Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Serius ini 2020×17%


__ADS_3

...Have a nice day... ...


...Gimana kabarnya? ...


...semoga sehat semua. ...


...autor three update! ...


...wajib komen (Fardu'ain lo) ...


...Jangan lupa fav, like, komen, beri hadiah, vote dan ***** bengek semuanya itulah:) ...


...pay pay...


.


.


.


.


.


.


.


"Arata… "


Liyun keceplosan. Mulutnya bicara sendiri seperti sudah error. Kedua matanya tidak lepas dari pria berseragam baseball itu.


Sumpah Liyun rindu, tapi kata abang Dil*an, rindu itu berat. Lebih berat dari sak semen. Jadilah Liyun begini. Setengah waras, setengah meriang, setengah percaya dan berhalusinasi bisa bertemu pacarnya disini.


Namun kenapa pacarnya ini sedikit berumur? Bisa dibilang secara halus agak mirip daddy beranak satu.


Bukankah kita sama-sama masih sekolah SMA?


Jancent tertegun menoleh istrinya. Heran. Siapa yang Liyun panggil Arata. Sedangkan pria di dalam bis tidak hanya satu, dua orang saja. Tidak juga terlihat mengajak Liyun ngobrol kecuali orang yang cengar cengir di belakang dirinya.


Yang dipanggil "Arata" langsung melotot. Mulutnya juga melongo membentuk huruf donat. Tangannya refleks memukul bahu Jancent. Sampai CEO itu terhuyung ke samping.


Untung tubuh Jancent tidak letoy, yang cuma di colek sedikit mudah tumbang. Malulah sama perut kotak-kotaknya.


"Wah, tebakanmu tepat sekali. " Arata tersenyum bahkan memberi tepuk tangan.


"Aku tidak menebak. "


Tepuk tangan Arata langsung berhenti melihat mimik wajah Liyun yang jauh dari bercanda. Serta nada ucapannya yang sarkas. Senyum itu seketika loyo. Menatap bingung perempuan di depannya.


"Tahu dari mana namaku? Aku saja tidak kenal siapa dia. " Begitu batinnya.


Arata memperhatikan seragamnya siapa tahu ada name tag nyangkut di sana. Namun tidak ada. Sesaat Arata tertawa sarkas.


"Indra ke enam mu hebat juga, bisa lihat masa depan ku tidak? "


"Aku bukan peramal Arata! Bukan pesulap, apalagi punya indra ke enam. Kau pikir aku indigo! Kau lupa kita sudah bersama sejak kelas dua SMA. "


Krik… krik… krik… krik…


Suara sponsor jangkrik lewat. Entah suara sound dari mana.


Jancent cengo, belum lagi Arata yang malah asyik menggaruk bokongnya. Ngomong apa sih dia?


Jancent mengumpati Liyun dalam hati. Istrinya kumat lagi. Sepertinya Liyun dulu gagal lolos casting pemain sinetron. Jadilah sekarang ia gila.

__ADS_1


Kalau diperhatikan lagi, wajah Liyun tidak menampakkan tanda-tanda dirinya berguyon seperti tadi. Membuat dua pria itu resah.


"Dekat dengan aku sejak kelas dua SMA? " Arata mengerlingkan bola matanya ke atas untuk berpikir dulu, kalau-kalau ia amnesia.


"Tapi setahu aku tidak ada yang berwajah seperti mu di sekolahku. Teman perempuan yang sekelas dengan ku juga tidak ada… aku yakin seluruh siswi di sekolah tidak ada kau-nya, dari junior sampai senior. Hampir semua aku hafal, karena aku ini ketua baseball paling tampan. Mereka akan berebut menonton karena aku, walaupun hanya latihan. "


Liyun berdecih. Sempat-sempatnya Arata pamer visual disaat ia sedang serius. Memangnya ini stasiun TV, tiba-tiba muncul iklan saat lagi sayang-sayangnya lihat adegan drama romantis.


"Coba perhatikan lagi! " Liyun menggebu-gebu menunjuk dirinya.


"Masa kau lupa Arata, aku ini… "


Liyun termangu, lebih tepatnya Nana yang tergugu. Untuk kesekian kali dirinya sadar ditampar kenyataan bahwa ia meminjam tubuh orang lain.


Nana tidak mungkin memberi tahu Arata pada apa yang menimpanya. Ia bisa dibilang orang gila. Wajar sekali Arata tidak mengenalnya karena wajahnya bukan Nana.


"Maksudmu lupa soal apa? "


"Lupa… oh, umurmu berapa? "


Arata mengernyitkan alisnya. Merasa aneh pada pertanyaan Liyun yang jauh melenceng dari topik awal yang mendrama. Mengundang badak disampingnya berdecak.


Geram sekali Jancent dikucilkan. Menjadi obat nyamuk diantara keduanya.


What the hell!


Ia, kan pemeran utama.


"Untuk apa menanyakan umurnya segala. Kau mau membuatku dimadu! "


Liyun menatap nyalang Jancent. Mulutnya komat kamit berbisik, menyuruh Jancent untuk tidak ikut campur.


Arata menggaruk tengkuknya, merasa somplak akan dua manusia berbeda jenis kelamin di hadapannya.


