
Mau update pasti ada gangguan.
Jangan hanya baca sob, jangan lupa beri like, komentar, hadiah, pencet favorit untuk tahu updatenya author kapan yang gak selalu terjadwal.
Jangan bosen kasih dukungan sama semua author karena mereka juga gak bosen mikirin wajib upload novelnya karena para readers.
Terimkasih para pembaca uwu yang sudah mampir...
Yang belum datang cepat datang menengok novel ini... amin.
Selamat membaca pai pai...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka bertiga sudah mirip adegan di drama-drama. Cinta segitiga yang terciduk didalam lif. Kedua mata Liyun hampir melompat keluar melihat Jancent yang diekori wanita cantik di belakangnya hendak masuk ke dalam lif, menuju lantai yang sama.
Liyun menciut menatap aura gelap Jancent. Suaminya itu menatap tajam, setajam silet acara gosip selebriti di TV. Diam-diam Liyun bergeser, bersembunyi di belakang tubuh Ryu. Seperti ini rasanya berhadapan dengan malaikat maut secara live.
Jancent membuka mulut ingin bicara, namun kurangajarnya ditikung Ryu.
"Selamat siang presedir Jancent. Senang bertemu anda sebelum meeting. Kapan-kapan aku traktir kau minum kopi. "
Ryu mengulurkan tangan ramah, ingin berjabat tangan sesama kolega bisnis. Tapi Jancent gengsi. Hanya berdeham dan berdiri disisian Ryu.
Ryu yang tersungging langsung menarik hampa tangannya. Berusaha enjoy walau hatinya hareudang.
"Oh iya, aku lupa mengenalkanmu pada pacarku namanya Liyun... Dan Liyun, ini Jancent. Aku sengaja membawanya karena asisten ku cuti. " ucap Ryu santai menggenggam tangan Liyun.
What!
Pacar!
Jancent dan Liyun terkejut level tinggi mendengar ucapan Ryu tanpa deteksi pengeja, tidak disaring pula. Hati jancent berkobar, mendidih melihat Ryu main pegang istri orang. Jangan tanya Mitsuha yang sama melompong syok menonton live tikungan tajam cinta segitiga di dalam lif. Tanpa sensor.
__ADS_1
Rahang Jancent sudah mengeras melebihi karang. Urat-urat di dahinya bertonjolan kemana-mana. Tangannya mengepal, siap membogem Ryu.
Liyun kepalang sekarat. Rasanya nyawa sudah di puncak ubun-ubun. Berdo'a ini itu didalam hati.
Belum sempat membogem, pintu lif sudah terbuka. Melegakan hati Liyun, namun senep dihati Jancent. Kepalang banyak karyawan dan juga tamu koleganya yang lain, melihat. Jancent harus menahan hasrat.
Ryu nyengir bahagia keluar lif lebih dulu bersama Liyun yang tangannya masih digenggam erat. Bangga sekali memamerkan Liyun sebagai pacar. Ryu belum tahu jika Jancent suami mantannya itu.
Jancent kepalang tidak fokus selama meeting. Hutangnya membogem Ryu masih diingat. Matanya sakit melihat Liyun duduk bersebelahan disamping Ryu. Sesekali Ryu menoleh perhatian Liyun, takut perempuan itu bosan selama meeting. Menambah kilat emosi di mata Jancent. Kesal.
"Aku bersedia kerjasama dengan saham tiga puluh persen untuk proyek ini. " seru Ryu mengangkat tangan setelah Mitsuha selesai menyampaikan garis besar proyek Jancent. Penawaran yang besar dari kolega yang lain di sesi awal.
Jancent menggeleng. Tidak minat bekerja sama dengan Ryu. Terlanjur sakit dadanya.
"Tidak!... Ada penawaran yang lain? "
Semua belum menjawab. Sibuk berbisik, berdiskusi dengan asisten masing-masing. Namun Ryu kembali mengangkat tangan.
"Aku naikkan jadi tiga puluh lima persen! " Tegas Ryu yang juga sama ditolak oleh Jancent.
"Ok, aku tambah jadi empat puluh persen! " seru Ryu menggebu-gebu. Bukan tanpa alasan Ryu berjuang mati-matian ingin mendapatkan proyek itu. Ia terlanjur jatuh cinta pada konsepnya.
Untuk kesekian kali Jancent menatap remeh Ryu. Ia masih sakit hati.
"Ada yang lain? "
Liyun menggigigit jari. Tubuhnya tegang, kaku macam ayam tiren. Suaminya itu kekeh sekali, mengabaikan Ryu yang berkali-kali menaikkan saham. Apa sih maunya?
"Presedir, tolong setujui saja proyek kerja sama ini pada tuan Ryu. Sepertinya tidak ada lagi yang berani menawar lebih tinggi dari tuan Ryu. Jangan ikut campurkan masalah hati dengan pekerjaan atau mereka akan kecewa pada anda. Pikiran juga para karyawan. " Mitsuha berbisik pada Jancent. Mencoba memberi pengertian.
