
...Have a nice day...
...Author boleh minta komentarnya?...
...selamat membaca...
...pay pay...
.
.
.
.
.
.
.
Bam,
Liyun menepuk body sofa, terprovokasi. Dikira ia takut melawan Jancent.
"Kau kira aku takut. Aku sering bermain truth or dare dengan--- "
"Sst… jangan dilanjutkan lagi! Aku sudah tahu kau mau bilang apa. " jari telunjuk Jancent menyentuh bibir Liyun agar tidak melanjutkan ucapan unfaedahnya itu.
Liyun cemberut, beralih membuka minuman kaleng merah dari kantong plastik. Sombong sekali suaminya, tidak mau mendengarkan ceritanya. Dasar sok tahu.
Sepertinya perempuan itu tidak ingat kalau ia sudah menceritakannya di pesawat. Apa karena dosis obat tidur itu terlalu kuat?
"Kita mulai dari sepuluh ronde pertama, bagaimana? … nilai kartu paling besar yang boleh mengajukan truth or dare. "
Liyun mengangguk khidmat sambil menelan minuman dalam mulutnya.
"Boleh. "
Keduanya suit kertas, gunting, batu untuk menentukan pemain pertama.
"Yosh! aku menang … belum mulai permainan saja kau sudah kalah. "
Liyun menyeringai angkuh, melipat tangan didepan dada.
"Ck, cepat pilih kartunya. " ketus Jancent.
Liyun menggigit bibir bawahnya, menatap dengan teliti semua kartu diatas meja. Hati dan pikirannya berdebat, harus memilih kartu yang mana. Sesaat tangan Liyun menarik satu kartu dan membaliknya.
"Wah, tujuh! … Sekarang giliran mu. Ayo coba dapatkan kartu di atas tujuh kalau kau bisa. "
Jancent berdecak, lagi-lagi Liyun merendahkan dirinya. Tanpa ba bi bu langsung menarik satu kartu. Suara helaan nafas kecewa terdengar setelahnya, melihat nilai angka itu.
"Agh, sial! Enam. "
Sungguh kegagalan yang hakiki. Pasti Liyun akan mengejeknya lagi, begitu batin Jancent. Dan benar saja, istrinya tertawa puas melihat perbandingan angkanya.
Liyun sampai mengeluarkan air mata, sulit sekali menghentikan tawanya.
"Baiklah, truth or dare … jika kau memilih dare, kau harus membelikan aku dua tiramisu cake sekarang. Tapi kalau kau memilih truth, em… aku mau kau menceritakan masa lalu mu. Pilih yang mana? " ucap Liyun sambil menyeka air mata dipipi.
Jancent tertegun, menceritakan masa lalu? Yang benar saja.
Ia enggan mengingat kejadian kelam itu lagi. Sekedar menyebutkan nama mantannya saja hatinya sakit.
"Kau memeras ku? "
"Tidak. Kan aku yang menang, jadi terserah aku ingin mengajukan apa… ya, kalau kau tidak mau membelikan tiramisu, pilih saja truth. Aku akan mendengarkan ceritamu. "
__ADS_1
"Aku pilih dare! Akan aku pesan dua tiramisu cake itu sekarang. "
Jancent langsung beranjak dari sofa, mengambil handphonenya di atas meja rias. Menghubungi toko kue sesuai permintaan Liyun.
Liyun tertegun, "kau bilang aku memeras mu, tapi kenapa memilih membeli tiramisu? " tanyanya setelah Jancent kembali duduk di sofa.
"Kau tidak mau? Aku batalkan sa--- "
"Eits, jangan! … ok, tiramisu saja. Kau tidak perlu memilih truth. " Liyun mencekal tangan Jancent yang baru saja berdiri. Menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan.
Siapa yang menolak makanan enak, begitu batin Nana.
Jancent menyeringai. Mudah sekali mengecohkan istrinya. Hanya diancam dengan tiramisu, ia tidak perlu repot-repot membuka aib masa lalu. Sekali lagi, uang mengalahkan segalanya, catat.
Liyun kembali mengambil satu kartu karena sebelumnya ia yang menang. Sejenak helaan nafas Liyun terdengar setelah membalik kartu itu, nilainya terlalu rendah.
Jancent tersenyum. Kemungkinan peluangnya untuk menang di atas tujuh puluh persen. Ia menarik asal satu kartu, membaliknya.
"Yosh! Aku menang… "
#♥#
Pukul dua dini hari. Terhitung sudah dua jam mereka bermain permainan itu, bahkan sudah masuk ronde keempat.
Tiramisu cake yang dipesan untuk kemenangan Liyun diawal juga sudah habis dilahap, menyisakan kotaknya dilantai.
Mereka acuh pada kamar yang berubah mirip kapal pecah. Beberapa kaleng minuman soda atau flavour lain berserakan di lantai, remahan makanan ringan tampak di sana sini, plastik jajanan bersimbah dimana-mana.
Keduanya terlalu hanyut dalam permainan, melupakan waktu istirahat dan kondisi kamar yang kotor.
"Tinggal dua kartu terakhir. Kau pilih yang disebelah mana? " tanya Jancent, menoleh Liyun yang beralih duduk diatas ranjang.
Perempuan itu terlihat berpikir. Mengetuk ngetuk jari telunjuknya di bibir.
"Aku pilih yang kiri. "
"Oh ya? " Liyun memicingkan matanya, tidak percaya. Jancent itu suka membual. Namun ia langsung kicep setelah Jancent menunjukkan kartunya.
"Iya, iya, aku kalah… cepat apa keinginanmu, aku sudah mengantuk. "
Sesaat Jancent pindah posisi. Duduk di kursi didepan meja rias, sedangkan Liyun tetap anteng duduk diatas ranjang.
