirinya sudah melembab karena mengepal sejak tadi, minta dilepaskan. 


Jancent mengerang, mengayunkan tangannya akan memberi bogeman diwajah Ryu bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. 


Ting,


"Jangan! " Mitsuha memekik, langsung berlari mencegah Jancent yang akan meninju Ryu. 


Buk,

__ADS_1


Jancent tidak bisa menahan poros tangannya untuk tidak menyalurkan birahi emosinya pada Ryu. Serempak keduanya terkejut. 


Sepasang mata melotot itu saling bersitatap, terlebih Jancent ketar-ketir mendapati tinjuannya mengenai Mitsuha karena Ryu sigap menghindar. 


Bermaksud ingin melerai atasannya, justru Mitsuha jadi korban keganasan kepalan tangan Jancent. 


#♥#


"Mitsuha! "


Spontan Jancent langsung memeluk tubuh tidak sadarkan diri asistennya sebelum terjatuh lunglai mencium lantai. 


Jancent terus memanggil namanya dalam pangkuan, mengguncang kecil tubuh Mitsuha, berharap ia akan sadar. 


Sial, cairan merah kental berbau amis terlihat merembet keluar dari hidung perempuan itu. Kakanda bertambah syok melihatnya. 


Tidak sengaja Ryu melirik seseorang berdiri tidak jauh dari lift, tengah memperhatikan Jancent mendekap Mitsuha dalam pangkuannya. 


Ryu tertegun, "Liyun. " segera ia berlari menghalangi penglihatan Liyun dengan tubuhnya. 


Ting, 


Pintu lift yang lain terbuka memperlihatkan Hiba dan asisten Ryu. 


Seketika Hiba berlari menghampiri Jancent yang akan menggendong Mitsuha setelah mendengar teriakan panik atasannya memanggil nama asistennya itu. 


Ryu tersenyum, "Sedang apa kau disini? "


"Itu, aku... Aku hanya mengikuti mitsuha, katanya dia ingin menjemput jancent. " jawab Liyun tanpa minat. Tatapannya kosong pada bahu kiri Ryu. 


"Apa kau sudah melihatnya? " 


Tanya Ryu, melihat mimik wajah Liyun yang tiba-tiba sedih, selayu bunga di musim penghujan.


"Tuan, anda baik-baik saja? "


Ryu berdehem untuk mengusir kekhawatiran asistennya. Liyun masih enggan menjawab pertanyaan Ryu atau beralih dari menatap bahunya. 


"Sebenarnya apa yang terjadi tuan? " lelaki itu bertanya lagi. 


"Kau lihat saja sendiri dan simpulkan apa yang kemungkinan terjadi... Aku saja tidak tega melihat mitsuha kehabisan nafas karena kiss dari jancent yang terlalu menuntut. "


Ryu melirik Liyun yang masih berekspresi sama. Ryu sengaja memperjelas kalimat akhir untuk memprovokasi perempuan itu. Sesaat helaan nafas Liyun terdengar berat sebelum ia beranjak. 


"Liyun tunggu. " tegas Ryu berlarian kecil menyusul Liyun diekori asistennya. 


Sepasang tatapan tajam itu tidak sengaja mendengar nama istrinya disebut, melihat kepergian Liyun dan Ryu sebelum pintu lift kembali menutup. 


***


Hampir sepuluh menit Jancent baru hadir dalam ruang meeting usai mengurus Mitsuha, ralat- tepatnya ia hanya menggendong Mitsuha sampai mobil dan selanjutnya Hiba yang mengantarkan ke rumah sakit. 


Semua peserta yang hadir langsung memposisikan duduknya, siap memulai meeting. 

__ADS_1


"Maaf meeting kali ini sedikit terlambat karena ada sedikit insiden dan pihak kami sudah membereskannya, jadi bisa kita mulai... "


Sekilas Jancent melirik Liyun yang diam saja seraya mengetuk ngetuk tutup pena di meja. 


"Dia kenapa lagi? " batin Jancent. 


"Ah, aku hampir lupa untuk memperkenalkan istriku sekaligus asisten baruku mulai hari ini pada anda, presdir Ryu. " 


Jancent menggenggam tangan Liyun, mengajaknya berdiri untuk menyapa Ryu yang duduk di kursi seberang menghadap dirinya. 


Tentu Ryu baru mengetahui fakta itu. Pantas Liyun berkeliaran di perusahaan ini, tapi ia dengan apik menyembunyikan keterkejutannya. Ternyata sudah sejauh ini Jancent mengunci Liyun untuk menjauh darinya. 


Jancent kembali menjelaskan tunjangan proyek yang sempat batal itu menggantikan Mitsuha. Ada sedikit perubahan baru yang ia tambahkan pada proyeknya. 


Jancent mencoba bersikap profesional meskipun hatinya gelisah melihat Liyun yang masih murung sampai sekarang. 


Bukankah perempuan itu paling semangat membahas proyek ini, apalagi menyangkut Ryu. Liyun paling keras kepala kalau soal lelaki itu. Apa sih yang membuatnya begitu perhatian pada Ryu. 


Drrt... Drrt... Drrt... 


Liyun melihat handphonenya bergetar diatas meja, ada chat masuk dari Ryu. 


"Kau baik-baik saja? "


"Apa kau sakit? "


"Ingin pulang? "


Liyun masih menatap handphonenya, belum ada tanda-tanda pergerakan jari akan membalas. 


Ryu dengan setia menatap Liyun dari kursinya, menunggu perempuan itu membalas. Sampai satu pesan kembali ia kirim untuk perempuan itu. 


Drrt... 


"Aku akan kesana. "


"Hm? " Liyun tertegun, spontan mendongak saat tiba-tiba handphonenya dirampas Jancent. Ia belum membalas chat dari Ryu. 


"Dilarang bermain handphone saat meeting berlangsung. " tegas Jancent memasukkan handphone Liyun kedalam saku jasnya. 


Seketika tatapan Jancent menyorot pada Ryu yang juga menatapnya tidak selow, ia tidak jadi bangkit dari kursinya mendekati Liyun.


Jancent tahu biang keladinya, diam-diam tadi ia sempat membaca nama si pengirim.


"Awas kau, Ryu! "


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2