
...Hi ...Hi ......
...How are you?...
.
.
.
.
.
.
.
"Kau tahu, tempat ice skating ini termasuk yang terluas se-Asia. "
"Serius? "
Liyun berjalan ke pagar pembatas menatap hamparan lantai es yang di seluncuri banyak orang.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak banyak berkeliaran lincah dengan sepatu luncur mereka. Ada juga segelintir pengunjung yang masih kaku menyesuaikan diri dengan sepatu bermata pisau di sisi bawahnya.
"Liyun, kemari! "
Yang dipanggil segera datang memenuhi panggilan Jancent. Duduk di kursi seperti yang pria itu minta.
Dengan hati-hati Jancent melepas sepatu istrinya dan memakaikannya sepatu luncur. Jantung Liyun berdebar. Hanya perkara dipakaikan sepatu hatinya tersipu.
Jancent benar-benar orang yang sulit ditebak, hatinya tabu, tidak setransparan lelaki manapun.
"Sudah … kau bisa berjalan? " Jancent mendongak menatap wajah merona istrinya yang diam-diam memperhatikannya.
"Ah, aku tidak yakin. Sebenarnya aku tidak pernah mencoba bermain ice skating. Aku lebih sering menaiki papan luncur saat musim dingin. "
Sesaat Jancent beranjak. Duduk disamping Liyun, memakai sepatu luncurnya.
"Jangan khawatir, aku akan menggenggam tanganmu sampai waktu bermain selesai. "
Debaran jantung Liyun menghangat. Tanpa sadar sudut bibirnya menarik senyum. Seolah terhipnotis oleh senyuman pria yang duduk di sampingnya.
"Jancent! ... Kita bertemu lagi. "
Sayangnya debaran hatinya hanya sesaat. Senyuman Liyun langsung hilang melihat seseorang yang datang. Wanita pengacau yang merusak bulan madunya bersama Jancent di Bali.
Jancent mendongak, "oh, Wina … kau sudah sembuh? "
Jancent spontan berdiri mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Wina, "Maaf ya, aku meninggalkanmu makan malam sendirian di Bali kemarin. "
"Tidak apa-apa, aku tahu ada seseorang yang lebih penting. " Wina melirik Liyun yang menundukkan pandangan.
Wina memaksakan tersenyum walaupun dirinya masih tidak percaya hati Jancent mulai sedikit berubah demi perempuan itu. Perempuan yang dulu terpaksa dinikahi karena bisnis keluarga.
Jancent tertegun mendengar ucapan lembut namun menusuk. Ia tahu Wina marah. Senyum wanita itu kentara sekali dipaksakan.
__ADS_1
Jancent ingin bersuara, meneriakkan bahwa cintanya, hatinya, masih sangat dalam pada Wina, tapi tidak bisa. Ia tidak mau menyakiti hati Liyun. Perasaannya teramat besar untuknya. Ia juga tidak ingin kehilangan Liyun.
Apakah keserakahan selalu mendatangkan kebahagiaan?
"Hi, my name is Wina. I know you must be jancent wife. " Wina mengulurkan tangannya.
Liyun termangu. Cukup lama menatap tangan wanita itu. Ingin sekali ia menepis tangannya.
***
"Eh… e, e, eh… "
Liyun kesulitan menyeimbangi tubuhnya di atas sepatu luncur. Tulang punggungnya seketika tidak dapat di luruskan. Kakinya mendadak kram. Tangannya tremor, meremas erat-erat pagar pembatas.
Berat sekali tubuhnya diajak berseluncur seperti para pengunjung lain. Bahkan Liyun kalah lincah dengan anak kecil.
Liyun menghela nafas. Mengistirahatkan diri di pinggiran pagar pembatas. Sesekali ia tersenyum memperhatikan anak kecil yang menangis karena jatuh, terlepas dari pegangan tangan sang ayah.
Jangan khawatir, aku akan menggenggam tanganmu sampai waktu bermain selesai.
Tiba-tiba ucapan Jancent menyerang pikirannya. Liyun terasa dibohongi. Mana Jancent?
Bahkan pria itu tidak menggenggam tangannya seperti yang ia katakan. Membuat Liyun pergi sendiri ke area ice skating. Sementara Jancent sibuk memakaikan sepatu Wina.
Bodoh, untuk apa hatinya tersipu di pakaikan sepatu oleh Jancent. Dia bahkan memakaikan sepatu pada wanita lain di depan matanya, begitu batin Liyun.
Liyun mengepalkan tangannya, geram. Ia menguatkan hati. Menjauh dari pagar pembatas. Mencoba berseluncur ke tengah lapangan es meski kakinya kaku, tubuhnya membungkuk dengan tangan bergerak acak mencari poros untuk menyeimbangi tubuhnya.