"Truth or dare … jika kau memilih dare, cium aku sekarang--- "
"Eh? Tidak bisa seperti itu! Aku pilih truth saja. " tegas Liyun memotong ucapannya. Mendadak serangan jantung mendengar tantangan gila Jancent.
Kenapa semua laki-laki mengkiblatkan permainan ke hal berbau mesum. Adinda jadi repot.
Sekilas Jancent tersenyum. Akhirnya Liyun masuk kurva rencananya.
"Karena kau memilih truth, aku ingin kau menceritakan semua tentangmu dengan jujur. "
Liyun tertegun, spontan menatap Jancent. Apa dia menyadari kalau dirinya bukan pemilik tubuh yang asli?
Sejenak Liyun menghela nafas, meluruskan pandangannya kembali, "kau ingin aku memulainya dari mana? "
"Ceritakan saja semua. "
"Ck, kenapa tiba-tiba jadi serius begini. "
"Sudah ceritakan saja. " cibir Jancent menopang wajahnya dengan sebelah tangan diatas meja rias. Geregetan pada istrinya yang bertele-tele.
"Aku tidak tahu cara menjelaskannya. Aku ini hanya gadis SMA yang bodoh. Terjebak dalam dunia penuh komitmen menjadi istri orang kaya, dan pekerjaan yang sama sekali tidak pernah aku kuasai … aku berusaha bertahan dalam dunia yang benar-benar asing, menyesuaikan diri menjadi orang lain. Ibarat kapal pesiar mewah yang terombang ambing di lautan. Tapi ajaibnya, aku jatuh cinta pada suami pemilik tubuh ini … "
Jancent tergugu melirik Liyun yang entah sejak kapan menangis. Menunggu dengan sabar perempuan itu melanjutkan.
"Aku takut jika … "
Liyun mengepalkan kedua tangannya, menundukkan kepala, mengatur nafas acaknya, berat sekali akan mengatakan kalimat terakhir. Air mata membebani dirinya untuk membuka mulut.
__ADS_1
Entahlah, kenapa ia menangis seperti ini. Nana benar-benar malu, namun hatinya sakit. Ia sadar cintanya salah. Mencintai seseorang yang bukan miliknya.
"Jika … aku tidak bisa bertemu dengan mu la-agh! "
Srek… buk…
Tiba-tiba Jancent mendorong tubuh Liyun terlentang diatas ranjang. Mengunci kedua tangan perempuan itu. Mengungkung tubuh sang istri di bawah kuasanya.
"Aku tidak suka ceritamu … siapa bilang kau tidak bisa bertemu dengan ku, siapa bilang kau bisa jauh dariku! Kau hanya milikku! "
Lama keduanya saling menatap. Liyun dapat merasakan hembusan nafas acak Jancent menyapu kulit wajahnya. Terlihat jelas sepasang mata itu berkaca-kaca.
Tunggu, sepertinya Nana menyadari sesuatu melihat mimik wajah Jancent tambah memerah, sorot matanya semakin sayu, juga suhu tubuhnya yang aneh. Jangan bilang kalau Jancent berada dalam zona …
"Malam ini kau milikku seutuhnya. "
"Tidak! Ini salah, sadar Jancent! "
Liyun memberontak, kedua tangannya bergerak random berusaha melepaskan cekalan tangan Jancent. Kaki Liyun menghentak hentak hampa semakin Jancent mendekatkan wajahnya masuk kedalam perpotongan lehernya.
Jancent ingin sekali menghisap leher Liyun, memberi tanda merah keunguan disana. Tidak sabar untuk bersenggama, membuat istrinya benar-benar hamil hasil benihnya. Ia seakan dibutakan oleh *****.
Sebenarnya ini hadiah yang dirinya maksud. Ia sudah merencanakannya sejak awal, tapi tidak secara tiba-tiba seperti ini. Jujur, rencananya berantakan sekarang.
Jancent kalap akan emosionalnya mendengar cerita Liyun, melihat perempuan itu menangis. Tidak ingin kehilangannya.
Sendu tangisannya semakin kencang. Nana takut. Takut terjerumus semakin dalam pada perasaan pria diatasnya.
"Jangan! Aku takut … "
Spontan Jancent menjauhkan tubuhnya mendengar rintihan Liyun. Ia sadar telah menyakitinya. Merasakan tubuh istrinya gemetaran hebat karena takut. Perlahan Jancent merenggangkan cekalan tangannya.
Plak,
Jancent terkejut, memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar Liyun. Perempuan itu juga mendorong tubuhnya menjauh.
"Bajingan! Semua laki-laki sama saja. " Liyun pergi.
"Li! Liyun! "
Jancent segera mengejar istrinya. Melebarkan setiap langkah kakinya yang sayangnya kurang cepat dari Liyun.
Jancent celingukan, kehilangan jejak. Namun ia tidak sengaja melihat Liyun bersembunyi dibalik pohon cemara.
"Liyun! "
Liyun terkejut melihat Jancent memergokinya. Spontan ia kabur, tapi sialnya menabrak seorang wanita sampai terjatuh. Tanpa meminta maaf, Liyun langsung lari begitu saja menyisakan Jancent yang harus menolong wanita itu.
"Kau tidak apa-apa? Mari aku bantu. "
Jancent berjongkok di hadapan wanita itu yang sesekali meringis memegangi kakinya.
"Ah, terimaka--- "
Wanita itu tertegun mendongakkan wajahnya melihat si pemilik suara, pun Jancent yang sudah melototkan matanya terkejut, seolah petir menyambar dirinya.
"Jan-cent! "
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1