"Teman matamu! Sejak kapan kita merayakan syukuran potong tumpeng. Kok bisa sah jadi teman! Kenal saja baru tadi. Dan jangan membawa-bawa jari manis! Aku patahkan kau mewek. "


Bulu kuduk Arata meremang mendengarnya. Bengis sekali Jancent seperti psikopat.


Jancent memunggungi Arata. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tersungging dirinya. Beda dengan mimik Liyun yang tertegun.


"Kenapa umurmu jadi setua itu? Bukannya umur kita delapan belas tahun ya? "


Jancent spontan menoleh Liyun. Istrinya ini sibuk sekali dengan umur Arata. Komplain pula.


"Untuk apa kau sibuk menanyakan umurnya terus! Kau mengincar brondong? Aku terlihat tua jadi suamimu! "


#♥#


Coba tebak siapa yang menang berdebat dua puluh menit di dalam bis?


Kalau kalian menjawab Jancent… oh tidak, lagu wanita munafik Seje*dewe menyahut.


Kalau kalian menjawab Liyun… juga, no no no lagunya ap*ink menjawab.


Tidak ada. Dan sungguh terlula karena terlalu semboyan bapak Hj. Ro*ma.


Keduanya diusir turun dari bis karena ribut, mengganggu kenyamanan penumpang. Pasal seratus sekian yang ditempel pak Slamet di setiap dinding bisnya.


Untung tidak terlalu jauh dari lokasi kediaman mertuanya.


Jadilah dua manusia itu terdampar di gang yang sepi. Namun masih sempat melanjutkan debat unfaedah mereka.


"Ini semua gara-gara kau. " hardik Jancent saat bis itu sudah pergi. Ia masih belum mengaku kalah.


"Kok aku sih! Itukan salahmu. Coba kau tidak sok tahu dan tidak ikut campur. "

__ADS_1


"Ya, kau yang mancing-mancing dari awal. Memangnya aku gurita dipancing. Komplain pasal umurnya segala. "


"Ya, apa masalahnya? Itu hak ku. Aku heran saja kenapa dia cepat tua. Memangnya ini tahun berapa sih? "


"Kan, kan!, kau mirip orang yang baru keluar dari zaman megalitikum. Tahun saja kau tidak tahu. Pikun mu melebihi buyut ku … Makannya, handphone jangan dianggurin. Lihat saja sendiri ini tahun berapa! "


Jancent buang muka, berjalan lebih dulu dari Liyun.


"Ck, dasar pelit! "


Liyun kepalang kesal mendengar umpatan Jancent yang menyentil pankreasnya. Untung tidak sampai bocor, kan nanti menyusahkan kakanda.


Ia langsung mengambil handphone dalam saku celananya seperti perintah Jancent. Melihat layar kunci yang menampilkan jam, tanggal, bulan, dan tahun.


"Apa! Ini dua ribu dua puluh? ! "


Jancent pura-pura tuli. Tetap santai berjalan.


Seolah Liyun dapat serangan jantung dadakan, mimik wajahnya seperti baru di kedipkan mata oleh demit genit. Ia langsung berlari mengejar Jancent. Menyamai langkahnya dengan sang suami.


"Di handphone ku ini benar dua ribu dua puluh? Tidak error? Tidak salah? "


Liyun masih memasang wajah tidak percayanya menatap Jancent. Namun suaminya itu acuh.


"Coba lihat handphone milikmu. "


Liyun dengan berani merogoh saku jas Jancent karena dirinya tidak menanggapi ia bicara sejak tadi. Membuat Jancent gelagapan menepis tangan Liyun.


"Kau mau apa?! "


"Lagian kau diajak bicara diam saja seperti orang bisu. "


"Kau main merogoh sembarangan lagi, aku akan berteriak kau mau memperkosa ku! "


Migrain kepala Liyun jika sudah adu cangkem dengan Jancent. Sepertinya tidak ada hari tanpa debat. Enak jadi capres yang hanya debat sekali, dua kali dalam setahun. Tidak setiap hari macam dirinya.


Sudah lama ia tidak ke dokter untuk mengecek tensi darah kalau-kalau melonjak melebihi batas maksimal darah orang normal selama hidup dengan CEO yang cerewetnya sama seperti ibu kos.


"Dimana-mana smartphone pintar selalu di upgrade biar lebih canggih. Tidak seperti otakmu yang belum pernah di upgrade dari zaman megalitikum… kalau di handphone mu dua ribu dua puluh, tentu saja punya ku juga sama.


"Serius! Kau tidak bohong? " kedua tangan Liyun menangkup wajahnya sendiri. Syok adinda.


"Sudahlah terserah mu. Aku sampai jungkir balik kayang juga kau tidak percaya. Kerongkongan ku sudah sekering gurun sahara berceloteh terus. Aku mau minum, ayo cepat sedikit jalannya! Dua gang lagi rumah ayahmu. "


Jancent pergi. Berjalan lebih dulu meninggalkan istrinya yang masih bengong.


Nana masih tidak percaya ia bisa berteleportasi ke masa depan. Ia yakin seyakin yakinnya hidup di tahun dua ribu tiga belas.


Namun Nana tidak ingat apa yang ia alami di Fukushima sampai akhirnya bersemayam di tubuh Liyun yang tinggal di pusat kota Tokyo.


"Liyun cepat! "


Teriakan Jancent membuatnya tersadar dan langsung berlari mengejar sang suami.


.


.


.


..


..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2