Istri Reinkarnasi CEO Impoten

Istri Reinkarnasi CEO Impoten
Berpulang × 39%


__ADS_3

...Have a nice day...


...Lama tidak jumpa...


...Bagaimana kabarnya? ...


...maaf author hanya update setengah saja untuk bab ini. ...


.


.


.


.


.


.


Lagi dan lagi, Jancent melihat Liyun tersenyum untuk Ryu. Pria itu memberi istrinya sebotol minuman dingin yang sama persis seperti dalam genggaman Jancent. 


Seketika tatapan Jancent menajam, menatap ke duanya tengah bercengkrama, duduk santai di bangku taman mini di seberang. Ngomong-ngomong mereka di luar gedung sekarang. Sesi bermain ice skating telah berakhir sepuluh menit lalu. 


Dua tiket pembawa sial. Ya, sebut saja begitu. Seharusnya Jancent tidak menerima tiket itu dari sang ayah. Berniat berbaikan dengan rencana mengganti bulan madu di Bali yang gagal, tetap berbuah sama. Lebih buruk dari yang di rencanakan.


Kencan yang seharusnya penuh adegan romantis berubah dramatis patah hati. Seharian hati Jancent di selimuti luka, sakit sampai tidak ada sisi yang benar-benar baik-baik saja. 


Tangan Jancent meremas kuat botol minuman di tangannya. Ia tidak peduli akan rasa dingin dinding botol yang membuat telapak tangannya memerah. 


"Kau sedang apa berdiri di sini? " tanya Wina yang sedetik lalu menghampiri sehabis dari toilet. 


Jancent tidak menjawab. Giginya sibuk gemeretak di rongga mulut. Rahangnya tercetak tegas, menggambarkan hati yang membara. 


Sesaat Wina paham guratan wajah kesal Jancent. Siapa Lagi kalau bukan ulah Liyun sedang bersama Ryu. Diam-diam Wina menarik sudut bibirnya, tersenyum. Kemenangan sepertinya berpihak padanya. Begitu mudah tanpa harus mengotori tangan cantiknya.


Sedetik kemudian Wina melirik dua botol minuman di tangan Jancent. 


"Kau tidak berubah ya, tetap perhatian seperti dulu. "


Jancent tertegun, menoleh Wina yang tiba-tiba mengambil satu botol minuman dari sebelah tangannya. Tanpa rasa bersalah mantannya itu meneguk minuman yang akan ia berikan untuk Liyun. 


Namun Jancent tidak mungkin tega merebut botol minumannya kembali dari Wina atau pun memberikannya kepada Liyun yang sudah menerima minuman dari Ryu. 

__ADS_1


"Itu bukankah istrimu? " Wina menoleh Jancent yang sibuk meneguk minumannya. 


"Sepertinya mereka akrab sekali. Kau tidak takut milikmu direbut olehnya? … Dia juga tidak kalah tampan darimu. "


Jancent tetap mengunci mulut. Menggigit pipi bagian dalam. Sejenak helaan nafas terdengar. Jangan ditanya bara api yang melonjak sekarang, bahkan suhunya bertambah panas. Mungkin dapat menghanguskan dunia. 


Drrrt ... Drrrt … Drrrt … 


Suara dering handphone dari saku celana Jancent tiba-tiba menjeda suasana melankolis hatinya, membuat CEO tampan itu tergesa-gesa mengangkatnya. 


"Ayah? " batin Jancent membaca nama si penelpon. Tidak pernah Yancent menelpon dirinya dalam keadaan kencan seperti ini kecuali ada hal penting. 


"Ada apa ayah? Aku masih bersenang-senang dengan liyun. "


Jancent diam. Wajahnya berubah serius mendengarkan Yancent berbicara di ujung sana. Lambat laun dahinya mengernyit semakin suara sang ayah terdengar parau, gemetar dengan jeda yang begitu menyesakkan, nafasnya terdengar berat untuk sekedar mengucapkan kata selanjutnya. Mendadak isi kepala Jancent penuh pemikiran negatif. 


"Ibu… " Jancent melotot. 


Sedetik kemudian botol minuman yang ia pegang terhempas jatuh. Air matanya pun tumpah ruah. Seketika pikirannya lumpuh mendengar kabar buruk dari sang ayah. Dalam sekejap semua problema hidup dan perasaannya tertuju pada seseorang. 