Grep,
"Aku bilang pegang tanganku selama kita bermain. Aku tahu kau tidak bisa bermain ice skating. " Oceh Jancent meraih tangan Liyun. Menggenggam tangan istrinya sangat erat.
"Siapa bilang aku tidak bisa? Aku bisa! Abaikan aku sendiri. Aku tidak mau mengganggu kesenanganmu. "
Liyun menepis tangan Jancent. Secepat mungkin mendorong kakinya berseluncur menjauhi suaminya.
"Kau bisa jatuh Li---" tegas Jancent. Wajahnya kentara khawatir.
Buk,
"Agh! "
Justru Jancent yang sialnya terjatuh. Ia hilang keseimbangan saat berniat mengejar Liyun. Tubuhnya tidak sengaja tertabrak pengunjung lain yang meluncur tanpa rem.
Wina terkejut. Ia langsung berseluncur menghampiri tubuh Jancent yang tengkurap di atas es.
"Sepertinya kau yang butuh dituntun, presdir Jancent. "
Jancent menyeringai menatap uluran tangan Wina. Tanpa keraguan menggenggam tangan itu.
Jauh diseberang sana, Liyun cemburu melihat Jancent tersenyum meraih genggaman tangan Wina. Ada sesal di hatinya menolak genggaman Jancent. Namun hatinya pun menentang. Ia lelah terus disakiti.
***
Buru-buru Liyun menyeka air matanya. Mengontrol diri dari sendunya. Toh, lebih menyenangkan bermain ice skating sendiri, begitu batin Liyun.
Perlahan Liyun balik kanan, mencoba meluncur kelain arah. Tidak mau sesak dadanya bertambah melihat Jancent dan Wina.
__ADS_1
Lagi dan lagi, tubuhnya tetap tidak terbiasa dengan sepatu luncur. Bahkan sekarang lebih parah.
"Hei… butuh bantuan? "
Liyun tertegun seseorang memegangi tangannya.
"Loh, Ryu? "
Tanpa sadar Liyun menarik tangannya agak kuat dari genggaman tangan Ryu. Membuat keseimbangan tubuhnya goyah.
"Li, hati-hati… " pekik Ryu berusaha menahan Liyun agar tidak jatuh.
Buk,
"Agh… "
Pada akhirnya keduanya jatuh bersamaan dengan posisi Liyun diatas tubuh Ryu. Mengundang beberapa sorak sorai dan siulan remaja labil yang melihat, tak terkecuali Jancent dan Wina yang ikut menoleh ke arah keributan.
"Ah, maafkan aku, Ryu … kenapa malah jatuh begini sih. "
Liyun langsung menjauh dari atas tubuh Ryu yang meringis. Sepertinya Ryu keberatan menahan beban tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa? "
"Tidak apa-apa, tidak perlu dicemaskan… kau tidak apa-apa, kan Li? "
Liyun menggeleng, "tidak kok. "
Ryu berdiri, mengulurkan tangannya, "mau berseluncur bersama ku? " ia tersenyum.
Liyun diam, menatap tangan Ryu. Sekali lagi berharap tangan itu adalah milik Jancent. Betapa bahagia dirinya.
"Ayo, jangan melamun saja. " seru Ryu langsung menggenggam tangan Liyun. Menuntun perempuan itu bermain ice skating bersama.
Di seberang sana Jancent mengepalkan tangannya. Wajahnya merah padam melihat pria yang sekali lagi mengacaukan kencannya.
Ingin sekali Jancent memberi bogeman untuk melemaskan otot tangannya yang kaku. Sudah lama dirinya tidak mengunjungi samsak merahnya. Bolehlah, kalau ia mengganti samsaknya dengan wajah Ryu!
Sekilas Wina tersenyum tipis. Seperti adegan dalam novel atau film. Entah kenapa ia menjadi semangat merebut Jancent. Tidak peduli siapa pria tampan yang tiba-tiba datang pada Liyun. Tapi yang jelas, Tuhan seolah berpihak padanya. Memberinya kesempatan sekali lagi.
"Istri mu sepertinya dapat teman baru? " seringai Wina sengaja memprovokasi.
Jancent tidak merespon. Matanya sibuk menatap tajam Ryu yang bungah menuntun Liyun berseluncur. Ingin sekali ia menguliti Ryu.
"Kenapa jadi diam begini? Batas waktu bermain kita nanti habis nganggur loh… ayo. "
Wina tersenyum menang menggenggam tangan Jancent. Membawa pria itu berseluncur bersamanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...