Memaklumi sifat kekanak-kanakan atasannya. Mitsuha tahu dilema hati CEO-nya sejak tadi. Mitsuha benar-benar asisten terbaik. Cantik, berpengalaman, pemikiran luas dan dewasa.
Pelet nasehatnya manjur. Akhirnya Jancent menyudahi perang panas, karena dingin sudah mainstream.
Jancent bersedia berjabat tangan dengan Ryu walapun terpaksa. Tangan Ryu sengaja digenggam kuat, kalau perlu sampai tulang jarinya remuk.
Ryu yang instingnya tidak konslet juga membalas lebih kuat genggaman Jancent. Tidak peduli pada Liyun, Mitsuha dan semua peserta meeting yang menatap horor keduanya.
#♥#
Jancent masih sibuk menyalami para tamu koleganya. Meeting selesai. Ia bersandiwara pura-pura senang dapat saham besar.
Tebar senyum sana, sini. Diajak ngobrol, ya tentu diladeni. Diam-diam mata elang Jancent mengawasi Ryu dan Liyun yang mengobrol sebelum keduanya menghilang dari penglihatan Jancent.
"Kau mau makan siang apa? aku yang traktir karena kau sudah menjadi jimat keberuntunganku hari ini... Akhirnya proyek itu aku dapatkan. "
"Terserah mu. " jawab Liyun tidak bersemangat. Wajahnya lesu.
"Kau kenapa? tidak enak badan? apa kita perlu kerumah sakit? "
__ADS_1
"Jangan berlebihan, jangan main mengaku aku pacarmu. "
Hati Ryu sakit sampai pankreas terdalam. Ternyata Liyun ngambek karena ucapannya tadi. Ryu tidak marah, hanya heartnya yang cenat cenut tersakiti. Ia sadar Liyun belum memberi jawaban untuk memulai lagi hubungan mereka yang tandas dulu.
Sadar menamparnya kalau sekarang mereka itu mantan. Ryu berusaha menyembunyikan perasaan gundah yang begindang. Tidak sengaja melirik es boba dikantin karyawan. Es yang sedang viral di masyarakat karena rasanya ada bobanya.
"Mau es? " Ryu menggandeng Liyun tanpa menunggu jawaban. Mengajaknya membeli es boba. Berusaha tersenyum, barang kali minum es kesedihannya terobati dengan rasa manis.
Para karyawan yang melihat keduanya iri plus dengki. Apa lagi pada Liyun. Istri CEO-nya itu tega sekali selingkuh buka-bukaan dikantor suaminya. Begitu kira-kira opini para netizen yang menonton.
Liyun risih diperhatikan sejak awal datang. Ia seperti ayam goreng dimata Ipin. Siap diterkam kapan saja. Bisik-bisik tetangga disana sini. Sudah terasa artis papan atas yang kena gibah.
"Heh Ryu! " panggil Jancent dengan tidak sopannya. Dadanya membusung seolah menantang.
Yang dipanggil tentu menoleh. Termasuk Liyun yang ikutan tertegun menatap Jancent.
Bam,
Jancent membogem wajah setampan malaikat itu. Seisi kantor meriuh. Semua berdatangan ke kantin karyawan yang rusuh.
Ryu menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Menatap nyalang Jancent yang meninjunya tanpa alasan didepan para karyawannya sendiri, bahkan mungkin masih ada tamu kolega bisnisnya. Apa Jancent tidak takut citranya rusak?
Liyun bingung harus pilih Jancent atau Ryu untuk dibela. Ia ruwet seperti dalam lagu Che*rry*bel*le yang dilema.
Liyun kesal pada Jancent yang main hakim sendiri. Tapi disatu sisi ia bisa jadi korban selanjutnya kalau membela Ryu atau pria tampan itu kembali kena bogem mentah suaminya. Adinda pusing pada kakanda.
"Apa ini cara berterimakasih kepada rekan bisnis yang sudah memberikan saham besar?! Tiba-tiba meninju tanpa sebab. "
"Aku tidak butuh saham itu. Kita bisa batalkan kontrak sekarang! ... Aku memukulmu ada sebabnya! kau seharusnya mengaca, siapa yang kau akui pacar. Main gandeng sembarangan! " nada Jancent semakin meninggi. Geram, tidak slow.
Semua orang bersiap dengan handphone masing-masing. Memvideo pengakuan Jancent selanjutnya yang siap meng-K.O Ryu. Tiba-tiba suasana berubah hening, sehening mengheningkan cipta di upacara bendera hari senin. Menghayati, meresapi.
"Liyun itu istmphsstmm. "
Pengakuan Jancent gatot. Liyun membekap mulutnya saat akan memberitahu kebenaran.
Para penonton kecewa ada sensor tiba-tiba. Semakin membuat gereget.
Liyun sigap menggelandang Jancent pergi tanpa melepas bekapan tangannya pada mulut sang suami. Menyeret Jancent segarang satpol PP menciduk banci lampu merah.
Dengan kejam menyisakan tanya untuk Ryu yang menatap nanar kepergian dua orang itu. Denyutan dibibirnya juga tidak mau kalah, pukulan Jancent membuatnya meringis. Namun hatinya menangis.
"Apa hubungan Liyun dengan Jancent? "
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...