Sosok perempuan hebat yang ia banggakan. Cinta yang beliau berikan tanpa pamrih. Jancent sadar dari detik ini, saat kakinya melangkah nanti, ia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayangnya lagi. 


Tidak dapat lagi melihat senyum manis perempuan itu yang selalu membuatnya candu. Ia tidak pernah menemukan perempuan sehebat ibunya. Ya, Laila telah berpulang menghadap sang Pencipta. 


#♥#


Grep, 


Jancent tidak mengindahkan tarikan juga langkah kakinya yang begitu cepat. Membuat Liyun kesulitan menyeimbanginya. Pun Jancent tidak menjelaskan alasannya terburu-buru yang mulai mengumpatinya, kesal. 


"Kau ini kenapa sih?! Bisa pelan sedikit tidak! Tanganku sakit Jancent! "


Jancent sengaja menulikan telinganya. Memaksa masuk Liyun kedalam mobil. Pergi meninggalkan Wina dan Ryu yang terheran-heran melihat tingkah Jancent. Mereka paham tabiat ketergesaan CEO itu, namun sifat tergesa Jancent kali ini berbeda dari biasanya. 


"Kau ini sebenarnya kenapa?! Kau marah padaku karena berduaan dengan ryu? … seharusnya aku yang marah padamu karena kau meninggalkan ku! " tegas Liyun agak menjerit, muak. Tanpa peduli apapun lagi, ia menumpahkan semua kekesalannya. 


Tapi wajah penuh emosi itu berubah. Dahi Liyun mengernyit, kentara sekali wajahnya bingung melihat Jancent menyeka air matanya. 


Jancent menangis? 


Liyun termangu. Ia tidak pernah melihat suami jadi-jadiannya menangis sesenggukan sebelumnya. Seharusnya Jancent akan mencibir ngalor ngidul tanpa jeda. Baru kali ini Jancent terlihat sangat kacau. 


Siapa yang mampu merubah Jancent sedramatis ini? 

__ADS_1


Jancent mati-matian mengatur sendu dan nafas yang sulit untuk berbagi kedamaian. Suaminya persis anak kecil kehilangan mainan. Menyeka air mata juga lendir yang keluar dari hidung bergantian. 


"Jancent… "


Ciiit… 


Mendadak Jancent menginjak rem. Memberhentikan mobilnya di jalur kiri. Lemas, Jancent menenggelamkan wajahnya pada stir mobil di antara kedua tangan. Menyisakan dinding kehampaan, iba, juga tanya dibenak Liyun. 


"Ibu… hiks… i-bu… huhuhu… " Rintih Jancent semakin membingungkan istrinya. 


Sesaat tangan Liyun terulur, menepuk pelan pundak Jancent. Berusaha mengerti pilu hatinya. 


Grep, 


Jancent memeluk erat Liyun. Menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher perempuan itu. 


"Liyun… Ibuku… sudah tiada. "


Sesaat air mata Liyun jatuh tanpa perencanaan. Ia belum mempercayai ucapan pria itu. Berharap ini hanya sebatas skenario palsu. Liyun percaya, Tuhan tidak mungkin meminta Laila untuk duduk di pangkuannya secepat ini. 


"Kau berboh--- "


Kelu bibirnya ingin menyangkal. Vital suaranya tiba-tiba hilang oleh sendu. Berharap berita itu hanya bualan. Namun semakin erat Jancent memeluknya, semakin besar berita itu benar adanya.


Kini, Liyun sama menangisnya dalam pelukan Jancent. 


.


.


.


.


.


.


...Maaf sebelumnya... ...


...Para pembaca yang sudah terlanjur suka, ada yang kesal menunggu, ada yang baru mampir dan mungkin ada yang sudah meninggalkan cerita ini. Sekedar pemberitahuan, author berencana pindah lapak dan menyelesaikan novel ini di sana. Untuk lebih lanjutnya bakal author beritahu nanti, ...


...apakah novel ini akan di hapus permanen atau sebagian saja nantinya. ...

__ADS_1


...Terimakasih untuk para pembaca yang menyukai novel author amatiran ini. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rizki berlimpah. ...


...pay ... pay...


__ADS_2